Pesona Kang Sayur

Pesona Kang Sayur
Jatuh Hati


__ADS_3

Anyala sedang menikmati makanan bersama Nana dan Mia saat Azka datang. Secara tiba-tiba, Mia dan Nana berpindah ke sisi di mana Anyala duduk untuk memberi tempat pada cowok itu.


"Eh, ada Kang Sayur," ucap Mia.


"Halo, Kang Sayur."


Nana dengan ramah menyapa Azka. Cowok itu tetap cuek pada keduanya. Karena dia datang untuk menemui Anyala.


"Hai, Anya."


"Mau ngapain?"


Anyala bersikap dingin pada Azka. Dia tahu sekarang bahwa kakak kelas itu berpihak pada Queena setelah sebelumnya dia meminta Anyala untuk mengembalikan HP milik anak baru itu.


"He-he. Emang nggak boleh gabung?"


Mia dan Nana saling pandang. Mereka berdua merasa aneh dengan sikap Azka. Cowok itu biasanya terlihat seperti seorang pendiam, nyaris selalu serius. Bukan hal wajar melihatnya bersikap ramah dan ceria. Membuat kedua cewek itu merasa perlu untuk memperingatkan Anyala agar berhati-hati. Namun, itu akan dilakukan mereka nanti saja saat Azka tidak bersama mereka.


"Boleh, kok," jawab Anyala tenang.


Azka duduk dengan santai. Wajahnya kembali seperti semula, cuek.


"Tolong jangan lagi ganggu Queena."


"Uuuu!" seru Mia dan Nana sok kagum. Padahal mereka tidak kagum sama sekali dengan sikap cool Azka. Apa yang mereka rasa justru sebaliknya.


"Kenapa? Nggak terima?" tantang Anyala tegas. Membuat kedua temannya yang memang tidak suka dengan kehadiran Azka bangga.


Memang begitulah Anyala di mata mereka. Anyala pemberani dan cerdas. Tidak takut oleh apapun. Karena itulah, mereka berdua bersedia untuk selalu berada di dekat Anyala.


"Pokoknya jangan, Anya."


Azka menatap Anyala dengan ekspresi serius. Dia benar-benar berharap dari lubuk hati terdalam agar Anyala mau berhenti mengganggu Queena.


"Please, Anya."


"Oh, lo suka sama anak baru itu?"


"Nggak ada hubungannya sama perasaan pribadi gue."


Cepat-cepat Azka bangkit untuk menghindari tatapan menuntut dari Anyala. Dia tidak tahan dengan itu. Azka tidak ingin cewek itu membaca hatinya. Berlama-lama berdebat dengan Anyala hanya akan membuang waktu.


Setidaknya, apa yang bisa dia lakukan sudah dilakukan Azka. Meskipun dia tahu, akan percuma saja. Tidak ada salahnya mencoba. Sekarang Azka tahu, usaha itu sia-sia.


***


"Heh, lo anak baru itu, ya?" tanya dua orang siswi yang kelihatan terburu-buru saat Queena kembali dari ruang Tata Usaha.


"Kenapa?"


"Lo Queena, kan?"


"Iya."

__ADS_1


"Azka tadi ngebelain lo di kantin."


"Hah? Ngebelain?"


"Keren banget, deh. Dia berani nentang Anyala. Demi lo. Beruntung banget sih, lo? Ya ampun, kita aja yang udah lama di sini nggak pernah dilirik sama Azka."


Queena masih dalam kebingungan dalam mencerna informasi yang baru saja diterimanya. Hanya satu yang terasa jelas di hatinya. Perasaan senang bukan kepalang.


"Kalau boleh nanya, emang Azka orangnya gimana?"


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Queena mencoba mendapatkan sesuatu tentang Azka. Meskipun dia bisa saja mencari tahu langsung ke orangnya. Namun, Queena butuh pendapat orang lain. Penilaian orang lain tentang Azka, yang tidak akan mengubah perasaannya terhadap cowok itu.


"Heh, bilangin sini. Azka itu baik dan sederhana orangnya. Rajin juga. Tapi dia cuek makanya banyak yang diem-diem suka."


"Oh, gitu."


"Tapi sekarang, dia udah belain lo. Bakalan banyak yang patah hati."


"Makasih."


Queena terdiam di tempatnya berdiri. Bahkan tidak menyadari ketika dua orang yang mengajaknya bicara telah pergi. Tempatnya berpijak tidak lagi terasa.


Membayangkan wajah Azka, sukses membuat wajahnya terasa panas. Bahkan mungkin jauh lebih panas ketimbang saat mereka berdua terpapar sinar matahari di atap. Tempat favorit Azka.


Dengan segenap minat, Queena berencana akan datang ke tempat itu nanti. Ketika jam pelajaran usai.


Sesampainya di kelas, ternyata bangkunya sudah ditempati Mia yang terlihat ngobrol dengan Anyala. Melihat itu, sebenarnya Queena enggan masuk. Dia tidak ingin terlibat masalah lagi dengan kedua cewek itu.


"Mau ke mana, Baginda Ratu?" teriak Mia bertanya.


Tiba-tiba sebuah keberanian muncul. Bukankah, ada Azka yang siap melindunginya? Baru saja dia mendapatkan informasi yang membuat Queena merasa terombang-ambing manja di awan. Untuk apa takut?


