Pesona Kang Sayur

Pesona Kang Sayur
Menanam Mawar


__ADS_3

Queena menangis dalam hening di toilet. Betapa takdir telah menjatuhkan kesepian yang tajam bagi dirinya. Queena meraba-raba ingatannya. Pada kejadian-kejadian yang telah berlalu. Adakah dia pernah tidak sengaja berencana menjadi korban?


Setelah keluar dari bilik toilet, Queena bercermin. Di bawah derasnya air kran, dia menaruh tangannya. Membiarkan aliran air memijat telapak tangannya. Queena sedikit menemukan kenyamanan. Dia lantas mencuci muka, menegakkan tubuh dan mencoba tersenyum pada pantulan diri.


"Nggak pa-pa, Queena."


Gadis itu mencoba tegar dan kuat. Bahkan, sebelum keluar dari toilet, Queena sempat mencari botol air yang dihantamkan ke tubuhnya. Dia memungut botol itu, dan menaruhnya di tong sampah.


Queena tidak langsung kembali ke ruang kelas. Masuk dengan baju basah hanya akan membuatnya jadi bahan tertawaan. Gadis itu memilih pergi ke tempat terbaik di sekolah, atap.


Tidak ada siapa-siapa di atap. Di hari lain, Queena mungkin beruntung bisa bertemu dengan Azka. Namun, sekarang Azka sedang berjuang dalam seleksi. Jadi, tidak mengapa kalau Queena hanya mendapati tanaman-tanmanan Azka.


Queena memandang sekeliling. Kebun Azka tampak terawat meski beberapa tanaman layu akibat tersengat sinar matahari. Ada beragam tanaman obat, juga sayur-sayuran. Queena tersenyum, sedikit iri pada mereka.


"Kalian seneng ya, bisa selalu dapat perhatian Azka."


Queena berjalan, melihat-lihat sambil menunggu pakaiannya kering. Dia kembali tersenyum melihat tanaman tomat yang berbuah banyak, buahnya masih berwarna hijau muda. Dia ingat, pernah makan roti isi bersama Azka.


Queena memandang tanaman anggur yang mulai berbuah. Tanaman itu menyulut dan saling bertaut di kerangka yang melengkung. Queena mengingat lagi, bagaimana dia pernah menangis di bawah naungannya.


Sekarang pun, dia masih ingin menangis. Akan tetapi, energinya sudah nyaris habis. Lagipula, buat apa terus-menerus bersedih?


Queena lalu memandang instalasi pipa yang ditanami Azka selada, kangkung dan bayam. Juga tumpukan karung berisi pupuk. Namun, dia merasa terkejut saat mendapati pot-pot tanah liat kecil di dekat pupuk-pupuk itu. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Azka nanam bunga mawar?"


Queena mendapati beberapa bibit mawar yang cukup tersembunyi. Beberapa memiliki kuncup bunga yang belum mekar. Menemukan itu, Queena merasa jauh lebih baik.


"Ternyata ini sisi romantis Azka."


Queena tersenyum sendiri. Membayangkan kalau Azka bicara padanya. Apalagi kalau alasan cowok itu menanam mawar adalah karena dirinya. Sebab, seingat Queena, sebelum mereka saling bertemu tidak ada mawar di kebun Azka. Queena yakin itu.


Queena mendapatkan kekuatan untuk bangkit dari kesedihan yang datang keroyokan pagi ini. Dia bisa dengan yakin dan percaya diri berjalan ke kelas. Kebun Azka adalah tempat yang ajaib. Seolah semua luka bisa disembuhkan di sana. Sambil menuruni tangga, dengan perasaan tidak sabar Queena bertanya, kapan kiranya dia dan Azka bisa selalu bersama?


***


"Makasih, ya, Ka, udah anterin ke sini."


"Sama-sama, Anya. Aku seneng, eh maksud gue, gue seneng bisa bantu lo."


Panas menyengat bukan halangan bagi Anyala, begitu pula dengan Azka. Mereka berdua telah terbiasa. Walaupun tadi, mereka telah mengerahkan segenap jiwa dan raga demi memenuhi tugas sekolah. Lebih dari itu, menjadi pasukan pengibar adalah salah satu cita-cita dan harapan tertinggi bagi pelajar SMA.


"Lo tau nggak, Ka, rasanya kehilangan orang yang paling lo sayang di dunia ini?"


Azka diam, mencoba memahami perasaan Anyala. Cewek yang selama ini selalu kuat dan ceria. Apakah sekarang Anyala sedang menunjukkan sisi lain dirinya? Azka mendadak bingung.

