
Wajah cantik nyonya Adeline tampak pias saat melihat siapa wanita yang baru saja melepaskan dirinya dari kepungan anak buahnya Andrew.
Wanita cantik yang hampir sebaya dengan usianya ini tidak lain adalah ibu kandungnya Orlando. Itu berarti besannya sendiri.
Mantan istrinya tuan Franco itu ingin merebut kembali harta kekayaannya yang selama ini direbut oleh tuan Franco dari tangan mendiang suaminya. Bahkan dirinya sendiri juga menjadi bagian ambisi dari pria berengsek itu.
Agar bisa terlepas dari tuan Franco, ibu kandungnya Orlando yang bernama Cole itu mengatur perselingkuhannya agar bisa terbebas dari Franco. Sialnya, bukan Franco sendiri yang menyaksikan perselingkuhannya malah justru putranya sendiri yang melihat itu semua hingga menuai kebencian Orlando padanya. Di saat itulah Cole tidak bisa merebut putranya dan pergi begitu saja usai resmi bercerai dengan tuan Franco.
Namun Cole tidak mempersoalkannya karena harta yang dikuasai oleh tuan Franco adalah milik putranya yang suatu hari nanti akan menjadi milik putranya lagi. Terlepas dari kegiatan bisnis haram yang digeluti tuan Franco tidak tercampur dengan hartanya ayah kandungnya Orlando.
"Cole..!" lirih nyonya Adeline yang mengetahui siapa Cole.
"Kenapa.. ? Kaget..?" ledek Cole sambil menarik sudut bibirnya sinis.
"Sudah saatnya kamu pergi dari kediamanku karena rumah yang kamu tempati itu bukan rumah Franco," titah Cole.
"Kau hanya seorang wanita pembual. Semua aset yang dimiliki oleh suamiku atas namanya sendiri. Kenapa kamu datang-datang mengklaim milikmu? Lagi pula apa kamu lupa Orlando itu adalah putranya siapa?" sergah nyonya Adeline ingin menjatuhkan Cole.
"Ha...ha...ha..!" tawa jahat cole terdengar nyaring. Menertawakan keluguan nyonya Adeline yang tidak begitu paham sepak terjang suaminya dalam dunia bisnis haram.
"Dengar jala**g ..! Kau hanya seorang pendatang baru yang menikmati apa yang kau lihat saat ini. Tapi ketahuilah yang kau nikmati dengan putrimu itu tidak lain adalah milik mendiang suamiku, ayah kandungnya putraku Orlando," tegas Cole yang kini terlihat serius.
Deggggg....
"Apaaa....?! Orlando bukan anak dari...-"
"Kau hanya menikahi pria mandul yang payah diranjang namun ingin mengusai semua harta majikannya termasuk putra kandungnya. Franco tidak lebih dari seorang anjing suamiku yang berubah menjadi rubah yang rakus akan kekuasaan," sarkas Cole membuat darah nyonya Adeline mendidih.
Ingin sekali ia marah dan menghardik Cole namun ia tidak ingin kehilangan wibawanya sebagai seorang isteri Presdir perusahaan raksasa yang menjadi milik suaminya.
Lagi pula semua ucapan Cole perlu ada bukti agar ada kejelasan tuduhan yang dilayangkan oleh wanita yang mengklaim apa yang dimilikinya kini merupakan milik mantan suaminya sendiri.
__ADS_1
"Kau bisa membantah apapun yang aku miliki adalah milikmu tapi semua harus melalui proses hukum. Buktikan semua itu di pengadilan..! Jika semua bukti kebenaran yang bisa kamu pertanggung jawabkan sesuai dengan hukum, maka aku dengan senang hati akan mengembalikan semuanya padamu.
Dan satu hal lagi yang mungkin kamu belum tahu kalau Orlando adalah suami dari putriku dan sebentar lagi mereka akan memberikan kita seorang cucu," ucap nyonya Adeline lalu masuk ke dalam mobilnya.
Ibu kandungnya Carine ini meneruskan perjalanannya menuju kediamannya. Sementara Cole sendiri hanya terpaku diam saat mendengar ucapan nyonya Adeline tentang pernikahan putranya.
"Astaga...! Kenapa hidupku harus dikelilingi orang-orang yang hanya bisa merebut milik orang lain seperti babi. Serakah, rakus dan ambisius," maki Cole yang tidak menyetujui pernikahan Orlando dengan putrinya nyonya Adeline.
Sepanjang perjalanan, nyonya Adeline hanya merutuki dirinya sendiri karena telah terjebak permainan suaminya tuan Franco.
