
~*Episode 16~
Putri sangat takut dengan kegelapan dan Putri merasa sesak di dadanya, tidak lama kemudia Putri tiba-tiba pingsan.
"Pengawal, teriak Reza."
"Iya Tuan ada apa."
"Coba kamu lihat Putri di gudang nanti ikatannya lepas lagi."
"Siap Tuan."
Dua orang pengawal itu pun pergi ke gudang bawah tanah untuk melihat keadaan Putri.
"Pak, kenapa lampunya mati...? Tanya salah satu pengawal."
"Iya aku juga enggak tau Pak kenapa lampu di ruangan ini mati."
"Coba kamu lihat lampunya..."
Salah satu pengawal pergi mengecek keadaan lampu di ruangan itu sedangkan pengawal yang satunya mencari keberadaan Putri.
"Non Putri...Non dimana...?
"Apa Non Putri dengar suara saya...?
Pengawal itu sudah teriak memanggil nama Putri tapi Putri tidak membalas teriakan pengawalan itu.
Lampunya pun nyala dan tiba-tiba kedua pengawal itu kaget melihat keadaan Putri yang sangat berantakan dan di banjiri dengan keringat di badannya.
"Non Putri....Non bangun, sahut salah satu pengawal."
"Pak Anto, jangan-jangan Non Putri pingsan lagi. Sahut salah satu pengawal itu lagi."
"Iya Pak Non Putri pasti pingsan nih apa lagi keringat Non Putri banyak banget dan badannya terasa panas."
"Kalau gitu Pak Anto naik ke atas beritahu Tuan Reza kalau Non Putri pingsan."
"Iya Pak."
*Ruang Tamu*
Pengawal pun cepat-cepat naik ke atas untuk mencari Reza.
"Tuan Reza...Tuan..."
"Ada apa kamu teriak-teriak kayak gitu."
"Non Putri Tuan...Non Putri saat ini...?"
"Ada apa dengan perempuan kampung itu apakah dia bikin ulah di bawah...?"
"Tidak Tuan, tapi Non Putri saat ini sedang pingsan. Sahut pengawal itu yang saat ini sudah panik."
"Apa pingsan...?"
"Iya Tuan Non Putri pingsan dan Non Putri juga di cucuri banyak keringan terua badannya agak panas Tuan."
"Sial ada-ada aja itu perempuan nyusahin orang lain aja jadi orang." Agak kesal.
*Ruang Bawah Tanah*
"Dia kenapa...? tanya Reza kepada pengawal itu."
"Maaf Tuan Non Putri pingsan dan badannya panas sekali dan dia mengeluarkan keringat yang banyak."
"Hey orang kampung bangun...hey kamu jangan pura-pura pingsan kayak gitu. Sahut Reza"
Sial Reza betul-betul enggak punya perasaan, Putri keadaannya sudah gitu masih di bilang pura-pura pingsan๐
"Udah...udah buka ikatannya. Perinta Reza."
"Baik Tuan Reza, sahut para pengawal sambil membuka tali yang terlilit di badan Putri."
"Biar aku yang gendong dia. Kata Reza."
What aku enggak salah denger tuh Reza bilang dia mau gendong Putri ๐ hahahhaa bukannya Reza benci sama Putri yaaaaa๐
Reza pun menggendong Putri naik ke atas di kamar pribadinya.
*Di kamar*
Akhirnya Reza sampai di kamar pribadinya dan dia meletakkan Putri di tempat tidur. Setelah Putri sudah di baringkan di atas kasur yang empuk tidak lupa Reza menelfon dokter pribadinya untuk datang memeriksa keadaan Putri
"Hallo ada apa Reza tumben kamu nelfon aku...?"
"Malam ini kamu ke rumah aku sekarang juga."
"Ada apa kok kedengarannya kamu panik banget Reza...? menasaran."
"Udah kamu kesini aja nanti aku jelasin."
"Ok....ok aku siap-siap dulu."
Berapa jam bemudian Dokter pribadi Reza itu pun datang.
"Silahkan masuk, kata Reza kepada dokter itu..."
"ada apa kamu panggil aku kesini...?"
"Ya ellah duduk aja dulu enggak usah banyak bicara Dokter Angga, Sahut Reza kepada temannya itu."
Aku ceritain ya sama kalian semua siapa Dokter Angga itu.
