PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
13. Mengajak Menikah


__ADS_3

Sekitar pukul 3 dini hari, Orlando meraba di sampingnya dengan mata terpejam merasakan keberadaan Carine yang sudah tidak ada. Iapun lantas terbangun dan merasakan kepalanya terasa berat.


"Sialll.... ternyata semalam aku hanya mimpi..!" umpat Orlando karena menahan diri semalaman karena tidak bisa menggoda Carine.


Perlakuan Carine yang memanjakan miliknya dengan mulut dan tangan adik tirinya itu hanya sebatas mimpi tidak nyata dan itu yang membuatnya semalam memilih tidur saat melihat Carine terlelap dalam dadanya karena kelelahan berenang dan kekenyangan.


Carine tidak melakukan apapun padanya hingga ia sendiri terbawa mimpi karena terlalu berharap mendapatkan service dari gadis itu. Orlando kembali memanggil Carine.


"Carine....! Carine ....! Ke mana gadis itu?" Orlando menggedor kamar mandi dan membuka knop pintu itu tanpa beban dan mendapati kamar mandi kosong.


Drettttttt...


Ponselnya berbunyi. Orlando segera melihat ponselnya di mana nama Carine dilayar ponselnya.


"Kenapa dia telpon aku...?" heran Orlando segera menggeser tombol hijau itu dan menempelkan ke kupingnya.


"Aku ke rumah sakit. Ada tindakan darurat pada pasien yang harus menjalani operasi. Tunggu saja aku pulang. Tidur lagi ya, sayang. Maaf aku tidak tega membangunkan kamu karena tidurmu sangat pulas," ucap Carine sambil menyetir mobilnya menuju TKP di mana ada penemuan mayat lagi.


Pengakuan berbeda yang harus ia berikan karena Carine tidak bisa membuka indentitas nya pada Orlando.


"Baiklah. Nanti pagi aku akan menjemputmu ke rumah sakit. Jangan pulang sendiri! Kau mengerti...?" tegas Orlando.


"Bye...bye ..baby!" ucap Carine seraya mematikan ponselnya.


Karena masih mengantuk, Orlando kembali tertidur di kamar Carine sambil memeluk dan mencium piyama tidurnya Carine.


"Kapan aku bisa memilikimu, Carine? Aku ingin kita menikah secepatnya," lirih Orlando kembali masuk ke dalam mimpinya.


Kini anggota FBI menemukan lagi mayat di kantong plastik pembungkus daging sapi dan sekarang berada di pinggir sungai.


"Sampai kapan kita terus melihat korban berjatuhan di tangan penjahat kelamin itu?" kesal tuan Daniel yang merupakan detektif polisi.


"Makanya serahkan kasus ini pada FBI kalau kalian sudah tidak bisa menanganinya sendiri," ucap Carine sambil belajar pola pembunuhan yang dilakukan sang pelaku yang selalu membuang mayat sekitar pukul 2 pagi.


Carine meretas CCTV di sekitarnya namun tidak ada CCTV di tempat itu yang bagus. Carine merasakan keanehan pada kasus pembunuhan ini karena sang pelaku merusak semua cctv yang ada di sekitar TKP sebelum ia membuang korbannya.

__ADS_1


"Sepertinya, pelaku sudah mengenal korban yang diajaknya berkencan terlebih dahulu. Pelaku adalah orang yang cukup berpengaruh di kota ini," ucap Carine pada bos-nya.


"Baiklah. FBI yang akan mengambil alih kasus ini sebelum ada korban berikutnya," geram bosnya Carine.


Jenasah segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi. Sekitar pukul enam pagi Carine harus ke rumah sakit karena Orlando akan menjemputnya.


Benar saja, kakak tirinya itu sudah berjalan menuju pintu lift hendak ke ruang kerja Carine. Carine buru-buru masuk ke dalam lift khusus untuk para dokter eksekutif agar lebih cepat tiba di ruang kerjanya sebelum Orlando tiba. Carine harus mengganti baju dinas FBI terlebih dahulu dengan baju operasi bedah agar bisa meyakinkan Orlando.


Tok...tok....


Pintu dibuka oleh seorang suster. Carine pura-pura membuat laporan. Rumah sakit itu memang sudah tahu siapa Carine. Jadi semuanya harus bersandiwara pada orang yang mengenal Carine tapi tidak tahu identitas Carine sebenarnya.