"Bajingan kau Franco....! Kau membuat diriku merubah diriku menjadi seorang ratu dalam semalam dan sekarang dalam sekejap aku tidak lebih dari seonggok barang bekas yang siap dibuang karena sudah tak terpakai.
Aku membencimu. Aku sangat membencimu....!" maki nyonya Adeline sambil memukul stir mobil meluapkan emosinya yang membuat urat syarafnya menegang.
Sementara itu, Cole sendiri tampak gusar karena begitu bingung untuk menjelaskan pada putranya kalau Franco bukan ayah kandungnya Orlando.
"Apakah dia akan mendengarkan aku? Apakah mungkin saja aku bisa mengandalkan Lucio karena dia adalah mantan asisten pribadi Javier?" gumam Cole sambil menebak-nebak sesuatu yang bisa membantunya untuk mendapatkan lagi kepercayaan putranya Orlando.
Di mansion utama milik tuan Franco, nyonya Adeline melemparkan tasnya dengan kasar di sofa lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar. Pelayan Lucio mendekati nyonya Adeline seraya meletakkan satu gelas air putih dingin untuk majikannya itu.
"Lucio."
"Iya nyonya."
"Sejak kapan kamu bekerja di rumah ini?" tanya nyonya Adeline.
"Sejak istri pertama tuan Franco mengandung tuan muda Orlando," ujar pelayan Lucio.
"Berarti kamu tahu Orlando putranya siapa?" tanya nyonya Adeline.
"Emangnya ada apa Nyonya? Apakah ada yang menganggu nyonya?" tanya pelayan Lucio yang tidak langsung menjawab pertanyaan nyonya Adeline.
__ADS_1
"Hari ini aku telah bertemu dengan Cole. Ibu kandungnya Orlando," ujar nyonya Adeline dengan wajah masih kesal.
"Hah...?!"
"Apa nyonya Cole bicara dengan anda nyonya?" tanya pelayan Lucio.
"Dia ingin mengambil apa yang aku miliki saat ini. Rumah ini, perusahaan dan Orlando. Dia mengatakan semuanya milik mantan suaminya. Lebih tepatnya mendiang suaminya," ucap nyonya Adeline terlihat frustasi.
"Itu benar nyonya. Apa yang ada di sini semuanya milik nyonya Cole. Jika dia ingin mengambilnya kembali itu berarti nyonya harus siap meninggalkan rumah ini," ucap pelayan Lucio.
Nyonya Adeline terhenyak walaupun ia tidak begitu menampakkan rasa keterkejutannya pada pelayan Lucio, namun hatinya merasa sangat sakit. Ia bergegas berdiri seraya meraih tasnya di atas sofa lalu berjalan menuju kamarnya.
Pelayan Lucio merasa bahwa kelurga ini akan menghadapi perang dunia ke 3. Kemelut rumah tangga yang rumit. Perjalanan kisah cinta dua generasi yang tak berkesudahan.
"Urusan pria penguasa hanya bekisar tahta dan wanita. Hanya itu yang ada dalam pikiran mereka. Karena itulah mereka rela melakukan apapun untuk mendapatkan keduanya," gumam pelayan Lucio seraya duduk di depan kolam renang.
Waktu terus bergulir. Persiapan persalinan normal yang saat ini sedang ditunggu oleh Carine makin membuatnya gelisah. Rasa serba salah saat menjelang tidur malam yang selalu membuatnya terbangun karena selalu saja pipis.
"Kenapa kamu terus bolak-balik ke kamar mandi sayang? Apakah perutmu sakit?" tanya Orlando merasa terganggu tidurnya melihat Carine.
"Entahlah. Tapi aku merasa aku sedang ngompol saat ini," ucap Carine sambil melihat sesuatu yang mengalir dari liang kehidupannya.
Orlando yang mendengar itu langsung terkesiap.
"Astaga Carine. Kamu bukan ngompol tapi air ketuban kamu sudah pecah," panik Orlando yang baru ingat arti cairan bening itu.
Bersamaan dengan itu perut Carine mulai merasakan kontraksi hebat.
"Ahhhhkkkkkk..! Orlando perutku sakit..!" pekik Carine menggenggam kuat seprei.
"Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang..!" ucap Orlando seraya masuk ke ruang ganti untuk menggantikan bajunya.
__ADS_1
"Panggil helikopter medis...! Aku tidak kuat lagi menahan sakitnya. Sepertinya aku ingin melahirkan sekarang..!" ujar Carine sambil mengejan dengan mulut menggigil menahan nyeri.
"Apa ...?!" sentak Orlando panik.