Pernikahan Amanat

Pernikahan Amanat
Siapa Dia?


__ADS_3

Andini membanting pintu kamarnya, sedangkan di luar sana seorang pria menghela napasnya kasar. Dia mengusap wajahnya kasar. Ini semua berawal dari Sebuah foto beberapa tahun silam, foto yang menyebabkan pertengkaran hebat antar saudari terjadi.


Pria itu membalikkan badannya, dia berniat menghampiri sosok Ralyn. Entah takdir atau bagaimana, Dewa melihat sosok Ralyn berjalan memasuki kamarnya dengan wajah datar. Dewa berlari kecil menghampiri Ralyn, dia berlari kecil agar lebih cepat tiba di hadapan Ralyn.


"Ralyn!"


Suara berat itu menghentikan tangan Ralyn yang akan membuka pintu kamarnya. Dia menoleh, menyaksikan Dewa yang tak jauh darinya. Perempuan itu menghela napasnya berat, dia harus bersikap seolah tak ada perasaan dengan Dewa. Dia tak ingin ada yang tahu mengenai perasaannya, tetapi perempuan itu lupa ucapannya saat pertengkaran itu membuatnya seolah memiliki perasaan lebih kepada Adik iparnya sendiri.


"Saya mau kamu buang foto saya."


Ralyn menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Dewa. Tepat saat Dewa berdiri di hadapannya, pria itu langsung berucap demikian. Ralyn melirik ke arah lain untuk sesaat, hati perempuan itu tertohok dengan ucapan Dewa. Bola matanya bergerak memandangi sekitar, perempuan itu tengah berusaha menahan air matanya agar tak membasahi pipi.


Dia memandang datar sosok di hadapannya, menghela napasnya kasar. "Maksudnya?" Pertanyaan bernada datar itu meluncur begitu saja dari mulut Ralyn.


"Mohon maaf sebelumnya, saya menyimpan semua foto guru saat masa sekolah saya. Itu hanya untuk kenang-kenangan, Anda jangan terlalu geer. Satu lagi, katakan pada istri Anda bahwa saya tidak berniat merebut Anda dari dia. Ajarkan juga istri tercinta Anda untuk tahu cara berterimakasih. Jika saya tidak menolongnya, Anda tidak akan bisa menikahi dia," sambung Ralyn dengan nada sinis.


Dewa mematung mendengar ucapan Ralyn, selama mengenal Ralyn yang dia tahu adalah perempuan itu cukup pendiam. Ralyn tipekal anak yang jauh dari pergaulan bebas dan tutur katanya selalu dijaga. Ralyn bahkan lebih menghormati dirinya yang lebih tua meski statusnya Adik ipar dari Ralyn.


Asyik dengan pikirannya sendiri, Dewa tak menyadari jika Ralyn sudah memasuki kamarnya. Saat dirinya ingin kembali bicara, Ralyn sudah tak ada di hadapannya. Pria itu menjambak rambutnya cukup keras, dia dibuat frustasi dengan masalah saat ini.


"Sialan.'

__ADS_1


Di sisi lain, Andini tengah melempar seluruh barang yang ada di kamarnya. Ucapan Ralyn berhasil menamparnya, Andini seolah dibawa ke masa lalu. Masa di mana Ralyn menolongnya dan membuatnya hidup seenak ini, barang-barang mewah, makanan enak, rumah yang nyaman bahkan sebuah kasih sayang. Terlalu terlena akan semuanya, wanita itu gelap mata. Andini berambisi ingin mendapatkan yang lebih dari Ralyn.


Wanita itu bahkan mengharapkan akan mendapatkan harta warisan, tetapi seluruh harta warisan jatuh pada Ralyn. Dea yang nyatanya seorang istri justru hanya mendapatkan uang tunai 20 juta. Kekayaan Ralyn tak bisa dipungkiri melebihi Dewa, perempuan itu seorang Dokter terbaik, Dokter yang memiliki tiga gelar di namanya. Dokter Umum dan Psikiater.


