
Sesil menatap makanan di hadapannya dengan tak minat, suasana hati wanita itu sedang buruk. Menanti Putra selama satu jam di kantin rumah sakit membuatnya muak, wanita itu seperti menghabiskan waktunya untuk hal tak berguna. Dia berniat mengajak Putra makan siang, tetapi hingga saat ini pria itu tak memunculkan batang hidungnya juga.
Sesil menatap sekitarnya yang perlahan mulai sepi, dia menghela napasnya kasar. Perempuan itu merosotkan tubuhnya secara perlahan, menidurkan kepalanya di atas tumpukkan tangan. Rasa laparnya telah hilang karena terlalu lama menanti Putra, justru berganti dengan perasaan kesal sekarang.
Sebuah derap langkah kaki yang tergesa-gesa berjalan menghampirinya, Sesil segera menegakkan tubuhnya. Dapat dia lihat Putra yang berlari ke arahnya, wanita itu segera memasang wajah datarnya. Siap menyembur Putra dengan kemarahan yang sedari tadi dia pendam, baru saja dia akan membuka mulutnya saat Putra sudah di hadapannya. Namun, pria itu justru mencium lembut kening Sesil membuat amarah wanita itu melebur.
"Maaf, ya. Tadi ada pasien anak kecil yang satu sekolah keracunan," ucap Putra dengan nada sesal.
Sesil menghembuskan napasnya, dia sadar dan cukup sadar mengenai profesi pria di hadapannya. Dia tak bisa memarahi Putra karena pria itu menjalankan tugasnya dan mengutamakan tugasnya. Sesil mencoba memahami posisi Putra walau ada perasaan kesal yang bersarang.
"Iya, aku paham." Sesil tersenyum manis membuat pria di hadapannya ikut tersenyum.
Putra mengelus rambut Sisil dengan lembut. "Kamu udah makan?"
"Belum." Sesil menggelengkan kepalanya pelan. "Kan nunggu kamu," sambungnya.
"Ya udah, kita makan sekarang," sahut Putra.
"Suapin," ucap Sesil sembari menunjukkan deretan gigi putihnya.
"As you wish, Baby."
...***...
Andini memejamkan matanya kala merasakan sebuah tangan mengusap lembut perutnya dari belakang. Tanpa menoleh pun dia tahu siapa orang yang memeluknya dari belakang, wanita itu tersenyum hangat. Dia membalikkan badannya, menatap sang suami dengan lembut. Andini membalas pelukan Dewa tak kalah erat, dia membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Wanita itu menghirup aroma memabukkan yang menguar dari tubuh suaminya.
Iya, semenjak kehamilannya, Andini semakin candu dengan aroma tubuh suaminya. Andini bahkan selalu mendusel di ketiak Dewa saat Dewa baru kembali dari kantor, aroma keringat yang bercampur dengan parfum itu selalu berhasil membuat Andini merasa nyaman. Hormon kehamilannya saat ini memang berhasil membuat Dewa gemas dengan tingkah Andini.
"Udah puas nyium ketiak Mas, hm?" tanya Dewa sembari mengusap rambut Andini.
__ADS_1
Wanita itu menganggukkan kepalanya pelan lantas mengecup ketiak Dewa. Melihat tingkah istrinya membuat Dewa melenguh pelan, pria itu menatap istrinya dengan sayu. Merasa dirinya ditatap, Andini mendongakkan kepalanya, dia menatap Dewa dengan satu alis terangkat.
"Jangan goda Mas, Sayang," ucap Dewa dengan suara beratnya.
Wajah Andini merona, wanita itu merasa malu dengan ucapan suaminya sendiri. Tanpa sadar tangan wanita itu terulur mencubit pinggang sang suami, Dewa yang menerima cubitan sang istri sontak meringgis pelan. Dia menatap istringa dengan tajam, Andini yang sadar perbuatannya segera menjauhi sang suami. Namun, dengan cepat Dewa menarik tangannya membuat wanita itu berada dalam dekapan sang suami.
Dipeluknya erat pinggang sang istri, perut yang membuncit itu seolah tak menjadi penghalang untuk Dewa terus memeluk Andini. Pria itu mulai menghirup aroma lemon yang menguar dari tubuh Andini, aroma yang berhasil membuat Dewa candu.
Andini membalas pelukan Dewa tak kalah erat. Wanita itu bahkan memejamkan matanya dengan erat, dia mencoba meresapi setiap kehangatan yang Dewa berikan. Hal-hal sederhana yang selalu membuat Andini merasa beruntung memiliki Dewa.
