
Kenapa kamu melihat Andini dan Dewa seperti itu, Lyn?"
Seorang perempuan yang tengah memandangi dua pasang manusia yang sedang bermain air dibuat terkejut dengan suara itu. Dia menoleh ke belakang menatap sosok wanita yang sudah tak muda lagi, atensinya kembali teralih pada dua pasang manusia yang tengah dimabuk asmara itu. Tubuh mungilnya bersandar pada kaca, matanya tak juga lepas dari halaman rumah.
"Enggak apa-apa, Bu. Beruntung banget Dini dapat pria kayak Dewa, ya, Bu," sahutnya tanpa menoleh kearah wanita paruh baya itu.
"Jangan macam-macam dia adik iparmu, Ralyn!"
Perempuan itu menghela nafas kasar, memang aku akan apa?
Kembali berfokus pada kedua pasang manusia yang tengah berada dalam asmaraloka. Kenapa rasanya semenyakitkan ini? Mencintai adik ipar sendiri, huh, sangat menyakitkan!
Dia berjalan menuju dapur menjauh dari jendela yang berada di ruang keluarga. Lebih baik meminum susu hangat untuk keberlangsungan hati dan jiwa, sakit hati juga butuh tenaga.
Berhadapan dengan air panas mengingatkannya pada Andini dan Dewa, dua pasang manusia yang tengah dimabuk cinta. Andini si wanita periang dan hangat lantas, Dewa si pria dingin dan datar. Mereka sangat cocok jika dilihat dari segi manapun, 'kan?
Dilihat dari segi manapun Andini lebih cantik dari sosok Ralyn, dia seperti sang Ibu. Andini adalah wanita anggun dan sangat lemah lembut, berbanding terbalik dengannya yang tak banyak bicara dan pendiam.
Alina Ralynsia Pramudya, itulah namanya. Sangat indah, bukan? Tentu saja. Ralyn merupakan seorang Psikiater sekaligus Dokter Umum, usianya yang sebentar lagi menginjak 25 tahun. Masih muda, bukan? Dulu perempuan itu mengambil kuliah dual degree. Oleh karena itu, Ralyn memiliki dua profesi diusianya yang masih terbilang muda.
"Mbak, kenapa liatin Mas Dewa intens?" Ralyn yang tengah meminum susu dibuat terkejut.
Uhuk!
Bisa-bisanya aku ketahuan melihat suami orang, bisa dicap pelakor aku. Ralyn memandangi wanita cantik dihadapannya, dia Andini–saudari satu-satunya yang dimiliki Ralyn. Andini baru saja menikah seminggu yang lalu, dan hari ini dia memutuskan untuk menginap bersama suaminya–Dewa Lingga Anggara.
"Eh, gak apa-apa, An. Kalian romantis banget, Mbak, 'kan jadi iri," sahut Ralyn diikuti kekehan.
Andini tertawa pelan. "Makanya nikah, Mbak."
Dia hanya tersenyum, tak menanggapi celotehan sang Adik.
Bagaimana aku bisa menikah saat hatiku diisi oleh Adik iparku sendiri?
......***......
Ralyn menghela napas. Akhirnya perkerjaannya di rumah sakit usai sudah, diliriknya jam tangan di pergelangan tangannya pukul 17.30 wib.
Ralyn berjalan ke luar ruangannya, perempuan itu menghentikan langkahnya saat melihat sang sahabat yang baru keluar dari ruang operasi. Dia berjalan menghampiri Karin—sahabatnya.
Karina Venuzuela Tan, itu nama sahabatnya. Karina adalah sahabat Ralyn sejak perempuan duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dulu. Karin panggilannya, mereka seperti kembar, bukan? Karin orang yang paling mengerti dirinya bahkan melebihi orangtuanya sendiri.
"Rin, aku pulang dulu, ya," ujarnya pada Karin yang kini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Dia mengganguk sekilas, "Iya, pulang aja, Lyn. Hati-hati bawa mobilnya." Ralyn mengacungi jempol sebagai jawaban, lantas pergi menjauh dari Karin.
Perjalanan dari Anggara's Hospital sampai ke rumahnya kira-kira 25 menit, itu pun jika tidak terjebak kemacetan kota Jakarta. Ralyn bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang keluar dari radio.
...***...
Akhirnya Ralyn tiba di rumah. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Dewa dan Andini yang tengah bersenda gurau di teras rumah.
Huh, rasanya amat menyakitkan, kenapa rasa ini harus ada?
"Eh, Mbak Ralyn udah pulang. Gimana kerjaan Mbak?" Ucapan itu berasal dari Andini, sedangkan Dewa hanya diam saja.
