Pernikahan Amanat

Pernikahan Amanat
Diana Almira


__ADS_3

Tubuh Dewa mematung saat seorang perempuan memeluk tubuhnya dengan erat. Dia yang baru membuka pintu ruangan dibuat terkejut dengan pelukan yang tiba-tiba saja dia dapatkan. Tubuh pria itu membeku, Dewa bahkan tak mampu untuk mengeluarkan suara.


Dewa tahu betul siapa yang memeluknya, dia bahkan sangat mengenali sosok yang memeluknya. Sosok perempuan yang telah berhasil membuat Dewa jatuh cinta untuk pertama kalinya, dia adalah sosok perempuan yang membuat Dewa patah hati untuk pertama kalinya.


Di saat perasaan Dewa setinggi angkasa, perempuan itu menghilang secara tiba-tiba. Selama bertahun-tahun dirinya terpuruk, hidup dalam perasaan yang masih sama untuk sosok itu. Hingga pada akhirnya Dewa bertemu dengan Andini, sosok yang sekarang menyandang status sebagai istrinya.


Dewa dibuat jatuh cinta dengan kelembutan yang dimiliki Andini pun dengan tawa lembut Andini. Andini memang bukan wanita karir apalagi wanita cerdas, tetapi Dewa tetap mencintai Andini dengan tulus.


Kembali pada situasi saat ini, Dewa dibuat tersadar oleh belaian lembut di wajahnya. Pria itu mengerjap pelan lantas menunduk guna menatap perempuan yang masih memeluk pinggangnya dengan erat.


"i miss you so bad, Dewa Lingga Anggara," lirih perempuan itu.


Dewa masih terdiam, dirinya masih mencoba mencerna apa yang tengah terjadi saat ini. Dirinya tanpa sengaja menatap mata hitam perempuan itu, dia terpaku. Pria itu tanpa sadar hanyut dalam tatapan lembut yang sangat jelas terpancar penyesalan dan rasa rindu yang mendalam.


"Wa?" Perempuan itu menepuk pelan pipi Dewa. "Kamu kenapa ngelamun?" sambungnya.


Dewa mengerjap pelan, dia kembali ke dunia nyata. "Ka—kamu ngapain di sini?" tanya Dewa.


Perempuan itu terkekeh lantas memeluk erat tubuh Dewa, dia bahkan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang milik Dewa. Perempuan itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Dewa yang bahkan masih sama seperti 13 tahun lalu. Dia tersenyum penuh arti, hatinya merasa lebih lega setelah bertemu dengan Dewa.


"Itu karena aku kangen kamu, Wa," ujarnya sembari mendongakkan kepalanya dengan senyuman manis.


"Diana, lepas!" sentak Dewa berusaha melepaskan pelukan perempuan yang dipanggilnya dengan nama Diana.


Perempuan itu mengerjap, dirinya linglung untuk sesaat. Dengan cepat dia melepaskan pelukannya dan menyisakan jarak di antara dirinya dan Dewa. Perempuan itu memandang Dewa dengan mata berkaca-kaca, tatapan penuh penyesalan dan rindu yang membuat hati Dewa teriris.


"Kamu enggak suka aku di sini?" tanya perempuan itu dengan kekehan hambar.

__ADS_1


Dewa reflek menggeleng dengan cepat. "Di, aku mohon sama kamu! Jangan peluk aku, Di. Aku udah punya istri, aku harus jaga hati istri aku. Kita pun udah usai bertahun-tahun yang lalu."


Perempuan itu terkejut mendengar ucapan Dewa, tubuhnya membeku, kakinya mendadak lemas. Dia memandang Dewa dengan linangan air mata, tangan perempuan itu terulur untuk membekap mulutnya. Cukup air matanya saja yang membasahi pipinya, dia tak mau mulutnya mengeluarkan isakan yang terdengar pilu.


Aku telat? batinnya miris.


Perempuan itu mundur selangkah, dia memandang Dewa dengan sendu. "Aku telat? Iya? Aku telat, Wa? Aku berharap saat aku kembali menginjakkan kaki di tanah air, aku bisa milikkin kamu. Ta—tapi, kayaknya enggak mungkin, ya?" Dia terkekeh miris.