Ok Dokter Angga adalah sahabat Reza semasa mereka sekolah. Itu deh Reza mempercayakan Angga untuk di jadikan Dokter pribadinya.
Ok ceritanya kita lanjut.........๐
"Iya...iya Tuan Reza enggak usah judes kayak gitu kali."
Dokter Angga belum menyadari keberadaan Putri di kamar itu.
"Ada apa kamu panggil aku malam-malam gini ke rumah kamu....?"
"Ehhhhh tunggu dulu siapa perempuan itu yang ada di tempat tidur kamu...? Sahut Dokter Angga yang baru menyadari kalau ada seorang perempuan yang sedang tidur di ranjang Reza.
"Oh perempuan itu namanya Putri, kata Reza yang menjawab dengan santai."
"Putri...???
Siapa dia...?
__ADS_1
Bukanya kamu paling enggak suka kalau ada perempuan yang tidur di ranjang kamu itu kecuali...? Ucapan Dokter Angga terputus saat Reza melirik ya."
"Kecuali siapa maksud kamu...?๐
Awas ya kalau kamu berani sebut-sebut nama dia lagi, sahut Reza yang memerintahkan sahabatnya itu agar tidak menyebut nama mantan kekasihnya itu."
"Ok maaf enggak usah marah yakak gitu kali."
"Ayo sana periksa perempuan itu dia itu enggak tidur tapi dia sedang pingsan."
"Pingsan... kok bisa...?"
"Udah enggak usah banyak bacot deh kamunya, mending kamu periksah aja tuh Putri sekarang."
"Ok iya, sabil berjalan mendekati Putri."
Dokter Angga pun memeriksa keadaan Putri saat ini. Tidak lama dia memeriksa keadaan Putri, Dokter Angga pun sudah bisa menyimpulkan kenapa Putri bisa pingsan.
"Putri kenapa Angga kok dia tiba-tiba pingsan...? Tanya Reza."
"Kelihatannya mungkin dulu Putri pernah mengalami trauma deh entah itu kejadian apa sehingga dia bisa trauma?
"Tapi kalau aku boleh tahu sebelum dia pingsan Putri sedang apa dan kok di mukanya banyak bekas pukulan...?
"Tadi aku suru pengawal untuk kurung dia di ruang bawah tanah dan aku suru pengawal itu mengikat badannya."
"Gila sadis banget kamu Reza ๐จ jangan bilang kamu juga yang sudah pukul perempuan ini...?"
"Iya aku yang pukul dia dan kamu tahu kan gimana aku kalau sedang marah."
"Iya Reza aku tahu tapi kamu pikir-pikir juga dong dia itu cewek bukan cowok."
Hahhaha iya-iyalah Putri cewek bukan cowok gimana sih Dokter Angga๐
''Emang dia siapa sih Reza...?
"Dia itu istri aku dan kita udah nikah beberapa minggu yang lalu."
"Istri...?
Sejak kapan kamu udah lupain mantan kamu itu dan bisa nikah sama perempuan ini...?
"Dan kenapa kamu enggak ngasih tahu aku kalau kamu mau nikah...?"
"Udah ceritanya panjang banget Angga nanti aku ceritain sama kamu kalau waktunya udah tepat."
"Mending kamu berikan obat aja sama Putri kalau dia bangun dia harus minum obat apa."
"Ok ini obatnya suru dia minum sesudah makan."
"Iya simpan aja di meja itu."
"Kalau gitu aku pulang dulu ya soalnya ini juga udah malem tapi kamu ingat ya Reza kamu punya utang jawaban sama aku, ngerti...?
"Iya....iya nanti aku ceritain dehhhh sama kamu apa yang sudah terjadi."
Dokter Angga pun sudah pulang tinggal Reza dan Putri di kamar itu. Reza memperhatikan wajah pucat Putri.
"Kata Angga kamu pernah mengalami trauma tapi trauma apa...?
Masa gara-gara aku kurung kamu di ruang bawah tanah kamu pingsan dan sakit kayak gini....?
"Ahhhhh aku ini kenapa sih masa aku perhatian banget sama orang kampung ini kalau dia sakitkan itu urusan dia kenapa aku yang harus repot."
"Ahhhh aku pusing sumpah mending aku tidur aja."
Tidur...?
Reza mau tidur dimana di sofa...?
