
Suan er semakin mendekatkan wajah nya ke xing li.
“suan er...., a...apa yang akan kau lakukan...”.
“suttttt.....,diamlah ini tidak akan lama....”.
Seketika jantung xing li berdetak kencang dan semakin berdebar ketika suan er sudah semakin dekat dengan wajahnya, xingli begitu terpesona dengan suan er matanya yang bersinar seperti bulan hidungnya yang mancung bibirnya yang indah membuatnya tidak bisa menolak untuk tidak memandangi suan er.
“suan er....., hentikan...”.
“diamlah....tenang, ini tidak akan lama tenang saja....”.
Xing li pun sudah tak bisa mengelak lagi kini ia terpojok, dan kini ia pasrah ia sempat berpikir dan mengatakan di dalam hati.
Ah......ya ampun.....,aku sudah tidak bisa bergerak lagi...,bagaimana ini apakah dia akan menciumku,bagaimana ini aku hanya bisa pasrah sekarang.ujar xing li dalam hati panik.
Hap......, seketika xing li yang menutup matanya sontak langsung membuka matanya, karena ternyata suan er mendekatinya bukan karena ia ingin menciumnya melainkan hanya ingin mengambil laba laba yang ada di kepalanya tepatnya di rambutnya.
“ha kena kau....”.ujar suan er ketika ia berhasil menangkap laba laba di rambutnya.
“hah.....”.
Huftt.....ternyata dia hanya ingin mengambil laba laba yang ada di rambutku, hah syukurlah aku kira ia hendak ingin menciumku, heh Suan er kau telah membuatku takut kepadamu.ujar xing li dalam batinnya lega.
“xing li....xing li....”. suan er memanggil xing li.
Saat suan er memanggil manggil xing li ia tidak menyahut sama sekali karena xing li masih terlarut dalam alam bawah sadarnya.
“xing li......xing li....., hey kau ini kenapa....”.
“hah.....oh.....,itu aku hanya memikirkan sesuatu saja...”.
“benarkah kau memikirkan apa....?”.
“oh...., tentu saja tentang keberhasilan kita.....”.
“oh...., begitu mmmmm...., baiklah tapi kenapa wajahmu memerah seperti itu apakah kau sedang sakit sekarang....”.
“a...apa? sa...sakit tidak aku tidak sakit...”. jawab xing li terbata bata.
“lalu kenapa wajahmu memerah”.
“itu.....itu karena aku kedinginan...”.
Suan er pun hendak menempelkan tangannya ke dahi xing li memeriksa apakah xing li sedang sakit atau tidak.
Pluuuk.....suan er menempelkan telapak tangannya ke dahi xing li.
“e.....emmmm, suan er apa yang kau lakukan....”.
__ADS_1
“sutttt......, diamlah aku hanya ingin memeriksa suhumu apakah kau demam atau tidak...”.
Yang kau lakukan ini malah membuatku semakin panas suan er.ujar xing li dalam hati gelisah.
“ya ampun wajah mu semakin memerah kurasa kita perlu ke tabib sekarang....”.
“hah....”.
“ayo aku akan membawamu ke tabib”.
“apa....?
Suan er maraih tangan xing li dan hendak ingin membawanya ke tabib.akan tetapi xing li menepis tangan suan er.
“hey..... hentikan aku ini tidak sakit...”.
“tapi kenapa wajahmu memerah kalau dirimu itu tidak sakit”.
“sudah aku bilang aku hanya merasa kedinginan saja...”.
“benarkah....”.
“iya benar...., heh kamu ini seenaknya saja menarikku....”.
“iya aku minta maaf, soalnya tadi aku sangat mengkhawatirkanmu”.
“e.....emmmm..., ya sudahlah lupakan saja aku masuk dulu...”.
“apa...?”.
“perhatikan jalanmu”.
“maksudmu, ahhhhh.......”.
Karena xing li tidak memperhatikan jalan akhirnya ia menabrak pintu dengan keras sehingga ia pun langsung jatuh pinsan tak sadarkan diri.
