
Ralyn menghela napasnya kasar, perempuan itu merenggangkan otot-ototnya. Ralyn melirik jam tangannya, sudah waktunya untuk makan siang. Perempuan itu segera bangkit dari kursi kebesarannya, dia merapikan penampilannya terlebih dahulu. Ralyn berjalan ke luar ruangannya sembari memasukkan tangannya di saku snelli miliknya.
Di pertengahan jalan, Ralyn tak sengaja melihat Karin yang baru saja keluar dari ruang operasi. Dengan senyum mengembang, dia berjalan menghampiri Karin. Setibanya di dekat Karin, dia segera merangkul bahu Karin. Karin tersenyum tipis, dia dan Ralyn berjalan bersisihan menuju kantin.
"Gimana sama pasien kamu yang skizofrenia itu?" tanya Karin membuka percakapan.
Ralyn nampak menghela napasnya kasar, wajah perempuan itu berubah menjadi muram. "Dia eng—enggak ada perkembangan, enggak ada hal yang buat dia semangat untuk sembuh. Padahal penderita skizofrenia sendiri butuh bantuan keluarga atau orang terdekat untuk sembuh dan tentunya keinginan dirinya."
"Semangat dong, Bu Dokter!" kekeh Karin membuat Ralyn kembali tersenyum.
"Kamu sendiri gimana?" tanya Ralyn sembari mendudukkan dirinya di kursi kantin rumah sakit.
"Ada pasien lahiran anak kembar! Lucu banget ihhh!" sahut Karin dengan antusias.
Ralyn menggeleng pelan, sudah tak asing dengan sikap sahabatnya ini. Karin memang sangat menyukai anak kecil, itu sudah bukan lagi menjadi rahasia. Namun, ketika diminta untuk menikah, dengan tegasnya Karin menolak. Padahal yang mendekati perempuan itu tentunya sangat banyak.
Brak!
Saat mereka memakan makanannya dengan tenang, sepasang manusia datang menghampiri keduanya. Ralyn dan Karin masih acuh, mereka lebih memilih untuk fokus menghabiskan makanannya. Namun, perempuan itu justru berdeham dengan kuatnya, dia bahkan dengan lancang duduk di hadapan Ralyn bersama kekasihnya.
Ralyn yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya, dia memandang muak dua pasang manusia di hadapannya ini. Ralyn memilih melanjutkan kegiatan makan siangnya, akan membuang waktu baginya jika meladeni kedua pasangan kekasih itu.
“Ekhm . . .,” deham perempuan itu dengan gaya angkuhnya.
Karin mendongakkan kepalanya, dia memandang dua manusia berbeda jenis kelamin itu dengan sinisnya. Karin meletakkan peralatan makannya dengan hati-hati. Karin tersenyum manis, dia melirik sekilas Ralyn yang masih fokus menghabiskan nasi gorengnya. Atensinya kembali beralih menatap kedua pasangan kekasih itu, dia mengambil garpunya lantas mengarahkannya ke arah mata perempuan dan pria tersebut. Perbuatan Karin sukses membuat kedua orang itu terkejut.
“Udah capernya? Enggak ada etika ya? Orang lagi makan kok diganggu?” tanya Karin beruntun dengan santai.
__ADS_1
“Sayang, liat dia!" adu perempuan itu.
Karin terkekeh pelan, dirinya berjalan menghampiri Sesil dengan tangan bersedekap dada. Karin menilai Sesil dari ujung rambut hingga kaki, cukup cantik. Ia akui itu, Sesil termasuk golongan perempuan cantik dengan lesung pipit. Namun, sayang kelakuannya tak mencerminkan kecantikan fisiknya.
“Cantik, tapi kalau mainnya rebut cowok orang, percuma.” Karin membelai lembut pipi Sesil, lantas menepuknya pelan.
“Gimana rasanya jadian sama sahabat sendiri yang saat itu statusnya pacar orang?" sindir Ralyn dengan senyuman.
Karin terkekeh, dia melirik seorang pria yang sedari terdiam. “Kenapa Anda diam, Tuan Putra Hermawan?”
Putra Hermawan, seorang Dokter Anak yang sempat menjalin kasih dengan Ralyn selama dua bulan. Hubungan mereka terpaksa harus kandas karena hadirnya sahabat kecil Putra sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka.