"Kita udah usai sejak kamu pergi!" hardik Dewa dengan wajah memerah.


Dia menggeleng keras. "Terus sekarang kamu kembali seolah enggak ada dosa. Di mana otak kamu?" sambung Dewa.


"Enggak, Dewa! Kita enggak pernah usai! Saat aku pergi, aku enggak mengakhiri hubungan kita!" teriak perempuan itu.


"Tapi, aku yang mengakhirinya."


"Cukup! Cukup Diana Almira! Kisah kita udah habis!" ucap Dewa penuh penekanan.


Diana kian terisak mendengar penuturan Dewa, hati perempuan itu kian teriris. Cintanya telah pergi, pria yang dicintainya telah pergi bersama perempuan lain. Dia memukul dadanya dengan keras membuat pria yang menatapnya sendu melotot.


Diana Almira, sosok perempuan lugu yang berhasil memikat Dewa pada masa Sekolah Menengah Atas. Perempuan yang terkenal cerdas dan menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS, perempuan itu bahkan sering membawa mendali untuk sekolahnya. Menjalin hubungan dengan Ketua Basket membuat Diana kian menjadi pusat perhatian di sekolah.


Kisah cinta anak remaja yang manis harus kandas dengan tragis saat Diana pergi meninggalkan Dewa tanpa pamit. Kepergiannya berhasil membuat seorang Dewa Lingga Anggara kalang kabut, pria itu bahkan depresi selama beberapa tahun. Hingga pada akhirnya dia bangkit secara perlahan.


"Andai kamu tau alasan aku pergi ninggalin kamu saat itu, apa kamu akan tetap menikah dengan wanita lain atau justru nunggu aku kembali?" tanya Diana dengan suara pelan sembari menatap Dewa.


"Dan semuanya hanya andai."

__ADS_1


...***...


Andini tersenyum manis kala Dea mengusap perutnya dengan lembut. Saat ini kandungannya memasuki usia 5 bulan hanya menunggu 4 bulan lagi, buah hatinya akan menatap dunia. Di usia kandungan yang akan menginjak 5 bulan itu, Dewa semakin posesif dengannya. Setiap pria itu bekerja, dia akan meminta Andini untuk berada di rumah keluarganya.


Kedatangkan Andini jelas disambut baik oleh Dea, wanita paruh baya itu bahkan memasakkan berbagai makanan kesukaan Andini. Dia bahkan sangat menanti kelahiran cucu pertamanya itu.


Bicara soal Andini, hubungan Andini dan Ralyn kian panas. Andini yang selalu ketus dengan Ralyn dan Ralyn yang menanggapi Andini dengan santainya. Perempuan yang berprofesi sebagai Dokter itu tak mau mengambil pusing tingkah Adik tirinya, dirinya yakin itu hanya hormon dari Ibu hamil.


"Gimana kondisi kamu selama kehamilan ini, Ndin?" tanya Dea dengan lembutnya.


Andini yang tengah menonton televisi menoleh. "Um ... Nafsu makan Andini nambah, Bu. Enggak cuman itu, nafsu berhubungan intim Andini juga makin itu," sahutnya dengan wajah memerah.


Dea terkekeh mendengarnya. "Iya, itu semua wajar, Ndin. Waktu Ibu hamil Ralyn juga begitu, bedanya Ayah yang ngidam bukan Ibu."


Andini berdecak sebal mendengar Dea yang menceritakan tentang kehamilan Ralyn. Ucapan Dea seolah menamparnya dengan sebuah fakta bahwa dirinya bukan anak kandung dari Dea.


"Git—"


"Ralyn pulang," potong Ralyn dengan wajah lelahnya.


Andini memandang malas Ralyn yang menghampiri Dea dan dirinya, tatapan Ralyn beralih ke kantong belanjaan yang dibawa Ralyn. Kening wanita itu berkerut, dia cukup penasaran dengan apa yang Ralyn bawa.


"Ini martabak manis buat kalian," ucap Ralyn sembari meletakkan kantong belanjaan di atas meja.


"Enggak Mbak kasih racun, 'kan?" tanya Andini dengan alis yang dinaikkan.


"Terserah."

__ADS_1


__ADS_2