
Dewa menghembuskan napasnya kasar. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada kursi, dia memandang menerawang ke depan. Pria itu mengusap kasar wajahnya, ada yang mengusik benaknya. Banyak hal yang membuat pria itu selalu tidak tenang dalam tidurnya, bahkan Andini tak pernah tahu soal itu. Istrinya tak pernah tahu jika selama ini dia selalu takut untuk memejamkan.
Dewa menegakkan tubuhnya saat mendengar langkah kaki menuju ruangannya, menghela napas panjang sejenak guna menenangkan debar jantungnya. Pintu ruangannya terbuka—menampilkan Andini yang membawa nampan berisi kopi dan camilan, wanita dengan baju tidur satin itu berjalan menghampiri sang suami dengan senyum manisnya.
"Mas, ini diminum dulu." Andini meletakkan kopi dan camilan itu di atas meja kerja sang suami.
Dia tersenyum manis. "Thanks a lot, Baby," jawab Dewa.
Andini tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Perempuan itu berjalan memberikan kecupan ringan pada bibir sang suami, hal yang berhasil menenangkan Dewa untuk sesaat.
Pria itu tersenyum lembut saat istrinya sudah berani bertindak tanpa perintahnya, ditariknya pinggang Andini agar lebih dekat dengannya. Tangan Andini bergerak menggalungi leher kokoh milik Dewa, diusapnya dengan lembut surai Dewa. Hal sederhana yang berhasil membuat Dewa memejamkan mata merasakan ketenangan.
Ditariknya Andini untuk duduk di atas pangkuannya, tentu dengan senang hati Andini lakukan. Posisi ini adalah posisi ternyaman bagi Andini, dia bisa merasakan kehangatan sekaligus kenyamanan. Andini menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Dewa, sedangkan Dewa mengusap lembut perut buncit milik istrinya.
"Manja banget kesayangan Mas," goda Dewa diikuti kekehan kecil.
Dia memberenggut. "Ish, manja-manja gini punya Mas tau!" kesal Andini.
"Yeah, just mine."
...***...
"Apa selama ini selalu begitu?" tanya Ralyn kepada pasiennya.
Di pagi hari, dirinya sudah dihadapi dengan pasien yang menderita gangguan makan. Padahal perempuan itu berniat pergi ke kantin dahulu untuk sejenak, tetapi pasien sudah menanti kehadirannya. Ralyn hanya mampu menghembuskan napasnya kasar, tentu dia harus mementingkan keperluan pasien di atas keperluan pribadi.
Perempuan di hadapannya mengangguk pelan. "Iya, Dok. Lalu teman saya meminta saya pergi ke Psikiater."
Ralyn mengangguk paham, perempuan itu menatap pasiennya dengan tenang. "Kita akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan, apakah ini gangguan makan atau tidak. Berdasarkan tanda dan gejala, Anda memang seperti mengidap bulimia, tetapi kita juga harus melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan, ya."
"Iya, Dok."
Setelah Ralyn melakukan pemeriksaan fisik kepada pasiennya, mulai dari pemeriksaan gigi, mata, urine, dan darah. Pemeriksaan tersebut untuk memastikan apakah ada gigi yang rusak, apakah ada pembuluh darah mata yang pecah, dan untuk mengetahui apakah pasiennya mengalami dehidrasi atau gangguan eloktrit.
__ADS_1
Ralyn menatap pasiennya dengan lembut pun dengan senyuman manis khas miliknya. Dia menghela napasnya sejenak, "Dari hasil pemeriksaan fisik, memang benar Anda mengidap Bulimia Nervosa. Bulimia Nervosa sendiri adalah gangguan makan di mana pengidapnya punya keinginan mengonsumsi makanan dalam jumlah besar sekaligus ...," Ralyn memberikan jeda pada ucapannya.
"Dan gangguan makan jenis ini atau Bulimia Nervosa selain bisa berdampak bagi kesehatan, juga dapat merenggang nyawa," jelas Ralyn.
Perempuan itu dapat melihat pasiennya seketika menunduk dengan bahu bergetar. Ralyn bangkit dari duduknya, dia merangkul bahu pasiennya mencoba memberikan ketenangan bagi pasiennya. "Sssttt ... Kamu pasti sembuh asal kamu punya niat dan mau berusaha."
Dia mendongak. "Dokter serius?" tanya pasiennya dengan raut tak percaya.
Ralyn mengangguk sembari tersenyum manis. Saat dirasa pasiennya mulai tenang, dia berjalan ke arah tempat duduknya.
Bulimia Nervosa adalah gangguan makan di mana pengidapnya punya keinginan mengonsumsi makanan dalam jumlah besar sekaligus. Selama episode makan ini, pengidap bulimia tidak punya kendali untuk menghentikannya. Setelah mengonsumsi makanan tersebut, pengidapnya akan merasa malu sehingga ingin melakukan segala cara untuk mengeluarkan makanan yang telah dikonsumsinya.
