
"Pagi, Mbak."
Aku terkejut mendengar sapaan itu. Pandanganku mengedar ke segala arah, sejak kapan Andini ada di sini? Ini masih terlalu pagi, apa dia tak menyiapkan kebutuhan Dewa?
"Mbak cari siapa?" Aku terkejut mendengar teguran Andini.
Aku berjalan mendekati dirinya. Segala macam pertanyaan ingin sekali kutanyakan. Namun, aku bingung, bingung menyusun kalimat yang tepat. Jika, aku salah bicara sedikit saja akan rumit jadinya.
"Kamu kenapa pagi-pagi di sini?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatiannya.
Dia menatapku dengan satu alis terangkat. "Ini, 'kan juga rumahku, Mbak."
Sial, aku salah pertanyaan! Sudah jelas Andini bebas ingin ke mari kapan saja yang dia mau. Kenapa masih kupertanyakan? Bodoh sekali dirimu Ralyn.
"Bu--bu--bukan gitu maksud Mbak."
"Lupain. Kemarin Mbak pulang sama siapa?"
Pertanyaan tiba-tiba Andini membuatku terdiam. Ibu menatap diriku dengan intens. Huft ... kenapa aku jadi deg-degan begini, aku sedang tak menggoda Adik iparku sendiri, 'kan?
Aku menelan salivaku susah payah, rasanya seperti ada yang menyangkut di tenggorokanku seketika. Apa Andini tahu perasaanku? Aku rasa tidak, itu tak mungkin. Selama ini, hanya Ayah saja yang tahu.
"Kenapa kamu diem, Lyn?" Aku menatap Ibu sejenak. Iya, Ibu yang melontarkan pertanyaan itu.
Aku berdehem sebentar. "Iii-itu sama suami kamu, kenapa?"
Kenapa harus gugup segala sih? Bisa-bisa mereka curiga. Tamatlah riwayatmu, Ralyn. Huh ... mulutku ini benar-benar tak bisa dikontrol.
"Gak papa sih, Mbak. Aku jaga-jaga aja, pelakor sedang menyebar di mana-mana." Aku terdiam mendengar jawaban tenang dari Andini.
Ini, kelebihannya. Kelebihan yang tak semua orang tahu. Andini pandai mengecoh dengan sikap tenangnya, justru sikap tenangnya adalah bencana.
"Maksud kamu?" ujarku sembari meletakkan roti yang kupegang.
"Iya, kita, 'kan gak tahu siapa pelakor itu. Jadi, waspada aja," sahutnya sembari mengigit rotinya.
Aku jelas dapat merasakan tatapan sinis Andini, aku menghela napasku kasar. Memilih melanjutkan ritual sarapanku daripada meladeni Andini.
"Andini benar. Bisa aja, 'kan orang terdekat itu pelakor." Kulihat Ibu melirik diriku sekilas.
"Hm," sahutku singkat.
Andini tak terima, dia meletakkan rotinya dengan kasar ke piring. "Lho, bener dong! Andini, 'kan hanya waspada. Wajar, dong? Secara Mas Dewa itu ganteng, kaya, sempurna. Siapa yang gak naksir?" sentaknya.
Kali ini, dia sudah benar-benar marah. Terbukti dari raut wajahnya yang memerah.
"Aku pergi."
__ADS_1
Lebih baik aku ke rumah sakit, setidaknya pertengkaran ini mereda.
...***...
"Setelah pemeriksaan tadi, Anak Ibu mengidap insomnia. Dimana pengidapnya akan kesulitan beristirahat saat malam hari. Saran saya, perbanyak melakukan aktivitas di siang hari agar malam mudah untuk tidur. Untuk obat akan saya resepkan, silahkan tebus di apotek."
"Terima kasih, Dok." Aku hanya membalas dengan senyuman tipis.
Hah ... lega sekali rasanya saat bisa membantu banyak orang. Rasanya aku seolah diberi amanat oleh Tuhan untuk menjaga kesehatan emosional manusia. Ah, mari sudahi hiperbola ini. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah waktunya makan siang.
Aku bangkit dari dudukku. Mari, kita mengisi perut kita. Cacing-cacing dalam perut sudah berteriak ingin makan. Hahaha ... lebay sekali aku, tak apalah sekali-kali. Aku harus susul Karin jika begini.
Dari kejauhan, aku melihat Karin berjalan sembari melamun. Ada apa dengannya? Tak biasanya begini. Dengan sedikit berlari aku menghampirinya guna menyamakan langkah kami. Dia belum juga sadar dengan keberadaan diriku, sebenarnya dia memikirkan apa? Aku menepuk pelan bahunya, tentu dia terkejut. Aku bisa melihat dia mendadak linglung, persis seperti orang tak tahu apa-apa.
"Rin, kamu kenapa?" tanyaku pelan.
Dia menoleh ke kiri, menatap diriku. "Ha? Gimana, Lyn?"
"Huft ... mikirin apa?" tanyaku ulang.
Karin menggeleng pelan. "En--enggak ada, kok. Ya, udah, kita makan siang dulu."
Aku menatapnya heran. Hey! Sudah jelas dia menyembunyikan sesuatu, huh! Mau berbohong denganku? Mana bisa. Huft ... semoga Karin tak terkena masalah serius. Aku hanya bisa mendoakan tak lebih, terlebih lagi dia tak mau bercerita.
...***...
Aku yang baru pulang berkerja dikejutkan dengan suara Andini. Aku masih tak paham untuk sesaat, mataku memandang sekeliling. Kenapa ada Dewa di sini? Pandanganku tanpa sengaja menatap foto Ayah yang tengah tersenyum, melihat itu membuat hatiku tanpa sadar menjadi tenang.
