
Seperti rencana Ralyn kemarin malam, dia akan berziarah ke makam ayahnya. Sekarang perempuan itu sudah bersiap dengan outfit serba hitam dan jangan lupakan kacamata hitam yang bertengger manis di atas kepalanya. Perempuan itu nampak elegan meski penampilannya jauh dari kata mewah.
Ralyn menelisik penampilan dirinya pada kaca besar yang terpanjang di meja riasnya. Dia menghela napasnya kasar, setelah sekian lama tak mengunjungi makam sang Ayah akhirnya sekarang dirinya bisa berziarah.
Setelah dua bulan kematian Aron—Ayah Ralyn, perempuan itu harus belajar menjadi perempuan yang lebih kuat dari sebelumnya. Sandaran terbaiknya telah pergi dan jelas hanya Ralyn yang akan menjadi pewaris tunggal kekayaan yang ditinggalkan ayahnya. Maka dari itu, perempuan itu harus mampu menjadi penopang bagi sang Ibu dan adiknya.
Kehilangan sosok yang menjadi cinta pertamanya jelas membuat Ralyn hancur saat itu. Perempuan itu bahkan masih menangis setiap malamnya, Ralyn terus menangis seolah air matanya tak akan terkuras habis. Ralyn kehilangan bahu tempatnya bersandar, dia kehilangan alasan untuk bertahan dari kejamnya dunia. Dunia perempuan itu hancur saat orang yang paling mendukungnya pergi.
Tring!
Karina Chindo:
[Aku di depan rumah kamu, tolong buruan turun.]
Ralyn yang melihat notifikasi dari Karin itu segera beranjak dari duduknya. Perempuan itu bergegas menghampiri Karin, menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Perempuan itu berjalan menghampiri ibunya dan Andini yang tengah menonton sebuah tayangan sinetron.
"Bu, aku ijin pergi sama Karin, ya." Ralyn meraih tangan Ajeng—sang Ibu lantas menciumnya.
Ajeng mengangguk singkat. "Iya, hati-hati."
Ralyn menghembuskan napasnya kasar saat mendengar jawaban sang Ibu. Perempuan itu memilih mengabaikan respons yang diberikan oleh Ajeng, dia memilih berjalan ke luar rumah untuk menghampiri Karin.
"Sorry lama," ucap Ralyn dengan tak enak hati saat sudah memasuki mobil Karin.
Perempuan itu mengangguk pelan, lantas menoleh ke arah Ralyn. "It's okay. Kita berangkat sekarang?" tanya Karin yang diangguki oleh Ralyn.
__ADS_1
Mobil Karin melaju dengan kecepatan sedang menuju pemakaman—tempat Aron beristirahat untuk selamanya. Selama perjalanan, Ralyn hanya merenung sembari menatap ke arah jendela. Karin yang diam-diam memperhatikan sahabatnya itu hanya menghembuskan napasnya kasar.
Karin cukup paham jika ada yang mengusik pikiran sahabatnya itu. Sejak memasuki mobil, Karin sudah dapat membaca ekspresi wajah Ralyn. Karin tetap diam, dia tidak akan bertanya mengenai masalah yang dihadapi oleh sahabatnya itu. Perempuan itu paham jika Ralyn tidak akan bercerita jika dia tak ingin, jadi akan percuma jika dirinya bertanya.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya keduanya tiba di salah satu pemakaman yang ada di kota Jakarta. Keduanya berjalan beriringan memasuki area pemakaman, aura kesedihan dan kehilangan terasa begitu pekat. Ralyn bahkan merasakan kesedihan dan kehilangannya kian bertambah.
Keduanya menjongkokkan diri di depan sebuah makam bertuliskan "Aron Huzio binti Reyno Huzio." Ralyn tersenyum tipis, perempuan itu mengusap lembut batu nisan yang bertuliskan nama sang Ayah. Tangannya terulur untuk membersihkan makam sang Ayah, dia memandangi tanah yang mengubur Aron dengan sendu. Perasaan Ralyn saat ini tak bisa diungkapkan, tanpa diminta pun air mata perempuan itu sudah luruh begitu saja.
Karin yang melihat itu segera merangkul pundak Ralyn, mencoba memberikan Ralyn kekuatan. Perempuan itu mendongak—menatap langit, perempuan itu berusaha menghalau air mata yang akan membasahi pipinya. Melihat Ralyn seperti ini berhasil membuat hati Karin hancur, dirinya tak sanggup melihat sahabatnya hancur.
