
Wajah Orlando berubah kelam saat melihat wajah wanita yang melahirkannya yang selama ini ia benci, kini tiba-tiba muncul di hadapannya.
Nyonya Cole hanya bisa menunduk diam berusaha pasrah pada sikap putranya yang mungkin mau terima atau tidak dirinya saat ini.
"Apakah mommy boleh masuk sayang?" tanya nyonya Cole lirih.
"Mau apa kamu ke sini, hah?!" bentak Orlando dengan suara yang cukup keras membuat penghuni di dalam unit apartemennya tersentak.
Carine dan nyonya Adeline saling menatap satu sama lain. Pelayan Lucio terlihat diam karena ia tahu siapa yang datang saat ini.
"Emangnya itu siapa?" tanya Carine meninggalkan makanannya menghampiri Orlando yang masih mengamuk dengan ibunya di depan pintu.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini....cepat...!" pekik Orlando namun nyonya Cole tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Orlando. Ada apa sayang...? Itu siapa..?" tanya Carine yang sudah berdiri di samping suaminya.
"Bukan siapa-siapa? Hanya orang kurang waras yang sedang nyasar ke tempat kita. Ayo masuk Carine!" titah Orlando hendak mendorong pintu itu namun nyonya Cole langsung menahannya.
"Orlando. Ijinkan mommy menjelaskan semuanya padamu, nak!" pinta nyonya Cole tidak mau menyerah begitu saja atas penolakan putranya.
"Mommy...?" sentak Carine menatap wajah cantik nyonya Cole yang sedikit mirip dengan suaminya.
"Apakah kamu tidak dengar kalau aku tidak mau kamu datang lagi dalam hidupku...?!" teriak Orlando makin menjadi.
Carine merasa bingung sendiri harus melakukan apa. Keadaannya yang baru saja melahirkan membuat tubuhnya juga tidak bisa bergerak dengan bebas karena sakit dibagian intinya belum saja membaik. Berjalan juga agak susah.
"Orlando. Tenangkan dirimu...! Jangan begitu sama mommy!" mohon Carine menatap wajah suaminya dengan tatapan memelas.
Orlando tidak ingin mendengarkan istrinya. Rasa bencinya pada ibunya sudah mengakar dalam tubuhnya.
"Untuk apa kamu menerima wanita terkutuk ini, hah?! Dia tidak lebih dari perempuan ja**ang yang hanya ingin mendapatkan kepuasan dari pria karena dia tidak bisa mendapatkan dari daddyku....!" cecar Orlando dengan perkataan yang begitu cepat membuat tangan ibunya tidak sanggup lagi menahan diri.
__ADS_1
Plakkkk....
Wajah Orlando tertolak ke samping membuat Carine mundur beberapa langkah.
"Siapa yang sedang kau bicarakan di sini? Laki-laki terkutuk itu yang kau panggil daddy...? Kau sama sekali bukan darah dagingnya. Bahkan apa yang kamu miliki saat ini dan juga rumah yang ditempati ibu mertuamu itu bukan milik Franco.
Kau tumbuh di tangan seorang pecundang yang merampas segalanya dariku. Bahkan dirimu," ucap nyonya Cole lalu meninggalkan unit apartemen putranya dengan menahan segala sesak di dadanya.
Orlando terdiam dan terpaku di tempatnya. Hatinya makin sakit ketika dirinya dikatakan bukan anak kandungnya tuan Franco.
"Apa maksudnya aku bukan anak kandungnya Daddy? Jadi aku hanya bagian dari anak hubungan gelapnya dengan pria lain? Seperti itukah?" lirih Orlando.
Carine mencoba menenangkan suaminya. Tapi, Orlando sudah terlanjur sakit hati.
"Sayang. Jangan salah artikan ucapan mommy kamu. Pasti dia hanya salah ucap karena emosi. Mungkin ada penjelasan lain.
Tolong jangan biarkan hatimu terprovokasi oleh perkataan mommy kamu," hibur Carine walaupun dia sendiri juga masih bingung dengan teka-teki keluarga suaminya.
"Lucio. Apakah kamu masih ingin tetap bungkam melihat situasi ini?" tegur nyonya Adeline pada Lucio yang tampak diam.
