Pesona Kang Sayur

Pesona Kang Sayur
Mendung


__ADS_3

Anyala dan Azka hanya memiliki satu hari untuk persiapan. Pihak sekolah membebaskan keduanya dari jam belajar di kelas, untuk latihan bersama Pak Igo di lapangan.


Mereka dilatih baris-berbaris sekaligus latihan fisik. Queena melihat dari kejauhan bagaimana keduanya terlihat begitu serius, tetapi bahagia. Kedua murid yang dijemur di bawah terik matahari adalah sepasang murid kebanggaan sekolah.


Queena membayangkan andai dirinya yang berada di posisi Anyala. Selain bangga, dia juga akan bahagia berlipat ganda karena bisa lebih dekat dengan Azka. Dalam waktu yang lama.


Sekarang, Queena hanya bisa meredam rasa iri dan kecewa yang enggan pergi. Saat di kantin, Queena ingat Azka. Dia ingin memberikan perhatian pada orang yang telah menolongnya. Azka adalah seorang teman. Jadi, Queena berniat membelikan minuman dingin untuknya.


Queena memilih minuman isotonik dengan ukuran yang cukup besar. Dengan langkah ringan dia menuju ke tempat Azka dan Anyala latihan.


"Azka pasti senang," ujar Queena.


Gadis itu sudah membayangkan, akan bertemu dengan Azka. Lalu dia mendapati cowok itu, dengan gembira menerima minuman darinya. Mungkin juga mengingat Queena saat minum.


Beberapa langkah lagi sebenarnya Queena akan sampai di tempat Azka dan Anyala istirahat. Hanya tinggal beberapa langkah, saat dia melihat Azka tersenyum pada Anyala. Sebab ada yang terasa nyeri, Queena berhenti. Luka di hatinya seolah berdenyut-denyut, sakit lalu sakit sekali.


"Wah, seger, nih," ujar Nana yang tiba-tiba saja ada di belakangnya. Disusul Mia, dengan gerakan tidak terduga mengambil botol minuman dari tangan Queena.


Mia membuka tutup botol minuman yang dingin itu. Dia akan langsung menenggak isinya kalau saja tidak dicegah oleh Nana.


"Eh, jangan, Mia. Mending kita kasih Anyala."


"Ogheeey. Bener juga ide lo."


Kedua gadis itu tanpa rasa bersalah meninggalkan Queena. Bahkan tanpa mengatakan apa-apa.


"Tunggu!" cegah Queena.


"Ada apa, nih?" Azka yang sedang duduk di samping Anyala pun bangkit mendengar suara Queena.


"Nggak ada apa-apa, Azka. Kita cuma mau ngasih minum buat Anyala."


Mia menjawab dengan santai. Sementara, Queena menyusul di belakangnya.


"Queena, kamu nggak diapa-apain lagi, kan?"


Sebelum Queena sempat menjawab, Nana langsung menyambar obrolan.


"Cieee, yang udah aku-kamu-an?"


"Bahaya emang, sih, Azka," sela Mia yang kemudian berjongkok di dekat Anyala.


"Nah, minum," katanya mempersilakan Anyala minum.


"Thanks."


"Diem-diem, lo bahaya juga ya, Az," tuduh Nana tajam.

__ADS_1


"Nggh, nggak gitu juga, Na."


"Ya, udah, sih. Gitu juga nggak pa-pa."


Mia kembali bangkit, membenarkan dugaan Nana. Mereka berdua berpikir kalau Azka menyukai Queena.


"Dah la, nggak usah diributin. Capek."


Anyala yang biasanya paling semangat menyerang Queena tiba-tiba menyela mereka. Dia berdiri, lalu berjalan ke arah kelas. Akan meninggalkan mereka semua. Saat berada tepat di samping Queena, dia berhenti, sambil berbisik, "Thanks."


"Anya, mo mana?" teriak Azka.


"Toilet bentar. Mau ikut?"


Azka tidak menjawab Anyala. Dia hanya diam di tempatnya berdiri. Lalu, Mia dan Nana pun ikut pergi.


"Azka, semangat, ya."


"Makasih, Queena. Aku kira tadi kamu kenapa."


"Emh, nggak pa-pa, kok."


Queena tetap merasa senang, saat tahu bahwa Azka memang baik dan dia khawatir. Perhatian Azka, sukses membuat Queena merasa berharga sekaligus menghapuskan kekecewaan akibat tidak terpilih menjadi wakil sekolah.


"Queena," panggil Azka dengan suara rendah, membuat gadis itu mengalami lonjakan detak jantung yang signifikan.


