
Sepekan berlalu, keadaan Carine sudah berangsur membaik. Ia meminta ijin pada suaminya untuk kembali beraktivitas. Karena sudah berbadan dua, membuat bagian tubuh Carine mulai terlihat ada yang makin seksi.
Seperti bukit kembar yang terlihat makin montok dan bokong yang makin menyembul padat membuat penampilan Carine makin menggiurkan walaupun perutnya masih belum kelihatan membesar.
Karena selalu tertutup mantel tebal, membuat tubuh seksi itu tidak bisa dinikmati oleh orang lain.
"Apakah aku boleh berangkat kerja?" tanya Carine pada Orlando.
"Aku yang akan mengantarkanmu," ucap Orlando datar.
"Terimakasih."
Carine mengulas senyum. Walaupun Orlando berubah jutek padanya tapi masih ada perhatian padanya walaupun alasan kehamilan Carine namun Carine tahu kalau Orlando hanya menyembunyikan perasaan cintanya.
Apa lagi sudah hampir 2 pekan ini Orlando sama sekali tidak menyentuh Carine membuat sang adiknya selalu meronta pingin dimanja oleh liang sempit istrinya.
Tidak lama kemudian, baja hitam itu sudah meluncur ke jalan raya menuju rumah sakit. Sesekali mata Orlando melirik Carine yang lebih banyak diam sambil menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Hanya melihat bibir istrinya saja Orlando hanya bisa meneguk salivanya.
Memikirkan percintaan panas mereka saja, Orlando merasa lehernya tiba-tiba terasa tegang. Karena egonya lebih besar daripada hasratnya membuat Orlando menekan hasratnya itu dan berusaha mengendalikan dirinya.
"Jam berapa pulangnya? Jangan pulang sendiri biar aku yang jemput..! Kamu mengerti?" tekan Orlando.
"Iya. Sekitar 8 malam.
Carine langsung membuka pintu mobilnya hendak turun tapi Orlando kembali berkomentar.
"Jangan menghilangkan kebiasaanmu sebagai istriku...!" sindir Orlando membuat Carine menahan geli.
"Cih...! Bilang saja kamu pingin dicium. Kenapa pakai bahasa diplomasi segala," batin Carine yang mengalah lalu mendekati wajahnya menghampiri bibir Orlando yang ingin menerkam tubuh istrinya saat ini.
Carine mengecup bibir Orlando sekilas namun tengkuknya ditahan oleh Orlando yang lebih memperdalam ciuman pada bibir Carine yang hampir kehabisan nafas. Setelah puas mencumbui istrinya, Orlando baru mengijinkan Carine turun dari mobilnya.
"Turunlah. Jangan lupa makan teratur dan tidak boleh sampai kelelahan..!" tegas Orlando namun diacuhkan Carine yang langsung masuk ke dalam lift rumah sakit yang dekat dengan tempat parkiran.
__ADS_1
Orlando melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan milik ayahnya yang saat ini terbengkalai walaupun diurus oleh asisten ayahnya.
Carine di minta oleh bosnya untuk melakukan tindakan operasi dadakan saat ini. Carine langsung ke ruang operasi melakukan prosedur sebelum menghampiri meja operasi dengan mencuci tangan dan mengenakan baju pelindung, kaos tangan dan penutup kepala.
Di perusahaan tuan Franco, nampak terlihat biasa saja. Perusahaan itu tetap berjalan lancar. Sekertaris Gwen memberikan beberapa berkas laporan saham pada Orlando. Pria cerdas ini mempelajari semuanya terlebih dahulu sebelum membubuhkan tandatangannya.
"Apa ada jadwal untukku hari ini?" tanya Orlando dengan wajah datar.
"Tentu saja tuan Orlando. Jadwal Anda nanti yaitu makan siang bersama dengan beberapa orang relasi dari perusahaan Montana grup. Ada juga undangan pesta pernikahan Tuan Osvaldo malam ini di hotel Hilton pukul tujuh malam," ucap sekertaris Gwen.
"Membosankan," gerutu Orlando tapi ia juga tahu tuan Osvaldo orang berpengaruh di Amerika.
"Butuh teman pesta tuan Orlando?" tawar sekretaris Gwen yang langsung di tatap horor oleh Orlando.
"Aku sudah punya istri," ketus Orlando membuat sekertaris Gwen menahan malu karena ia sering dipakai oleh Orlando jika tidak menemukan wanita yang tepat untuk diajak ke pesta mendadak seperti ini.
"Sialan...! Kapan dia menikah? Dan siapa istrinya?" maki Gwen sambil menghentakkan kakinya keluar dari ruang kerja tuan Franco.