Hahahhaha enggak mungkinlah Reza kan enggak suka tidur di sofa atau jangan-jangan dia tidur satu ranjang bareng Putri lagi๐
"Tapi tunggu dulu aku mau tidur dimana enggak mungkin dong aku tidur di sofa aduhhh males banget tapi masa aku tidur satu ranjang sama anak kampung ini sih."
"Ahhhh enggak papa deh aku tidur satu ranjang sama dia, enggak mungkin juga kali aku bangunin dia untuk pindah ke sofa."
Reza pun akhirnya tidur satu ranjang bareng Putri tapi Reza tidak lupa menyimpan bantal guling di tengah untuk di jadikan batas tempat dia tidur agar dia enggak menyentuh Putri. Hahahhah lucu banget.
*Subuh*
Suara Azan di mesjid pun berbunyi pertanda waktu Sholat Subuh sudah tiba.
Putri tiba-tiba terbangun saat dia ingin melaksanakan sholat subuh tapi Putri sangat kanget ketika dia sadar kalau saat ini dia tidak di sofa melainkan dia ada di tempat tidur Reza dan lebih kagetnya lagi pas Putri melihat Reza ada di sampingnya dan tangan Reza melingkar di pinggang Putri sehingga Putri agak susah untuk bangun merubah posisinya untuk duduk.
Tunggu dulu tangan Reza melingkar di pinggang Putri ๐ Itu artinya Reza memeluk Putri dong pas dia tidur.
"Astagfirullah aku kok ada di tempat tidur Tuan Reza bisa gawat kalau gini, sahut Putri yang sudah mulai panik."
"Aduhhh kepala aku sakit banget ๐ tunggu dulu bukannya Tuan Reza mengurung aku ya semalam di gudang tapi kok aku bisa ada disini sih...?"
"Udah ahhh aku enggak usah pikirin itu mending aku pergi sholat subuh aja tapi bagaimana caranya tangan Tuan Reza ada di pinggang aku."
"Atau aku bangunin aja deh soalnya mau gimana lagi nanti waktu sholat subuhnya keburi habis lagi."
Putri pun pelan-pelan mencoba membangunkan Reza.
"Tuan Reza aku mau Sholat Subuh dulu...Tuan bangun."
"Tuan Reza."
"Ada apa sih Putri kenapa kamu bangunin aku di pagi butah kayak gini."
Aduh Reza...Reza Putri itu enggak berniat mau bangunin kamu kok tapi mau gimana lagi kamu sadar dong kalau tangan kamu ada di pinggang Putri.
"Maaf Tuan Reza aku mau Sholat Subuh dulu."
"Kalau kamu mau Sholat ya kamu Sholat aja sendiri enggak usah pake banguni aku kali, sahut Reza yang matanya masih tertutup dan belum sadar juga kalau dia sedang memeluk Putri."
"Iya Tuan tapi masalahnya tangan Tuan Reza melingkar di pinggang aku."
"Apa melingkar...? merasa kaget saat mendengar Putri ngomong gitu.
"Kenapa kamu enggak ngomong dari tadi sih, bentak Reza sambil cepat-cepat Reza melepas pelukannya itu."
"Maaf Tuan."
Setelah Reza sudah melepaskan pelukannya itu, Putri pun bergegas untuk Sholat Subuh.
*Reza*
"Ahhhh sial bisa-bisanya aku merasa nyaman pas aku peluk tubuhnya Putri๐ masa tubuh Putri aku kira bantal guling ini sih malu-maluin aja bisa-bisa dia kegeeran lagi๐ก
__ADS_1
"Ahhhh bodoh amat aku pura-pura lupa aja kejadian tadi itu."
"Tapi sumpah kenapa rasanya betul-betul nyaman ya pas aku peluk tubuh Putri itu."
"Ahh aku pikir apa sih ingat Reza kalau Putri itu bukan Tipe kamu banget, jangan sampai kamu beneran suka sama orang kampung itu. Ingat Reza rencana kamu bukan itu tapi kamu nikah sama dia itu agar kamu terhindar dari perjodohan yang orang tua kamu rencanakan."
Setelah Putri sudah melaksanakan Sholat Subuh Putri pun bergegas menuju ke dapur untuk memasak makanan buat Reza. Walaupun dia masih merasakan sakit di kepalanya tapi mau gimana lagi Putri tidak mau Reza marah lagi sama dia. Putri takut Reza akan mengurungnya lagi di gudang.
*Dapur*
"Astagfirullah Non Putri kok ada disini bukannya Non sedang sakit, kata bibi."