Dengan penuh harap Queena menunggu apa yang akan dikatakan oleh Azka. Barangkali cowok itu akan mengatakan hal-hal yang mendinginkan perasaan Queena. Kata-kata yang mendamaikan dirinya.


"Anyala sebenernya baik, kok."


Jedeeerrr!!!!


Benar-benar petir di siang bolong yang menyambar sepenuh kesadaran Queena.


"Iya. Dah, Azka."


Queena berbalik, berjalan cepat meninggalkan Azka. Dia ingat kalau Anyala barusan bilang akan ke toilet, jadi dia pikir harus ke toilet di lantai dua. Namun, dalam perjalanan Queena mengubah tujuannya. Dia pergi ke kebun Azka di atap.


Queena duduk di tempat waktu itu dia menangis. Bedanya, sebelumnya dia menangis atas perhatian Azka yang begitu mendamaikan. Sementara sekarang, dia menangis karena Azka mengatakan hal baik tentang Anyala. Sejauh yang bisa dirasakan Queena, Anyala tidak ada baik-baiknya sama sekali.


Queena berlutut, memeluk dirinya sendiri. Dadanya yang kembang kempis serasa akan meledak. Di atas pundak Queena, ada sebuah batu besar dan berat, yang tersusun dari gumpalan kekecewaan serta rasa iri yang sangat membebani.


Langit menjadi gelap. Mending telah datang memberi aba-aba. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, batin Queena. Dia mulai merasa bila semesta sedang mendukungnya. Bahwa kesedihan Queena juga direspons oleh langit dengan wajah muramnya.


Queena terus menangis, sampai mendapat sedikit perasaan lega. Dia heran mengapa hujan tidak kunjung turun padahal langit sudah gelap.


"Lebih baik aku turun ke kelas."

__ADS_1


Saat akan ke kelas, Queena mendengar percakapan yang agak mencurigakan. Di depan ruangan Bu Warni ada Nirmala.


Wanita itu, tampak sedikit memaksa Bu Warni menerima sebuah paper bag hitam, dengan tulisan nama desainer terkenal.


"Tolong diterima, Bu."


"Aduh, maaf, Bu Nirmala."


"Terima-lah, Bu. Anggap saja hadiah dari orang tua murid. Saya sungguh berterima kasih."


Bu Warni, melihat isi di dalam paper bag itu. Sebuah mini flip bag hitam, klasik dan elegan tampak sangat menggiurkan. Terlebih dengan adanya logo dua huruf C yang berlawanan. Semua orang tau artinya, Coco Chanel adalah desainer yang sangat terkenal.


Barang yang diberikan oleh mamanya Anyala, apa mungkin dapat ditolak? Pada akhirnya Bu Warni menerima pemberian itu.


Queena dengan cerdik dapat menangkap gambar melalui kamera smartphone. Saat dua orang dewasa menyadari kehadirannya, Queena mendekat.


"Tante," sapa Queena sopan.


"Queena, gimana kabar mamamu?"


"Baik, Tante. Tante sendiri sehat?"


"Iya."


"Oh, ternyata Bu Nirmala kenal murid kami."


"Iya, Bu. Queena ini anak teman saya."


"Kenapa kamu tidak di kelas?" tanya Bu Warni tajam.


"Maaf, Bu. Saya permisi dulu. Oh, ya, Tante, selamat atas terpilihnya Anyala."


"Terima kasih, Queena."


Queena segera bergegas ke kelas di mana kegiatan belajar sedang berlangsung. Ketika melihat ke arah lapangan, Queena melihat Azka dan Anyala. Mereka bercanda dengan Pak Igo.


"Anyala," teriak Queena sambil melambaikan tangan.


"Sudah mau hujan!" teriaknya lagi.


"Cuma mendung, Queen."


Bukan Anyala yang menjawab Queena, melainkan Azka. Apa artinya 'cuma mendung'?


Sekali lagi Queena melihat ke arah langit sebelum masuk ke kelas. Dia merasa sedih dengan awan-awan hitam yang menggantung di langit.


"Mendung nggak selalu ujan. Lagian di Bekasi ini, udah biasa. Mendungnya di mana, ujannya di mana. Siapa yang kebagian mendung, siapa yang dapet ujannya."

__ADS_1


Kata-kata Kevin sungguh menohok. Kalau benar demikian, artinya apa yang sempat terlintas di benak Queena salah besar. Bahwa dia telah terlalu ge-er, saat mengira langit ikut bersedih karena dirinya. 1023


__ADS_2