
Waktu menunjukkan pukul tiga sore saat para peserta kembali ke halaman. Sebentar lagi, akan diumumkan nama-nama yang lolos untuk menjadi pasukan pengibar bendera di tingkat Provinsi. Dari 108 murid, akan dipilih 38 orang. Dua di antaranya adalah wakil Jawa Barat yang akan bertugas di Istana Negara dalam Upacara Kemerdekaan 17 Agustus nanti.
Pak Kristiyoko selaku pelatih, telah bersiap membacakan nama-nama yang lolos.
"Satu, Anyala Hayati."
Anyala tidak percaya namanya pertama kali disebut. Sesuai arahan, dia keluar dari berisan dan menunggu teman-teman lain yang juga terpilih untuk membentuk barisan baru. Satu per satu nama siswa-siswi pilihan disebutkan. Semakin banyak yang bergabung bersama Anyala.
"Dua puluh lima, Atharazka."
Saat nama Azka disebut, bukan hanya cowok itu yang senang. Untuk kedua kalinya, Anyala juga merasa bangga. Bahkan saat ini lebih besar dari ketika mereka terpilih di Stadion Patriot Candrabagha kemarin untuk mewakili Bekasi.
Azka bergabung dengan pasukan terpilih. Pak Igo yang menyimak dengan serius, tiba-tiba merasa terharu. Beberapa kali pria itu mengucek matanya, membuat wanita berjilbab kuning simpati.
"Mau tisu, Pak?" tawarnya lembut.
"Oh, nggak, makasih. Saya nggak pa-pa, kok," tolak Pak Igo sambil membenarkan posisi tubuhnya agar terlihat macho.
***
Upacara pengukuhan Paskibraka tingkat Provinsi dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat. Sore itu sebanyak 36 orang yang terpilih termasuk Anyala dan Azka mendapatkan lencana kehormatan. Mereka akan bertugas dalam upacara yang akan dilaksanakan di halaman Gedung Sate.
Sebelum dikukuhkan, para peserta sudah dilatih sedemikian rupa. Menjalani masa penggodokan di kawah candradimuka, untuk siap melaksanakan tugas. Sebab, menjadi Paskibraka bukan sekadar mengibarkan bendera. Namun, lebih jauh lagi, mereka haruslah menjadi patriot, pemuda-pemudi nasionalis yang cinta bangsa dan negara.
(Ni novel apa cuplikan buku PPKN, Thor?)
Dalam masa pelatihan itu, Anyala yang terbiasa mendapatkan semua dengan mudah, harus benar-benar belajar mandiri. Mulai dari bangung tidur, sampai waktu tidur tiba dia melakukan semuanya sendiri. Termasuk mencuci pakaian.
Sementara Anyala mengalami sedikit kesulitan dalam menempuh masa karantina, Azka malah sudah lebih dulu terbiasa. Mulai dari bangun pagi, mengerjakan segala sesuatu, dia benar-benar telah terbiasa. Azka termasuk ke dalam golongan remaja yang tidak mudah lelah. Seolah energinya tak habis-habis.
"Lo nggak pernah capek, Ka?" tanya Anyala saat waktu istirahat.
"Ya capek, lah."
"Kenapa selalu keliatan kayak gitu?"
"Kayak gitu, gimana? Ganteng ya? Hehehe."
"Hiyuh! Ganteng!"
"Canda, Anyaaa."
Mereka berdua memiliki sangat sedikit waktu untuk bersantai. Pada waktu istirahat juga terkadang pihak pelatih menyarankan untuk saling berbaur. Agar lebih mengenal satu sama lain, sehingga tercipta kekompakan.
__ADS_1
"Ayok kumpul," ajak Azka saat mendengar peluit dibunyikan.
Dia dan Anyala bangkit dan bersegera mendatangi pelatih. Para pelatih berasal dari TNI, kepolisian juga pihak dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila atau BPIP.
***
Saat sebagian besar masyarakat Indonesia menyimak upacara pengibaran bendera di hari kemerdekaan, Nirmala yang juga melakukan hal yang sama tiba-tiba hilang minat. Wanita itu pergi ke kamarnya dan baru keluar pada sore hari. Meminta pelayan menyediakan makanan.
"Tolong siapkan saya makan," ucapnya ringan sambil duduk di meja makan. Matanya sibuk meneliti jam tangan mungil dengan skrap warna merah. Aigner adalah salah satu brand favorit Nirmala sejak lama.
"Silakan, Bu."
Seorang pelayan telah menaruh nasi di depan Nirmala. Lalu, ada juga sup asparagus, ikan salmon dan semangkuk kecil chips.
Nirmala menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, hanya tiga kali. Lalu perasaan bersalah tiba-tiba muncul. Nirmala berhenti makan dan segera meminum banyak air putih.
