
Carine yang sedang berada di belakang mobil penjahat yang ingin mencelakai suaminya, terus menerus mengawasi pergerakan dua mobil yang siap menembak Orlando.
Orlando yang membawa motornya itu merasakan sendiri kalau posisinya saat ini sedang diawasi oleh penjahat yang ia sendiri tidak mengetahui siapa mereka dan mengapa memburu dirinya karena selama ini ia hidup bebas tanpa pengawal walaupun putra dari seorang raja mafia.
Carine mencoba menghubungi suaminya yang saat ini sedang mengenakan earbuds agar bisa melakukan komunikasi dengannya.
"Hubby. Kamu sedang diikuti oleh dua mobil di belakangmu," ucap Carine.
"Iya aku tahu sayang."
"Apakah aku boleh kasih saran?" tanya Carine berusaha tetap tenang.
"Apa sayang?"
"Aku ingin kamu menambah kecepatan motormu. Di saat kedua mobil yang mengikutimu mengimbangi kecepatan motormu, kamu harus langsung menginjak rem mendadak dengan bertumpu pada satu roda depan dan roda belakang terangkat ke atas lalu putar arah menuju mobilku.
Dalam sepersekian detik aku akan menghentikan mobilku dan kamu langsung masuk ke dalam mobilku, apakah kamu bisa melakukannya, hubby?" tanya Carine saat memberikan solusi pada suaminya.
Sesaat Orlando terdiam dan berusaha menyimak setiap kalimat arahan dari istrinya yang terdengar heroik. Sedetik kemudian sudut bibirnya tertarik kagum pada ide ekstrim istrinya yang cukup menantang adrenalinnya.
"Ok, siap cantik," ucap Orlando mempersiapkan dirinya mengikuti saran istrinya.
"Hati-hati, hubby...!Aku mencintaimu," ucap Carine menahan nafasnya sesaat hanya untuk memusatkan konsentrasinya agar bisa menyatu dengan situasi mencekam saat ini di mana suaminya akan menghadapi eksekusi mati oleh dua mobil penjahat yang membawa senjata dengan moncong senjata siap mengarah ke tubuhnya.
"Aku lebih mencintaimu, Carine."
Orlando melajukan motornya dalam kecepatan tinggi seperti yang biasa ia lakukan saat sedang mengikuti balapan liar bersama geng motornya.
"Ayolah kawan...! Kejar aku...!" gumam Orlando yang tertawa kecil dari balik helmnya yang tertutup rapat hingga wajahnya tidak terlihat oleh penjahat.
"Sialan...! Dia sudah tahu keberadaan kita..!" umpat salah satu penjahat yang sedang mengemudi mobilnya.
__ADS_1
"Kejar dia bos!" titah yang lain.
Kecepatan mobil penjahat yang tidak ingin kehilangan Orlando segera menyusul motor Orlando seakan sedang terbang di atas aspal itu.
Dua mobil yang mengikuti alur jalanan curam dengan tikungan tajam mengikuti struktur tanah di pinggir tebing dan sebelah sisinya masih terdapat area pantai yang terdapat besi pembatas jalan yang tidak terlalu tinggi.
Sementara itu, Carine yang sedari awal mengikuti kedua mobil penjahat itu melakukan hal gila dengan mendahului kecepatan mobilnya agar bisa melampaui mobil penjahat yang sempat oleng karena Carine ingin melumpuhkan mobil penjahat.
Mobil yang ada di sebelah kanannya tepat di atas pinggir laut itu langsung di benturkan oleh Carine dengan bodi mobilnya membuat posisi mobil penjahat itu sempat oleng ke samping hingga berbenturan dengan pagar pembatas jalan. Bunyi gesekan kedua mobil itu terdengar nyaring karena Carine memepet terus mobilnya ke mobil penjahat itu dalam kecepatan tinggi.
Sementara Orlando tidak menyadari pertempuran istrinya dengan satu mobil penjahat dibelakangnya karena ia sedang konsentrasi penuh saat mobil penjahat yang satunya lagi sudah hampir menyentuh motornya namun Orlando memberikan gerakan meliuk untuk membuat kaget sopir mobil itu yang sempat menghindari tabrakan.
"Mobil siapa itu ..?" tanya penjahat yang merasa asing dengan mobil milik Carine.
"Entahlah. Apa mungkin mobil anak buahnya target kita?" tebak penjahat itu.
Carine tidak memberikan sedikit cela untuk mobil penjahat agar bebas dari himpitan mobilnya. Kedua pintu samping mobil penjahat rusak parah karena tergencet oleh mobil Carine dan pagar pembatas jalan di pinggir pantai itu.