Tu--tunggu! Tadi Andini bilang apa?! Foto Dewa?! Jaja-jadi, dia menemukannya? Ya, Tuhan apalagi ini? Hamba-Mu lelah. Aku menghela napas pelan, mataku terpejam dengan erat.
Kamu bisa, Ralyn! Ayo, semangat!
"Andai aku gak berniat minjem baju Mbak, aku gak akan tahu ini."
Mataku terbuka mendengar penuturan Andini. Siapa yang mengizinkan dia masuk kamarku? Itu sudah jelas privasi. Apa dia tak paham?
"Siapa yang ijinin kamu masuk kamar Mbak?" tanyaku dingin.
Dia terkekeh hambar. "Kenapa Mbak? Kenapa? MBAK TAKUT KALAU KETAHUAN NYIMPEN FOTO SUAMI ADEKNYA, IYA?!"
Aku mengernyitkan dahiku, aku menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
"Sejak kapan kamu berani bentak Mbak, hm?"
"Sayang, udah! Lagian itu foto jaman SMA Ralyn. Mungkin, dia gak sengaja," sela Dewa sembari menarik Andini dalam pelukannya.
Aku terkekeh sinis. "Udah berani ya kamu? Gak tahu diri," pungkasku.
__ADS_1
Sekarang, dia menatapku tajam. Maaf, Andini untuk kali ini aku menyakitimu. Maaf, untuk kali ini aku melukaimu Adik kecil.
"Mbak murahan, ya! Emang cowok di dunia ini kurang? Sampai Mbak naruh hati sama suami adiknya sendiri!"
"Ibu, 'kan udah minta kamu menikah Ralyn!" celetuk Ibu.
Aku terkekeh sinis saat tak ada satupun orang memihakku di sini, andai Ayah masih ada. Beliau pasti akan membelaku.
Aku menghela napas. Owh, jadi ini? Ini balasannya selama ini? Seperti ini? Aku juga tak mau! Aku tak mau mencintai Dewa, tapi apa daya, rasa ini enam tahun menetap. Aku bisa apa?! Selain menyerahkan semua pada Tuhan. Aku bisa apa?
Rasa ini juga menyiksa diriku setiap harinya aku harus menahan sesak. Lalu, sekarang dia bilang aku mu--murahan, inikah yang namanya saudari?
"Kenapa Mbak diem? Karena udah ketahuan sekarang Mbak murahan?" hardik Andini.
Mataku terpejam erat, tanganku mengepal. Andini kelewatan, ini sudah kelewatan. Jika iya, aku murahan, aku sudah merebut Dewa dari awal.
Dewa mengusap lengan Andini lembut. "Sayang, udah!" tuturnya dengan nada lembut.
Indah sekali pemandangan di hadapanku ini.
"Apa kamu bilang? Mbak murahan? Gak tahu diri kamu, ya?" Aku menghela napas pelan. "Kalau bukan karena Mbak, kamu udah mati! Kamu gak akan hidup selayak ini. Ingat! Kalau bukan karena Mbak mungut kamu waktu di pasar, kamu gak akan hidup sampai sekarang!" sentakku.
Kulihat dia mematung. Hahaha ... apa dia lupa siapa yang t'lah menolongnya dulu? Menolong seorang gadis kecil yang dibuang keluarganya. Ternyata benar, kebaikanmu akan dilupakan saat hidup orang yang kamu tolong terbius kenikmatan.
"Kenapa diem, hm? Kamu lupa dengan gadis berbaju kuning yang memaksa meminta ikut pada gadis berusia 12 tahun, lupa? LEBIH MURAHAN MANA SAMA ORANG YANG NGEMIS UNTUK DIPUNGGUT, ANDINI?! LEBIH MURAHAN MANA? MBAK SELAMA INI DIEM, TAPI GAK SAAT KAMU NGATAIN MBAK MURAHAN! KAMU REBUT KASIH SAYANG IBU, MBAK DIEM. KAMU NIKAH SAMA PAK DEWA, MBAK JUGA DIEM! KAPAN MBAK REBUT APA YANG KAMU PUNYA? BUKANNYA ITU KAMU, HM? KAMU REBUT SEMUA YANG MBAK PUNYA, ANDINI! GAK TAHU DIRI BANGET JADI MANUSIA, ANJING BAHKAN TAHU CARA BERTERIMA KASIH PADA TUANNYA."
Napasku memburu. Aku merasakan pelukan hangat, bayang-bayang Ayah menghantui. Aku seolah merasakan pelukan Ayah saat ini. Mataku terpejam, menikmati pelukan hangat Ayah. Ayah, putrimu sudah lelah.
"Sakit, Yah," bisikku.
Sebuah bisikan bernada lirih menyapa pendengaranku. "Putri Ayah pasti bisa, kamu kuat, sayang."
Baru saja aku akan membalas bisikan itu, tapi sebuah tangan melayang di wajahku.
Plak!
Ii--bu menamparku? Menamparku demi Andini? Sebenarnya anak kandung Ibu siapa? Andini, kah?
"Sampai Andini kenapa-kenapa, kamu yang salah!"
Aku mematung. Apa saat aku terluka Ibu akan begitu, Bu? Akan khawatir. Anakmu juga terluka, Bu! Hatinya tak pernah baik-baik saja. Apa Ibu tahu? Setiap malamnya anakmu menangis, menangisi takdir yang semakin tak kenal belas kasih, Bu!
Kini, tersisa aku seorang diri. Ibu telah kembali ke kamar dan Dewa yang mengejar Andini.
"Anak Ayah harus kuat, ingat! Dunia ini kejam. Dunia ini tak mengenal kata 'kasihan', dunia ini tak peduli derita manusia."
Ucapan Ayah kala itu tergiang di pikiranku, aku menghela napasku kasar.
__ADS_1