Pesona Kang Sayur

Pesona Kang Sayur
Kang Sayur Itu


__ADS_3

Queena berangkat ke sekolah dengan perasaan ringan. Dia bersemangat walaupun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Bagaimana dia akan menghadapi Anyala dan kejahilannya. Yang jelas, apapun itu akan ada Azka yang siap menjadi malaikat penolong baginya.


Azka .... Mengingat nama itu, mendadak ada yang terasa hangat di dada Queena. Menyebar, ke seluruh tubuhnya seperti penawar atas racun yang telah dia telan. Racun yang Anyala paksakan untuk mencelakai dirinya.


"Kira-kira apakah Queena betah di sini?"


Om Randi menghentikan laju mobil di persimpangan lampu merah. Jika pertanyaan itu Queena dapatkan beberapa waktu lalu, atau kemarin saja, sebelum dia bertemu Azka. Pasti jawabannya adalah negatif. Namun, sebab dia telah bertemu dengan Azka, Queena sendiri mulai percaya bahwa dia akan betah di tempat baru.


"Mungkin, Om."


"Sepertinya Queena sudah punya teman, ya?"


Apa boleh dibilang begitu? Apa dia boleh menganggap Azka sebagai teman sekarang?


"Iya, Om."


Queena sadar, dia memang belum berteman dengan siapa pun. Termasuk Azka. Apa yang dia iyakan adalah sebuah harapan. Queena berharap itu menjadi afirmasi positif bagi kelanjutan pertemanannya, khususnya dengan cowok imut itu.


"Kalau ada kesulitan atau apapun jangan ragu untuk bilang sama Om."


"Terima kasih, Om."


Queena sampai di sekolah dan berpisah dengan Om Randi. Orang yang belum lama menikah dengan Mama. Pria itu setuju untuk tidak segera dipanggil Papa oleh Queena.


Azka telah menunggu Queena di depan kelas 10-F. Benar-benar seperti yang Queena inginkan.


"Kamu udah sampai."


"Iya, Azka. Ada apa?"


"Mau ngasih ini."


Azka memberikan handphone milik  Queena. Membuat gadis itu merasa senang dan lega. Meskipun khawatir dengan apa yang kira-kira telah diperbuat oleh Queena dengan benda itu.


"Gimana cara kamu ngambilnya di Anyala?"


"Aku? Aku memintanya. Ya udah, kalau gitu."


"Eh, Azka. Terima kasih."


Azka mengangguk dan dia benar-benar pergi. Meninggalkan perasaan kecewa di dalam diri Queena. Padahal, dia masih ingin bersama Azka. Meskipun jika ada di dekatnya, Queena merasa dadanya akan meledak.


Hal lain yang membuatnya ingin lama-lama bersama Azka, adalah Anyala. Queena ingin Anyala melihat kebersamaan mereka. Mungkin dengan begitu, dia akan berpikir ulang saat akan melakukan hal jahat pada Queena.


Queena bergegas masuk kelas dan bersiap untuk belajar. Yang terpenting sekarang, handphone-nya sudah kembali.


Perlahan anak-anak masuk, disusul dengan tanda dimulainya pelajaran. Selama jam belajar berlangsung, Queena tidak dapat berpikir dengan baik. Otaknya terlalu penuh oleh ingatan tentang Azka.


"Queena?"


"Yes, Sir."


Queena melihat Pak Igo menunjuknya untuk menjelaskan kalimat yang baru dia tulis. Kalimat itu berbunyi, "My hobby is baking."

__ADS_1


"Please, explain this sentence."


Queena membaca sekali lagi kalimat itu. Dia menemukan sebuah jawaban di dalam kepala dan siap untuk mengatakannya.


Queena menyesal, karena telah melamun saat pelajaran berlangsung. Membuat dirinya jadi ditunjuk oleh guru. Beruntung dalam pelajaran English, dia tidak terlalu buruk.


"My hobby is baking, adalah kalimat Present Continuous. Rumusnya, Subject+ To be+Verb1+ING."


"Class? Any other answer?"


Queena terkejut mengetahui bahwa jawabannya tidak dapat memuaskan Pak Igo. Itu artinya, kemungkinan jawaban Queena kurang benar, atau bahkan salah.


"My hobby is baking, is a sentence contains with Gerund. Formed from verbs, the difference between gerund and present participle is gerund can be used as a subject or object," terang Anyala percaya diri. Dia pernah membaca bahwa gerund adalah kata kerja yang dibentuk dari kata benda.


"Good, Anyala!"


Lagi-lagi Anyala tersenyum pada Queena. Dengan ekspresi yang dimanis-maniskan. Sementara Mia dan Nana, menatapnya dengan ekspresi kasihan yang menjijikan. Dasar tukang pamer! Queena membatin.


