
Tenggorokannya terasa sakit, tetapi menangis tidak juga membuat reda. Anyala masih menumpahkan air mata yang selama ini ditahannya. Di atas punggung gadis itu, menancap mata tombak yang dilesakkan oleh orang yang Anyala hormati.
Kegembiraan bukanlah kawan, batin Anyala. Meski seharusnya rasa senang dan sedih silih berganti datang. Anyala tidak mampu mempertahankan perasaan senang untuk tinggal sedikit lebih lama bersamanya.
Di bawah guyuran air dari dari wall shower, Anyala meneteskan lebih banyak air mata. Meski napasnya terasa sesak, dia tidak terganggu dalam menjalani ritual melunturkan kesedihan. Hingga, ketika pintu kamarnya berkali-kali diketuk dengan tidak sabar, Anyala berhenti menangis. Dia keluar dari kamar mandi dan membalut tubuhnya dengan handuk.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban. Anyala memutar kunci, sebelum dia melakukan apa-apa lagi Mama menerobos masuk.
"Mama."
Suara Anyala tertahan di hidung. Seluruh wajahnya yang menyedihkan tidak perlu bersusah payah menjelaskan betapa hancur hati Anyala.
"Anyala ... Mama minta maaf."
Nirmala memeluk putrinya dengan segera. Tidak sempat bagi Anyala melakukan apapun. Mama selalu lebih cepat dari dirinya. Tiada waktu untuk memikirkan segala sesuatu. Lalu, kaca-kaca itu kembali retak, sebelum akhirnya leleh, mencair membasahi wajah Anyala.
"Ma, apa Mama kecewa sama Anya?"
Mempertanyakan itu, adalah keberanian bagi Anyala. Keberanian untuk hancur, juga sebaliknya.
"Enggak, Sayang. Maafkan Mama."
Nirmala membantu Anyala untuk duduk di tempat tidur. Wanita itu, secara tidak terduga juga memilihkan pakaian untuk putrinya. Satu kebiasaan yang sudah lama sekali dia tinggalkan.
"Heh, ternyata anak Mama sudah besar sekarang. Kamu bukan lagi Anyala yang kecil dan menggemaskan."
Nirmala sengaja menggoda Anyala, dengan maksud agar gadis itu tertawa.
"Baiklah pakai baju ini saja."
Anyala melihat mamanya menaruh set overall di atas tempat tidurnya.
"Kita nggak akan ke mana-mana, kan, Ma?"
"Sebaiknya kita pergi, Anyala. Hari ini Mama akan memberikan bonus untukmu."
"Tapi Anya capek, Ma."
"Mama tahu, kok. Bersiaplah, sebentar lagi kita berangkat."
Bukan Nirmala namanya, kalau harus memohon dan berdebat. Dia selalu merencanakan sesuatu, dan setiap rencana itu dipastikan harus berjalan sesuai keinginan.
Untuk menebus kesalahannya karena telah membuat Anyala sedih, Nirmala mengajak putrinya jalan-jalan.
"Ada acara apa lagi, Ma?"
"Udahlah, Anyala. Anggap aja girls day out. Kita staycation aja sampai besok," terang Nirmala sambil mengemudikan Mini Cooper-nya.
__ADS_1
"Okeee."
Dalam perjalanan menuju Villa, Nirmala dan Anyala bernyanyi bersama. Mereka menyatukan kebersamaan yang terasa semakin langka. Lalu, ikatan antara gadis belia dan sang mama pun menjadi semakin lekat.
Di luar dugaan Anyala, ternyata Mama telah menyiapkan segalanya. Perjalanan dengan Mama adalah perjalanan yang penuh dengan kejutan.
"Apa ini, Ma?"
Sesampainya di vila, beberapa orang telah menunggu. Pesta kebun yang sederhana menyambut kedatangan Anyala. Nirmala mengundang beberapa sanak keluarganya, termasuk teman-teman Anyala.
"Selamat ya, Anyala," bisik Nirmala.
"Thanks, Ma."
Nirmala mengecup pipi Mama, sebelum akhirnya gadis itu berlari dengan sangat girang ke arah Mia dan Nana.
Ketiga cewek itu menikmati pemandangan sore yang indah dari halaman. Lalu seorang chef terus menyiapkan makanan bagi siapa saja yang hadir.
"Thanks udah berjuang buat sekolah kita," ungkap Mia bangga.
"Juga buat kota kita tercinta," sahut Nana. Ketiganya lalu bangkit, berlarian ke sana kemari. Saling mengejar satu sama lain. Saat Nana tidak sengaja terjatuh ke dalam kolam renang, Mia dan Anyala pun ikut menceburkan diri.
