
Anyala menggigit sendok setelah menelan supnya. Rasa gurih yang berasal dari ayam berpadu dengan wangi dan hangatnya jahe, adalah salah satu menu makan malam favorit gadis itu.
"Jangan gigit sendoknya, Anyala. Kapan kamu hentikan kebiasaan buruk itu?" peringat Mama dengan tegas.
Mama tidak suka dengan sesuatu yang tidak biasa. Tidak suka ketidakteraturan, apalagi kebiasaan buruk yang aneh di dalam rumah.
"Maaf, Ma."
Anyala ingat ketika dirinya masih kecil, Mama mengajarinya banyak hal. Tidak pernah membiarkan Anyala makan cokelat sebelum tidur. Namun, Anyala tetap melakukannya diam-diam dengan Kak Nita.
Kak Nita kerap menyimpan permen atau cokelat di bawah bantalnya. Lalu, saat lampu-lampu di rumah telah dimatikan, dia akan menyelinap ke dalam kamar Anyala.
"Kak, ayo main boneka," kenang Anyala mengingat kejadian di masa kecilnya.
"Anyala. Kak Nita harus belajar sekarang. Kamu main sama Bibi, ya."
Waktu itu Mama mendorong punggung Kak Nita menjauh. Yang dapat Anyala ingat, Mama selalu menyuruh Kak Nita belajar. Terkadang, Mama mengundang orang dari luar untuk mengajari Kak Nita.
"Ma," panggil Anyala.
"Iya, Sayang?"
"Kenapa Mama nggak minta Anyala untuk bimbel? Atau ngundang guru privat?"
"Memangnya kamu butuh itu? Mama rasa kamu belum perlu. Nanti setelah evaluasi ternyata nilaimu menurun, mungkin akan Mama pertimbangkan."
"Bukan gitu, Ma."
"Lalu?"
"Maksud Anya, kenapa perlakuan Mama pada Anya dan Kak Nita berbeda?"
"Anya! Jangan bahas-bahas Nita lagi."
Mama terlihat sangat kesal dengan membanting sendoknya. Wanita itu lalu mengambil gelas dan meminum isinya. Saat Mama minum, Papa pulang.
"Selamat malam, Sayang."
"Malam, Pa."
"Malam, Papa," sapa Anyala pada pria itu. Wajah Papa tampak sangat ceria.
"Anyala, bagaimana sekolahmu?" tanya Papa sambil mengusap kepala Anyala.
"Baik, Pa."
"Good! Jangan kecewakan Papa. Anyala memang anak kebanggaan Papa."
Anyala mengangguk, yakin. Sementara kemarahan di wajah Mama telah lenyap.
__ADS_1
"Makan, Pa," tawar Anyala.
"Terima kasih, Papa sudah makan dengan orang Pemda."
"Bagaimana hasilnya, Pa?"
Mama kelihatan sangat penasaran ketika menanyakan itu.
"Tentu saja Papa berhasil mendapatkan proyek pengadaan komputer untuk kantor pemerintahan Jawa Barat. Sekarang, Papa selangkah lebih dekat dengan tujuan dan cita-cita Papa."
"Seluruh Jawa Barat, Pa? Wah! Selamat, Pa," seru Anyala antusias. Dia ingin terlihat sangat peduli pada orang tuanya. Adalah hal penting untuk menunjukkan itu, karena Anyala menginginkan timbal balik.
"Ya, sudah. Selamat makan kalau gitu. Papa akan mengurus beberapa pekerjaan."
Segera setelah Papa berlalu, Mama juga bangkit dari tempat duduknya. Mengikuti Papa.
"Habiskan makanmu, Anya," pesan Mama yang dijawab anggukan oleh Anyala.
Yakin dirinya sudah di luar jangkauan pendengaran Papa dan Mama, Anyala pun ingin pergi ke kamarnya.
"Anya selesai. Silakan dibereskan," ucap Anyala memberi aba-aba pada pelayan yang sedari tadi berdiri di belakang meja makan.
"Selamat makan, Mbak."
Orang yang dipanggil Mbak, adalah pelayan khusus yang menyediakan makanan di rumah Anyala. Wanita itu belum terlalu tua, sehingga Anyala memanggilnya Mbak. Wanita itu merasa sedih, karena piring Anyala masih terisi penuh oleh nasi. Mangkuk supnya juga baru berkurang separuh isinya. Anyala tidak benar-benar makan.
"Ada apa?" tanya Anyala heran.
"Saya membawakan buah untuk Nona."