"Bukan saatnya nyonya saya bicara. Biarkan semuanya tenang dulu baru kita bisa duduk bersama untuk membahas masalah rumit ini," imbuh pelayan Lucio.
"Apakah mommy sudah tahu tentang Orlando?" tanya Carine melihat interaksi Orlando dan ibunya yang sedang membahas permasalahan suaminya.
"Hanya sedikit. Badebah ini masih mengunci mulutnya entah apa yang saat ini ia takutkan," omel nyonya Adeline pada pelayan Lucio sambil menimang cucunya yang ingin menangis namun kembali terdiam.
"Apakah benar begitu, Lucio?" tanya Carine diangguki oleh pelayan Lucio sambil menundukkan kepalanya.
"Apakah aku boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Carine.
"Maafkan saya nona...! Saya akan bicara jika saatnya tiba. Sebaiknya nona menemani tuan Orlando. Saat ini hanya nona yang bisa menenangkan dirinya," ucap pelayan Lucio.
__ADS_1
"Pergilah sayang! Temenin suamimu...! Apa yang dikatakan Lucio benar. Seorang suami lebih membutuhkan sosok istrinya saat dirinya jatuh!" titah nyonya Adeline.
"Baiklah. Kau berhutang penjelasan padaku Lucio...!" ucap Carine pada Lucio yang masih terdiam.
Di dalam kamar, Orlando sedang meneguk minuman wine. Keadaannya terlihat kacau sama seperti dirinya ditinggalkan Carine beberapa bulan yang lalu.
Yah. Sosok seorang ibu maupun seorang istri sama berartinya bagi seorang lelaki. Jika kepergian keduanya, maka hilanglah harapan mereka sesaat. Apalagi seorang wanita yang sangat ia cintai dalam hidupnya.
Cek..lek...
Pintu kamar itu terbuka secara perlahan oleh Carine yang tidak ingin menganggu ketenangan suaminya. Orlando yang duduk membelakangi Carine dan asyik menatap kaca bening yang hanya memperlihatkan gedung apartemen lainnya.
Carine memeluk leher kokoh itu dan mengecup pipi Orlando lebih dalam. Air mata Orlando langsung tumpah begitu merasakan kehangatan kasih sayang istrinya.
"Menangis lah...! jika menangis bisa menghibur hatimu. Jangan pikirkan hal lainnya setelah melepaskan beban di hatimu," ucap Carine yang bisa merasakan kepedihan hati suaminya.
"Mengapa aku harus lahir dari perempuan yang tidak bisa menjaga dirinya dari godaan laki-laki lain? Dan sekarang dia tega mengatakan kalau aku bukan putra kandung dari Daddy aku. Dia sangat jahat sekali, Carine," ucap Orlando sambil terisak.
"Apa yang terlihat oleh mata belum tentu itu sebuah kebenaran. Banyak manusia-manusia yang terjebak dalam kesalahpahaman karena memang itu yang diinginkan oleh orang-orang licik dan orang-orang yang terpaksa melakukannya.
Apapun itu, kita harus memberikan mereka kesempatan untuk menjelaskan kepada kita agar kita tidak menyesal karena tuduhan kita yang tidak mendasar. Mommy kamu punya alasan untuk itu," jelaskan Carine yang sudah berpengalaman sebagai seorang agen rahasia dalam menyelesaikan misi.
Kali ini Orlando harus mendengarkan pendapat istrinya karena untuk terpilih sebagai seorang agen rahasia sudah melewati banyak ujian berat. Dan Orlando sudah sering menyaksikan sendiri bagaimana kiprah istrinya.
Orlando sedikit tenang setelah mendengar nasehat dan pelukan dari istrinya. Walaupun begitu, ia belum bisa memaafkan perbuatan ibunya begitu saja.
"Apakah kamu mau aku memanggil lagi mommy kamu, sayang? Kata mommyku kalau kedatangan mommy kamu ke sini selain menemuimu, ia juga ingin melihat cucunya," tawar Carine.
"Tidak. Aku tidak akan memaafkannya," tolak Orlando.
"Apa perlu menunggu mommy kamu meregang nyawa dulu baru kamu mau memaafkannya?" sarkas Carine tenang namun menusuk sampai ke ulu hati Orlando yang langsung terbungkam.
__ADS_1
Glekkkk ..