Karena posisi setir mobil luar itu di sebelah kiri memudahkan Carine bersiap untuk menembak penjahat dalam jarak dekat. Ia mengkondisikan mobilnya dalam kemudi otomatis sambil menurunkan kaca jendela untuk menembak sang penjahat yang juga mengarahkan pistol mereka ke arahnya.
Namun sedetik kemudian, Carine bangkit dan langsung melepaskan tembakannya ke arah penjahat dengan kedua pistol yang ada di kedua tangannya sambil melepaskan tembakan satu tangan kanan lalu diikuti satu tangan kiri secara bersamaan.
Carine dengan cepat menginjak rem mobilnya secara mendadak membuat mobil penjahat itu langsung masuk ke jurang karena sang sopir tertembak tepat di pelipisnya.
"Hufftt...! Selamat bertemu dengan malaikat maut..!" tutur Carine tersenyum samar.
Carine menghembuskan nafasnya kasar lalu menjalankan lagi mobilnya untuk melumpuhkan satu mobil lagi milik penjahat yang tersisa.
Orlando melihat kaca spion motornya di mana hanya sisa satu mobil penjahat yang masih betah mengejarnya sambil melepaskan tembakan ke arahnya kini namun Orlando berhasil menghindari tembakan itu walaupun nyaris mengenai kakinya karena penjahat mengincar menembak ban motornya.
Setelah cukup jauh Orlando menempuh perjalanan yang sudah hampir memasuki jalanan ibu kota yang tentu saja akan bertemu dengan banyak pengendara lain, Orlando baru melakukan adegan yang mendebarkan dengan menginjak rem motor mendadak hingga mengangkat ekor motornya ke atas dengan posisi satu ban depan sebagai tumpuan sambil bergerak untuk melakukan putar balik motornya dengan lawan arah membuat mobil penjahat yang di belakangnya tadi melaju ke depan lebih dulu meninggalkan Orlando yang sudah siap menghampiri mobil istrinya.
__ADS_1
Begitu motor Orlando tiba di depan mobil Carine, gadis ini menghentikan mobilnya agar suaminya bisa naik secepatnya ke dalam mobilnya dan meninggalkan motornya di tepi jalan begitu saja.
"Ayo sayang, cepat naik!" titah Carine yang langsung tancap gas mengejar mobil penjahat yang baru menyadari mereka kehilangan Orlando.
"Ke mana target kita?!" teriak rekan penjahat itu pada temannya yang mengemudi mobil.
"Tidak tahu."
"Hentikan mobilnya...!"
"Baik."
Saat sang sopir menginjak rem secara mendadak dengan posisi jendela terbuka, tepat di saat itu, Carine menembak sopir mobil penjahat itu dengan satu tangan memegang setir dalam keadaan stabil.
Dorrr.....
Dorrr....
Rentetan peluru yang keluar dari pistol Carine berhasil mengenai kepala sopir dan rekannya yang duduk di sebelahnya membuat keduanya langsung tewas di tempat.
Wajah Orlando terlihat sangat syok menyaksikan kehebatan Carine bagaimana cara istrinya itu begitu lihai menembak musuh dalam keadaan mobil melaju kencang dan kembali menambah kecepatan mobilnya untuk meninggalkan mobil penjahat.
"Yesss....! Berhasil..! Aku berhasil sayang. Aku berhasil melumpuhkan kedua mobil penjahat yang ingin membunuhmu tadi," ucap Carine dengan rasa bangganya pada Orlando yang masih belum sadar dari rasa keterkejutannya melihat aksi gila Carine yang hampir membuat rohnya melompat keluar.
"Baby. Apakah itu kamu Carine istriku?" tanya Orlando terdengar lirih namun Carine tidak peduli.
"Sayang. Apakah kamu baik-baik saja?" Apakah ada yang terluka?" tanya Carine tanpa rasa takut sedikitpun saat menghabisi musuh.
"Sayang. Tolong pinggirkan dulu mobilnya....! Nafasku rasanya sangat sesak," ucap Orlando yang diikuti oleh Carine.
Orlando segera turun dari mobil untuk menghirup udara segar sebanyak mungkin saat ini. Orlando berkacak pinggang sambil meregangkan otot-otot lehernya yang terasa sangat kaku. Usai merilekskan tubuhnya, Orlando menghampiri Carine yang sudah ikut keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Carine. Apakah kamu bisa jelaskan kepadaku siapa kamu sebenarnya dan apakah ada profesi lain yang kamu geluti selain dokter bedah, hah?! Apakah kamu seorang pembunuh bayaran?" teriak Orlando tepat di depan wajah Carine yang termangu sejenak saat mendengar pertanyaan suaminya.
Deggggg.....