"Mas mau makan apa?" tanya Andini sembari mendongakkan kepalanya menatap Dewa.
Dia terdiam sejenak. "Apa aja asal makannya bareng kamu," jawab Dewa dengan senyum manisnya.
Wajah Andini kembali merona, dia dengan cepat menyembunyikan wajahnya di ketiak milik sang suami. Dewa terkekeh geli melihat tingkah laku sang istri, pria itu melonggarkan pelukannya. Dia menatap Andini dengan lembut, diusapnya wajah yang memerah itu dengan lembut. Andini memejamkan matanya, dia tak sanggup ditatap begitu dalam oleh Dewa.
"Aku minta Bibi masakkin makanan kesukaan kamu, Mas."
"Terus kenapa tadi nanya aku mau makan apa?" tanya Dewa dengan raut kebingungan.
Dia menunjukkan deretan giginya. "Basa-basi, hehe ...."
Memang Andini tak jago perihal memasak ataupun membereskan rumah, wanita itu terbiasa hidup dimanja oleh keluarganya. Semua perkerjaan Ibu rumah tangga dilakukan oleh Asisten rumah tangga. Dewa sendiri tak pernah mempermasalahkan perihal semua itu, karena baginya dia mencari istri bukan pembantu.
"Ya udah, ayo kita makan siang. Kasian dede bayinya udah kelaparan."
...***...
Mengatur napasnya sejenak, Karin melepaskan handscoon steril yang membungkus tangannya. Handscoon yang berlumuran darah itu dibuangnya ke tempat sampah, dia segera melangkahkan kakinya menuju wastafel. Perempuan itu mencuci bersih tangannya dengan sabun dan air mengalir. Setelah dirasa semuanya telah bersih, Karin berjalan keluar ruang operasi.
__ADS_1
Dia segera menghampiri keluarga pasien, perempuan itu memasang senyum tipis sangat tipis di hadapan keluarga pasien. Karin menghela napasnya perlahan, sebelum menatap satu persatu anggota keluarga pasien.
"Syukurlah pasien berhasil melewati operasi caesar, meski sempat melalui masa kritis. Bayi yang di dalam kandungannya pun terlahir dengan kondisi sehat dan tanpa kekurangan apa pun, untuk jenis kelaminnya laki-laki, ya," jelas Karin setelah melepas masker medis yang menutupi wajahnya.
Senyuman penuh kebahagiaan tercetak dengan jelas di wajah keluarga pasien, mereka satu per satu mengucapkan terima kasih kepada Karin yang dibalas anggukan singkat dan senyuman tipis.
"Apa saya sudah bisa menjenguk istri saya, Dok?" tanya suami pasien.
Karin menganggukan kepalanya singkat. "Tentu, tetapi setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat, ya."
"Kalau begitu, saya permisi," lanjut Karin lantas beranjak pergi menjauh dari ruang operasi.
Perempuan itu segera memasuki ruangan miliknya, mendudukkan dirinya di atas sofa. Dia sibuk mengatur napasnya yang terengah, tubuh perempuan itu sedikit kelelahan. Dia memejamkan matanya sejenak, dia membutuhkan waktu untuk istirahat dan mengembalikan tenaganya.
Jumlah pasien yang mengunjungi Dokter Obstetri dan Ginekologi ataupun Dokter Kandungan memang lebih banyak dari biasanya. Hari ini Karin bahkan menangani pasien lebih dari 20 orang dan lima dari mereka melakukan persalinan normal ataupun caesar.
Perempuan itu untuk pertama kalinya tumbang karena profesinya. Dia mengatur napasnya perlahan, kepalanya berdenyut dengan hebatnya. Karin mengulurkan tangannya untuk memijat keningnya, dia hanya berharap untuk pulang ke rumah sekarang.
Tok! Tok! Tok!
Karin membuka matanya, dia menghembuskan napasnya kasar. "Masuk."
Pintu ruangannya terbuka, menampilkan seorang Suster yang membawa nampan. Karin yakin Suster yang selama ini membantunya mengurus pasien dan mengurus jadwalnya membawa makan siang, jus mangga, dan vitamin. Karin dapat melihat dengan jelas apa yang ada di nampan itu.
"Ini buat Dokter," ucap Dokter itu sembari meletakkan apa yang ada di nampan di atas meja yang berada di depan Karin.
"Astaga, Sus. Enggak perlu repot-repot, tapi makasih, ya," ucap Karin.
"Enggak repot kok, Dok. Monggo dimakan Dok supaya Dokter kembali berenergi."
__ADS_1