Wanita itu membawakan piring, yang penuh dengan irisan buah. Melihatnya, Anyala merasa sedikit tersentuh. Akan tidak baik jika menolaknya.
"Terima kasih," ucap Anyala sambil mengambil piring itu dari atas nampan.
"Kalau sudah selesai taruh saja di sini, Nona. Nanti akan saya ambil."
Di depan kamar Anyala ada sebuah meja kecil yang terbuat dari keramik. Meja itu, dipakai untuk menaruh hiasan. Juga sebagai penanda bahwa itu adalah kamar Anyala, sebab ada foto dirinya terletak di sana.
"Baik, Mbak. Terima kasih."
Sepeninggal wanita itu, Anyala masuk. Dia melanjutkan belajar. Namun pikiran Anyala tidak bisa diajak kerja sama. Dia terus saja memikirkan Kak Nita. Kerinduan, adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Sebab, kerinduan itu terpisah oleh dua dunia yang berbeda.
Anyala menatap foto dirinya yang masih kecil, di sampingnya berdiri Kak Nita tersenyum lepas. Gigi Kak Nita yang patah tampak lucu. Anyala ingat kakaknya pernah terjatuh dari pohon mangga di belakang rumah mereka. Setelah itu, Papa memutuskan untuk menebangnya.
Anyala tenggelam, dalam ingatan akan Kak Nita yang semakin pudar. Dalam kenangan yang sangat sedikit itu, dia menemukan banyak sekali cinta dan kasih sayang.
Dalam waktu yang tidak begitu lama, Kak Nita berhasil mengisi diri Anyala dengan kehangatan dan canda tawa.
"Kak Nitaaa ...."
__ADS_1
Anyala tidak bisa lanjut belajar. Dia memutuskan untuk menjejalkan earphone, mendengar daftar putar favoritnya sambil memakan buah.
***
Sejak menikah dan pindah ke rumah Om Randi, Mama jadi jarang punya waktu untuk Queena. Setiap malam, mereka akan berada di kamar dan jarang keluar.
Queena mencoba memahami bahwa mereka adalah pasangan baru yang penuh cinta. Hanya saja, apakah dengan begitu Mama bisa begitu saja mengacuhkan Queena.
Queena juga butuh beradaptasi. Dia tidak dapat melakukannya seorang diri. Atau, bisa? Queena sungguh membutuhkan kehadiran Mama.
Dia ingin bercerita banyak sekali tentang sekolah baru. Tentang Anyala dan segala ketidakbaikannya. Juga tentang Azka beserta semua keluarbiasaanya. Queena butuh didengar.
Queena keluar dari kamarnya dan sangat senang melihat Mama duduk di ruang tengah. Queena segera akan mencurahkan isi hatinya.
"Mama," sapa Queena.
"Sini, Queen."
Queena ikut duduk di sofa dengan Mama. Wanita itu mengusap kepala putrinya sayang. Queena bahkan nyaris lupa bagaimana rasanya, diperhatikan oleh Mama.
"Ma, Queena mau cerita."
"Tentang?"
"Tentang teman-teman Queena, Ma."
"Baiklah."
Betapa lega hati Queena mendapat jawaban itu. Namun, tiba-tiba Om Randi keluar dari kamar. Dirinya tampak sangat rapi.
"Aku siap, Hun," katanya pada Hesti.
"Baiklah, Queen. Sekarang Mama akan pergi dengan Om Randi. Kamu bisa cerita kapan-kapan. Maaf ya, Queen."
Mama bangkit berdiri, mengecup kening Queena untuk berpamitan.
"Om pergi dulu, ya, Queena," pamit Om Randi sambil merangkul istri yang belum lama dia nikahi itu.
Sekarang, pandangan Queena terhadap Om Randi sedikit berubah. Dulu, Mama selalu mengenalkan Om Randi sebagai seorang yang baik dan akan membuat hidup Queena dan Mama bahagia. Namun, sekarang Queena hanya melihat Om Randi sebagai seorang yang merenggut Mama dari sisinya.
Begitu juga Mama. Wanita itu lebih suka bersama Om Randi. Dia lebih senang bersama orang baru, yang mungkin memberikan semua yang Mama butuhkan ketimbang bersama Queena yang selalu merepotkan.
Queena merasakan dadanya sesak. Dia ingin menemukan ruang terbuka dan udara bebas. Lalu, Queena mengingat tempat favorit Azka.
"Azka ...."
Queena: Malem, Azka. Sibuk, ya?
Queena memberanikan diri mengirim pesan WhatsApp kepada Azka. Lalu dengan jantung berdebar dia menunggu. Menit demi menit pun berlalu.
__ADS_1