PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
21. Tidak Tenang


__ADS_3

Undangan makan malam di kediaman Tuan Franco di mana ia sedang menunggu kedatangan sahabat terbaiknya. Sementara Orlando dan Carine duduk bersampingan di sofa ruang keluarga dengan posisi berdampingan walaupun tidak begitu rapat.


Mereka asyik bermain ponsel mereka dengan bersikap wajar di hadapan orangtua mereka. Wajah Carine dalam penyamarannya memang terlihat makin culun tapi tubuhnya tidak mewakili wajahnya.


"Apakah kamu tidak bisa mengganti bajunya dengan yang lain?" kesal Orlando yang melihat tubuh Carine terlihat lebih sintal setelah mereka menikah. Mungkin setiap kali usai bercinta Carine selalu saja makan banyak atau memang sedang hamil.


Entahlah yang jelas saat ini tubuh Carine makin terlihat berisi dan seksi dengan balutan dress yang mencetak tubuhnya walaupun tidak begitu ketat.


"Permisi tuan, nyonya, tamunya sudah datang," ucap pelayan Lucio.


Tuan Franco segera beranjak berdiri lalu melangkah dengan lebar menuju pintu utama untuk menyambut sahabatnya. Kesempatan itu digunakan Orlando untuk memagut bibir Carine dengan cepat karena para pelayan sedang mengikuti tuan rumah mereka ke depan teras.


"Uhhmmpp...!" Carine berusaha melepaskan diri dari ciuman Orlando. Carine memukul-mukul dada bidang Orlando karena oksigen di rongga dadanya menipis. Orlando akhirnya melepaskan ciumannya setelah mendengar hentakan sepatu menuju ke arah mereka.


"Orissa. Itu Orlando...!" ucap tuan Franco menunjukkan keberadaan Orlando dan Carine yang langsung berdiri menyambut tamu.


"Orlando...! Aku kangen padamu sayang," ucap Orissa yang langsung memeluk Orlando agresif.


Carine memalingkan wajahnya untuk tidak melihat pemandangan yang mesra bagaimana adegan drama pertemuan dua keluarga itu berlangsung hangat.Orlando agak menjauhkan wajahnya dari bibir Orissa yang berusaha menciumnya.


"Oh iya tuan Franco, itu putra sulung ku Andrew. Dia sudah lama berada di California. Mungkin kalian pernah bertemu dengannya," basa-basi tuan White.


"Apa kabar Andrew..!" sapa tuan Franco seraya berjabatan tangan dengan pria yang sangat tampan itu.


"Baik paman," ucap Andrew sambil melirik ke arah Carine yang tampak tertunduk.


"Andrew. Kenalkan ini putri tiriku. Dia seorang dokter bedah. Carine kenalkan ini putra dari sahabatnya Daddy, nak!" titah tuan Franco untuk memperkenalkan keduanya.


Mata Andrew memindai tubuh Carine yang terlihat menggoda dan naik ke atas wajah Carine yang dianggapnya biasa saja tapi Andrew terlihat suka. Orlando tidak suka melihat mata Andrew yang jelalatan menatap tubuh istrinya lalu menarik tangan Carine saat Andrew sedang berjabat tangan dengan Carine.


"Sebentar...!" ucap Orlando membawa Carine menuju tangga.


"Ada apa Orlando?" kesal Carine yang tidak suka sikap Orlando yang begitu posesif padanya.


"Ganti bajumu atau mata pria itu akan aku tusuk keluar...!" ancam Orlando yang mengira hanya Orissa saja yang datang tidak tahunya ada Andrew juga.


"Pakaian Orissa saja terlihat setengah telanjang dan dia tidak apa," protes Carine.


"Dia beda denganmu karena tubuhnya sudah tidak berharga. Mau ganti baju atau aku...?"

__ADS_1


"Iya... iya. Aku akan ganti baju," Carine mengalah dan masuk ke kamarnya.


Orlando turun dan menemui lagi tamunya. Semuanya langsung menuju ke meja makan. Pelayan siap meletakkan makanan di atas piring tuan rumah dan tamunya. Orlando tersentak melihat kursi Carine malah diduduki oleh Orissa.


"Orlando. Mana Carine...?" tanya Bela.


"Sedang ke kamarnya sebentar," ucap Orlando yang duduk di sebelah Andrew.


"Orlando. Duduklah sebelah Orissa. Kalian harus terlihat akrab karena sebentar lagi kalian akan menikah," ucap tuan White.


"Tapi saya mau duduk di sini saja. Biar Carine yang duduk di sebelah Orissa," ucap Orlando


"Orlando ....!" tegur tuan Franco memberi isyarat dengan matanya agar putranya duduk di sebelah Orissa. Orlando dengan berat hati akhirnya menuruti permintaan ayahnya karena tidak ingin ada keributan.


