Pernikahan Amanat

Pernikahan Amanat
Goresan Luka


__ADS_3

Perempuan itu baru saja selesai menangani pasien terakhirnya sebelum jam makan siang. Peluh bercucuran dari keringatnya, memang hari ini sangat panas. Entah apa penyebabnya, tetapi itu cukup membuat semua orang merasa enggan beraktivitas. Udara yang tercemar pun membuat semuanya terasa semakin panas.


Dia merapikan barang-barangnya kembali, lantas beranjak pergi meninggalkan ruangannya. Di depan pintu ruangannya, seorang dengan pakaian snelli berdiri dengan anggunnya. Dia menoleh ke samping saat orang yang ditunggu sudah keluar dari ruangannya.


"Lama ya, Rin?" tanyanya tak enak hati.


Dia hanya merespons dengan gelengan pelan saja. Paham maksud dari sahabatnya, dia pun mengangguk pelan.


Mereka berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit. Sapaan dari Dokter dan Staff lain hanya mereka balas dengan senyum tipis, bagi mereka senyuman adalah hal paling terbaik. Lagi pula yang menyapa banyak, akan lelah jika mereka harus menyahuti satu-satu.


"Kok aku gak liat dokter Putra, ya?" Ralyn menoleh menatap Karin bingung.


"Kamu naksir dia?" tanya Ralyn dengan kening berkerut.


Karin menggeleng dengan keras lantas berdecak. "Ck! Mana ada! Heran aja. Biasanya dia nempelin kamu, Lyn."


Memang benar, meskipun hubungan mereka telah usai, tetapi Putra terus berusaha untuk meluluhkan Ralyn kembali. Laki-laki itu bahkan terus mengemis maaf yang selalu Ralyn abaikan. Tak sampai di sana, Putra bahkan rela memberikan barang-barang mahal demi mendapatkan maaf dari Ralyn. Hal itu justru membuat Ralyn merasa tak ada harga dirinya, marah itulah yang dia rasakan.


Suara ponsel berdering dengan cukup keras, hingga membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Ralyn menghembuskan napasnya kasar, dia lupa menyalakan mode silent pada ponselnya itu. Buru-buru perempuan itu merongoh ponselnya yang diletakkan di kantong snelli miliknya. Perempuan itu mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang menelpon dirinya.


"Siapa Lyn?" tanya Karin dengan raut wajah penasaran.


"Andini," sahut Ralyn tanpa menoleh ke arah Karin. Perempuan itu segera menjawab panggilan suara dari sang Adik sembari mendudukkan dirinya di kursi kantin.


"Halo ...," sapa Ralyn sembari menatap buku menu.

__ADS_1


"...."


"Ke sini aja, Ndin. Kamu tunggu di ruangan Mbak, ya."


"...."


Tut! Tut! Tut!


"Kenapa?" tanya Karin saat sambungan telfon antara Ralyn dan Andini terputus.


Dia menghela napas sejenak. "Gak apa-apa sih. Dia cuman mau kesini," jawab Ralyn pelan.


Sejujurnya, Ralyn merasakan perasaan sesak saat Andini mengatakan ingin menemuinya lima menit lagi. Entah apa penyebabnya, tetapi perempuan itu nampak tak rela jika sang Adik menghampiri dirinya.


Karin mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Ralyn. Selama sahabatnya itu menjadi Dokter di rumah sakit Anggara, sang Adik tidak akan mau repot menemui Ralyn. Andini justru akan menunggu di rumah, itulah yang Ralyn ketahui.


...***...


Seorang wanita hamil tengah bercerita dengan ekspresi yang terus saja berubah-ubah, sedangkan di sampingnya ada seorang perempuan yang mendengarkan segala celotehnya sembari menatap kosong ke depan. Dirinya mengabaikan celoteh dari wanita hamil itu, dia justru asyik bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Mbak!" panggil wanita hamil itu membuat dirinya terkejut dan refleks menoleh—menatap wanita hamil itu dengan Pentingnya kenapa Ndin?" balasnya dengan wajah bingung yang kentara.


"Aku lama-lama gak kuat deh sama Mas Dewa, Mbak."


Ralyn mengerutkan keningnya bingung. Kenapa dengan Dewa? Apa mereka bertengkar? Rasanya tidak mungkin. Hubungan mereka saja Romantis-romantis saja. Mana mungkin ribut, lagipula mereka masih pengantin baru.