Orlando mengusap wajahnya. Ia tidak mungkin pergi sendirian saat ini mengingat pesta tuan Osvaldo adalah relasi ayahnya yang punya pengaruh besar di negara itu. Orlando akhirnya memutuskan untuk menghubungi teman kencannya untuk mendampinginya di pesta pernikahan tuan Osvaldo.
Apa lagi pesta itu merupakan kubangan mafia yang memamerkan wanita mereka yang belum tentu istri mereka.
"Wiz...! Siapkan wanita untuk teman pestaku malam ini..!" pinta Orlando.
"Kenapa mendadak sekali? Lagi pula bukankah tuan bisa mengajak nona Carine?" protes Wiz.
"Baiklah kalau kamu tidak bisa. Aku bisa menemukan banyak wanita cantik di sana nanti," kesal Orlando yang langsung menutupi ponselnya.
Sementara itu Carine mendapatkan tugas dari Mr. M yang harus menyamar menjadi seorang dokter untuk bisa mendekati tuan Muller yang merupakan Mafia yang selalu mencuri emas dari hasil pertambangan saat di kirim ke perusahaan milik negara tersebut.
"Persiapkan dirimu untuk mendekati tuan Muller di pesta pernikahan tuan Osvaldo...! Mereka mengenalmu sebagai dokter bedah. Sepuluh menit lagi tim akan menjemputmu dan mengantarkan kamu ke butik langganan kita," titah Mr. M membuat Carine harus mencari cara untuk membohongi suaminya.
"Baik Mr. M."
__ADS_1
"Pestanya pukul 7 malam," ucap Mr. M.
Carine mematikan ponselnya. Baru saja ia ingin menulis pesan, Orlando sudah lebih dulu mengirimkan pesan untuknya.
"Aku mungkin terlambat menjemputmu. Jangan pulang sebelum aku datang, ok!" titah Orlando.
"Aku minta ijin mau ke pesta ke klien. Mungkin aku pulang agak malam," balas Carine.
"Baiklah. Hati-hati...! Jangan makan dan minum yang mengandung alkohol. Ingat kamu sedang mengandung bayiku...!" balas Orlando membuat Carine hanya merotasi mata malas.
Sekitar pukul 5 sore, Carine sudah berada di butik mahal yang menjadi langganan FBI. Carine sudah di sulap seperti putri raja. Cantik dan menawan.
Mengenakan dress yang menutupi sebelah bahunya dan menyisakan bahu lain tanpa lengan. Gaun putih tulang itu melekat di tubuhnya yang nampak sintal ditambah lagi pengaruh hormon kehamilannya yang makin menguatkan aura seksi seorang Carine.
"Wow...! Kamu yang menjadi bintangnya malam ini Carine," puji Mua-nya.
"Terimakasih."
Carine masuk ke dalam mobil Limosin putih. Mobil mewah operasional FBI yang tidak diketahui oleh siapapun.
"Antingmu sebagai alat penghubung. Bros mawar ini ada cameranya untuk mendeteksi data target. Lensa matamu bisa mendeteksi orang-orang yang membawa senjata di balik baju mereka," ucap Mr. Q seraya menyerahkan peralatan canggih pada Carine saat dirinya mendekati musuh.
"Baik Mr. Q. Terimakasih," ucap Carine.
Tiba di lobi hotel, para awak media terkecoh dengan penampilan Carine malam itu. Mereka lebih fokus pada para pengusaha dan artis. Carine tidak peduli dengan hal itu karena tubuhnya tertutup dengan mantel bulu. Tiba di ruang resepsi, Carine baru membuka mantelnya dan berjalan dengan anggun menuju sepasang pengantin.
Tuan Osvaldo yang mengenal Carine sebagai dokter bedah begitu senang dengan kedatangan Carine. Sementara itu putra dari tuan Muller yaitu Neil meninggalkan Orlando dan rekan bisnis mereka karena ingin menghampiri Carine yang benar-benar sangat cantik malam ini.
"Sebentar. Aku ingin menyapa teman lama," ucap Neil pada Orlando yang nampak acuh.
"Ok. Silahkan..!" Orlando mengambil minuman dingin diatas nampan silver yang dibawa oleh pelayan yang menawarkan kepada mereka.
Orlando membalikkan tubuhnya ingin melihat siapa teman dari Neil itu. Seketika matanya terbelalak melihat teman lama yang di maksud Neil adalah istrinya sendiri.
__ADS_1
Orlando hampir menyemburkan minumannya saat melihat wajah cantik istrinya yang berubah 180 derajat seperti saat mereka menikah dulu.
"Carinnnnne...!" pekik Orlando tidak rela Carine disapa oleh Neil.