"Aku enggak sakit kok Bi'
Aku kan mau masak buat Tuan Reza."
"Enggak Usah Non Putri biar bibi saja yang masak, Non istirahat saja bibi mohon Non."
"Tapi Bibi."
Tiba-tiba Reza datang.
"Kenapa kamu ada di dapur...?"
"Aku mau memasak Tuan."
"Masak kata kamu emangnya kamu udah sembuh apa...?
Lihat tuh muka kamu masih pucat kayak gitu mending sekarang kamu naik ke kamar istirat dan minum obat kamu."
"Tapi Tuan Reza."
"Tapi apa, ehhhh kamu mau membantah...?
Enggak usah keras kepala kayak gitu."
"Ohhh atau kamu sengaja kayak gitu supaya mama aku percaya kalau kita itu nikah bukan karna dasar cinta....?"
"Tidak Tuan aku enggak pernah ada niat kayak gitu."
"Kalau gitu udah sana naik ke kamar."
"Baik Tuan Reza."
*Aduh kedengarannya Reza udah mulai perhatian banget deh sama Putri๐
Beberapa hari setelah kejadian itu keadaan Putri sudah mulai membaik.
Tapi saat ini Putri masih belum di izinkan dengan Reza untuk keluar rumah lagi.
"Ahhhh aku bosan di rumah setiap hari gini...gina terus kalau tugas aku udah selesai aku di kamar aja seharian nungguin Tuan Reza sampai dia datang."
"Aduh siapa coba yang enggak bosan kalau setiap hari kerjanya kayak gini terus."
"Atau aku telfon Bunda aja kali ya๐ Aku juga udah kangen banget sama mereka semua."
"Udah lama juga aku belum beri kabar sama mereka pasti mereka semua udah cemas banget mikirin aku."
*Menelfon*
"Assalamualaikum Bunda."
"Waalaikumsalam ini kamu Nak Putri...? Merasa senang."
"Iya Bun ini aku Putri ๐ maaf ya Bun aku baru bisa ngabarin kalian."
"Iya enggak papa sayang.
Tapi emang kenapa nak kenapa kamu baru bisa telfon Bunda...?"
"Ow HP aku rusak Bunda."
"Mmm iya sayang.
Bagaimana kabar kamu sekarang Nak...?
Apa Reza baik sama kamu...?"
"Alhamdulillah kabar Putri baik Bun, Reza juga baik kok sama aku Bunda tenang aja."
"Tapi sayang kamu enggak bohongkan sama Bunda...?
"Buat apa Putri bohong Bun, Reza beneran baik kok sama aku nyatanya dia enggak mau kalau aku kecapean."
"Sayang kamu jangan bohong sama Bunda๐Bunda itu masih ingat loh kalau dulu itu Reza nikahin kamu karna ada maksudnya."
"Enggak Bun, Bunda enggak usah khawatir ya."
"Bunda sama Ayah gimana kabarnya...?"
"Kabar Bunda Alhamdululillah baik sayang dan Ayah juga kabarnya baik."
"Kalau Adik aku kabarnya gimana...?"
"Kabarnya juga baik."
Tidak terasa sudah satu jam mereka nelfonan dan Putri pun izin untuk menyudahi percakapan mereka.
"Bunda nelfonannya udah dulu ya Bun
nanti Putri telfon lagi."
"Iya sayang."
"Assalamulaikum Bunda."
"Waalaikumsalam Nak."
*Reza pun sudah pulang dari kantor tapi pas dia keluar dari mobilnya Reza tidak sendiri melainkan dengan seorang laki-laki.
Kira-kira laki-laki itu siapa ya...?
**Assalamualaikum Guys Alhamdulillah aku upload lagi nih lanjutannya. Maaf ya kalau aku jarang banget upload lanjutan ceritanya soalnya aku sibuk banget guys๐ข๐ฅ๐ฅ
Tapi aku usahain dehhhh upload terus.
Aku juga ucapin banyak terimakasih sama kalian yang sudah mampir ke karya aku ๐
Kalau sudah di baca jangan lupa di like, comment and favorit terus jangan lupa di vote juga Guys ๐ Aku sangat butuh dukungan kalian semua.
Maaf ya kalau cerita aku masih belum memuaskan.๐๐
__ADS_1
Makasih jangan bosen-bosen nunggu lanjutan ceritanya.
Ig: multi_astuti***