
Karin memijat keningnya saat mendengar cerita Ralyn tentang pertengkaran yang terjadi. Dia sudah menduga semuanya akan seperti ini, tetapi tetap sajak dia merasa terkejut. Perempuan itu menghela napasnya kasar sembari menatap sang sahabat. Karin melirik Ralyn yang memandang kosong brankar di ruangannya, dia prihatin dengan kondisi sahabatnya itu.
"Lyn," panggil Karin pelan.
Ralyn yang merasa namanya dipanggil pun menoleh, dia memandang Karin dengan tatapan penuh tanya.
"Kamu nginep di rumahku aja dulu, ya?" tawar Karin.
Ralyn menganggukan kepalanya, perempuan itu enggan membuka suaranya. Isi kepalanya penuh dengan permasalahan yang menimpanya. Ralyn muak, dirinya muak dengan situasi saat ini. Dia pun tak ingin menaruh hati pada Dewa, tetapi hatinya justru berlabuh pada seorang Dewa.
Menarik napasnya pelan, lantas dihembuskan perlahan. Ralyn memandang Karin dengan tatapan sendu. Air matanya luruh begitu saja tanpa diminta, perempuan itu menutupi wajahnya lantas terisak. Karin yang melihat itu segera mendekati Ralyn dan memeluk perempuan itu dengan erat. Diusapnya punggung Ralyn dengan lembut, perempuan yang bergelar Sp.KJ itu justru semakin terisak.
"Ri—rin hiks ... Ini sa—sakit, Rin. Hiks ... Aku bahkan enggak tahu cara ngehapus perasaan ini, a—aku juga enggak mau hiks ...," adu Ralyn.
'Sssttt ... Ini bukan salah kamu, Lyn. Hati kamu enggak bersalah, ini kehendak takdir. Kamu enggak salah, kamu dan hati kamu enggak salah," kata Karin sembari mengeratkan pelukannya.
Tangis perempuan itu sedikit mereda, dia melepaskan pelukannya. Ralyn menghela napasnya kasar lantas menghapus air matanya. Rasa sakit di hatinya tak bisa dia elakan. Semakin menyesakkan setiap harinya, bahkan perempuan itu tak bisa tidur dengan tenang. Bayang-bayang wajah Dewa, ucapan Andini, dan rasa sakit yang menghantam hatinya, semua itu mengusik dirinya.
Ralyn tersenyum amat tipis, dia memandang Karin dengan tatapan yang masih terlihat sendu. Perempuan itu hanya sedang berusaha pura-pura baik-baik saja. Dia tak ingin sahabatnya itu sedih melihat dirinya yang terus meratapi nasib.
Tok! Tok! Tok!
"Maaf, Dok. Ada pasien kecelakaan, di mana salah satunya Ibu hamil. Pasien harus segera melakukan operasi, Dok," celetuk Suster Mila.
Ralyn dan Karin sontak menoleh ke arah pintu. Mendengar ucapan Suster Mila membuat Karin segera bangkit dari duduknya, dia berjalan mengambil jas kebanggaannya lantas menggunakannya.
"Siapkan ruang operasi, saya segera ke sana," titah Karin sembari memakai jasnya dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Baik, Dok." Suster Mila lantas pergi meninggalkan ruangan Karin.
Karin menatap sahabatnya. "Aku ada operasi, kamu aku tinggal dulu, ya."
Ralyn tersenyum lantas mengangguk. Dia jelas tak keberatan, sudah profesi mereka harus siap 24 jam untuk pasien.
"Iya."
...***...
Sayang♡:
[Nanti kita ketemuan ya, By.]
Sesil tersenyum senang saat mendapati pesan dari seseorang yang sangat dia cintai. Setelah mengetikkan balasan berupa kata "Oke" Perempuan itu kembali meletakkan ponselnya di nakas.
Sesil, wanita yang mengandalkan segala cara agar keinginannya terwujud. menghancurkan hubungan Ralyn dan Putra, menyerahkan mahkotanya, bahkan dengan sengaja menjebak Putra dengan obat peningkat nafsu. Semua itu Sesil lakukan demi bisa bersama seorang Putra Hermawan.
