Pernikahan Amanat

Pernikahan Amanat
Flashback (Ralyn POV)


__ADS_3

"Yah,  Ralyn berangkat, ya."


"Hati-hati, ya. Tetep jadi putri Ayah yang kuat."


Aku mematung kala tubuh tetap itu mendekapku dalam pelukan hangat miliknya. Rasanya berbeda, rasanya tak sama lagi. Entah, apa ini hanya perasaanku? Mengapa rasanya seperti ini yang terakhir? Kenapa?


"Yy--ah!" panggilku tergagap.


Kulihat Ayah menunduk untuk menatap diriku. "Kenapa, hm?"


Aku semakin mengeratkan pelukannya, kala nada lembut menggalun dengan indah di telingaku. Kenapa aku merasa akan kehilangan? Tuhan, tolong jangan ambil siapa pun dariku untuk saat ini. Aku belum siap untuk kehilangan siapapun saat ini Tuhan. Kumohon, kali ini saja.


"Ralyn sayang Ayah  hiks ...," ucapku dengan sedikit isakan.


Ayah terkekeh pelan melihat tingkahku. "Ayah juga sayang putri kecil Ayah."


***


"Kamu kenapa, Sayang?"


Aku tersentak mendengar panggilan Putra. Pandanganku mengedar, sejak kapan aku berada di kantin rumah sakit? Bukankah tadi aku ada di ruanganku? Apa aku sedari tadi melamun? Ya, Tuhan ada apa denganku? Rasanya menyesakkan.


"Kamu ngelamun?" Aku memandang Karin bingung.


"Ha? Aku? Melamun?" tanyaku dengan wajah linglung.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Putra.


"Ak--"


Drrt ... drrt!


Ucapanku terpotong karena dering ponselku. Mataku menyipit kala melihat nama penelpon. Ada apa ini? Kenapa perasaanku sangat tak karuan? Dengan cepat aku mengangkat telfon dari Ibu.


"Hallo! Kenapa, Bu?"


" .... "


Pyar!


Tubuhku membeku detik itu juga. Apa aku tak salah dengar? Tolong ... siapapun katakan ini salah! Katakan ini tak benar hiks ... katakan! Tuhan, apa ini?


"Lyn, kamu kenapa? Kenapa handphone kamu sampai kamu jatuhin?" tanya Karin dengan raut khawatir.


Aku masih diam, masih terkejut dengan fakta yang baru kudapati. Pikiranku entah berada dimana. Aku merasakan bahuku terguncang, kesadaranku sedikit kembali. Aku menoleh kesamping, menatap Putra yang tengah menatapku bingung dan khawatir.


"Kamu kenapa, hm?" tanyanya lembut sembari mengusap suraiku.


"Aaa--ayah, Ayah ... meninggal," sahutku tergagap.

__ADS_1


Saat itu pula air mataku jatuh juga. Aku menangis dengan keras di pelukan Putra. Ini sakit! Ini menyesakkan! Rasanya sangat menyesakkan, Tuhan! Kenapa kau tega Tuhan? Tega mengambil satu-satunya penyemangatku. Kenapa?


"Ma-maksud kamu?!" tanya Karin.


...***...


"AYAH!"


Setibanya di rumah, aku langsung memeluk tubuh kaku Ayah. Tubuh yang dulu memelukku dalam kerapuhan. Tubuh yang memberikanku kehangatan kala hancur. Tubuh yang siap menjadi tameng untuk diriku, tapi sekarang tubuh itu tak berdaya.


Jiwanya pergi mencapai abadi. Aku meraba lembut wajah Ayah, rasanya aku tak siap melepas sosok pelita dalam hidupku. Aku tak bisa! Sampai kapanpun. Yah, dengarkan putrimu ini! Bangun Ayah! Bangun! Putrimu butuh dirimu, Yah!


"Hiks ... Yah, bangun! Ayah tega ninggalin aku? Hiks ... tega liat aku sendiri, hm? Bangun, Yah!" ucapku sembari memeluk tubuh yang kini terbujur kaku itu.


Aku merasakan pelukan hangat. Ibu, Ibu memelukku erat untuk pertama kalinya. Yah, lihatlah! Ibu meluk Ralyn erat, Yah! Apa Ralyn harus bahagia? Atau sedih, Yah?


"Shut! Biarkan ayahmu tenang, Nak," tuturnya lembut.


Aku tahu, Ibu orang yang paling terluka. Aku tahu! Ayah, aku tak akan bisa tanpamu. Kenapa kau pergi? Meninggalkan putrimu sendiri, menghadapi kejamnya dunia. Mengapa, Yah?


"Ta--"


Bruk!


Aku merasakan pandanganku mengabur, hingga detik selanjutnya aku pingsan. Samar-samar kudengar riuh kepanikan dari orang-orang yang melayat. Aku merasakan tubuhku terangkat. Yah, aku ingin ikut denganmu!


...****...


Aku membuka perlahan mataku. Pandanganku mengedar, kulihat Putra dan Karin mendekat kearahku. Kenapa? Ke--kenapa aku disini? Aku harus menghadiri pemakaman Ayah!


