
Deringan ponsel Carine cukup menganggu juga pasangan pengantin itu. Melihat Carine yang nampak gelisah dan tidak fokus padanya, Orlando memutuskan untuk menunda bulan madu mereka.
"Apakah telepon itu sangat penting?" tanya Orlando pada akhirnya.
"Iya sayang. Ini menyangkut hidup mati seseorang. Apakah aku boleh pergi?" ijin Carine.
"Baiklah. Kita masih punya waktu. Dan setelah tugasmu selesai, tolong tidak aktifkan ponselmu saat bersamaku..!" pinta Orlando.
"Tentu saja. Aku akan segera kembali," ucap Carine memagut bibir suaminya lebih lama sebagai ucapan terimakasih.
"Bicaralah dengan mereka..!" ucap Orlando segera masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan birahinya.
Carine menjawab telepon bosnya. Tanpa memberitahu keberadaan dirinya, bosnya sudah tahu Carine berada di mana karena dirinya sudah berada di bawah pantauan FBI.
"Helikopter sedang menjemputmu di atas hotel tempat kamu menginap. Segera ke atap...!" titah bosnya.
"Siap..!" Carine segera berpakaian rapi lalu mengenakan mantelnya.
"Baby. Aku berangkat. Nanti aku kembali lagi ke sini," teriak Carine dari depan pintu pintu kamar mandi.
"Apakah harus buru-buru? Dan tidak ingin aku yang mengantarkan kamu ke rumah sakit?" tanya Orlando dari dalam kamar mandi.
"Aku di jemput oleh helikopter karena sangat mendesak. Aku jalan ya sayang..!" ucap Carine seraya membuka pintu dan mendapati Orlando sedang bermain dengan miliknya.
Carine terkesima sesaat melihat milik suaminya begitu besar. Orlando menarik sudut bibirnya melihat mata istrinya terpana menatap miliknya.
"Pergilah..dan cepat kembali ke hotel ini! Kami menantimu," ucap Orlando sambil menunjukkan adiknya ke arah Carine yang terlihat gugup sambil mengangguk canggung.
Carine menarik nafas berat sambil tersenyum kaku tanpa mengalihkan perhatiannya pada pusaka suaminya yang tampak menggoda imannya. Seakan pusaka itu jauh lebih menarik dari wajah suaminya.
"Ok. Aku berangkat, baby!" ucap Carine segera beranjak keluar menuju pintu lift.
__ADS_1
Orlando tidak mau menghalangi pekerjaan istrinya yang dikiranya hanya berprofesi sebagai dokter bedah. Orlando tersenyum puas, setidaknya dia sudah melihat aset milik istrinya yang selama ini sangat membuatnya penasaran.
"Aku ingin kamu cepat hamil dan bebas dari tugas-tugas yang membosankan itu. Hanya dengan cara itu aku bisa memilikimu seutuhnya," pukas Orlando usai menuntaskan hasratnya dengan membuang benih premiumnya.
Sementara itu, Carine sudah berada di dalam helikopter yang akan membawanya ke markas FBI. Melihat itu, perasaan Carine mulai tidak enak karena dirinya pasti menerima tugas di tempat yang sangat jauh dari negaranya.
"Astaga. Kenapa harus sekarang? Apa yang harus aku jelaskan kepada Orlando jika tugasku harus keluar kota atau ke luar negeri? Kalau hanya melakukan operasi pada pasien tidak butuh waktu yang lama bukan?" cemas Carine.
Tiba di markas. Mr. D memberikan setiap bukti kejahatan pelaku pada Carine yang sudah mereka kantongi namanya.
"Lihatlah wajah pelaku itu!" ucap Mr. D melemparkan foto pelaku di hadapan Carine yang langsung terhenyak.
"Bukankah dia yang aku temukan pagi ini di rumah sakit tempat aku bekerja?" tanya Carine.
"Berkat insting kamu yang kuat dugaan atas pria itu, kami sudah mengetahui rekam jejak kejahatannya yang menjadi tersangka pembunuhan berantai," ucap bos-nya.
"Berarti aku harus membekuknya di rumah sakit...-"
"Maafkan saya Mr.D. Saya hari ini baru saja melangsungkan pernikahan saya. Jadi, pikiran saya jadi bercabang antara pernikahan dan tugas," sesal Carine.
