
Orlando mengambilkan minum untuk Carine agar tubuh istrinya tidak terlalu lemah. Carine meminumnya seteguk demi seteguk lalu ia menangis. Orlando mengerti perasaan Carine saat ini.
Namun satu hal yang Orlando tidak tahu bukan hanya ancaman ibu tirinya yang membuat Carine tertekan namun ada juga peringatan Mr. M agar dirinya harus menangkap tuan Franco yang membuatnya sulit untuk keluar dari zona nyaman saat ini.
"Menangis lah sayang jika itu bisa meringankan bebanmu. Aku minta maaf sudah membuatmu dihadapkan pada pilihan sulit.
Tapi, kamu tidak akan meninggalkan aku, bukan?" tanya Orlando sambil mengusap bulir bening dipipi Carine dengan ujung jempolnya.
"Aku takut. Aku takut mimpi indah ini akan berakhir, Orlando," gumam Carine dengan bibir gemetar.
"Sayang. Jangan mengucapkan hal yang mengerikan seperti itu...! Kita akan bersama dan akan selalu bersama. Sepertinya kamu tidak sehat. Kita pulang ya...! Aku juga nganggur di rumah tidak ada orang yang bisa aku goda," ucap Orlando yang sekarang bekerja untuk perusahaannya sendiri yang ada di luar kota.
Tapi ia bekerja dari apartemennya agar selalu bersama dengan Carine. Carine menuruti permintaan suaminya. Ia juga tidak bisa lagi fokus bekerja karena otaknya yang tiba-tiba beku di tambah tubuhnya yang seakan kehilangan tenaga.
"Biarkan aku menggendong mu. Kamu tidak usah jalan sendiri. Kita langsung menuju lift arah ke parkiran basemen karena mobilku ada di sana," ucap Orlando.
"Baiklah."
Orlando menggendong Carine ringan karena tubuhnya yang tinggi besar dengan otot-otot terlihat kekar yang membuat gadis-gadis rela menyerahkan tubuh mereka dalam kuasa pria tampan ini. Namun sayang, Orlando hanya ingin memberikan jiwa raganya hanya untuk satu wanitanya seorang yaitu Carine.
Di dalam mobil, Carine terlihat lebih banyak diam. Orlando harus menahan diri untuk tidak menganggu Carine saat ini. Namun sesekali ia mengusap tangan Carine atau sengaja meremas benda kenyal milik Carine yang juga tidak begitu bereaksi atas tingkah suaminya.
Carine benar-benar merasa terpukul hari ini. Jika bisa, ia ingin menenggelamkan dirinya di palung laut terdalam agar bisa mengakhiri kemelut hidupnya saat ini.
"Carine. Tolonglah...! Jangan terlalu memikirkan perkataan mommy...! Hubungan kita hanya saudara tiri bukan sebuah aib. Kita tidak sedarah sayang," ucap Orlando menghibur Carine.
"Bukan itu yang aku kuatirkan Orlando. Bukan. Itu mungkin aku bisa atasi dengan meminta pengertian mommy. Tapi, ini masalah menyangkut Daddy kamu yang keparat itu.
__ADS_1
Dia yang akan menghancurkan hubungan kita. Itu yang sedang aku pikirkan," batin Carine berteriak pada dirinya sendiri hingga membuat ia kembali menangis.
"Astaga..sayang...! Tolong jangan habiskan air matamu! masih ada hal bahagia yang juga membutuhkan air matamu. Tolong jangan menangis lagi. Aku malah merasa menjadi seorang pecundang dalam hubungan kita ini," pinta Orlando.
Carine juga merasa heran pada dirinya sendiri kenapa ia mudah sensitif hingga menangis sesenggukan padahal dia sendiri jarang menangis selama menjadi agen rahasia FBI.
Hingga tiba di apartemennya, Carine sudah bisa menguasai dirinya dan tidak ingin membuat suaminya cemas. Orlando harus mengurus wanitanya ini dengan menggantikan baju kerja Carine dengan piyama tidur.
Ia ingin Carine mengistirahatkan tubuh dan otaknya agar kembali fresh setelah bangun tidur nanti. Carine yang tidur memunggungi suaminya dan Orlando memeluk pinggang ramping itu hingga akhirnya keduanya terlelap dalam tidur siang mereka.
Sementara di kediamannya tuan Franco, nyonya Adeline juga menangis di kamarnya membayangkan bagaimana dirinya begitu kejam menampar putrinya sendiri karena memikirkan kebahagiaannya sendiri.
