
Wajah nyonya Cole terlihat pias. Ia tidak menyangka bajingan yang sama yang pernah membuat skenario jebakan padanya yang terlihat selingkuh dengan tuan Franco hingga membuat almarhum suaminya murka padanya hingga terjadi salah paham antara mereka.
"Tuan White...!" lirih nyonya Cole sambil mundur beberapa langkah.
"Harusnya aku tidak memberimu pada Franco. Harusnya kau menjadi milikku," ucap tuan White menyeringai iblis.
"Harusnya kau membusuk dipenjara sama dengan bajingan Franco," maki nyonya Cole namun tidak diindahkan tuan White yang makin terpesona dengan kecantikan nyonya Cole yang terlihat sangat segar usai mandi.
Aroma sabun dan sampo yang digunakan nyonya Cole membuatnya makin terangsang pada wanita yang masih terlihat awet muda diusianya yang hampir memasuki setengah abad.
"Kalian semuanya masuk...! Kalau tidak, akan aku tembak..!" ancam tuan White mengarahkan pistolnya pada dua orang pelayan nyonya Cole.
"Sialan...! Di mana para pengawalku? Apakah mereka sudah dihabisi oleh anak buahnya pria bajingan ini?" tanya nyonya Cole dalam hatinya sambil berusaha mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memukul kepalanya tuan White.
Ia mundur tepat di meja nakas yang ada di sudut ruangan di mana ada porselin mahal yang menjadi hiasan ruang tamu.
"Kemarilah bajingan...! Serang aku dan aku akan menghancurkan kepalamu," batin nyonya Cole yang sudah terdesak di meja nakas tersebut.
"Tanggalkan piyama itu...!" titah tuan White sambil mengarahkan pistolnya ke dada nyonya Cole.
"Lebih baik kau perkosa mayatku daripada aku mengikuti nafsu binatang mu itu," balas nyonya Cole memancing amarah tuan White.
"Baiklah. Kalau begitu kau memaksaku untuk melakukan kekerasan kepadamu," ucap tuan White melemparkan pistolnya dan menyerang nyonya Cole dengan menarik tali piyama tidur nyonya Cole model kimono itu.
Sekuat mungkin nyonya Cole berontak dalam pelukan tuan White yang berusaha menciumnya. Tangannya mendorong dagu pria gendut itu saat bibirnya mendekati bibir nyonya Cole.
"Kau harus melayani aku, baby...! Kali ini aku tidak akan melepaskanmu, jal*g," ucap tuan white yang berhasil menjatuhkan tubuh nyonya Cole ke lantai yang beralaskan karpet ruang tamu itu. Nyonya Cole berhasil mengigit tangan tuan White.
Ayah kandungnya Andrew itu menarik tangannya lalu menampar wajah nyonya Cole hingga sudut bibir wanita itu berdarah.
Nyonya Cole sengaja melemah dan membiarkan tuan White mencium lehernya. Di saat yang sama, satu tangannya meraih porselin mahal miliknya lalu di hantam ke kepala tuan White yang langsung oleng namun masih bisa sadar walaupun pandangannya terlihat kabur.
"Jala**g sialan....!" maki tuan White sambil menarik kaki nyonya Cole yang berhasil bebas dari kungkungannya.
Dengan mengumpulkan tenaga yang tersisa, nyonya Cole merangkak mencari pistol tuan White yang dilemparkan oleh lelaki bajingan itu barusan.
__ADS_1
Tuan White yang menyadari hal itu, berusaha menarik kaki nyonya Cole yang hampir menggapai pistolnya miliknya.
Walaupun kepalanya masih terasa pusing namun tenaganya masih cukup kuat untuk menghajar wanita impiannya itu.
Satu sama lain berusaha menahan dan mencapai tujuan. Nyonya Cole membalikkan tubuhnya lalu menendang wajah tuan White ketika ingin menerkam tubuhnya lagi membuat lelaki tua itu terhuyung ke kebelakang.
Tangan nyonya Cole berhasil menggapai ujung pistol itu dan langsung mengarahkan ke tubuh tuan White.
"Jangan mendekat...! atau aku akan ledakkan kepalamu...!" Ancam nyonya Cole dengan tangan gemetar menggenggam pistol itu.
Tuan White yang tidak sadar kalau saat ini kepalanya juga terluka hingga mengeluarkan darah segar yang sudah menetes di bajunya. Ia mencoba membuka matanya namun penglihatannya lambat laun mengabur.
"Tembak...! Tembak aku kalau kau bisa ******...!" tantang tuan White mengecohkan mental nyonya Cole.
"Kamu kira aku takut menghabisi nyawamu, hah..?! Aku ingin menanam peluru ini ditubuhmu hingga kosong di tempatnya berada, cuih...!" maki nyonya Cole sambil meludah ke samping.
