
"Nitaaa! Nita, kamu kenapa, Sayang?"
"Nita, bangun, Sayang. Banguuun. Papa cepat bawa Nita ke rumah sakit."
"Ayo, Ma!"
"Mama ... Kak Nita kenapa?"
"Bibi, tolong bawa Anyala pergi dari sini. Ajak dia main ke taman."
"B-ba-baik, Bu. Ayok, Non Anya."
"Tapi, Bi, Kak Nita kenapa?"
"Ayok, ikut Bibi."
Tanpa dia tahu, kali itu adalah saat terakhir Anyala bisa melihat Kak Nita. Seorang kakak yang dilihatnya, bersimbah darah di tempat tidur. Sebelum ... dia pergi untuk selama-lamanya. Pergi dan tidak pernah bisa Anyala ajak bermain boneka.
"Kak Nita kenapa?"
***
"Tokoh protagonis adalah tokoh utama yang baik. Sementara tokoh antagonis adalah tokoh yang menghalangi tujuan tokoh protagonis."
Dengan percaya diri, Queena menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh Bu Warni, guru Bahasa Indonesia. Sementara teman-teman lain memilih diam, entah sebab tidak mengerti atau malas, gadis itu memilih untuk berani.
"Bagus, Queena," puji Bu Warni dengan tersenyum, juga memberikan tepuk tangan pelan. Sebagai pengajar Bahasa Indonesia, dia sadar akan kendala memahamkan bahasa persatuan itu di kalangan murid-murid.
Kebanyakan murid lebih senang mengeluh tentang banyaknya bacaan dalam pelajaran tersebut. Belum lagi cara penulisan yang harus tepat dan sesuai dengan pedoman yang berlaku.
Tidak jarang Bu Warni mengoreksi tulisan dan catatan agar sesuai kaidah tata bahasa yang baik dan benar. Bagi sebagian besar siswa itu adalah aturan yang sangat membosankan.
Seseorang mengangkat tangan, mengalihkan perhatian isi kelas dari Queena kepada dirinya.
"Ya, Anyala."
Anyala Hayati berdiri, bibirnya tersenyum simetris. Menampilkan wajah yang ramah sekaligus percaya diri.
"Maaf, Bu. Menurut saya, pengertiannya tidak seperti itu."
Seketika binar di wajah Queena meredup. Kebanggaan yang sempat dia rasakan surut, meski tidak hilang begitu saja.
__ADS_1
"Silakan, Anyala," sambut Bu Warni.
"Tokoh protagonis memang benar adalah tokoh utama. Maksud saya, tokoh utama yang menggerakkan plot cerita. Terlepas apakah dia baik atau jahat. Tokoh utama tidak selalu baik, tidak juga selalu jahat. Sementara tokoh antagonis, seperti yang telah dijelaskan oleh Queena, adalah tokoh yang menghalangi tujuan tokoh protagonis."
"Maksudnya gimana, sih?" protes seorang siswa yang duduk di belakang. Suasana kelas menjadi riuh. Ketenangan telah berhasil dikacaukan oleh sikap Anyala.
"Tenang!" peringat Bu Warni, "Lanjutkan, Anyala."
"Seperti yang sudah saya katakan barusan, terlepas apakah dia baik atau jahat, protagonis adalah tokoh utama. Banyak cerita yang menjadikan penjahat sebagai tokoh utama. Film-film Hollywood juga, biasa menempatkan pemberontak pemerintah atau pelanggar hukum sebagai tokoh utamanya. Atau begini, kita misalkan saja sebuah film yang pernah saya tonton bersama Papa saya, berjudul Ocean Eleven. Film itu mengisahkan tentang sekelompok perampok yang melancarkan aksinya merampok sebuah kasino."
"Bukankah, kasino itu tempat perjudian? Judi itu haram. Jadi, merampok kasino bukan kejahatan," sergah Queena yang tidak mau kehilangan harga dirinya sebagai bintang yang paling terang di kelas 10-F.
"Apakah Queena tidak tahu, kalau di Vegas judi itu legal? Tidak melanggar hukum. Kita bicara berdasarkan latar cerita, jadi jangan melebar ke mana-mana. Atau jangan-jangan Queena lupa kalau sekarang bukan pelajaran Agama?"
Queena menunduk lesu, andai saja dia menunjukkan wajahnya semua orang akan tahu bahwa dirinya telah kalah.
"Oh, begini saja," ujar Anyala santai, dia kembali duduk.
"Bagaimana kalau kita misalkan Datuk Maringgih dalam cerita Siti Nurbaya. Banyak di antara kita menganggapnya jahat, sementara Samsul Bahri baik. Pada akhirnya, justru Datuk mati dalam keadaan membela tanah air. Jahat dan baik hanyalah karakter yang di dalam cerita kerap kali berkembang, dinamis. Sedangkan penokohan itu sendiri, memang sudah dipastikan dari awal oleh penulis. Bukan begitu, Bu Guru?"