"Biar Orissa tinggal di sini saja sampai keduanya menikah," sambar tuan Franco membuat kedua tangannya Orlando mengepal.


Tidak lama kemudian Carine turun dengan mengenakan switer dan celana panjang jins. Orlando mengulas senyum melihat penampilan istrinya yang terlihat cute.


"Carine. Duduklah sebelah nak Andrew, sayang!" titah tuan Franco yang mengatur segalanya agar terlihat sempurna.


Carine terlihat profesional dan tidak banyak mengeluh. Ia duduk dengan anggun dan mulai menyantap makanannya tanpa ingin menatap wajah suaminya karena saat ini mereka sedang duduk berhadapan. Namun kaki Orlando tidak mau diam. Ia terus menerus mencari kaki Carine untuk ia sentuh.


"Kau lihat saja baby! Aku akan menghukummu sampai kamu tidak bisa berjalan besok," sumpah Orlando sambil mengunyah cepat makanannya.


"Jangan terlalu banyak makan Carine, apakah kamu tidak takut kalau tubuhmu nanti kegendutan?" tegur Orlando agar Carine menolak pemberian Andrew.


Carine nampak diam dengan wajah tetap tertunduk tanpa ingin menatap mata suaminya.


"Aku suka kok dengan gadis gendut," timpal Andrew.


"Kamu bisa mengajak Carine kencan Andrew karena putriku ini belum punya pacar," ucap nyonya Adeline.


Uhuk...uhuk....uhuk...


Orlando sampai tersedak dan Orissa memberinya minum namun Orlando menahan tangan Orissa. Lucio menarik nafas panjang karena merasa situasi saat ini terasa memanas.


"O...ou..! Bakal ada perang dunia ke 3 nih," imbuh Lucio membatin.


Orlando berdiri dan meninggalkan meja makan duluan karena tidak ingin mendengarkan hal konyol dari ibu tirinya.

__ADS_1


"Mau ke mana kamu Orlando ?" cegah tuan Franco.


"Mau rokok daddy," ucap Orlando berjalan santai menuju kamarnya.


"Paman. Aku boleh menyusul Orlando ke kamar Orlando?" ijin Orissa.


"Silahkan sayang....! Ini bakalan menjadi rumahmu," ucap tuan Franco memberi lampu hijau pada Orissa.


"Makasih paman. Orissa sayang paman," ucap Orissa segera berlalu ke kamarnya Orlando.


Carine menatap punggung Orissa dan yakin kalau suaminya itu tidak akan tergoda dengan penampilan Orissa yang binal itu. Orlando tidak masuk ke kamarnya malah ke kamar istrinya.


Di balkon kamarnya Carine, Orlando benar-benar nampak gusar sambil menghisap rokoknya. Orissa menggedor pintu kamarnya Orlando yang memang terkunci. Lucio yang tahu kalau Orlando di kamarnya Carine mencoba menegur Orissa.


Tok.... tok... tok...


"Orlando. Buka pintunya sayang, aku mau masuk temani kamu. Boleh ya?" teriak Orissa.


"Maaf nona. Tuan Orlando mungkin sedang buang air. Pasti akan lama urusannya," ucap Lucio.


"Tapi, aku ingin menunggunya di dalam kamarnya," protes Orissa.


"Sebaiknya nona jangan menganggu tuan Orlando. Asal nona tahu kalau tuan Orlando itu sudah menikah," ucap Lucio.


"Sok tahu kamu. Kalau menikah mana istrinya?" selidik Orissa.


"Terserah kalau kamu tidak percaya," ucap Lucio seraya meninggalkan Orissa yang terlihat kesal.


"Pelayan sialan....!" maki Orissa lalu turun lagi ke lantai bawah.


Carine akhirnya pamit ingin ke kamarnya dengan alasan sakit perut. Tuan Franco tidak curiga pada Carine karena perkataan gadis culun tidak pernah bohong.


"Permisi.... semuanya! Aku mau ke toilet. Perutku lagi tidak enak," ucap Carine.


"Cepatlah kembali Carine ...! aku ingin kamu menemaniku ke pantai!" pinta Andrew semangat.


"Aku tidak janji. Aku harus tidur lebih awal karena dua jam lagi aku harus berangkat ke rumah sakit karena ada jadwal operasi malam ini," ucap Carine.


"Ok."

__ADS_1


Setibanya di kamar, Carine membuka pintu kamarnya dan langsung disambut oleh Orlando yang memeluknya erat dan langsung memagut bibir Carine penuh naf*su.


__ADS_2