"Ayah ...," lirih Ralyn sembari mengusap batu nisan itu dengan lembut.
"Ma—maaf Ralyn baru datang ke sini lagi, Ayah apa kabar di sana? Yah, Ralyn ka—kangen Ayah, cuman mau Ayah di sini egois, ya? Tapi maaf, Ralyn butuh Ayah," sambungnya sembari menunduk.
Karin segera menarik Ralyn ke pelukannya, dia memeluk Ralyn dengan lembut. Perempuan itu pun mengusap punggung Ralyn memberikan ketenangan.
"Rr—rin, sakit. Ini sakit," adu Ralyn dengan tangis yang semakin kencang.
"Sssttt ... Everything gonna be okay, Baby. Emang sakit, I know that. Cuman mau sampai kapan kamu terus begini? Om Aron jelas sedih liat kamu begini." Karin berbicara dengan lembut, mencoba memberikan Ralyn pengertian.
"Maaf."
...***...
Sesil memeluk elak tubuh telanjang Putra, dia menghirup aroma yang menguar dari tubuh Putra pun dengan aroma khas seseorang yang baru saja melakukan malam yang panas. Senyum penuh bahagia terpatri di wajah cantiknya, dia berhasil menjadikan Putra miliknya dalam semalam.
__ADS_1
Memanfaatkan kondisi adalah keahlian wanita itu, Sesil sengaja menyerahkan mahkotanya pada sosok sahabatnya itu. Dia takut Putra akan kembali ke dalam pelukan Ralyn, mengingat selama ini hanya Ralyn-lah yang ingin hubungan mereka usai. Sedangkan, Putra harus terpaksa merelakan perempuan yang dia cintai karena perbuatannya sendiri.
Sesil memandang dengan kagum pahatan wajah Putra, tangan wanita itu terulur mengusap mata, hidung, mulut, dan terakhir mengecup bibir Putra sekikas. Karena ulahnya itu membuat Putra yang tengah terlelap harus terpaksa membuka matanya. Wanita itu segera memasang raut wajah sedihnya, dia menanti Putra menyadari keberadaan.
Pria itu menyatukan alisnya saat mencium aroma percintaan di kamar miliknya. Dia segera menoleh ke kiri—mendapati Sesil yang tengah menahan isak tangis. Putra yang tak sengaja melihat bahu Sesil yang terbuka jelas saja terkejut. Secara reflek pria itu segera melihat dari balik selimut, matanya membulat sempurna saat melihat dirinya dan Sesil tanpa sehelai benang.
"Si—sil ...," ucap Putra sedikit terbata-bata.
Bukannya mendapati sebuah respons, Putra justru mendapati isak tangis Sesil yang semakin kencang. Pria itu segera menarik Sesil ke dalam pelukannya. Perasaan bersalah jelas menghantui dirinya, terlihat dari wajahnya yang pucat pias. Dia telah merusak sahabat kecilnta, merenggut apa yang seharusnya menjadi milik suami Sesil kelak. Namun, dia tak pernah tahu jika Sesil-lah yang dengan sengaja menyerahkan mahkotanya untuk Putra.
"Ma—maaf, Sil." Dia mengusap punggung telanjang Sesil dengan lembut.
Diam-diam Sesil menampilkan senyuman liciknya, dengan sengaja dia menggerakan tubuhnya secara perlahan. Akibat perbuatannya itu ada yang terbangun dari tidurnya kembali, Putra meringgis pelan. Dia menatap sang sahabat dengan sayu. Pria itu mencoba menahan dirinya, dia tak ingin kembali merusak sahabat kecilnya.
"Put, kalau aku ha—hamil gimana?" tanya Sesil dengan nada yang sengaja dibuat bergetar.
Putra membisu, pikirannya sejak tadi sama sekali tak mengarah ke sana. Dia terlalu fokus dengan rasa ngilu yang mengusiknya. Memejamkan mata sejenak dan menghembuskannya perlahan, Putra lantas menatap Sesil dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aa—aku bakal tanggung jawab," sahut pria itu.
Cukup mudah ternyata.
Sesil yang mendengar itu segera mendongakkan kepalanya, dia menatap Putra tak percaya. Dengan sengaja tangan wanita itu turun ke bawah dan ... Sesil berhasil memainkan nafsu Putra, bahkan tanpa Putra sadari itu adalah disengaja.
"Kamu harus tanggung jawab, Sayang," bisik Putra.
__ADS_1
"Pu—put ...," lirih Sesil.
"Enggak ada penolakan."