
Karin memandang jalanan Ibu kota dengan tatapan sendu. Dia merindukan seseorang, seseorang yang pernah merenggut hatinya. Dia seorang laki-laki yang Karin kenal saat masa Sekolah Menengah Pertama, laki-laki pertama yang berhasil menyelami dunia Karin. Karin dibuat jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Karin menghela napasnya kasar, dia beranjak menjauhi jendela kamarnya. Perempuan itu memilih membaringkan tubuhnya pada ranjang miliknya, dia memandang menerawang langit-langit kamarnya. Tak ada yang pernah tahu isi perasaan perempuan itu termasuk Ralyn—sang sahabat. Karin tipekal perempuan yang sangat pandai menutupi perasaannya sendiri, orang-orang akan mudah ditipunya dengan senyum manis milik perempuan itu.
Karina Venezuela Tan, perempuan berparas ayu dengan sifat acuh tak acuhnya. Karin adalah salah satu Dokter Kandungan terbaik di Ibu Kota. Tak jarang perempuan itu akan mengisi seminar-seminar perihal kehamilan ataupun mengenai alat reproduksi berserta penyakit-penyakitnya. Lahir di keluarga berada tentu saja membuat Karin jauh dari kata melarat sejak kecil, perempuan itu terbiasa dengan mudah mendapatkan apa yang dia mau.
Selalu sunyi, nasib anak tunggal mah begini.
Karin bangkit dari posisi berbaringnya, dia berjalan menuju lemari. Perempuan itu mengambil sebuah kotak dengan ukuran sedang lantas mendudukkan dirinya pada sofa dekat lemari. Karin membuka kotak tersebut secara perlahan, jantungnya berdebar cukup kencang. Mata perempuan itu berkaca-kaca saat kotak itu sudah terbuka, dia menatap nanar sebuah foto dan kalung yang berada di kotak tersebut. Karin mengambil foto tersebut, dipandangnya foto itu dengan sendu. Foto yang berisikan dua manusia berbeda jenis kelamin yang saling merangkul dengan senyuman lebar mereka.
Flashback On ....
*Seorang gadis dengan pakaian putih birunya berjalan memasuki kelas dengan wajah datarnya, dia mengabaikan ucapan nyinyir murid lainnya. Gadis dengan rambut sepunggung itu diketahui duduk di bangku kelas delapan Sekolah Menengah Pertama.
Gadis yang selalu mengikuti olimpiade untuk mewakilkan sekolah tempatnya mengecap pendidikan, dia selalu berhasil membawa mendali dan piala untuk wekolahnya itu. Dia dikenal sebagai perempuan yang cerdas, tetapi sifatnya sangatlah cuek. Karena sifatnya itu pun banyak murid membenci dirinya.
Parasnya yang rupawan, otaknya yang tak bisa diragukan, serta terlahir dari keluarga berada. Jelas itu terlihat sempurna di mata orang lain, tetapi tidak di mata gadis itu. Dituntut sempurna oleh keadaan, terlahir menjadi pewaris tunggal dan keturunan satu-satunya dari keluarga berada, jelas membuat dirinya harus terbiasa dengan segala kesempurnaan.
"Hallo, Cantik." Sebuah sapaan dengan rangkulan di pundaknya, gadis itu menoleh ke samping kanan. Dia menatap pemuda yang kini tersenyum manis padanya, jangan lupakan jika tangannya itu merangkul pundak miliknya.
"Kak Bibi?!" pekik gadis itu dengan mata berbinar.
Pemuda yang diketahui bernama Bibi itu terkekeh geli, dia memandang gadis di hadapannya dengan lembut. "Seneng banget ya liat Kakak di sini?"
Dia mengangguk antusias*. "Of course!" sahut gadis itu bersemangat.
"Karina Venezuela Tan, kesayangannya Arbi Danela, gemesin banget." Pemuda itu mencubit gemas hidung mancung gadis di hadapannya.
__ADS_1
Karina Venezuela Tan, gadis itu memberenggut kesal. Dia memandang sosok Arbi dengan tatapan tak suka. Gadis itu sangat tak suka jika ada orang yang mencubit hidungnya. Hey! *Hidungnya itu sudah mancung, mau dibuat semancung apa lagi?
Arbi terkekeh pelan melihat raut wajah gadis yang kini berjalan beriringan menuju taman sekolah. Pemuda itu tak henti-hentinya mengulas senyum manis membuat siapa saja pasti akan terpesona dengan senyuman yang Arbi berikan.