Rupanya tuan White diam-diam mengambil pecahan porselin hendak menyerang dan menusuk tubuh nyonya Cole yang langsung menembak ke arah tuan White yang langsung mengenai pundak bagian dalam tuan White.
Darah itu langsung muncrat ke lantai dengan tubuh yang langsung jatuh tersungkur ke lantai.
Tidak lama petugas keamanan apartemen dan polisi membuka pintu itu dengan cepat.
"Jangan bergerak...!" pekik polisi segera meringkus tuan White dan nyonya Cole yang membiarkan kedua tangannya diborgol dengan tali tis oleh petugas polisi.
"Maaf pak..! Nyonya kami tidak bersalah. Ia justru menjadi korban dari kebiadaban tuan itu," ucap salah satu pelayan setianya nyonya Cole.
"Nanti saja mereka bisa jelaskan di kantor polisi. Bawa keduanya..!" titah komandan polisi itu pada kedua anak buahnya.
Beruntungnya penyergapan itu tidak terendus media mengingat tuan White dan nyonya Cole merupakan orang berpengaruh di negara itu. Berita itu langsung diketahui oleh Carine.
Pelayan Lucio yang mengetahui mantan bosnya saat ini ditangkap polisi langsung dari pelayan Mili yang merupakan kaki tangannya tuan Lucio untuk menjaga nyonya Cole.
Carine mendekati suaminya yang sedang asyik bekerja dengan laptop miliknya. Orlando yang duduk bersandar di dasbor tempat tidur dengan laptop miliknya berada di pangkuannya nampak serius.
"Sayang."
__ADS_1
"Iya. Ada apa baby..?" tanya Orlando menatap wajah cantik istrinya.
"Mommy kamu."
Orlando terlihat diam. Ia kembali fokus pada laptopnya. Carine menarik nafas panjang lalu menangkup dagu suaminya untuk menatapnya lagi.
"Mommy kamu habis diserang oleh seseorang di apartemennya dan ia hampir dilecehkan dan saat ini mommy ada di kantor polisi karena menembak orang yang telah melecehkan dirinya," jelas Carine membuat mata Orlando melebar.
Tapi semenit kemudian, Orlando mengabaikan berita buruk itu.
"Aku tidak peduli. Jangan memaksaku untuk menemui wanita itu!" kekeh Orlando masih pada pendiriannya.
"Apakah sakit hatimu bisa membalikkan keadaan? Apakah kamu merasa bahagia dengan penolakanmu itu? Ok. Itu berarti kamu sedang mengajarkan kepada putramu bagaimana caranya untuk membenci ibu kandungnya jika suatu saat nanti aku yang membuatnya kecewa," ketus Carine segera keluar dari kamar membuat Orlando mengusap tengkuknya yang sempat tegang.
"Carine..! Tunggu baby..!" cegah Orlando namun Carine tetap berlalu meninggalkannya.
"Cih...! Dia selalu menguji kesabaranku," omel Orlando memindahkan laptopnya ke kasur dan mengejar wanitanya kalau ngambek sulit untuk dibujuk agar cepat akur dengannya.
Carine menemui putranya di kamarnya suster Megan yang sedang menggantikan popok bayinya. Saat Carine mencapai pintu kamar suster Megan, Orlando lebih dulu meraih pinggang Carine.
"Sayang. Dengarkan aku...!" Pinta Orlando seraya memeluk pinggang Carine dari belakang.
"Lepaskan aku Orlando...! Terserah padamu..! Itu adalah mommy kamu. Apa peduliku?" ketus Carine benar-benar kecewa pada suaminya yang keras kepala itu.
"Baiklah. Ayo kita menemui dia di kantor polisi..! Aku tidak mau menemuinya sendirian. Temani aku, baby!" pinta Orlando yang akhirnya menyerah juga.
Carine menyunggingkan senyumnya penuh kemenangan. Ia sudah tahu kelemahan suaminya yang tidak kuat bertahan jika didiamkan oleh Carine. Bisa-bisa Carine akan kabur lagi darinya dan Orlando masih sangat trauma dengan kejadian itu.
Carine masih pura-pura jual mahal padahal ia hampir cekikikan sendiri.
"Ayolah sayang...! Kenapa diam? Mau temanin aku tidak?" pinta Orlando setengah merengek pada Carine.
"Baiklah. Aku akan ganti baju dulu," ucap Carine membuat Orlando begitu girang. Ia membalikkan tubuhnya Carine menghadap dirinya.
Dalam sekejap bibir Carine langsung di pagutnya dengan kuat. Suster Megan yang baru membuka pintu melihat adegan panas itu membuatnya kembali mendorong pintu itu dengan pelan.
__ADS_1
"Sial...! Kenapa harus bercumbu di depan kamarku..?" kesal suster Megan yang belum punya pasangan itu.