Sejak mengetahui bahwa Hesti pindah ke Bekasi, terlebih mereka cukup dekat Nirmala menjadi lebih teliti. Dia merasa harus selalu tampil cantik, dan kalau perlu menurunkan berat badannya. Untuk suatu kepentingan prasangka, Nirmala tidak segan menghabiskan uang puluhan juta untuk menjalani treatment di klinik kecantikan langganan. Apapun yang dokternya tawarkan akan Nirmala terima.
Seperti sore ini, ketika dokter Martina menawarkan perawatan khusuk di Hari Kemerdekaan, Nirmala langsung setuju. Untuk perawatan yang seharusnya memakan biaya tiga puluh juta rupiah, Nirmala 'hanya' dikenakan biaya dua puluh satu juta saja.
"Sudah. Tolong dibereskan. Nanti kalau Tuan tanya saya ke mana, bilang saya ada janji dengan dokter Martina."
"Baik, Bu."
Nirmala adalah wanita beruntung yang bisa menikmati hidup mewah dan selalu bergaya. Orang-orang kerap iri padanya. Nirmala sendiri sadar, dia dikaruniai kehidupan yang luar biasa. Selain suami yang mampu menjadi sumber uang untuk memenuhi hidup dan gaya, dia juga memiliki Anyala. Gadis itu selain mewarisi kecantikan dirinya, juga cerdas seperti papanya.
Nirmala mendapatkan akses istimewa di klinik kecantikan milik dokter Martina yang juga merupakan temannya. Sesampai di klinik, dia langsung ditangani oleh pemilik klinik estetika itu.
"Aku mulai khawatir dengan kulitku," keluhnya pada dokter Martina.
"Jangan khawatir, Nir. Kamu masih cantik, kok. Dan aku akan selalu bantu kamu."
"Hmm, benar. Jangan sampai Hesti bisa lebih cantik dari aku."
"Istri barunya Randi?"
"Iya, Tin."
"Hahaha. Mana mungkin-lah, Nirmala. Memangnya Randi sanggup bikin istrinya cantik?"
"Ah, kamu bener juga, Tin."
Alih-alih bicara dengan formal, kedua orang itu memakai ruang kerja dokter Martina untuk ngobrol tidak jelas. Dokter Martina akan selalu mendukung temannya itu. Nirmala sangat sinis menilai dan memandang Hesti. Padahal dia sendiri sadar kalau mereka berdua sudah beda kelas.
__ADS_1
***
Rasa lelah sangat erat memuk tubuh Anyala. Namun, kegembiraan dan rasa bangga, berhasil membuatnya tetap terjaga.
Gadis itu berdiri di depan rumah orang tuanya. Tersenyum penuh syukur karena sudah kembali dari sebuah tugas mulia. Anyala yakin, Papa dan Mama pasti akan senang menyambutnya.
Sopir yang menjemputnya membantu Anyala menurunkan barang bawaan. Gadis itu dengan ceria berlari ke dalam rumah.
"Mamaaa!"
Nirmala sedang berolahraga di ruang gym, saat mendengar anak gadisnya memanggil.
Wanita itu turun dari treadmill, memerhatikan Anyala dengan teliti. Kulit Anyala yang terbakar matahari, serta matanya yang terlihat lelah, seolah meminta untuk sebuah pelukan.
"Anyala."
"Papa belum pulang?"
"Papa mana pernah di rumah sore-sore, Anyala."
"Ma, Anyala berhasil. Anyala berhasil jadi Paskib--"
"Cukup Anyala! Apanya yang berhasil? Kamu hanya mampu sampai di tingkat provinsi. Itu artinya kamu gagal."
"Kok, Mama ngomong gitu?"
"Tidak ada yang namanya Paskibraka kalau tidak di Istana! Kamu telah menyia-nyiakan kesempatan, Anyala."
"Ma?"
"Bisa-bisanya kamu gagal. Seharusnya kamu bisa berhasil sampai ke Istana. Kamu harus bantu Papa, Anyala."
"Mama!" teriak Anyala frustrasi.
"Anyala, kamu adalah harapan kami satu-satunya."
"Haaaa!" Anyala berteriak dan menangis.
"Cepat bergegas mandi."
Anyala tidak bergerak sedikitpun. Hatinya sangat sakit. Dada Anyala naik turun menahan dorongan amarah. Dia ingin sekali menjerit, berteriak dan kalau perlu menabrakkan diri ke kendaraan yang melaju kencang.
"Cepat, Anyala! Mama bilang bergegas mandi!" bentak Nirmala sambil memelototi putrinya. Mata mereka bertemu, dan sebuah luka yang sangat dalam telah meretakkan hati Anyala. 1078
__ADS_1