Karin yang mengetahui kelakuan Putra yang memilih Sesil daripada Ralyn saat itu jelas amarahnya memuncak, dia tak habis pikir dengan kelakuan Putra. Dia pikir Putra adalah orang yang tepat untuk sahabatnya ternyata dia salah, Putra adalah luka bagi Ralyn.
"Putra yang pilih aku bukan aku yang ngerebut," sela perempuan itu.
"Kenapa Sesil? Panas ya?" tanya Ralyn sembari meminum jusnya. "Mau minum?" tawar Ralyn.
Sesilia Putri, kerap disapa sebagai Sesil. Perempuan dengan darah Tionghoa itu adalah sahabat kecil seorang Putra. Kehadirannya kembali di kehidupan Putra setelah sekian lama menetap di Cina membuat hubungan yang baru dibangun oleh Ralyn dan Putra harus kandas begitu saja.
Sesil naik darah. Perempuan itu mulai terpancing dengan ucapan Karin dan Ralyn, dadanya naik turun menahan emosi. Karin berhasil menyalakan sumbu emosi Sesil. Putra? Dia masih terdiam, perasaan bersalah itu menghantui dirinya. Dia terbayang oleh perasaan bersalahnya pada Ralyn.
"Sayang, kenapa kamu diem aja ih?" kesal Sesil.
“Kasian banget sahabat saya pernah mendapatkan bajingan seperti kamu,” cetus Karin dengan wajah angkuhnya.
“Jangan sok polos, saya tahu kelakuan kamu.” celetuk Ralyn yang melawan melihat tingkah perempuan di hadapannya.
__ADS_1
"Hahaha . . . Bagus deh. Capek juga pura-pura polos. Lagipula sahabat kamu aja yang gak mampu bersaing sama aku,” bisik Sesil angkuh.
“Bukan tidak mampu, tapi seorang Ratu tidak akan pantas bersaing dengan seorang perempuan murahan,” sahut Ralyn..
Sesil meremas tangannya di bawah meja, dia benar-benar tersulut oleh emosi sekarang. Setahu dirinya, Ralyn tipe perempuan yang lemah. Namun, sepertinya dirinya salah, terbukti dengan Ralyn yang menatapnya angkuh. Dirinya melirik Putra yang nampak terdiam di tempat, perempuan itu berdecak. Ternyata sahabatnya itu masih ada rasa pada sosok Dokter dihadapannya.
Ralyn berjalan mendekati Sesil, dirinya tersenyum sangat manis. Melirik sedikit pada Putra yang terdiam, atensinya kembali teralih pada Sesil. Ralyn terkekeh pelan dengan anggun, khas seorang pemeran utama dalam sebuah novel. Matanya tak pernah lepas dari Sesil, Ralyn tidak boleh lemah sekarang.
Dirinya tidak boleh sedikit-sedikit menangis. Pelindungnya telah pergi, Ralyn harus mampu. Dirinya harus mampu menjadi perempuan kuat sama seperti Karin. Dia yakin Tuhan ada jalan terbaik untuk ini, Tuhan telah menyiapkan semua yang menurutnya terbaik.
“Saya bukannya kalah, tapi saya tidak sudi bersaing dengan sampah. Apa pernah seorang Ratu tunduk pada bawahan? Tidak! Lihat, coba bandingkan antara kamu dan saya. Apa yang mau kamu banggakan? Kecantikanmu? Sayang, cantik saja tidak cukup, otak juga dibutuhkan. Memang kamu punya otak?” tutur Ralyn dengan tenang.
“Iya, mana ada dia otak. Kalau ada, dia gak akan pernah berpikir buat jadi orang ketiga,” sahut Karin.
“Ralyn! Aku gak nyangka kamu bisa bicara kayak gitu.” Ralyn dan Karin saling pandang lalu tertawa hambar bersama.
“Lho? Kok baru buka mulut? Gak terima pacarnya dihina, ya?” ucap Karin.
Ralyn melihat Sesil yang terdiam. “Dan, aku juga gak nyangka.” Pandangannya beralih pada Putra, “Kamu bisa sebejat ini.”
Putra bangkit dari duduknya diikuti Sesil. “Lyn—”
“Saya pikir, saya memang pemeran utama. Sepertinya saya salah, saya bukan pemeran utama, tapi pemeran pengganti.”
“Lyn—"
Ralyn diam, dia mengangkat satu tangannya pertanda untuk Putra diam. Putra memandang Ralyn dengan sendu, hatinya berdenyut nyeri mendapati sikap dingin Ralyn.
__ADS_1
"Karin, ayo kita pergi. Saya sibuk."