PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
19. Firasat Buruk


__ADS_3

Tuan Franco dan nyonya Adeline sudah kembali lagi ke Amerika setelah melakukan bulan madu mereka. Mendengar kepulangan kedua orangtua mereka membuat Orlando dan Carine cukup panik.


"Sayang. Apa yang harus kita lakukan kalau kita sudah berada bersama lagi dengan kedua orangtua kita?" tanya Carine cemas.


"Tetap bersikap tenang. Jangan memperlihatkan tanda-tanda yang bisa membuat mereka curiga pada kita. Apakah kamu mengerti, sayang?!" tegas Orlando.


"Baiklah."


Carine mengemas pakaiannya ke dalam koper. Orlando menatap wajah istrinya lalu mencium lagi bibir Carine.


"Jangan kunci pintu kamarmu saat malam hari!" pinta Orlando melepaskan pagutannya pada bibir Carine yang terlihat makin membengkak.


"Hmm!" Carine mengangguk paham.


"Siapa dulu yang harus pulang ke rumah?" tanya Carine.


"Kamu saja. Aku bisa menyusul," ucap Orlando.


"Sayang," panggil Carine.


"Kenapa sayang?" tanya Orlando..


"Tidak apakan kalau aku masih menyamar sebagai gadis culun di rumah?" ijin Carine.


"Iya sayang. Aku lebih tenang kalau kamu menyamar jadi gadis culun dari pada kamu menampakkan wajah aslimu di depan banyak orang," ucap Orlando.


"Terimakasih. Semoga kamu tidak jijik melihat wajah jelek istrimu nanti," canda Carine menyinggung Orlando yang terlihat sangat malu mengingat dirinya dulu sering bully Carine.


"Maafkan perbuatan aku dulu padamu, sayang. Ayo kita pulang. Mobilmu sudah ada di parkiran hotel. Tadi aku meminta asisten Wiz yang mengambilnya untukmu," ucap Orlando.


"Terimakasih, hubby...!" ucap Carine terlihat tidak semangat.


"Baby. Kamu kenapa terlihat lemas begitu, hmm?" Orlando memeluk lagi pinggang Carine agar merapat ke tubuhnya.


"Entahlah. Seperti ada yang akan hilang dalam hidupku," ucap Carine yang memiliki firasat yang tidak enak akan hubungannya dengan Orlando.


"Jangan memikirkan hal yang buruk. Aku milikmu. Seluruh tubuhku adalah milikmu. Terutama yang ini..!" menempatkan tangan Carine pada pusakanya membuat wajah Carine bersemburat merah." Tempat dia pulang untuk berteduh hanya di ruang sempit milikmu." Orlando membelai milik istrinya dari balik celana jins Carine membuat gadis ini spontan mendes*ah membuat Orlando mengulum senyumnya.


"Bisakah kamu tidak menggodaku!" kesal Carine.


"Sudahlah sayang. Nanti malam aku ke kamarmu. Kita akan tidur bersama, ok..!" Orlando membawa wanitanya dalam pelukannya. Mencium kening Carine penuh kehangatan.

__ADS_1


Keduanya keluar dari kamar hotel saling berpelukan. Entah mengapa kembali ke rumah kedua orangtua mereka seperti akan ada jarak yang akan memisahkan mereka terbentang jauh di dalam sana.


Lift terbuka. Orlando dan Carine keluar dari hotel itu masih saling berpelukan. Setengah wajah Carine dibenamkan di bawah keteknya seakan tidak boleh ada yang memperhatikan wajah Carine.


Mobil Carine lebih dulu datang di depan lobi hotel yang diambil oleh petugas hotel. Carine masuk ke dalam mobilnya dan kopernya di masukkan ke dalam bagasi oleh petugas. Orlando mengecup lagi bibir itu sesaat sebelum Carine meninggalkan hotel itu.


"Aku akan mengikuti mobilmu dari belakang," ucap Orlando menutup pintu mobil Carine.


"Hmm!"


Mobil itu bergerak cepat menuju mansion utama di mana kediaman keluarga tuan Franco bertempat tinggal di pesisir pantai.


Orlando sengaja menjaga jarak mobilnya dengan mobil Carine sekitar 300 meter. Tidak lama kemudian, mobil Carine sudah memasuki gerbang utama mansion milik ayah tirinya. Sekitar setengah jam kemudian baru mobil Orlando menyusul.


"Sayang....!" sapa nyonya Adeline menyambut putrinya dengan pelukan hangat.


"Apa kabar mommy!" sapa Carine mengecup kedua pipi ibunya sangat dalam lalu menyambut kecupan ayah tirinya dipipi kanannya.


"Apa kabar daddy!" sapa Carine tersenyum kaku di hadapan tuan Franco.


"Apakah kamu baru pulang dari luar negeri?" tanya tuan Franco saat melihat pelayan menurunkan kopernya Carine.