Pengidapnya dapat memuntahkannya secara paksa, mengonsumsi obat pencahar sampai melakukan diet ekstrem. Gangguan makan yang satu ini sebenarnya masuk dalam kategori gangguan mental. Pemicunya bisa bermacam-macam, mulai dari masalah tentang citra tubuhnya atau depresi.
Kondisi ini ternyata cenderung dialami oleh wanita daripada pria. Penelitian memperkirakan terdapat sekitar 8 dari 100 wanita yang mengidap kelainan ini. Sebagian besar dialami oleh wanita pada usia 16-40 tahun.
Tidak diketahui secara pasti alasan seseorang bisa mengalami bulimia. Namun, beberapa faktor risiko terkait masalah psikologis, seperti keinginan memiliki tubuh langsing, kritikan dari orang lain, tuntutan pekerjaan dan juga masalah kesehatan tertentu dapat menyebabkan seseorang mengidap bulimia.
Gejala bulimia pada setiap orang bisa berbeda-beda. Namun, indikasi utama bulimia adalah mengonsumsi makanan secara berlebihan, meski pengidap tidak merasa lapar. Hal ini dapat dipicu oleh masalah emosional, seperti stres atau depresi. Setelah makan berlebihan, pengidapnya kemudian merasa bersalah, menyesal, dan membenci diri sendiri, sehingga melakukan segala cara untuk mengeluarkan makannya.
Sangat terpaku pada berat badan serta bentuk tubuh.
Selalu beranggapan negatif terhadap bentuk tubuhnya sendiri.
Takut gemuk atau merasa kegemukan.
Sering lepas kendali saat makan, misalnya terus makan sampai sakit perut atau makan dengan porsi berlebihan.
Enggan makan di tempat-tempat umum atau di depan orang lain.
Sering bergegas ke kamar mandi setelah makan.
__ADS_1
Memaksakan diri untuk muntah, terutama dengan memasukkan jari ke kerongkongan.
Memiliki gigi dan gusi yang rusak.
Berolahraga berlebihan.
Menggunakan obat pencahar, diuretik, atau enema setelah makan.
Menggunakan suplemen atau produk herbal untuk menurunkan berat badan.
Memiliki luka, bekas luka atau kapalan di buku-buku jari atau tangan.
Mengalami pembengkakan di wajah, pipi, tangan, kaki sampai kelenjar getah bening.
Perempuan yang duduk berhadapan dengan Ralyn itu menatap Ralyn dengan ragu, dirinya ingin bertanya sesuatu pada Ralyn. Namun, dia merasakan takut yang teramat besar. Ralyn yang sadar dengan gerak-gerik pasiennya itu tersenyum tipis, perempuan itu sudah biasa menemui pasien dengan tingkah yang sama seperti ini.
"Jika ingin bertanya, silakan," tutur Ralyn dengan lembut.
Dia memilin jemarinya yang berada di bawah meja. "Eum ... Apa pengidap Bulimia Nervosa bisa mengalami komplikasi? Lalu bagaimana cara pengobatan bagi pengidap Bulimia Nervosa?"
"Apabila tidak segera ditangani, bulimia bisa memicu komplikasi yang serius dan bahkan berakibat fatal. Frekuensi muntah yang sering terjadi dapat merusak gigi akibat asam lambung dan memicu pembengkakan kelenjar air liur. Demikian pula dengan sakit tenggorokan serta bau mulut."
"Kekurangan nutrisi juga termasuk komplikasi serius akibat bulimia. Komplikasi ini dapat memicu dehidrasi, sulit untuk hamil karena siklus menstruasi yang tidak teratur, kulit dan rambut yang kering, kuku yang rapuh, gagal ginjal, serta gagal jantung."
"Sementara penggunaan obat pencahar yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan pada organ-organ pencernaan serta mengganggu keseimbangan kadar senyawa alami tubuh. Ketidakseimbangan ini berpotensi memicu kelelahan, lemas, detak jantung yang tidak teratur, serta kejang. Risiko komplikasi lain yang bisa dihadapi pengidap bulimia."
Ralyn mengatur napasnya sejenak. "Komplikasi lainnya seperti, menurunnya keinginan untuk ****, keinginan bunuh diri akibat depresi, pecahnya perut atau kerongkongan, menyakiti diri sendiri, gastroparesis, dan penyalahgunaan narkoba."
"Untuk pengobatannya ada dua jenis terapi yang dapat dijalani, yaitu terapi perilaku kognitif atau CBT dan terapi interpersonal. Melalui CBT, pengidap bulimia akan dibantu untuk mengenali pemicu bulimia, misalnya pendapat dan perilaku negatif, lalu belajar untuk menggantikannya dengan pemikiran yang positif dan sehat."
"Sedangkan terapi interpersonal akan membantu untuk mendeteksi masalah dalam berhubungan dengan orang lain, sekaligus meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalah. Untuk mengurangi gejala, penggunaan obat penghambat pelepasan selektif serotonin juga terkadang dikombinasikan dengan terapi," jelas Ralyn kembali lantas tersenyum.
__ADS_1
Sumber mengenai Bulimia Nervosa: ( https://www.halodoc.com )