Sementara itu, orang-orang dewasa yang hadir hanya tertawa melihat tingkah gadis-gadis belia.
"Ma, ayok berenang!" ajak Anyala.
Nirmala menggeleng, memberikan senyuman manisnya. Anyala kembali menyelam ke dasar kolam. Dia berpikir, selama dirinya menangis di kamar mandi tadi, ternyata Mama menyiapkan sebuah surprise party.
***
Queena merasa bersalah. Air matanya jatuh satu per satu dan semakin banyak. Dia malu dan sedih. Bagaimana dia akan menjelaskan kepada Azka bahwa apa yang cowok itu titipkan tidak bisa dijaganya.
Tidak satu pun tanaman mawar Azka hidup. Bahkan untuk yang sudah berbunga semuanya mengering dan mati. Apakah dia menyesal telah menyanggupi permintaan Azka? Lalu, kalau benar bunga-bunga mawar itu ditanam untuk dirinya, apa yang harus Queena katakan pada Azka?
Queena mendengar langkah-langkah kecil mendekat. Dia menolah dan mendapati wajah yang sangat dia rindukan. Cowok itu tersenyum pada Queena.
"Kenapa jadi sering nangis?"
"Habisnya, aku nggak bisa jaga tanaman kamu."
"Oh, gitu."
"Maaf, Azka. Semua mawar kamu mati. Padahal aku udah berusaha jaga baik-baik."
Azka tertawa, membuat Queena heran.
"Merawat bunga mawar memang tidak mudah, Queena. Harusnya aku yang minta maaf karena bikin kamu repot."
"Ha? Serius kamu nggak marah, Azka?"
__ADS_1
Azka sudah ada di hadapan Queena. Cowok itu sangat santai, tidak terusik oleh kegelisahan Queena.
"Ngapai harus marah, Queena."
"Ya, ya ... karena aku gagal jaga mawar kamu. Bukannya kamu bilang, mawar itu untuk orang yang spesial?"
"Benar. Tapi merawat mawar memang sulit. Jangankan kamu, aku yang biasa berkebun juga belum tentu bisa. Nggak semua orang bisa menanam bunga mawar, Queena. Jadi, santai aja."
"Makasih, Azka."
"Udah jangan nangis lagi, ya."
Queena mengangguk setuju. Kesedihannya lenyap. Hilang terhapus oleh kehadiran Azka. Lalu rasa rindunya, rasa ingin bertemu dan terus bersama dengan Azka, Queena sadar, rasa itu tidak pernah mengering layaknya tanaman mawar yang susah payah mereka jaga.
"Selamat ya, kemarin kamu keren banget."
"Sama-sama, Queena."
"Ada satu hal yang sebenarnya bikin aku penasaran. Tapi mungkin lain kali aja kutanyakan."
"Oke. Ayok, kita turun sebelum bel masuk."
"Siap, Azka."
"Bisa nggak, aku minta sesuatu sama kamu, Queena?"
"Eh, apa itu? Kalau bisa pasti kukasih."
"Jangan nangis lagi, ya. Apalagi untuk hal sepele. Aku harap selama sekolah di sini kamu akan betah, bisa punya teman, dan nggak akan sering nangis."
Queena hanya mengangguk. Harapan Azka begitu sederhana. Sesederhana embun yang menetes di ujung daun bila saatnya tiba. Sesederhana perasaan Queena yang jatuh, pada kelembutan perhatian serta sikap santun Azka.
"Dah, Azka," mereka berpisah untuk menuju kelas masing-masing.
Azka bukannya tidak tahu kalau Queena sering diganggu. Namun, dia bertekad akan membantu Queena terlepas dari rundungan Anyala, Mia, juga Nana.
"Eh, udah denger kabar terbaru belum?"
"Apa-apa?"
Segerombol murid bergosip di sebelah tangga. Setelah berpisah dengan Azka, dia sengaja berhenti di anak tangga untuk menguping.
"Ternyata mamanya si Anyala nyogok pihak sekolah buat dia terpilih jadi Paskib."
"Serius?"
"Ada buktinya!"
"Nggak heran sih, dia kan, anak orang kaya."
__ADS_1
Queena benar-benar mematung. Kalau benar apa yang didengarnya itu, artinya dia akan menghadapi malapetaka. Ketakutan langsung menggetarkan Queena, dan segenap kebahagiaan yang dia dapat saat bersama Azka, tertelan oleh lorong yang gelap. Sebuah hawa panas menyerang punggung Queena, dan hawa dingin mencengkeram wajah, kaki dan tangannya.