Setibanya di taman sekolah, Arbi segera menarik tangan Karin menuju salah satu kursi. Mereka mendudukkan diri mereka di sana, hening menyapa untuk beberapa saat sampai akhirnya Arbi mengenggam tangan Karin kembali. Pemuda itu memandang Karin dengan senyum manisnya.
"Kar*—"
Flashback Off ....
Lamunan Karin buyar saat sebuah notifikasi chatting masuk. Dia menghela napasnya dalam sebelum membuka ponselnya, tertera nama Ralyn di sana. Karin segera membuka pesan yang Ralyn kirimkan.
Ralynsia Ma Friend-!:
[Kar, boleh tolong nanti temenin aku ziarah ke makam Ayah?]
^^^Me:^^^
^^^[Boleh, mau kapan? Jam berapa, Lyn?]^^^
Ralynsia Ma Friend-!:
[Besok, hari minggu. Kita, 'kan free. Um ... Jam 8 pagi aja.]
^^^Me:^^^
^^^[Oke, Lyn.]^^^
__ADS_1
Karin meletakkan kembali ponsel miliknya, mengabaikan pesan selanjutnya yang masuk. Dia yakin Ralyn hanya mengucapkan terima kasih dan dia enggan untuk membalasnya. Karin menghela napasnya kasar sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya pada sofa sembari memejamkan mata, dia mengantuk.
...***...
Andini saat ini tengah berada di rumah orangtuanya, sedangkan Dewa tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Jadilah Dewa meminta Andini untuk menetap sementara waktu di rumah orangtuanya, Dewa jelas tak akan membiarkan Andini tinggal sendiri dengan posisi yang sedang hamil muda. Cukup rawan terjadi hal yang tidak diinginkan dan Dewa enggan mengambil resiko.
Andini berjalan menghampiri kamar sang Kakak, dirinya berniat meminta kakaknya itu membuatkan nasi goreng. Wanita itu mengidam ingin memakan nasi goreng buatan kakaknya sendiri. Saat tiba di depan pintu kamar sang Kakak, Andini segera mengetuk pintu tersebut dengan perlahan.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Mbak, boleh Dini masuk?" tanya Andini dengan suara yang tak begitu keras.
"Masuk aja, Din. Pintunya enggak Mbak kunci kok." Sahutan dari dalam itu membuat Andini segera membuka pintu kamar Ralyn dengan perlahan.
Wanita itu segera menghampiri sang Kakak yang tengah terduduk di atas ranjang sembari bermain ponsel. Andini mendudukkan dirinya di samping sang Kakak, dia menatap Ralyn yang tengah fokus bermain ponsel.
"Lagi ngapain, Mbak? Fokus banget." Andini melirik sekilas ponsel Ralyn, tetapi Ralyn sudah terlebih dahulu mematikan ponselnya.
"Chat Karin." Dia menoleh menatap sang Adik. "Kenapa?" lanjut Ralyn sembari memandang sang Adik dengan raut bingung.
Andini yang mendengarkan itu menunjukkan deretan giginya, dia menatap sang Kakak dengan sebuah cengiran. Diam-diam Ralyn menghembuskan napasnya pelan, melihat ekspresi dari sang Adik jelas membuat Ralyn paham maksud dan tujuan Andini mendatangi kamarnya.
"Mbak, calon ponakanmu ini pengen nasi goreng buatanmu loh, Mbak," cetus Andini diiringi senyuman.
Tangan Ralyn terulur mengusap perut buncit sang Adik, ada perasaan tak rela saat mengetahui Andini mengandung. Ralyn seolah ditampar oleh semesta, dia kalah telak. Kalah dari sang Adik, melihat Dewa yang begitu mencintai Andini membuat Ralyn tersenyum kecut.
Tak dapat dipungkuri, perasaan Ralyn untuk Adik iparnya itu teramat besar. Dia bahkan tak tahu cara melenyapkan perasaannya untuk sang Adik iparnya itu. Semakin Ralyn mencoba menjauh dan berusaha melupakan Dewa, semakin besar pula perasaannya untuk Dewa. Ralyn berhasil dibuat dilema oleh seorang Dewa Lingga Anggara.
__ADS_1
Dia tersenyum. "Ayo kita dapur, kita masak untuk Dek utun."