Mencintai Putra semenjak dirinya kecil membuat rasa obsesi itu muncul. Menurut wanita itu tak ada cinta tanpa adanya rasa ingin memiliki, tetapi dia telah melewati batas dari rasa ingin memiliki itu. Sesil bahkan mulai tak bisa membedakan antara benar dan salah jika itu mengenai Putra. Bagi wanita itu semua tindakannya jika tentang Putra adalah kebenaran.
"Duh, aku jadi pengen digagahin Putra lagi," keluh Sesil dengan wajah sayunya.
Wanita itu menjadi candu akan diri Putra, dia akan selalu menggoda Putra agar Putra mau melakukan hubungan intim bersamanya. Putra yang dasarnya sudah mulai candu akan hubungan intim jelas tak bisa menolak begitu saja godaan yang diberikan Sesil, pria itu kalah jika menyangkut tubuh molek Sesil.
"Sebentar lagi aku akan jadi Nyonya Hermawan."
...***...
__ADS_1
Dewa memandang seorang pria yang berdiri di hadapannya, dia bangkit dari duduknya lantas memeluk pria itu dengan erat. Senyum tipis tercetak di wajah tampannya, dia sungguh terkejut saat sahabat lamanya datang ke rumahnya. Tak dapat dipungkuri ada perasaan bahagia yang membuat Dewa tak melunturkan senyum manisnya.
"Long time no see," ucap pria itu membuat Dewa terkekeh pelan.
"Kamu terlalu sibuk, Abimana Raharja," sahut Dewa.
Mereka melepaskan pelukannya bertepatan dengan Andini yang memasuki ruang tamu. Wanita hamil itu menaikkan satu alisnya saat melihat keberadaan pria yang asing di matanya. Andini berjalan menghampiri mereka saat sang suami melambaikan tangan ke arahnya.
"Sayang, kenalin dia sahabat Mas. Namanya Abi," ucap Dewa saat Andini sudah berada di sampingnya.
Andini yang mendengarkan itu menganggukkan kepalanya, dia tak asing dengan nama orang tersebut. Namun, Andini tak tahu siapa orangnya dan siapa dia. Wanita itu terlalu malas untuk ikut campur perihal perkembangan bisnis, meskipun sang suami adalah pembisnis.
"Andini."
Abi hanya menganggukkan kepalanya, dia kembali memandang Dewa yang mempersilakan dirinya untuk duduk. Andini berjalan ke dapur meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan Abi minuman dan membawakan camilan untuk sahabat suaminya itu.
Abimana Raharja, salah satu pengusaha sukses yang berstatus duda. Sang istri saat itu mengalami kecekalaan membuatnya dan sang calon anak merenggang nyawa. Kejadian itu jelas menimbulkan perasaan hancur di hati Abi— pria itu bahkan tak sabar menanti kehadiran calon buah hatinya. Namun, Tuhan justru berkehendak lain.
Sebulan setelah kepergian anak dan istrinya, Abi memilih menetap di Belanda. Pria itu berharap mampu melepaskan bayang-bayang istri dan anaknya. Menetap selama dua tahun di Belanda membuat Abi perlahan mampu bangkit, tetapi perasaannya untuk sang istri tak juga surut. Dia masih mencintai sang istri, sosok wanita yang mengenalkan Abi ke dalam apa itu cinta.
Abi memandang Dewa dengan intens. "Ditinggal ke Belanda udah mau punya anak aja, Wa."
Dewa terkekeh mendengar penuturan dari Abi. "Gimana di Belanda? Ketemu bule mulu ya?"
Abi tergelak mendengar penuturan sahabatnya. Dia memang bertemu dengan bule bahkan banyak bule yang terang-terangan mendekatinya, tetapi posisi Almarhumah istrinya tak ada yang bisa menggantikan. Mungkin lebih tepatnya belum ada yang bisa menggantikannya.
"Kamu pasti masih cinta sama Dania," ucap Dewa yang membuat Abi terdiam dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Dan akan selalu cinta Dania."