Bagaimana bisa? Ralyn sempat kembali kuliah saat dirinya sudah berprofesi sebagai Psikiater. Dia kembali menempuh jenjang pendidikan di Fakultas Kedokteran, perempuan itu sangat berambisi akan pendidikannya. Meski dia mengikuti kuliah online tak dapat dipungkiri kecerdasannya membuat teman-temannya takjub. Selain itu, Ralyn memiliki rumah sakit yang dia bangun di daerah-daerah terpencil dan beberapa di kota-kota besar. Ditambah kekayaan yang diwariskan sang Ayah yang membuat kekayaan perempuan itu bertambah.


Andini jelas saja semakin dibuat iri hati, Ralyn adalah tipekal idaman laki-laki. Cantik, mandiri, lemah lembut, dan cerdas, serta kaya. Jelas yang akan mendapati Ralyn bukan laki-laki sembarangan. Andini merasa tak rela jika Ralyn kelak mendapatkan yang lebih baik dari Dewa, wanita itu cukup tahu bahwa kakaknya itu mencintai Dewa.


"ARGGGHHHH! Sialan! Kenapa Mas Dewa harus tahu statusku sebagai anak pungut?!" jerit Andini sembari mengacak rambutnya.


"I—ini enggak boleh terjadi, Mas Dewa enggak boleh ninggalin aku!" lanjutnya frustasi.


...***...


Pria itu memandang Karin dengan datar. Jika perempuan lain akan salah tingkah maka berbeda dengan Ralyn yang hanya memandangi dirinya dengan malas. Berdua di dalam lift yang rusak, dia mengukung Karin dalam kukungannya. Bukannya melihat wajah salah tingkah Karin, dia justru menatap dengan datar dan malas.


"Bisakah Anda menjauh dari saya?" tanya Karin yang berhasil membuat lamunan pria di hadapannya buyar.


"Maaf," ucapnya.


Karin hanya mengangguk kecil lantas kembali fokus dengan kegiatannya, yaitu berdiri dengan wajah datar. Niat hati ingin mengisi perut yang kosong justru harus terjebak di dalam lift bersama duda. Entah kesialan seperti apa yang menghampiri perempuan itu.

__ADS_1


Lift tiba-tiba saja kembali bergerak dan berhenti setelah beberapa detik bergerak. Hal tersebut membuat Karin terjatuh di atas tubuh pria yang menemani dirinya di dalam lift. Karin dan pria itu sama-sama hanyut dalam pandangan masing-masing, mereka bahkan tak sadar jika pintu lift sudah terbuka dan beberapa pengawal milik pria itu melihat kegiatan keduanya.


Ekhm ....


Dehaman itu membuat keduanya terkejut. Karin segera bangkit dari posisinya, perempuan itu berdeham untuk menetralkan detak jantungnya. Bukan! Bukan karena dia jatuh cinta, tetapi karena dirinya salah tingkah. Karin menghembuskan napasnya kasar, dirinya mengutuk hari ini adalah hari terburuknya.


"Maaf, saya permisi." Tanpa menunggu respons apa pun, Karin berjalan keluar lift dan menelpon seseorang.


Sedangkan, pria itu memandang Karin dengan tatapan yang bisa diartikan. Dia berhasil dibuat penasaran dengan sosok perempuan yang berani mengabaikannya.


"Tuan Abhi, mari kita ke tempat meeting akan dilaksanakan."


"Hm."


...***...


Seorang perempuan memandangi jalanan kota Jakarta yang sangat padat, pandangannya lantas beralih pada kepulan asap yang berasal dari kopi miliknya. Iya, dia sekarang berada di cofee shop, perempuan itu memang sangat menyukai kopi. Tak heran jika dalam sehari, dia bisa meminum secangkir kopi.


Bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman yang teramat manis. Ada perasaan bahagia saat dirinya bisa kembali merasakan keramaian kota Jakarta, serta ada perasaan rindu yang teramat besar untuk seseorang. Perempuan itu menyesap kopinya lantas menghela napasnya kasar.


"Semoga kamu mau memaafkanku," lirihnya.

__ADS_1


Tatapan perempuan itu berubah menjadi sendu, tanpa diminta air matanya luruh begitu saja. Ada perasaan sesak yang mengganggu dirinya, ada rasa sakit yang menghantam hatinya.


"Aku harap kita bisa kembali bersama."


__ADS_2