__ADS_1


"Kenapa?" Ralyn kembali bertanya dengan raut penasaran, bahkan Ralyn membalikkan tubuhnya guna menatap Andini dengan intens. Wajar saja, saat ini mereka duduk berdampingan di sofa ruangan milik Ralyn.


"Gak kuat sama nafsu ranjang Mas Dewa," sahut Andini dengan senyum bahagia.


Ralyn terdiam dengan tubuh membeku, kenapa harus menceritakan ini? Dari banyaknya cerita tentang mereka yang masih bisa Andini ceritakan padaku. Lantas, kenapa harus masalah bergaul? Bukankah itu privasi?


Hati perempuan itu berdenyut nyeri, dia memejamkan matanya erat. Tangannya terkepal dengan kuat, perempuan itu tengah berusaha menahan air mata dan perasaan cemburu bercampur marah yang meledak-ledak. Ralyn tak ingin lepas kendali, dia tak mau siapa pun tahu perasaannya untuk Adik iparnya, kecuali Karin. Cukup Karin dan Tuhan yang tahu perasaannya dan jangan ada lagi orang yang mengetahui perasaan tabu miliknya.


Tidak pernahkah Kau memikirkan perasaanku, Tuhan? Rasa sesak yang kerap kali menghantui malamku. Rasa sesak yang acapkali mengusik tidurku. Apa Kau tak takut hamba-Mu berbuat hal diluar batas?


Tuhan, pintaku hanya satu saat ini. Tolong, tolong hilangkan rasa ini Tuhan. Tolong bantu aku tetap dijalan-Mu yang benar. Huft ... Ralyn, kamu pasti bisa! Semangat untukmu!


Satu tetes air mata lolos begitu saja dari matanya yang terpejam, dengan kasar Ralyn menghapus air matanya. Perempuan itu ingin berteriak bahkan marah, tetapi dirinya tak bisa. Bahkan perasaan cemburu miliknya ini salah, tak seharusnya perasaan itu hadir. Perempuan itu sangat ingin memarahi Andini yang telah membuat hatinya sakit, tetapi perempuan itu cukup sadar diri. Andini jelas berhak melakukan apa pun dengan Dewa bahkan Tuhan tak akan marah asal itu bukan perbuatan tercela.


Terlalu asyik dengan kebahagiaan yang dia rasakan, Andini tak sadar telah menyakiti hati kakaknya sendiri. Dia dengan sengaja menghampiri Ralyn ke rumah sakit, dia sudah tak bisa menunggu Ralyn pulang. Andini ingin menceritakan bagaimana sikap Dewa kepadanya, bahkan bagaimana Dewa menggagahi dirinya yang hampir setiap malam dilakukan oleh suaminya itu.


Andini merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia. Memiliki suami tampan, kaya raya, dan pengertian serta perhatian. Dewa sama sekali tak pernah mengecewakan dirinya, siapa yang tak akan merasa beruntung? Diratukan oleh pasangan sendiri adalah mimpi semua perempuan di dunia.


Dia membuka matanya perlahan lantas menghela napas sejenak, menghalau rasa sakit yang menggangu hatinya. "Kenapa kamu cerita ke Mbak?" tanya Ralyn dengan suara pelan.


Andini memamerkan deretan gigi putihnya. "Hehehe ... mau pamer uwu aja, Mbak."


Apa dia bilang pamer? Pamermu justru luka untuk saudarimu, Andini. Justru tangis menyesakkan untuk saudarimu. Apa kamu tak pernah bisa mengerti diriku Andini? Bahkan setelah puluhan tahun kita lalui bersama, apa kamu masih tak sadar juga?


Hati Ralyn semakin sakit mendengar ucapan Andini, sebuah pisau seolah baru saja ditancapkan di sana. Andini berhasil membuat perasaan iri dan cemburu itu kian membesar, tetapi dia justru tak bisa melakukan apa pun.

__ADS_1


"Astaga, Dek. Kamu mau buat Mbak kamu ini iri, iya?" Ralyn bertanya dengan kekehan kecil yang terdengar sendu dan lagi, Andini tak sadar semua itu.


"Mbak, harus nikah! Biar rasain juga."


__ADS_2