“hah....,xing li xing li bangun..., hah ya ampun sudah aku bilang untuk memperhatikan jalan ia malah tidak mendengarkanku, baiklah sekarang lebih baik aku membawanya ke kamar saja dulu agar ia bisa beristirahat”.
Suan er lalu menggendong xing li ke kamarnya,ia mengambil air hangat untuk mengompres dahi xing li yang memerah akibat menabrak pintu.
“aduh....., kenapa kau berat sekali sebenarnya kau makan apa selama ini...”. ujar suan er yang kelelahan setelah menggendong xing li.
“ya ampun kurasa dahinya memerah akibat ia menabrak pintu tadi, baiklah sekarang aku harus mengompresmu dengan air hangat”.
“semoga kau cepat sadar xing li”. Ujar suan er kembali merasa khawatir.
Setelah itu suan er terus merawat xing li, dari mengganti selalu kompresnya hingga ia selalu mengusap keringat xing li saat xing li mulai berkeringat, saat suan er memandangi xing li, tatapannya kembali seperti seekor serigala yang hendak ingin memangsa.
Hmmmm..... kenapa xing li begitu manis sekali, saat pingsan saja ia cantik sekali apalagi jikalau ia tidur kecantikannya pasti akan lebih luar biasa, wajahnya yang begitu cantik bibirnya yang begitu sexy, membuatku tidak bisa menahannya lagi...., ah... tidak aku harus bisa menahan diri.ujar suan er mulai tak kuasa menahan hasratnya.
__ADS_1
Suan er pun tidak bisa menahan hasratnya sebagai seorang lelaki, saat ia mencoba melihat xing li semakin dekat xing li pun terbangun dan terkejut ketika suan er sudah berada begitu tepat di depan wajahnya
Ah..... bertahanlah suan er jangan biarkan hasratmu mengendalikanmu tolong bertahanlah, kau pasti bisa suan er kau pasti bisa. Ujar suan er yang sudah tidak bisa mengendalikan hasratnya.
“kenapa aku harus tergoda dengan kecantikanmu xingli...., hah baiklah aku hanya akan melihatnya lebih dekat saja kuharap hal ini dapat menghilangkan hasratku...”.
“emmhhh......,hah..., hah a...apa yang akan kau lakukan”.
“e....eeee anu....e....”.
“apa kau mau apa, apakah kau akan berbuat macam macam denganku”.
“ti...tidak aku tidak ingin melakukan apa apa...?, aku hanya ingin mengecek suhumu saja tadi, apakah kau sudah lebih baik atau belum...”.
“benarkah...., heh aku tidak percaya”.
“tidak aku benar benar berkata jujur”.
“jangan mendekat atau aku akan memukulmu dengan mangkuk ini”.
“hey.... sudah ku bilang aku tidak ingin melakukan apa apa, kau kira aku ini pria macam apa...”.
“be...benarkah kau tidak akan macam macam”.
“iya sungguh, percayalah padaku sekarang kau turunkan mangkuk itu dan istirahatlah aku akan membuatkanmu teh hangat agar tenaga mu kembali pulih”.
“baiklah...., akan tetapi jika kau macam macam kepadaku aku tidak akan segan segan untuk memakanmu hidup hidup”.
“iya baiklah, aku tidak akan macam macam kepadamu”.
Hufttt...... hampir saja tadi itu aku jadi bulan bulanannya. Ujar suan er lega.
Suan er pun akhirnya membuatkan teh hangat untuk xing li agar ia tenang.
“xing li, ini teh hangatnya...”.
“wah, terima kasih”.
“iya sama sama”.
“tapi, kenapa aku tiba tiba pinsan”.
“oh.....,apakah kau tidak ingat gara gara kau tidak memerhatikan jalan akhirnya kau menabrak pintu lalu kau jatuh pinsan, kau tahu betapa sakitnya pinggangku ini gara gara mengangkat tubuhmu yang begitu berat”.
“apa katamu...?”.
“hah...., ti....tidak aku tidak berkata apa apa”.
“kau kira aku tidak dengar, apakah kamu kira aku ini gemuk”.
__ADS_1
“o...oh...,.......".
# Bersambung #