Begitu tiba jam istirahat, Queena langsung berlari keluar. Tak lupa dia membawa kotak bekal makanan. Dia harus segera menuju atap sekolah untuk menemui Azka. Queena terus berlari, tidak ingin kehabisan waktu.


Sesampainya di atap, Queena bisa melihat tempat itu dengan lebih jelas dibandingkan sore kemarin. Sambil mengatur napas, dia melihat sekeliling.


Beberapa polibag ditanami jahe, tampak ditata rapi.  Lalu, ada juga tanaman kencur, dan kunyit. Di pojokan, Queena juga melihat karung yang tergeletak ditumbuhi alang-alang. Selain itu, beberapa sayur juga tumbuh dengan subur di pipa-pipa yang ditata sedemikian rupa.


Lalu, ada tomat yang sudah berbuah dan bunga yang menambah semarak tempat yang didominasi warna hijau itu. Karung-karung yang kemarin ditata oleh Azka ternyata adalah karung berisi pupuk.


"Queena?"


"Azka, aku mau ngasih ini."


"Terima kasih karena telah membantuku kemarin."


"Makasih."


"Kamu berkebun?"


"Iya. Inilah yang selalu aku lakukan setiap hari di sini. Kalau berada di tempat ini, melihat tanamanku tumbuh subur, rasanya menyenangkan sekali."


"Hebat."


Azka membuka kotak yang diberikan oleh Queena. Berisi roti isi.


"Maaf, aku tidak bisa memasak atau menyiapkan makanan yang lebih baik."


"Sebenarnya, kamu nggak perlu memberiku makan, kok. Tapi ya, mari kita makan sama-sama."


Sebelum membagi roti isi itu menjadi dua, Azka mengambil tomat langsung dari pohonnya dan juga daun selada yang telah dia bersihkan.


"Mau dikemanakan, sayuran ini?" tanya Queena penasaran saat lihat keranjang penuh dengan sayuran.


"Dijual."


"Oh."

__ADS_1


"Lumayan, kan? Sambil sekolah bisa cari uang?"


Sebuah kekaguman pasti baru saja ditanamkan di hati Queena. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau di kota yang dia datangi akan bertemu dengan seorang petani muda. Dan orang itu adalah orang yang sangat istimewa.


Setelah menambahkan tomat dan selada, Azka membagi roti isi itu menjadi dua. Queena tidak ingin menolak saat Azka memberikan sebagian untuk dirinya. Meskipun, Queena tadinya berniat memberikan khusus untuk Azka.


"Makanlah, keburu masuk."


"Eemmh, makasih."


Rasanya sungguh berbeda dari semua roti isi yang pernah Queena makan. Berkat tomat dan selada yang ditanam sendiri oleh Azka, sungguh makanan yang luar biasa.


"Tempat ini, indah," puji Queena tulus.


"Makasih."


Azka mengunyah dengan tenang. Cuaca panas dan terik matahari sama sekali tidak menggangunya. Sementara Queena harus berjuang menahan sinar matahari yang dia khawatirkan akan membakar kulit.


"Ember-ember itu, juga akan dijadikan pot?"


Queena menunjuk ember-ember kecil yang sudah jelek dan terlihat kotor.


"Bukan. Itu ember bekas proyek bangunan. Aku mendapatkannya dari seorang mandor. Itu akan kugunakan untuk menampung air."


"Air?"


"Air dari outdoor unit AC. Kamu lihat, kan, unit-unit itu? Nanti memasuki bulan Agustus, air akan jadi agak langka. Jadi aku siap-siap saja. Apa salahnya jaga-jaga."


"Begitu?"


"Sementara ini air masih cukup, kok. Kamu bisa lihat sendiri, tanamanku di sini tumbuh dengan sehat."


"Iya. Aku senang melihatnya."


"Kenapa kamu menanam alang-alang?"


"Yang mana? Oh, itu? Itu bukan alang-alang, tapi itu tanaman serai."


"Kukira."


"Memang agak mirip, kok. Udah dulu, ya. Aku mau ke bawah, nganter sayuran ini mumpung masih segar."


"Ok."


"Kamu juga turun, sebentar lagi masuk."


"Siap!"


Mereka berdua sama-sama turun. Lalu di tangga saat Queena akan ke kelas, Azka memanggilnya.


"Queena."


"Iya?" Queena menoleh, memandang Azka dengan keranjang sayurnya.

__ADS_1


"Jangan cemas tentang Anyala. Semangat, ya."


Queena mengangguk yakin. Dia percaya, selama ada Azka, semua akan baik-baik saja. Sangat yakin. Sekarang, Queena tidak keberatan untuk pergi ke sekolah setiap hari, bahkan saat libur sekali pun. Asalkan, ada Azka bersamanya.


__ADS_2