Ralyn yang tengah menutup pintu mobil tersenyum tipis pada Andini, adiknya itu memang selalu bertanya hal sama saat dirinya pulang berkerja. Wanita berusia 21 tahun itu selalu perhatian pada siapa pun, pantas saja Dewa menaruh hati.
"Hm . . ., iya, kayak biasanya An, tapi kali ini pasiennya cuman janji temu aja," balas Ralyn sembari berjalan.
"Owh, iya, aku lupa kalau sabtu Mbak cuman nerima janji temu."
Ralyn tersenyum singkat bukan karena jawaban Andini, tetapi karena Dewa yang terus mengusap mesra surai Andini.
"Mbak ke dalam dulu, ya, Din mau berberes."
"Iya, Mbak istirahat dulu aja."
...***...
Pandangannya menerawang ke suatu masa. Masa di mana rasa itu hadir dengan tidak sopannya, rasanya amat menyakitkan bagi perempuan itu. Tanpa diminta pun air matanya sudah menetes, dia tertawa pelan merutuki kebodohannya.
Jika Ralyn mau, bisa saja jadi orang ketiga dihubungan mereka. Namun, sayangnya dia masih ada sedikit rasa iba untuk Andini. Namun, entah bagaimana jadinya jika Ralyn menghancurkan rumah tangga adiknya sendirim
"Huh, bisa-bisanya liat adegan romantis ini mata," gerutunya kesal.
Ralyn mengubah posisinya menjadi duduk, melirik sekilas pada jendela yang langsung menampakkan teras rumah. Langkahnya membawanya mendekat ke arah jendela, dahinya berkerut tak melihat mereka di sana. Sepertinya Andini dan suaminya itu sudah memasuki kamarnya.
Mending mandi, Lyn, batinnya.
.
***
"Ralyn, turun makan!"
Ralyn yang tengah menyisir rambut tersenyum pelan. Teriakan sang Ibu benar-benar menggelegar, sering kali seisi rumah dibuat terkejut oleh teriakan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Dengan balutan gaun tidur berwarna ungu muda, Ralyn turun menuju ruang makan. Namun, di pertengahan jalan tepatnya di depan kamar Andini, dia mendengar suara-suara aneh, tetapi merasa tak asing dengan suara itu. dirinya berdiam sejenak memastikan suara apa itu, Ralyn menyesali keputusannya. Seharusnya dia paham mengenai kegiatan suami istri itu.l
Dia mendengus kesal, ini masih petang. Namun, mereka sudah melakukan hubungan badan. Ralyn tak habis pikir, sepertinya mereka sudah tak mampu lagi menahan nafsunya.
"Kenapa lama, Mbak?" tanya sang Ibu saat Ralyn mendudukkan diri di kursi.
"Enggak apa-apa, Bu. Tadi aku bersiap dulu," sahutnya yang dibalas anggukan singkat oleh wanita paruh baya itu.
"Adikmu mana?" Dia tersenyum kecut mendengar pertanyaan sang Ibu.
Andini sedang bergulat dengan mesra, Bu. Mau menggangunya, kah?
Ingin sekali rasanya Ralyn menjawab demikian, tetapi perempuan itu masih tahu batasannya.
"Di kamarnya, Bu."
Saat dirinya baru menyuapi dua sendok nasi, sebuah suara membuatnya terkejut. Ralyn melirik Dewa sekilas, pria itu tampak lebih tampan saat sesudah keramas. Segera ditepisnya pikiran buruk itu, Ralyn berusaha untuk tetap fokus menghabiskan makanannya meski itu sulit baginya.
"Malam Bu, Yah. Maaf Dewa telat."
"Enggak apa-apa, Nak. Ya, sudah dimakan makanannya," ujar Widia diiringi senyum manis.
"Lyn!"
Uhuk!
Dengan cepat Ralyn meminum air yang ada disebelahnya. Ralyn memandang sang Ibu dengan tetap tatapan penuh tanya, jangan lupakan wajahnya yang memerah.
Dia berdeham pelan. "Iya, kenapa, Bu?"
"Kenapa liatin Dewa begitu?"
"Ekhm, aa—anu itu. Em . . . Andini mana?"
Sial, kenapa harus gugup? Memalukan sekali dirimu, Ralyn.
"Tidur," sahut Dewa.
"Jam segini?" celetuk Widia.
"Kecapekan."
Jawaban itu cukup membuat Ibu terdiam. Widia tentu paham konteks kecapean yang dimaksud oleh menantunya itu.
__ADS_1
"Aku ke kamar dulu."