"Astaga Carine ..! dari jutaan pria di bumi yang luas ini, mengapa kamu harus memilih Orlando yang menjadi suamimu..? Mengapa sayang? Mengapa...?!" pekik nyonya Adeline tak bisa berpikir jernih saat ini.
Wanita paruh baya ini tidak tahu harus berbuat apa pada pernikahannya. Jika memberitahukan kepada suaminya tentang pernikahan rahasia Carine dan Orlando pada suaminya, maka mereka siap berdebat dan dia harus mempersiapkan dirinya untuk berpisah dengan suaminya.
Apalagi memikirkan Carine yang tidak pernah mengenal cinta selama ini ditambah lagi Carine jarang mempunyai teman lelaki membuat nyonya Adeline harus bisa mengambil sikap atas hubungan dengan suaminya yang baru berjalan enam bulan ini.
Malam tiba, Orlando sudah memesan makan malam untuk mereka berdua di restoran mewah di kota tersebut. Sementara Carine masih terlihat malas-malasan di atas tempat tidur walaupun tubuhnya terasa lebih segar setelah bangun tidur.
Karena keadaan Carine yang terlihat masih lemas, Orlando memesan makanan yang menggugah selera wanita ini. Makanan yang cukup pedas dan makanan penutup dengan yang manis. Begitu juga dengan minuman jus buah yang ia siapkan untuk Carine, ada yang sedikit asam namun segar dan ada juga yang manis.
Makanan dan minuman itu sudah tersaji di meja makan yang ditata rapi oleh Orlando. Sekarang tinggal memanggil Carine. Namun langkah Orlando terhenti melihat Carine sudah berjalan sendiri ke arahnya dengan rambut yang di gulung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya. Rupanya Carine sudah mandi dan mengenakan lagi piyama tidur yang baru.
Orlando buru-buru menarik kursi untuk Carine yang langsung duduk dengan senyum pelit.
"Terimakasih."
__ADS_1
Carine mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan mengabaikan suaminya seakan hari ini moodnya benar-benar sangat jelek.
"Apakah kamu sudah mandi?" tanya Orlando.
"Hmm!" Carine mengangguk dengan deheman kecil.
"Apakah makanannya enak, sayang?" tanya Orlando yang ingin tahu komentar istrinya atas pilihan menunya.
"Aku menyukainya," singkat Carine membuat Orlando tidak ingin bertanya lagi.
"Apakah sifat Carine seperti ini jika sedang sedih?" batin Orlando yang belum tahu banyak tentang istrinya karena selama ini Carine banyak memerankan tokoh apa saja yang sesuai dengan kebutuhannya.
Orlando jadi mulai bingung dengan sikap Carine yang mana yang tulus dan jujur dan yang mana terdengar sandiwara untuknya saat wanita ini menunjukkan perasaan cinta yang dimiliki wanita itu untuk dirinya.
"Apakah kamu sudah merasa lebih baik, sayang?" tanya Orlando.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja," ucap Carine lalu menyudahi makanannya dan mengambil minumannya dan meneguknya hingga habis.
"Apakah kamu masih memikirkan perkataan mommy?" tanya Orlando.
"Sebaiknya urus perceraian kita secepatnya..!" ketus Carine yang tiba-tiba lalu meninggalkan meja makan dengan Orlando yang hampir menyemburkan makanannya karena syok.
"Apakah kamu gila, hah?! Apakah hanya sebatas itu cintamu padaku?" bentak Orlando yang tidak suka Carine mempermainkan perasaannya.
"Ini tidak seberapa dibandingkan dengan hal yang lebih buruk yang akan kita hadapi nanti, Orlando. Persiapkan dirimu jika pernikahan kita akan menjadi korban dari keegoisan kedua orangtua kita," batin Carine yang belum bisa mengungkapkan kebenaran tentang tuan Franco pada Orlando.
"Carine. Jangan pernah coba -coba meninggalkan aku kalau kaki tanganmu itu akan aku patahkan!" ancam Orlando.
__ADS_1
"Bukan aku yang akan meninggalkanmu Orlando tapi kau sendiri yang akan menjauhi diriku," batin Carine yang hanya bisa menjawab dalam hatinya.
Carine masuk lagi ke dalam kamarnya dan mulai menangis karena hatinya masih sangat tertekan sampai saat ini.