
Seorang gadis dengan pakaian putih abu-abu berlari dengan riangnya menuju lapangan basket. *Senyum manis tercetak dengan jelasnya, gadis itu nampak begitu semangat. Banyak pasang mata yang menatap dirinya kagum, cantik dan cerdas. Kaum hawa mana yang tidak menaruh rasa iri hati?
Dia mengatur napasnya yang tersengal-sengal saat sudah sampai di lapangan basket, tepatnya di hadapan seseorang. Di saat napasnya dirasa sudah teratur, dia kembali menyunggingkan senyuman manis miliknya. Dia mengulurkan tangan kanannya yang berisikan botol minum. Gadis cantik itu tersenyum pada pemuda di hadapannya.
"Makasih," ucap pemuda itu sembari menerima botol minum tersebut.
Gadis itu tersenyum dengan sangat manis sembari menganggukkan kepalanya kecil. Tangannya mungilnya terulur mengusap bulir keringat di keningnya, tetapi sebuah tangan besar lebih dulu mencegahnya. Gadis itu tersenyum saat merasakan jemari besar dan kekar itu mengusap bulir-bulir keringat di keningnya.
"Dewa, jangan buat aku baper!" ucap gadis itu yang dibalas gelak tawa oleh pemuda di hadapannya.
Dia Diana Almira, sosok gadis yang selama ini menjadi kekasih seorang Dewa Lingga Anggara. Dia adalah gadis yant menjadi cinta pertama seorang Dewa. Hubungan mereka sangatlah romantis, bahkan banyak yang menaruh iri hati pada hubungan mereka.
"Lucu banget pacar aku." Dewa mencubit pelan hidung milik Diana.
Gadis itu memberengut kesal. Dia menatap Dewa dengan tatapan tajamnya bukannya merasa takut, Dewa justru semakin dibuat gemas oleh tingkah Diana. Pemuda itu menarik Diana ke dalam pelukannya, Dia menjerit histeris saat menyadari tubuh Dewa yang dibasahi oleh keringat.
"DEWA ... BADAN KAMU KERINGETAN IHH*!"
...***...
*Hubungan antara Diana dan Dewa sudah berjalan selama satu tahun, satu tahun itu pun terjadi banyak masalah yang berhasil mereka hadapi. Pertengkaran kecil yang berakhir saling mendiami selalu berlangsung selama satu hari. Namun, pada akhirnya Diana harus menurunkan egonya karena rasa rindu yang menggerogoti dirinya.
Seperti saat ini, gadis cantik itu nampak memberenggut kesal saat sang kekasih begitu asyiknya bermain* game. Dewa bahkan mengabaikan dirinya hanya karena sebuah permainan. Terlalu bosan berdiam diri, Diana akhirnya bangkit dari duduknya. Dia lebih memilih kembali ke kelas daripada harus di kantin, tetapi terabaikan.
"Pacaran aja sana sama game," *sindir Diana.
Dewa yang melihat itu menghela napasnya lantas menarik tangan Diana lembut agar kembali duduk di sebelahnya. Dewa tersenyum tipis melihat raut datar Diana, dia yakin kekasihnya itu tengah marah sekarang.
"Cemburu?" tanya Dewa dengan lembut.
"Pikir aja sendiri!" ketus Diana sembari memalingkan wajahnya.
"Cemburu kok sama permainan," ejek Dewa.
__ADS_1
Diana mendengus kesal. "Terserah."
Dewa terkekeh, dia lantas menarik Diana ke dalam pelukannya. Dengan sengaja pemuda itu menggigit pipi berisi milik Diana, perbuatannya itu berhasil membuat Diana meringis pelan.
"Sshh ... Jangan digigit, ih!" rengek Diana.
"Siapa suruh gemesin, hm*?"
...***...
"*DIANA ENGGAK MAU, PA!"
Seorang pria paruh baya menghela napasnya kasar. Putri semata wayangnya terlalu keras kepala, terlalu sulit membuat Diana menuruti keinginannnya.
Pria itu berjalan mendekati Diana, dia menarik Diana untuk duduk di sofa. Diana masih terdiam, dia mencoba menahan isakan yang akan lolos dari mulutnya. Gadis cantik itu hanya memandang kosong ke depan dengan mata berair.
