Pernikahan Amanat

Pernikahan Amanat
Telfonan


__ADS_3

Ralyn menatap jam yang bergantung di dinding, pukul 00.02, tetapi Karin masih saja berceloteh di balik telfon.


Perempuan itu berdeham, tenggorokannya terasa kering. Wajar saja dia berbicara tanpa henti selama dua jam lebih. Celotehan Karin pun sudah tak masuk ke otaknya lagi, karena rasa kantuk mulai menghampiri.


"Aku ambil minum dulu, Rin."


Dengan langkah gontai perempuan itu berjalan dengan perlahan menuju dapur. Melihat kondisi rumah yang sepi, Ralyn yakin semuanya telah beristirahat. Dengan ponsel yang masih menempel di telinga dia mengambil air yang berada di kulkas, minuman dingin lebih nikmat.


"Tapi, beneran gak papa? Maksud aku itu, gak papa kamu terus-terusan nahan cemburu, Lyn?" tanya Karin di balik telfon.


Kening perempuan itu berkerut. Dia tak langsung pergi ke kamar, melainkan berdiam diri sejenak di dapur.


"Memang kenapa, Rin?" tanyanya heran.


Dia tertawa di seberang sana. "Iya, kamu 'kan Dokter spesialis jiwa. Pasti tau 'kan orang depresi lama-lama bunuh diri, aku ngeri aja kamu bunuh diri karena tertekan melihat keuwuan mereka." Ralyn mendelik kesal mendengar ucapan Karin disebrang sana.


"Sebenar–" Ucapan Ralyn harus terpotong oleh tepukan di bahunya


Ralyn membeku, segala pikiran buruk mulai menguasai perempuan berusia 25 tahun itu. Ralyn mencoba mengatur napasnya, rasa takutnya lebih dominan bahkan Karin pun diabaikan. Padahal sahahatnya itu tengah berceloteh dengan penuh semangat.


"Ngapain kamu malam-malam di sini?" Ralyn melototkan matanya


Dia tidak asing oleh suara itu, Ralyn jelas sangat tahu siapa pemilik suara itu. Perempuan itu memilih memutar hidupnya menghadap ke belakang dengan perlahan. Dia terpaku sesaat—jaraknya dan Dewa terbilang cukup dekat, Ralyn bahkan bisa merasakan hembusan napas berbau mint itu masuk ke indra penciuman miliknya.


Terlena, satu kata yang menggambarkan kondisi Ralyn saat ini. Berada dalam jarak sedekat ini dengan Dewa membuat perempuan itu seolah lupa segalanya, dia lupa bahwa pria yang berdiri tegap di hadapannya adalah sang Adik iparnya sendiri.


"Kamu bisu?"


Sial! Aku malah terlena.


Berkat pertanyaan dari Dewa, kesadarannya kembali. Ralyn segera menatap ke arah lain, dirinya tak mau terjebak dalam mata indah milik Dewa itu lagi. Dia tak mau terjerat lagi oleh ketampanan Dewa.

__ADS_1


Dia berdeham pelan. "Cuman ambil minum, Pak."


Dewa menatapnya dengan datar lantas menaikkan satu alisnya. "Lantas, kenapa kamu berdiam diri di sini? Tidak bisa jalan?"


Kenapa mulutnya mirip bon cabe sih?!


"Tadi telfonan," sahut Ralyn mencoba menutupi kegugupan.


"Apa pacarmu tidak tahu jam? Menelfon selarut ini?"


Ralyn mengerutkan keningnya bingung. Pacar katanya? Hatiku saja untuk dia, bagaimana ceritanya punya pacar? Ralyn menatap manik mata Dewa yang tajam, masih sama dan tak pernah berubah. Perempuan itu segera mengalihkan pandangannya saat dirasa jantungnya semakin keras berdebar.


Ralyn menghembuskan napasnya kasar, tidak akan pernah usai jika terus meladeni Dewa. Dia tak akan pernah bisa berpaling dari rupa menawan milik Dewa, dia pun tak akan bisa beranjak menjauh jika begini ceritanya.


"Terserah Bapak."


...***...


tanya Karin yang berdiri tak jauh di belakang Ralyn.


Dia menghela napasnya pelan, baru saja perempuan itu turun dari mobil miliknya. Namun, sudah diserbu berbagai pertanyaan oleh perempuan yang kini berjalan menghampiri dirinya. Sudah Ralyn duga, sahabatnya itu pasti akan marah karena dia memutuskan sambungan telfonnya tiba-tiba. Ralyn menoleh sekilas sebelum akhirnya berjalan mendahului Karin yang segera disusul oleh perempuan itu.


