Pernikahan Amanat

Pernikahan Amanat
Sebuah Masa Lalu


__ADS_3

Seorang perempuan termenung di ruangannya, pikirannya melayang jauh ke belakang. Dia menghela napasnya kasar saat perasaan sesak mengusiknya. Perempuan itu memejamkan matanya sejenak, rasa sesak yang dirasanya semakin menghantam dadanya. Dia berusaha mati-matian menahan air matanya.


"Ayah, maafin Ralyn harus mencintai Adik ipar Ralyn sendiri," lirihnya dengan air mata yang berhasil lolos.


Ralyn menyerosotkan tubuhnya, dia meletakkan kepalanya di atas meja dengan wajah yang ditelungkupkan ke meja. Bayang-bayang masa lalu itu mengusik, bayang di mana dia mengenal Dewa, jatuh cinta, dan seterusnya hingga sekarang.


Perempuan itu ingin membenci perasaannya untuk Dewa, tetapi dia tak bisa. Mungkin tak akan pernah bisa, setiap kali Dewa selalu terbayang dalam benaknya. Bahkan rasa cintanya selalu lebih besar untuk keinginan dirinya membenci Dewa.


Dia menghela napasnya kembali, kenapa harus sesakit ini?


...***...


Flashback On ....


Dewa Lingga Anggara adalah seorang guru di Sekolah Menengah Atas dulu. Pak Dewa panggilannya, dia sosok Guru yang menjadi idaman perempuan di sekolah tersebut. Tak terkecuali Ralyn, perempuan itu sudah lama menaruh rasa pada sosok Dewa. Dewa berhasil membuat si kutu buku jatuh cinta dirinya pada pandangan pertama.


Mengagumi sosok Dewa dalam diam adalah hobi yang sudah Ralyn tekuni sejak tertarik dengan Dewa. Perempuan yang pandai dalam merangkai kalimat puitis itu selalu menuangkan perasaannya dalam sajak bermakna tersirat.


Usia keduanya hanya terpaut enam tahun. Saat itu usia Ralyn menginjak 17 tahun dan Dewa saat itu berusia 23 tahun, masih muda bukan? Banyak Guru yang jatuh hati padanya, tetapi tak pernah digubris oleh laki-laki itu. Dewa seolah terlalu sulit untuk digapai oleh kaum hawa, termasuk Ralyn sendiri.


Paras rupawan Ralyn, sikap baiknya, dan kecerdasan otak yang tak perlu diragukan lagi bahkan tak bisa memikat Dewa. Laki-laki itu seolah memiliki tameng yang sangat kuat untuk tak terpikat dengan lawan jenis, dinding yang dia bangun terlalu sulit untuk dirobohkan.


Siang yang terik membuat banyak orang mengeluh, tetapi itu tidak berlaku pada seorang perempuan yang tengah asik mencoret-coret sebuah kertas putih. Terlalu asyik dengan dunianya sendiri, dia bahkan tak sadar hanya bersisa dirinya di kelas itu.


Sebuah rangkulan di bahunya membuatnya terkejut, tetapi itu tak berselang lama. Mencium dari aroma parfumya saja dia sudah dapat menebak siapa orang yang merangkulnya. Perempuan itu kembali fokus pada kegiatannya, dia mengabaikan seseorang yang tengah merangkulnya sembari menatap yang dia lakukan.


"Kamu terlalu fokus, Ralyn," desis perempuan yang merangkulnya.

__ADS_1


Dia berdecak sebal. "Karin! Jangan ganggu aku dulu ih," sahutnya.


Perempuan itu—Karin berdecak sebal melihat kelakuan sahabatnya. Dia tak habis pikir dengan sikap menyebalkan Ralyn yang tiba-tiba muncul setelah melabuhkan hatinya pada sosok guru tampan di sekolahnya.


Dia menghela napasnya kasar saat membaca setiap coretan


yang Ralyn buat. Tangannya terulur memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.


"Lyn!" panggil Karin dengan nada kesal yang sangat kentara.


Dia menoleh sesaat. "Kenapa?" jawabnya dengan mata yang terfokus pada kertas.


"Sampai kapan jadi penggangum rahasia Pak Dewa?" Karin kembali bertanya, kali ini dengan nada serius.


Ralyn tiba-tiba saja meletakkan pulpennya di atas meja, perempuan itu menghentikan kegiatannya. Dia menghela napas dalam lantas menatap Karin dengan sendu


"Eum ... sampai hatiku sendiri yang meminta berhenti," jawab Ralyn dengan nada ragu.