"Dokter Carine. Ada seorang pria yang mencari anda," ucap suster Megan.


"Suruh dia masuk..!" titah Carine datar.


"Silahkan tuan...! Dokter Carine menunggu anda di dalam," ucap Orlando.


"Terimakasih suster..!" ucap Orlando membuka pintu ruang kerjanya Carine yang langsung menyambut kekasihnya.


"Kau datang sepagi ini?" tanya Carine mengecup bibir Orlando yang memagut bibirnya lebih lama.


"Kita belum menikah. Aku tidak mau kamu khilaf dan memperkosaku," canda Carine.


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita menikah..! Siapkan semua dokumen pribadimu untuk didaftarkan ke kantor catatan sipil dan gereja walaupun aku seorang atheis," ucap Orlando.


"Baiklah. Kalau begitu kita menikah hari ini," sambut Carine bahagia.


Karena Orlando orang berpengaruh di kota itu, maka mudah baginya melakukan pernikahan singkat tanpa urusan ribet. Apa lagi dokumen pribadi Carine juga sudah siap di kirim ke kantor catatan sipil.


Wajah asisten pribadinya Orlando cukup kaget saat membaca data pribadi gadis yang akan dinikahi bosnya itu.


"Tuan Orlando. Apakah anda tidak salah menikahi gadis ini?" tanya asisten Wiz.


"Dia tidak sedarah denganku. Dia hanya adik tiri!" sungut Orlando acuh saat di hubungi asistennya Wiz.

__ADS_1


"Bagaimana kalau tuan Franco..-"


"Lakukan dengan cepat...! Aku ingin menikah dengan Carine hari ini," ucap Orlando tanpa basa-basi lalu menutup teleponnya.


"Dasar gila...! Terserah itu urusan kalian. Aku hanya bekerja untuk kalian," gerutu asisten Wiz segera berangkat ke urusan catatan pernikahan.


"Kita ke butik sekarang?" tawar Orlando ingin membuat hati wanitanya senang.


"Hmm!"


"Tunggu sebentar. Aku harus mengganti baju dinasku dulu!" Carine mengibaskan tangannya agar Orlando keluar sebentar.


"Bukankah hari ini kita akan menikah, baby? Kenapa aku tidak boleh melihat tubuhmu?" geram Orlando.


"Kau akan langsung menerkam tubuhku jika kamu melihat sebelum waktunya," sahut Carine sambil nyengir.


"Ok." Orlando keluar sambil memutar mata malas.


Sepuluh menit kemudian, Carine sudah rapi dengan penampilan tomboinya. Gadis ini tetap mengenakan celana jins ketat membuat Orlando sangat murka.


"Baby! Kenakan mantelmu...!" titah Orlando yang tidak ingin bagian tubuh Carine menjadi tontonan bersama.


"Iya sayang. Nanti saja. Kita belum tiba di mobil," ucap Carine tampak santai hingga! tidak sadar menyenggol seorang pria berperawakan tinggi besar hampir sama dengan Orlando tapi wajahnya seperti seorang penjahat.


Insting seorang agen rahasia yang bisa membedakan mana orang baik dan jahat berhenti sesaat. Ia membalikkan tubuhnya hendak menegur lelaki yang bertabrakan dengan pundaknya tadi.


"Hei kau...! Tunggu sebentar....!" ucap Carine tampak waspada dengan tangan sudah siap masuk ke dalam kantong mantelnya.


Orlando yang tahu ada yang tidak beres dengan pria itu juga sudah siap dengan tangan yang siap mencabut pistol di balik punggungnya.


Pria itu berbalik lalu meminta maaf pada Carine." Maafkan saya nona! Tadi saya buru-buru mau melihat kerabat saya sedang dirawat di sini," ucap pria itu namun Carine tidak percaya begitu saja.


"Ini belum saatnya jam besuk. Jika kamu kelurga pasien yang sedang menunggu pasien, tunjukkan kartu visit mu!" titah Carine.


"Apakah anda tenaga medis di sini?" tanya pria itu dengan tangan masuk ke dalam jasnya hendak mengambil sesuatu.

__ADS_1


"Iya. Aku dokter di sini. Tunjukkan kartumu...!" titah Carine sudah siap menarik pelatuknya dari balik mantelnya.


Dan....!


__ADS_2