"Jadi kamu hari ini sudah menikah? Kenapa aku tidak di undang atau dikabari?" omel Mr. D.
"Semuanya serba dadakan," ucap Carine.
"Apakah tidak ada pesta pernikahan?" tanya Mr. D.
"Banyaknya tugas mendadak seperti ini, apakah saya masih bisa mengadakan pesta pernikahan? saya malah belum merasakan surga dunia seperti apa," omel Carine.
"Jadi kamu belum melakukannya?" heran Mr. D setengah menutup mulutnya yang terbuka dengan matanya melebar.
"Masih tetap tersegel rapi," gerutu Carine membuat Mr. D tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah. Kau cukup tangkap penjahat besar itu dan bawa kembali dia ke Amerika. Habis membunuh korbannya di rumah sakit, dia langsung terbang ke Switzerland," ucap Mr. D yang tidak lagi menggoda Carine.
Carine keluar dari ruang kerja bos wanitanya itu. Pikirannya kembali melayang pada sosok suaminya yang menantinya di hotel. Ia masuk lagi ke dalam helikopternya menuju bandara.
"Apa yang dia lakukan di hotel tanpa aku? Apakah dia akan mengundang wanita lain untuk memuaskan hasratnya yang tertunda karena aku? Jika dia berani melakukan itu, aku tidak akan memaafkannya," imbuh Carine membatin penuh dengan rasa kuatir dan cemburu berlebihan.
Di hotel. Orlando memilih kembali ke perusahaannya agar tidak begitu tertekan memikirkan bulan madu mereka yang berantakan gara-gara tugas sang istri.
"Daripada menunggunya kelar operasi, sebaiknya aku ke perusahaan. Toh, dia tidak akan lama melakukan tugasnya kecuali tugas lain menyusul. Tapi, bukankah dia belum tidur sama sekali dari semalam? Tidurnya hanya dua jam dan langsung menerima tugas dan menikah denganku hari ini.
Kasihan Carine. Sebaiknya kami menunda dulu bulan madu. Aku ingin dia tidur untuk memulihkan tenaganya agar lebih segar saat bercinta denganku.
Carine sayang. Tubuhmu dan milikmu. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya," batin Orlando tersiksa sendiri memikirkan sang istri.
Tiba di Switzerland, Carine melacak jejak pelaku pemerkosaan dan pembunuhan berantai yang terjadi di negaranya. Badan intelijen negara sudah memberi informasi pelaku yang tidak lain adalah putra petinggi polisi sendiri.
Carine menghubungi orang-orangnya yang sudah lebih dulu berada di negara tujuan. Hanya FBI yang bisa menangani penjahat besar itu.
"Pantas saja polisi tidak bisa melakukan sesuatu pada kasus pembunuhan ini karena mereka tidak bisa menangkap putranya petinggi polisi sendiri yang melakukan pembunuhan keji ini. Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu lolos, bajingan..!" geram Carine.
"Nona Carine. Tersangka sedang berada di lapangan pacuan kuda. Dia sedang menonton pertandingan pacuan kuda di tanah pertanian," ucap anak buahnya Carine.
"Serahkan dia padaku!" ucap Carine melajukan mobilnya ke tempat pertandingan pacuan kuda yang diselenggarakan di kota tersebut.
Carine yang menyamar lagi seperti gadis culun untuk bisa mengelabui pelaku agar tidak bisa mengenali wajahnya karena pelaku sudah mengenali dirinya.
Tiba di tempat pacuan kuda, Carine harus mencari sosok yang akan ia tangkap sesuai dengan arahan anak buahnya.
"Lihatlah dibawah sana! Ia duduk di barisan ketiga!" ucap anak buahnya Carine melalui penghubung.
"Ok. Terimakasih. Kali ini, kita tidak akan gagal mendapatkannya," ucap Carine memegang pistolnya yang ada di balik mantelnya. Gadis ini menuruni tangga perlahan-lahan untuk mencapai di tempat duduk pelaku. Jarak antara mereka sekitar 50 meter lagi, tiba-tiba, pelaku membalikkan tubuhnya dan langsung menembak ke arah Carine.
__ADS_1
Dorr.... dorrrr...