Setelah kelulusannya, Ralyn tak pernah lagi melihat ataupun bertemu sosok Dewa. Dia yang sibuk mengejar mimpinya sebagai Dokter di Universitas terbaik yang ada di Inggris dan Dewa yang sibuk memimpin perusahaannya.


Terkadang Ralyn bertanya-tanya mengenai kondisi Dewa yang berada di tanah air, tetapi perempuan itu justru tak mendapati kabar mengenai sosok gurunya itu. Dewa seolah menghilang dari hidup Ralyn. Perasaan perempuan itu untuk Dewa bukannya menghilang justru kian bertambah setiap harinya, perasaan itu berhasil membuat Ralyn merasakan frustasi sekaligus kebahagiaan.


Enam tahun berlalu, tetapi Ralyn tak juga pernah kembali bertemu Dewa. Dia pikir saat kembali ke Indonesia, dia akan bisa bertemu Dewa walau hanya sekilas. Perempuan itu hanya ingin mengobati rasa rindunya, di pikirannya pun yakin bahwa Dewa sudah memiliki kekasih atau istri.


Ralyn yang baru pulang dari rumah sakit terkejut melihat sosok pria yang merebut hatiku untuk pertama kali, Pak Dewa. Dia menerka-nerka apa yang akan terjadi saat Dewa duduk di atas sofa dan bercengkrama dengan keluarganya. Ralyn menoleh ke arah Andini yang tengah tersenyum malu, alis perempuan itu menyatu. Dia tengah mencoba mencerna pemandangan yang ada di hadapannya.


Dengan pikirannya yang masih mencerna segalanya, Dea memintanya untuk duduk di sebelah sang Ayah. Perasaan gelisah, marah, kecewa seketika menyapa perempuan itu. Dia kembali bertanya-tanya mengenai yang dia rasakan. Bahkan usapan di rambutnya tak membuat lamunan perempuan itu buyar.

__ADS_1


"Begini saya mau melamar Andini."


Ucapan Dewa saat itu bak sebuah boomerang bagi Ralyn sendiri. Perempuan itu membeku, mulutnya pun terasa kelu untuk sekadar berbicara saja Ralyn tak mampu. Hatinya seolah ditimpa oleh batu besar, perempuan itu merasakan dunianya runtuh seketika. Semesta terlalu pandai dalam bermain, selalu memberikan kejutan-kejutan tak terduga untuk dirinya.


Enam tahun mencintai Dewa dalam diam, buah dari kesabarannya justru tak memberikan hasil yang baik. Ralyn dengan sekuat tenaga menjaga hatinya untuk Dewa, tetapi Dewa dengan sekuat tenaga menjaga hati saudarinya sendiri.


Kenapa harus adiknya? Kenapa?


Ralyn menatap Dewa dengan pandangan yang tak bisa diartikan, atensinya teralih kepada Andini yang tengah


tersenyum bahagia. Perempuan itu *meremas kuat jemari-jemari tangannya, napasnya tiba-tiba saja tak teratur.


Ralyn bangkit dari duduknya lantas berlari dengan perlahan menuju kamarnya. Keluarganya terlalu larut dalam kebahagiaan sehingga tak menyadari salah satu dari mereka menghilang, miris!


Ralyn merosotkan tubuhnya, dia bersandar pada pintu kamarnya. Ralyn duduk sembari menelungkupkan wajahnya di antara lutut. Isak tangisnya terdengar begitu pilu, lirihan-lirihan itu terdengar menyakitkan*.


"Hiks ... hiks ... kenapa selalu Andini, Tuhan? Kasih sayang Ibu bahkan tak pernah ada untukku, dan sekarang Andini mengambil orang yang aku cinta. Kenapa Tuhan?" lirihnya.


Rasa sesak itu belum juga menghilang, apa sesakit ini jatuh cinta? Dadanya seolah teremas dengan kuat.


*Napas perempuan itu semakin tak beraturan, Ralyn memukul dadanya cukup keras. Dia hanya berharap rasa sakit yang mengusik hatinya itu segera pergi. Dia memejamkan matanya sembari meremas dadanya, tetapi rasanya justru semakin menyakitkan.


Ralyn bangkit dari duduknya, dia berjalan menuju meja rias miliknya. Perempuan itu melempar vas bunga yang berada di atas meja rias, untungnya kamarnya itu kedap suara. Jadi, tak akan ada yang mendengarkan suara barang yang beradu dengan lantai.


"Ssshhhh ... Ini sakit, Tuhan! Aku mohon, ini sangat menyakitkan."


Napas perempuan itu semakin terengah hingga*—

__ADS_1


Bruk!


Ralyn jatuh tak sadarkan diri dan hal yang lebih menyakitkan, tak ada yang tahu dirinya pingsan.


__ADS_2