"Kemarin Pak Dewa tiba-tiba muncul di dapur. Ya, aku kaget," ujar Ralyn singkat, dapat dia lihat Karin terkejut.


"Serius?!" teriaknya yang dibalas anggukan singkat oleh Ralyn.


Untungnya parkiran rumah sakit masih sepi, jadi tak perlu merasa takut jika ada yang mendengar teriakan Karin. Karin menatap sahabatnya itu dengan penuh tanya, perempuan itu dilanda oleh rasa penasaran yang kuat sekarang.


"Udah mau tujuh tahun, Lyn. Masih betah melukai diri?" Ralyn terdiam mendengar pertanyaan yang lebih terdengar sebagai pernyataan di telinganya.


"Kenapa?" lanjutnya.

__ADS_1


Ralyn terdiam, dia lebih memilih membalas sapaan Dokter dan Suster yang menyapanya dan Karin. Ralyn menoleh, sangat terlihat jelas Karin tengah menanti jawaban keluar dari mulutnya. Ralyn menundukkan kepala sejenak, Karin yang melihat itu menghela napasnya kasar. Dia tak mau sahabatnya itu semakin jauh terluka.


"Aku enggak tahu, Rin."


Karin menatapnya lekat. "Kamu berhak bahagia." Dia menatapku sejenak, "Aku ada operasi." Ralyn memandangnya yang telah menghilang dari balik tembok.


"Andai semudah itu."


Ralyn memandang nanar sekitarnya lantas menghela napasnya pelan. Dirinya pun tak mau seperti ini, mencintai Adik iparnya sendiri. Namun, terkadang hati berlabuh bukan pada tempatnya. Lagi pula, Ralyn-lah yang lebih dahulu mengenal Dewa dibandingkan dengan Andini.


Entah kapan akan usai semuanya.


...***...


Cup!


Kecupan singkat pada perut buncit seorang wanita yang tengah tersenyum tipis. Tangannya terulur mengusap lembut surai ikal tersebut, usapan yang mampu membuat sang empunya merasakan kelembutan yang dibalut kenyamanan. Pria itu bangkit dari posisi jongkoknya, dia memandang wanita di hadapannya dengan teduh dan lembut.


Keduanya hanyut dalam tatapan masing-masing, tatapan penuh cinta yang membuat siapa pun iri melihatnya. Diusapnya dengan lembut surai wanita di hadapannya lantas dikecupnya mesra kening wanita itu, sedangkan sang wanita memejamkan matanya. Dia mencoba menikmati momen manis yang selalu dia rasakan setiap pagi, tetapi tak pernah membuatnya bosan.


"Mas kerja dulu, ya?" Pria itu tersenyum manis sembari menyelipkan rambut wanita di hadapannya ke belakang telinga.


Dia mengangguk. "Mas Dewa hati-hati, ya? Oh, iya, nanti pas pulang dari kantor tolong beliin aku kentang goreng, ya. Dede bayinya lagi pengen mam kentang goreng," sahut wanita itu.


Dewa mengangguk singkat mendengar ucapan sang istri, dia segera mengecup singkat bibir merah yang menjadi candunya. Andini mengulurkan tangannya pada leher Dewa, berusaha untuk tak meremas rambut sang suami yang sudah tertata rapi. Dewa melepaskan tautan pada bibir mereka lantas bergegas memasuki mobil setelah Andini mencium tangannya. Dirasa sang suami sudah pergi jauh dari kawasan rumah mereka, Andini segera masuk kembali ke dalam rumahnya.


Memang Andini saat ini tengah mengandung, usia kandungannya baru menginiak dua bulan dan perut wanita itu sudah sedikit membuncit.


Andini adalah wanita yang berhasil membuat seorang Dewa jatuh hati. Jika dibandingkan dengan Ralyn jelas saja Ralyn lebih unggul, tetapi hati tak pernah tahu ke mana dia berlabuh.


Bertemu Andini di sebuah kafe secara tak sengaja, pertemuan yang tak disengaja itu berhasil membuat Dewa tertarik pada pribadi Andini yang ceria dan penuh senyum. Pada akhirnya pria itu memilih meminang Andini setelah dua bulan mereka kenal.

__ADS_1


__ADS_2