__ADS_1


"Kak Nita, aku berhasil, Kak. Apa Kakak bangga?"


Sambil memegang nisan bertuliskan nama Nita, Anyala menangis. Berbeda dengan saat melihat Queena menangis, sekarang Azka merasakan kebekuan.


Apa yang dapat dilakukannya? Bukankah beberapa menit sebelumnya, mereka masih tertawa bersama? Azka ingin mengusap pundak Anyala. Memberikan kata-kata yang menguatkan, tetapi dia tidak bisa.


Pada akhirnya, Azka hanya diam di samping Anyala. Di tanah pekuburan yang tidak terlalu ramai, Azka menemukan diri Anyala kembali.


"Anyala ... gue minta maaf."


"Hah? Apaan?"


Tiba-tiba Anyala menoleh, menghentikan tangisnya begitu saja. Azka yang tidak siap dengan reaksi Anyala kaget bukan main.


"Emh! Itu, maksud gue. Gue--"


"Dahlah, Ka, ngomong aja. Lo mau ngecengin gue karena gue cengeng, kan?"


Anyala segera mengusap air matanya. Tidak ingin terlihat lemah lebih lama.


"Hmh, bukan gitu, Anya."


Anyala mengucapkan salam perpisahan, "Anya pergi dulu, Kak. Anya akan selalu rindu Kak Nita."


"Anyala!"


Azka segera menyusul langkah gadis itu. Segera, cowok itu bisa menyamai langkah Anyala.


"Jangan marah, dong, Anya."


"Gue nggak marah. Ayok, kita pulang."


"Oke."


"Ka."


Tiba-tiba Anyala berhenti, dia menatap Azka penuh minat. Seperti pemangsa yang sedang mengintimidasi mangsa buruannya.


"Apa?"


Azka merasa benar-benar kerepotan bersama Anyala. Sikap gadis itu, dengan mudahnya berubah.


"Jangan bilang siapa-siapa kalau gue nangis."


"Eeh? Gitu."

__ADS_1


"Serius ini gue!" bentak Anyala yang justru membuat Azka tertawa.


"Dih, nggak asik lo. Awas aja kalau sampai ada yang tahu gue nangis kayak tadi."


Keduanya kembali berjalan beriringan. Kali ini lebih santai dari sebelumnya.


"Iya, gue janji."


"Thanks."


"Oh, ya, Anya. Sebenernya tadi gue mau minta maaf karena ... gue merasa beruntung."


"Oh, ya?"


"Iya. Gue nggak pernah nyangka bisa ikut seleksi paskib, apalagi kita terpilih untuk mewakili Bekasi di tingkat provinsi nanti."


"Ya, bagus, dong. Ngapain minta maaf."


"Apa nggak pa-pa kalau gue ngerasa bahagia saat lo nangis kayak tadi?"


"Nggak pa-pa, Ka. Gue kan, bukan siapa-siapa lo. Cuma adik kelas. Kita belum saling kenal, jadi apa yang gue rasa, nggak berarti lo harus bersimpati."


"Okey."


Dalam diam keduanya terus berjalan, sampai di luar area pemakaman. Mereka sadar harus segera berpisah.


"Habis ini lo mau ke mana?"


"Ke sekolah, Anya. Gue mau liat tanaman."


"Dasar tukang kebun!" ejek Anyala.


"Lo sendiri? Mau ke sekolah juga, kan?"


"Gue langsung pulang aja, Ka."


"Dasar anak mama!" ejek Azka balik. Mereka berdua kembali tertawa sambil menunggu kendaraan.


Saat berpisah, Azka merasakan ada kebahagiaan yang besar tinggal di dadanya. Bersama dengan Anyala dia akan mewakili Kota Bekasi dalam seleksi di tingkat provinsi.


Di sisi lain, Anyala juga merasa lega. Bahwa dirinya terpilih, adalah bukti untuk pihak sekolah saat dia mengajukan diri. Anyala berharap dapat lolos ke tingkat nasional. Dengan begitu, Mama dan Papa pasti sangat bangga padanya. Mungkin juga dengan orang yang sangat dia rindukan, Kak Nita.


Di tempat berbeda baik Anyala maupun Azka, merajut benang mimpi yang terhubung. Benang-benang itu, tersimpul rapi dan indah, menjulang jauh hingga menembus langit. Harap akan adanya cahaya terang dalam kehidupan mereka sebagai remaja. Dalam keseharian yang penuh warna.


"Good luck, Anyala," bisik Azka sambil memandang langit sore dari kebun kesayangannya di atap sekolah. 1062

__ADS_1


__ADS_2