"Sayang, dengerin Papa. Ini semua demi kebaikan siapa? Kamu, 'kan? Papa mau kamu sembuh, Diana. Sedangkan, Kanker otak yang kamu derita udah memasuki stadium tiga, Sayang," jelas pria paruh baya itu sembari menahan tangisnya.
"Pa, Diana bisa berobat di Indonesia," balas Diana dengan tatapan kosong.
"Oke, Diana mau*."
...***...
*Diana Almira harus menerima takdirnya yang menderita kanker otak. Gadis itu seketika merasa dunia tak adil padanya, saat mimpinya sebagai model ada di depan mata. Dia justru divonis kanker otak stadium 3.
Mental Diana hancur saat itu, dia bahkan mengurung dirinya selama berhari-hari. Gadis yang menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS itu bahkan tidak datang ke sekolah, dirinya benar-benar dihancurkan oleh penyakit yang dideritanya.
Setiap harinya, gadis itu hanya menangis. Dia bahkan mengutuk takdir yang begitu keji padanya. Untuk sesaat, Diana seolah menjadi manusia yang paling tersakiti di dunia.
Melihat putri semata wayangnya yang hancur jelas itu membuat hati Hendri selaku Ayah Diana turut hancur. Pria itu bahkan hanya bisa melihat anaknya yang terus saja menangis dan melamun, hati Hendri benar-benar tersayat melihat kondisi putrinya.
"Sayang, makan dulu terus minum obat, ya." Hendri masuk ke dalam kamar Diana dengan nampan di tangannya.
__ADS_1
Pria itu menghela napas saat melihat Diana yang hanya memandang kosong ke arah jendela. Dia meletakkan nampan yang berisi makanan, air, dan obat milik putrinya.
Hendri berjalan menghampiri Diana yang terduduk di lantai. Dia mengusap surai sang anak dengan lembut, mati-matian Hendri menahan air matanya yang akan luruh. Anak yang biasanya menampilkan raut bahagianya kini hanya melamun dan menatap kosong ke arah jendela, tentu saja membuat hati siapa saja teriris.
"Diana kenyang." Jawaban bernada datar itu membuat Hendri memejamkan matanya.
"Sayang, makan, ya? Kamu mau sembuh, 'kan?"
"Iya."
"Minggu depan kita ke Belanda."
Diana menghela napasnya mendengar penuturan Hendri*.
...***...
**Di sisi lain, Dewa nampak uring-uringan karena Diana hilang tak ada kabar. Bahkan saat pemuda itu mendatangi rumah Diana, satpam di rumah tersebut mengatakan tidak ada siapa pun di dalam rumah. Dewa khawatir? Tentu saja, pemuda itu bahkan tak bisa tenang barang sedetik.
Dewa telah mencoba bertanya pada sahabat-sahabat Diana, tetapi mereka pun tidak ada yang tahu di mana Diana berada. Pemuda itu kehabisan cara untuk menemukan Diana.
"Kamu ke mana, Sayang? Jangan buat aku khawatir," desis Dewa sembari terus menghubungi nomor Diana.
Sialnya, nomor tersebut di luar jangkauan. Dewa membanting ponselnya hingga hancur. Pemuda itu menjambak kuat rambutnya, dia cukup frustasi saat ini.
"Pergi ke mana, sih?!" kesal Dewa.
...***...
Sesuai ucapan Hendri, hari ini Diana akan pergi ke Belanda untuk melakukan pengobatan. Wajah gadis itu nampak pucat, tatapan kosong miliknya yang begitu menyakiti hati Hendri. Diana berjalan layaknya mayat hidup, Hendri hanya mampu memandang iba putri kecilnya itu.
Saat ini mereka tengah berjalan untuk memasuki pesawat. Ada perasaan sesak yang mengusik Diana. Dia tak rela untuk meninggalkan kekasihnya, bahkan Diana tak berpamitan. Alasannya, karena gadis itu tak akan sanggup.
"Diana, siap?" tanya Hendri.
__ADS_1
Dia mengangguk. "Iya, Pa," sahut Diana lantas memasukki pesawat bersama Hendri.
Diana memandang kosong ke luar jendela. "Aku janji kembali, Dewa**."