Pesona Kang Sayur

Pesona Kang Sayur
Self Tan


__ADS_3

"Pagi, Ma, Om."


"Pagi, Queen," balas Om Randi ramah. Queena bergabung di meja makan untuk sarapan.


"Queena," panggil Mama dengan suara selembut sinar mentari pagi. Hangat dan menenangkan.


"Iya, Ma."


"Om Randi sudah temukan tempat bimbel untuk kamu. Nanti sore, sepulang sekolah kamu datang, ya."


"Ha? Langsung belajar, Ma?"


Queena cukup terkejut dengan penjelasan dari Mama. Menerimanya, seperti mengunyah olahan daging yang alot. Bisa dimengerti, tetapi cukup sulit diterima.


"Lihat-lihat aja dulu."


"Baik, Ma."


Pada akhirnya, hanya itu yang dapat Queena katakan. Apa lagi? Dia tidak pernah punya kekuatan untuk membantah. Lagipun, semua yang Mama mau untuk kepentingan Queena juga.


"Nanti Om jemput di sekolah, ya."


"Baik, Om. Terima kasih."


Queena meminum susu, dan memakan sarapannya. Dia tidak ikut ketika Om Randi bangkit dan mengajaknya berangkat bersama.


"Biar Queena berangkat sendiri, Om," tolaknya dengan ekspresi yang cukup halus. Beberapa menit setelahnya, suara mesin mobil Om Randi terdengar menjauh.


"Kamu nggak takut telat?"


"Ma, kenapa Mama nggak bilang kalau daftarin Queena bimbel?"


Suara gadis itu meninggi, sebagai bentuk protes atas keputusan yang diambil sepihak oleh mamanya.


"Queena, kita sudah bicarakan ini."


Hesti menaruh alat makannya dengan rapi, memperbaiki posisi duduknya. Tegas dan tenang memandang anak gadis yang telah dilahirkannya, enam belas tahun yang lalu.


"Mama ... harusnya kan, bilang dulu sama Queena. Nggak bisa dong, memutuskan gitu aja?"


"Udahlah, Queena. Ini semua demi kebaikan kamu."


"Ma! Sekali-kali, Queena pengen didengar. Queena juga manusia, Ma. Sekarang Queena bukan lagi bayi. Queena punya pikiran dan--"


"Dan?" tanya Mama.

__ADS_1


"Perasaan!"


Air mata telah berhasil merebak dan keluar dari kelopak mata Queena. Semua rasa kecewa dan kesal, yang selama ini dia simpan seorang diri tumpah, meruap, memenuhi udara di ruang makan.


"Ah! Queena berangkat."


Secepat mungkin Queena berdiri, mendorong kuat kursi ke belakang. Gadis itu berlari keluar, dengan perasaan marah yang berderap. Dengan dada yang terluka, menganga, dan anyir oleh darah kesedihan.


Luka itu terasa sangat sakit. Berdenyut-denyut sepanjang perjalanan menuju sekolah. Beberapa kali, Queena mengusap air matanya. Membuat pengemudi ojek daring yang mengantarkan bingung dan canggung.


Di satu sisi, Queena sedikit menyesal karena telah berkata dengan keras kepada Mama. Selama ini, dia selalu berusaha sopan dan lembut pada wanita yang sangat dihormatinya itu. Namun, di sisi lain dia juga cukup puas. Mengetahui bahwa lukanya terbuka. Queena berharap, setelah ini Mama akan lebih peka terhadapnya.


Di tengah bergelut dengan perasaan nelangsa, saat tiba di sekolah Queena dikejutkan dengan ramai-ramai di halaman yang sekaligus dijadikan lapangan sekolah.


Para murid berkumpul dan suasan cukup ribut. Queena menyimpan apa yang dia pikirkan. Bergabung dengan yang lain. Semakin dekat, semakin bisa dia mendengar jelas. Nama orang yang paling dia benci disebut berkali-kali. Juga, nama orang yang paling dia suka.


Mengapa ada orang seperti Anyala? Queena bertanya dalam benaknya yang terlalu sempit, sebab di sana penuh dengan pikiran buruk tentang Anyala.  Sekali lagi, dia memandang Anyala.


Di bawah tiang bendera, gadis itu sungguh luar biasa. Tuhan menciptakan Anyala dengan tubuh yang tinggi dan ideal. Otaknya tidak bisa dibilang pas-pasan. Anyala malah sangat cerdas. Terlebih, dia lahir di keluarga kaya.


Apa kekurangan Anyala? Queena mencari-cari kelemahan atau kekurangan Anyala. Barangkali hal itu akan sedikit menyelamatkan perasaan. Memperbaiki rasa percaya diri Queena yang selalu diinjak-injak oleh Anyala.


"Yah."


Akhirnya, Queena menemukannya. Satu kekurangan Anyala, kalau bisa disebut begitu. Adalah warna kulit Anyala yang aneh. Bagian betis dan lengan gadis itu cenderung jauh lebih gelap dibandingkan area wajah.