"Berarti kamu belum sama sekali bertemu dengan Orlando?" tanya tuan Franco.


Deggggg...


"Hmm ..! belum daddy.


Carine menggelengkan kepalanya dengan gugup


Tidak lama kemudian, mobil Orlando sudah terparkir di depan mansion. Carine segera pamit untuk kembali ke kamarnya sebelum bertemu dengan suaminya karena mereka sedang bersandiwara.


...----------------...


Di meja makan, kedua orangtuanya mereka sudah duduk untuk menikmati makan malam. Orlando turun lebih dulu menghampiri kedua orangtuanya. Wajahnya terlihat sangat tertekan karena istrinya belum turun juga ke meja makan.


"Duduklah sayang....! Kita hanya tunggu Carine. Lucio. Tolong panggil Carine agar segera turun untuk makan malam!" titah nyonya Adeline pada pelayannya.


"Biar aku saja yang memanggil Carine, mommy. Aku belum pernah bertemu dengannya selama mommy dan Daddy bulan madu," ucap Orlando membuat mata pelayan Lucio membulat penuh dengan ekspresi wajah tercengang.


Orlando menatap horor wajah Lucio agar tidak buka mulut tentang hubungannya dengan Carine.

__ADS_1


"Ayo...!" cepat panggil adikmu! Daddy sudah lapar," ucap tuan Franco.


"Mommy dan Daddy, makan duluan saja! Biar aku dan Carine akan menyusul belakangan," ucap Orlando.


"Baiklah. Daddy...! Kita makan duluan," ajak nyonya Adeline.


"Tidak. Kita harus makan malam bersama karena ada yang ingin aku bicarakan pada kalian," ucap tuan Franco terlihat serius.


Orlando mengangguk dan segera naik ke lantai atas memanggil istrinya atau adik tirinya yang menurut anggapan kedua orangtuanya mereka.


Tok ...tok....


Carine membuka pintu kamarnya dan tampaklah Carine dengan penampilan culunnya di depan Orlando.


"Adik tiriku sayang. Cepatlah turun...! Karena kami semua sudah lapar sebab terlalu lama menunggumu," ucap Orlando sambil menarik pinggang Carine merapat ke tubuhnya.


"Lepaskan Orlando....! Nanti ada yang melihat kita, sayang." Berontak Carine dalam pelukan Orlando.


"Ok, baby. Ayo kita turun makan malam setelah itu kita bercinta. Aku sudah kangen sama kamu," geram. Orlando menarik tangannya Carine yang mengikutinya turun ke lantai bawah.


Orlando yang sengaja mengajak Carine duduk di sebelahnya. Kedua orangtuanya mulai meminta pelayan untuk melayani mereka di meja makan. Tangan Orlando tidak bisa diam karena terus mengelus pahanya Carine yang menatapnya horor karena tangan itu sudah berada di pangkal pahanya dan siap masuk di balik bungkusan segitiga berwana hitam itu. Carine melirik Orlando yang pura-pura bicara dengan ayahnya agar aksinya tidak di curigai.


"Ayo kita makan dulu! Setelah ini ada berita baik untukmu Orlando," ucap tuan Franco sambil menyuapi makanan ke mulutnya.


"Berita baik apa, daddy?" tanya Orlando penasaran..


"Tidak baik bicara saat makan, nak. Habiskan dulu makananmu!" titah tuan Franco.


Keduanya menikmati makan malam mereka sehingga cepat selesai karena tidak diselingi obrolan. Orlando meminta Carine untuk mengupas buah jeruk untuknya.


"Sayang. Tolong kupasin jeruk untukku!" pinta Orlando tidak sadar memanggil Carine dengan sebutan sayang.


"Orlando. Carine itu adikmu. Jangan panggil dengan sebutan sayang begitu saja pada adikmu Carine karena tidak begitu enak di dengar di telinga orang lain," tegur tuan Franco.


"Hanya panggilan sayang saja daddy lagi pula Carine tidak keberatan kok, iya kan sayang?" tanya Orlando mengedipkan matanya pada Carine yang terlihat panas dingin sendiri atas ulah suaminya.


"Sudahlah daddy...!Biarkan saja seperti itu. Carine juga suka dipanggil seperti itu oleh kakaknya," timpal nyonya Adeline yang merasa senang Carine dan Orlando akhirnya terlihat akur.


"Jangan begitu mommy....! Sebentar lagi Orlando akan menikah dengan putri sahabat daddy yang ada di Swiss itu yang kemarin kita bertemu. Kamu ingat Orissa white, Orlando? Teman masa kecilmu yang kamu ingin nikahi dia dulu?" tanya tuan Franco membuat Carine dan Orlando sama-sama tersedak.


Uhukkk.....uhuk....uhuk....

__ADS_1


__ADS_2