Dengan santai dan percaya diri Queena berjalan menuju tempat duduknya.


"Permisi," ucapnya tenang untuk mengusir Mia.


Mia bangkit tanpa mengatakan apapun. Bahkan tidak menunjukkan ekspresi mengejek sebagaimana biasa.


Queena merasa janggal karena buku-bukunya sudah tidak ada. Dia kaget. Saat akan menanyakan pada Mia, tiba-tiba Nana muncul. Gadis itu terlihat panik.


"Gawat, Gaes! Buku-buku jatuh ke got."


"Di mana?" tanya Anyala dengan menahan tawa.


"Got depan sekolah."


"Ups! Udah masuk. Biarin aja," sahut Mia.


Nana melenggang masuk. Gadis itu dengan tenang duduk di tempatnya lalu tertawa puas. Anyala dan Mia juga melakukan hal yang sama.


Seketika, napas Queena cepat dan detak jantungnya meningkat. Dia ingin sekali menampar ketiga cewek sok jagoan itu. Namun, apa yang dia inginkan sulit untuk diwujudkan. Tepat saat Queena bangkit, guru tiba di kelas mereka.


Saat guru mengapa kelas, Mia, Anyala serta Nana, menengok Queena bersamaan. Mereka menunjukkan ekspresi sedih bersamaan, lalu pura-pura menangis.

__ADS_1


Queena benar-benar muak dengan mereka. Beruntung selama pelajaran berlangsung, ada yang berbaik hati meminjamkan Queena alat tulis. Sekadar untuk mencatat.


Saat jam pelajaran usai, Queena segera berlari keluar gerbang sekolah. Dia mencari-cari buku-bukunya yang dibuang Nana ke got. Queena mencari dan terus mencari, tetapi tidak menemukan apapun.


Dia mulai merasa kalau Nana hanya mempermainkan Queena saja. Mungkin sebenarnya, buku-buku Queena disimpan di suatu tempat.


Dengan perasaan putus asa, Queena kembali ke dalam area sekolah. Dia berjalan, menapaki tangga menuju atap dengan segenap harap. Bahwa dirinya akan menemukan Azka di sana.


Apapun yang telah terjadi, kehadiran Azka pasti bisa menjadi obat bagi kegundahan hati. Dengan tidak sabar Queena memasuki kebun urban milik Azka.


Di sana, di bawah terik sinar matahari, tampak Azka sibuk menjemur ... tunggu. Queena nyaris tidak percaya atas apa yang dilihatnya.


Azka sedang menjemur buku-buku. Seketika, Queena sadar kalau itu adalah buku-buku miliknya.


"Azka."


"Queen, kamu nggak pa-pa?"


Queen? Queena tidak terbiasa dengan panggilan itu. Memanggil dengan sebutan Queen, adalah hal yang terasa terlalu istimewa. Seolah-olah, Queena sudah menjadi ratu di hati Azka.


"Kok, diem? Kamu diapain sama Anyala?"


Queena menelan liur cepat-cepat dan segera memanggil kesadarannya kembali.


"Emh, itu. Aku nggak pa-pa, kok. Cuma, bingung aja tadi."


"Kamu bisa ngikutin pelajaran?"


Azka, segitu perhatiannya, batin Queena.


"Bisa. Tadi ada yang kasih pinjam buku tulis dan pulpen."


"Syukurlah. Tadinya aku lagi ambil uang hasil penjualan sayur. Tiba-tiba liat si Nana lagi buang buku-buku."


"Oh, terus gimana? Kamu cegah dia?"


"Nggak keburu. Maaf, ya. Untung, gotnya hampir kering, jadi nggak rusak buku-buku kamu. Cuma kotor. Sebagian aku bersihin dan nanti setelah kering bisa dipake lagi. Sayang, kan? Apalagi buku cetak."


"Bener. Makasih banget, Azka."


Kembali, Queena berusaha menelan liurnya. Namun, kali ini mulutnya terasa kering. Dengan sikap dan perhatian yang diberikan Azka, perasaan haru mengalir deras seperti gelombang laut. Siap menghapus kata-kata buruk yang tertulis di pasir.


Keberadaan Azka dan sikap manisnya, juga selalu berhasil menghapus rasa tidak beruntung Queena atas perlakuan buruk Anyala.


"Aku ... sangat bersyukur bisa kenal Azka."


Tidak dapat tertahankan, air mata Queena menetes. Dia segera menutup wajah dengan kedua tangan, lalu duduk di tempat yang cukup teduh. Di bawah naungan tanaman anggur yang merambat pada kerangka buatan Azka.


"Heh? Kenapa nangis, Queena? Udah nggak pa-pa."


Azka mencoba menenangkan Queena dengan berlutut di dekat gadis itu.


"Terima kasih, Azka."

__ADS_1


"Jangan khawatir lagi tentang Anyala."


Azka pasti salah mengira. Queena sadar, hal yang membuatnya menangis bukanlah Anyala. Melainkan, Azka. Cowok yang belum begitu dikenalnya, tetapi memiliki sikap teramat baik. Sampai-sampai, Queena harus selalu mengingatkan diri sendiri untuk tetap sadar saat ada di dekatnya.


__ADS_2