"Kamu pingsan. Kamu shok, Lyn."  Aku menatap Karin tak linglung.


"Ayah, Rin!" ucapku dengan tatapan kosong.


Putra memeluk tubuhku erat. "Shut, Sayang!"


"Aku mau ke pemakaman Ayah, Put!" aduku.


"Shut! Kamu istirahat, ya? Kalau kamu udah mendingan kita ke sana."


...***...


Aku termenung menatap indah langit pada malam hari. Seperti biasanya, aku kembali sendiri. Namun, kali ini benar-benar sendiri. Sosok pahlawanku pergi, pergi meninggalkan beribu luka. Tanpa terasa sebulan sudah kematian Ayah, dan aku benar-benar sendiri.


Tak banyak yang berubah. Semua masih sama, masih berputar pada tempatnya. Hanya saja, rindu sering kali menyergap memasuki hati. Ya, aku selalu rindu sosok penopangku. Sosok yang selalu menjadi alasanku untuk tersenyum.


"Ralyn kangen Ayah," bisikku diantara hembusan angin.


Aku menghela napas, lantas masuk ke dalam kamar. Ini sudah semakin larut dan besok aku harus berkerja. Memang lebih baik aku tidur agar esok hari tubuhku lebih segar. Huft ... menyakitkan.

__ADS_1


***


"Selamat pagi." Aku hanya menjawab sapaan Andini dengan senyuman.


Yeah, dia menginap di sini sejak tiga hari lalu. Tentu Ibu tak akan keberatan saat anak tercintanya menginap di sini. Aku menoleh kebelakang, kulihat Dewa sudah rapi dengan setelan kantor miliknya. Ketampanannya semakin bertambah, aku akui itu.


"Mbak masak apa?" tanya Ralyn.


"Nasi goreng doang. Kamu mau makan?" ucapku mencoba rileks.


"Owh, boleh. Mas mau?"


Kulihat Dewa mengganguk sekilas. Apa berbicara itu bayar? Kenapa sulit sekali dia bicara? Aish ... percuma tampan jika bisu.  Ah, sudahlah untuk apa mengurusi dia lagi? Ingat, Lyn, ingat Putra!


"Mbak itu untuk aku aja, ya?" Aku tersentak kala Andini mengambil piringku.


"Eh, ja--" Ucapanku terhenti kala Andini memasukkan sesuap nasi goreng ke mulutnya.


Sial, nasi goreng milikku ada bawangnya dan Andini alergi terhadap bawang. Aish! Masalah apalagi yang akan datang saat ini. Aku memandang Andini cemas, pasti sebentar lagi akan bereaksi. Kenapa Andini selalu tak mau mendengarkan ucapan orang.


"Huh ... huh ... sakit! Mas dada aku sakit hiks ...."


Aku dengan cepat mengambil obat alergi milik Andini di kamarnya. Jangan salahkan aku karena ini, ini sudah jelas salahnya bukan salahku. Lagi pula kenapa asal makan makanan orang.


"Hosh ... hosh ... ini, And," ucapku dengan nafas memburu, Andini dengan  cepat mengambil obat yang kuberikan.


"Apa yang kamu berikan pada istri saya?"


Aku beralih menatap Dewa. "Saya gak kasih apa pun. Andini aja yang asal makan," sahutku sinis.


Aku lihat dia menggengam jemarinya kuat. Marah, eh? Ini memang bukan salahku! Sudah jelas nasi goreng itu milikku. Kenapa Andini asal makan? Lantas sekarang salahku, begitu? Pikirku.


"Kamu pasti sengaja, 'kan? Karena kamu suka saya, kamu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan saya." Aku terkekeh sinis mendengar ucapan Dewa, pede sekali.


Aku sejujurnya shok saat mendengar ucapannya. Dia tahu?


"Untuk apa saya melukai Adik saya sendiri? Saya tak sekeji itu Pak Dewa yang terhomat," ujarku dengan menekankan semua kalimat.


Oke, sepertinya aku harus menjadi sosok antagonis saat ini. Terlalu letih menjadi protagonis yang hanya diam saja. Lagi pula memang bukan kesalahanku, ini karena kecerobohan Andini sendiri. Kenapa menyalahkan aku?


"Dan, apa anda buta? Sudah jelas itu sarapan milik saya. Kenapa istri anda mengambilnya?" tanyaku dengan nada sinis.


Plak!


Aku memegang pipiku dengan tatapan nanar. Hey, dia menamparku? Hahaha ... sunguh lucu sekali, Tuan! Aku memandang Dewa tajam, tidak aku tidak boleh lemah! Saat ini tak ada Ayah di sisiku, siapa yang akan membelaku?


"Use your brain well, Sir. You are human with brained. Not only that you're also a highly educated man."


"Beginikah cara seorang pria dengan pendidikan tinggi memperlakukan perempuan? Gunakan mata anda dengan baik untuk melihat sesuatu. Urus istri anda sebelum dia mati."

__ADS_1


Maaf, tapi menjadi jahat itu perlu.


__ADS_2