Dengan berpikir demikian, setidaknya ada dua hal buruk yang didapatkan oleh Queena dalam pikiran tentang Anyala dan mamanya. Bisa berarti pula bahwa Anyala sengaja menggunakan make up super terang untuk wajahnya sehingga terlihat cantik dan putih.


"Heh," senyum Queena mencibir Anyala. Sekarang dia merasa lebih baik dari gadis itu. Setidaknya, Queena tidak perlu bersusah payah memutihkan wajah. Lagipula, bisa-bisanya Anyala lupa memutihkan kulit tubuhnya juga. Walaupun kalau dilihat-lihat lagi, Anyala malah cantik dengan kulit coklatnya. Apalagi kalau sedang berkeringat.


"Anyala, semangat!" ucap Mia pada Anyala.


"Lo nggak boleh kalah, ya. Harus lolos!" sahut Nana di sampingnya. Cewek itu lalu berteriak pada murid-murid lain, "Ayo kita dukung Anyala dan Azka."


"Yaaa!"


"Anyala! Anyala! Anyala!"


Murid-murid meneriakkan nama Anyala bersama di bawa komando Nana. Cewek mungil itu, memancarkan energi yang luar biasa besar. Sementara Mia menggerakkan kedua tangannya, menyemangati teman-teman yang bersorak.


Ada yang tidak disebut namanya. Meskipun seharusnya disebut pula, Azka kelihatan baik-baik saja. Queena melihatnya, tenang dan percaya diri. Azka selalu manis dalam suasana apapun. Cowok itu bahkan tidak berhenti tersenyum. Sesekali melirik rekan di sampingnya.


Bahasa tubuh Azka sungguh menjengkelkan bagi Queena. Senyum itu, tidak seharusnya Azka berikan untuk Anyala. Untuk monster berkulit gadis belia.


Queena yakin, Anyala adalah mahluk jahat yang berpura-pura baik. Meskipun Azka percaya, tetapi tidak dengan Queena.

__ADS_1


Pak Igo menerobos kerumunan. Memberitahukan bahwa kendaraan yang akan mengantar wakil sekolah sudah siap.


"Kita boleh ikut, Pak?" tanya salah seorang siswa.


"Nggak usah. Cukup kalian doakan saja yang terbaik untuk Anyala dan Atharazka. Semoga keduanya terpilih."


"Yaah."


"Sekarang, kembali ke kelas masing-masing. Laksanakan!"


"Huuuw!"


Para murid membubarkan diri. Kembali ke kelas masing-masing. Termasuk murid-murid di lantai atas yang sedari tadi menyimak dari balkon.


"Kasian ya, yang nggak terpilih," cibir Mia sinis ketika berjalan di belakang Queena.


"Hihihi, mana mungkin ada yang bisa ngalahin Anyala."


Nana menyahuti temannya. Seolah tidak kekurangan tenaga. Padahal gadis itu telah berteriak dan bersorak dengan gagah perkasa.


"Heh, boleh nanya nggak?" Queena sengaja berbalik dan mencegat langkah Mia dan Nana.


"Apa?"


"Kalian tahu seleksinya di mana?"


"Di GOR!" jawab Nana ketus.


"Kenapa nanya?"


"Nggak pa-pa. Cuma, kalian ngerasa aneh nggak, sih? Sama warna kulitnya si Anyala. Masa kulit badannya sama mukanya beda? Belang gitu, hihihi. Cih, belang."


Queena mengatakannya dengan nada mencibir. Puas, kali ini dapat menemukan kekurangan musuh terberatnya.


"Heh, dasar kampungan!" sembur Nana yang tidak terima Anyala dihina.


"Sabar, Na. Orang kayak Queena ini, harus kita kasih paham. Eh, lo, Queena, ternyata nama lo aja bagus. Otak, hati, sampah semua isinya."


"Meh?" Kali ini dengan ekspresi percaya diri, Queena mengambil sikap berani.


Nana dan Mia lalu merangkul gadis itu. Memaksanya menjauhi kelas. Mereka berdua membawa Queena ke toilet.


Di salah satu bilik, Mia dan Nana mendudukan Queena di toilet. Sementara Mia berjaga di pintu, Nana mengambil air dengan botol air mineral dari kran.


"Asal lo tau ya, Ratu Kampungan! Anyala pakai bronzing self tanning lotion! Lo nggak tau itu apa? Itu lotion buat gelapin warna kulit!" terang Mia berapi-api.

__ADS_1


"Dan asal lo tau, lotion kayak gitu nggak aman buat muka. Bisa bikin clogged pores," lanjut Nana sambil memegang botol miring tepat di atas kepala Queena. Membuat isinya tumpah membasahi tubuh gadis itu.


"Makanya jangan asal jeplak. Mulut pakein saringan!" Setelah mengatakan kalimat itu, Mia mengambil botol dari tangan Nana yang telah kosong. Melemparnya ke arah Queena. Saat botol itu jatuh, suaranya cukup ribut. Namun, tidak seribut kepedihan di hati Queena. 1147


__ADS_2