"Bagus, Anyala. Kamu memiliki perspektif yang luas dalam hal ini. Sepertinya kamu juga telah banyak belajar di luar jam Ibu."
"Terima kasih, Bu."
Di antara senyuman manis, Queena dapat dengan jelas membaca lirikan sinis dan merendahkan yang sengaja dilayangkan oleh Anyala kepada dirinya.
"Baiklah, untuk tugas, Ibu akan memberikan materi cerita. Silakan bekerja kelompok untuk menguraikan unsur-unsur intrinsik dalam cerita tersebut. Kalian akan dibagi menjadi tujuh kelompok, masing-masing tiga orang. Tugas dikumpulkan minggu depan."
"Kelompoknya bebas, kan, Bu?" tanya salah seorang siswa.
"Iya, bebas. Sekarang kita lanjut materi, ya."
"Huuuw!"
Anak-anak di kelas kembali ribut, sementara Anyala seolah memberikan rasa tenang bagi kedua temannya, Nana dan Mia. Mereka akan bergabung menjadi satu kelompok dalam mengerjakan tugas dari Bu Warni. Sudah barang pasti kedua gadis itu senang bisa ikut mendapatkan nilai bagus dari kepintaran Anyala.
***
"Eh, minggir-minggir," ucap Mia spontan sambil memaksa Anyala dan Nana berhenti.
"Eh, iya, ada Mbak Jago. Salam hormat, Mbak Jago," sapa Nana berlagak sopan dan manis saat mereka berpapasan dengan Queena.
__ADS_1
"Kalau nggak salah, Queena artinya ... ratu, kan?" goda Mia. Sementara yang digoda hanya diam dan mulai merasa muak dengan ketiga orang di hadapannya.
"Permisi, ya," katanya sambil lekas-lekas menjauh. Namun, sebelum itu terjadi, Mia dan Nana sudah keburu mencegahnya.
"Eits! Tunggu dulu, Baginda Ratu. Baginda mau ke mana?"
Mendengar kalimat yang diucapkan Mia itu, sontak Nana dan Anyala tertawa.
"Ups! Sorry, nggak sengaja!" ucap Mia panik setelah menumpahkan milkshake strawberry ke baju Queena. Disusul dengan kepanikan Nana yang berusaha mengelap tumpahan minuman, yang justru membuat seragam Queena semakin kotor.
"Aduh, maaf, ya," ucap Nana sendu.
"Udah, Gaes. Jangan, dong," cegah Anyala yang sedari tadi tidak ikut usil.
Queena sedikit merasa lega. Meskipun hatinya kacau balau. Gadis itu yakin, murid sepandai Anyala pasti mempunyai akal sehat dan tidak akan membiarkan teman-temannya melakukan kesalahan. Apalagi yang disengaja.
"Oh, jangan, ya?" tanya Mia polos.
"Anya yakin? Dia orang yang berusaha ngalahin Anya, loh?"
Nana pun bertanya dengan polosnya. Dengan tatapan kasihan, Anyala memandang Queena. Gadis itu seolah memberikan sinyal kepada Queena agar dia tidak perlu khawatir. Nana dan Mia, pasti menuruti apa kata Anyala.
"Jangan, dong," rintih Anyala, terdengar begitu sedih dan penuh simpati. Queena merasa dia akan segera terbebas dari masalah. Namun, alih-alih menasihati Mia dan Nana, Anyala justru berkata, "Jangan ragu-ragu!"
Kedua tangan Anyala menggelitik perut Queena, memaksa gadis itu membungkuk. Sementara Nana justru turut menyiramkan jus jeruknya ke punggung Queena.
Mia menuangkan snack langsung ke rambut Queena dengan semangat menggebu.
"Itulah hukuman bagi orang yang berani mengganggu Anyala!"
"Terima itu, Ratu Kutu!"
Queena mendongak, menatap Anyala dengan api amarah yang seolah siap membumi-hanguskan semua yang ada di hadapannya.
Sambil menunduk, Anyala berbisik pada Queena. Sebuah kalimat yang mengintimidasi, lebih seperti sebuah ultimatum.
"Jangan sok pinter, ya, Ratu Kutu."
Setelah puas ketiga orang itu pergi meninggalkannya Queena sambil tertawa. Sementara itu, yang baru saja dikerjai berbalik, lari ke toilet untuk membersihkan sisa-sisa kenakalan teman sekelasnya. Tentu dengan bibit kebencian yang akan segera tumbuh subur.
Di depan wastafel, Queena menangis sambil membersihkan diri. Kepalanya penuh dengan rencana pembalasan yang akan dia lancarkan bagi Anyala, serta Mia dan Nana.
__ADS_1
"Awas aja kamu, Anyala!" ancamnya pada bayangan diri di cermin.
***