Pesona Kang Sayur

Pesona Kang Sayur
Seleksi


__ADS_3

Queena putus asa, menunggu balasan dari orang yang paling diharapkannya. Padahal, saat ini dia benar-benar merasa kesepian. Gadis itu mulai berpikir untuk menghubungi temannya di sekolah yang lama. Namun, mereka semua pasti sibuk dengan pacar masing-masing.


Terakhir sebelum Queena pindah, Angela baru jadian. Sementara Rizka, dia juga punya pacar sejak SMP. Memang hanya Queena sendiri yang tidak punya pacar. Dia merasa belum menemukan orang yang tepat.


Di sekolah baru, justru Queena menemukan orang itu. Seseorang yang sangat baik dan unik. Dia tidak pernah membayangkan ada murid yang datang ke sekolah untuk belajar sekaligus bertani.


Lekas Queena mencuci muka dan gosok gigi. Bersiap untuk tidur. Setelah itu dia bercermin, memastikan bahwa dirinya memang cantik. Melihat pantulan dirinya, Queena mendapati seorang gadis dengan wajah yang bersih. Tulang hidungnya cukup tinggi, serta poni yang lurus menutup kening membuat wajahnya tampak bundar.


BIP!


Layar handphone Queena berkedip. Diikuti pemberitahuan di jendela notifikasi. Balasan dari Azka! Dengan cepat Queena menyambar benda itu, membawanya ke tempat tidur. Sambil berbaring, dibukanya pesan yang mendebarkan itu.


Azka: Sedikit.


Azka juga mengirimkan sebuah foto. Tampak sebuah ruangan yang cukup luas dan sayuran yang berlimpah. Beberapa orang, duduk di dekat sayuran itu. Ada sawi, kangkung, kol, kentang, wortel, dan masih banyak lagi.


Queena: Serunya. Lagi ngapain itu?


Azka: Bantu Babe beresin sayur. Dah dulu, ya.


Queena: Ok. Maaf ganggu.


Azka: GPP.


Queena tersenyum, meskipun agak kecewa tetapi dia cukup senang. Mengetahui bahwa Azka mau membalas pesannya. Terlebih, kekaguman di dalam hatinya tumbuh semakin besar. Ternyata Azka memang anak yang rajin.


Dengan banyaknya kekecewaan yang Queena dapatkan, balasan pesan dari Azka seolah mampu menghapus semuanya. Dia bisa berangkat tidur dengan nyaman dan hati yang riang. Queena berharap, dapat juga menemui Azka di alam mimpi.


***


Pagi yang mendebarkan datang pada sebagian murid di sekolah. Tidak terkecuali Anyala.


Sebelum pelajaran dimulai, seluruh siswa dikumpulkan di halaman. Ada pengumuman penting yang akan disampaikan oleh pihak sekolah. Seleksi calon Paskibraka.


Bu Warni selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, merasa perlu untuk mengumumkan itu secara langsung. Meskipun tetap saja, dirinya membuat pengumuman tertulis.


Semua berbaris dengan rapi. Menyimak keterangan yang disampaikan oleh Bu Warni. Untuk dapat mewakili sekolah dalam pemilihan Paskibraka di tingkat Kota, murid diharapkan memiliki kualifikasi seperti memiliki tinggi badan yang cukup. Selain itu, berat badan ideal, dan beberapa aspek kesehatan juga dibacakan secara rinci.

__ADS_1


Memiliki kemampuan yang baik dalam baris-berbaris. Diutamakan juga memiliki latar belakang olahraga yang dikuasai. Semuanya mulai bosan menyimak, kecuali beberapa yang berminat.


"Syarat tambahan," ucap Bu Warni tegas, membuat para murid ribut sendiri.


"Mohon tenang. Syarat tambahan ini dibuat oleh pihak sekolah. Yaitu, memiliki nilai minimum sembilan untuk masing-masing pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Serta, untuk Matematika ...."


Saat Bu Warni menjeda pengumumannya, Anyala yang sedari tadi begitu antusias jadi lesu. Kalau disyaratkan harus memiliki nilai paling tidak sembilan di mata pelajaran Matematika, dia belum bisa. Sebab sejauh ini nilai Anyala di mata pelajaran tersebut hanya delapan.


"Minimum, delapan."


"Huuuwww!!!"


Anyala tersenyum lega. Dia puas akan syarat-syarat yang disampaikan oleh Bu Warni. Dirinya bahkan akan segera mendaftarkan diri.


"Sekian pengumuman pagi ini. Bagi yang memenuhi syarat, silakan mendaftar ke ruangan saya setelah ini. Yang lain, boleh kembali ke kelas masing-masing. Selamat pagi dan selamat belajar."


Kevin selaku ketua OSIS yang memimpin apel dadakan, segera membubarkan barisan. Banyak murid yang langsung lari ke kelas mereka, sebagian lain masih kasak-kusuk. Berdiskusi, akankah mendaftar atau tidak.


Anyala tidak begitu terkejut dengan pengumuman itu. Dia ingat percakapannya dengan Mama pagi ini saat sarapan.


"Anya, berjuangla sampai terpilih. Paling tidak harus jadi wakil sekolah."


"Mama dengar, sekolah akan mencari wakil untuk dikirim dalam seleksi Paskibraka."


"Wah! Keren."


"Pokoknya, kamu harus berjuang, Anya. Kalau sampai gagal--" Mama sengaja menjeda kalimatnya untuk mengetahui reaksi Anyala.


"Kalau gagal?"


"Tidak akan Mama biarkan kamu gagal."


***


Setelah sesi pendaftaran, pihak sekolah memerlukan sedikit waktu untuk mencocokkan data. Seleksi baru dimulai setelah jam istirahat pertama.


Anyala bersama sembilan belas orang lainnya masuk ke aula sekolah untuk mengikuti seleksi. Pertama-tama, para peserta diukur tinggi dan berat badannya. Setelah itu mereka dipersilakan untuk duduk di masing-masing bangku.

__ADS_1


Pihak sekolah memberikan tes tertulis. Anyala menjawab satu per satu pertanyaan dengan tenang dan yakin. Pertanyaan-pertanyaan itu meliputi pengetahuan umum juga pengetahuan tentang daerah.


Setelah selesai, Anyala melirik Queena yang juga tampak percaya diri. Dia merasa takut kalau sampai Queena yang terpilih. Jika hal itu terjadi, Mama tidak segan-segan untuk menghukum Anyala. Namun, dia kembali ingat bahwa Mama tidak akan membiarkan Anyala gagal. Meski tidak tahu benar apa maksudnya.


Waktu yang diberikan oleh pihak sekolah habis. Lembar jawab diambil satu per satu untuk diperiksa. Dengan sepenuh harap, Anyala berdoa semoga dia tidak melakukan kesalahan dalam menjawab soal tertulis tadi. Lalu, gadis itu ikut ke halaman sekolah untuk tes selanjutnya.


Berbaris di bawah terik matahari, bukanlah sesuatu yang menyusahkan bagi Anyala. Dia mendengarkan komando, dengan segenap hati dan jiwa. Memasang telinga setajam yang dia bisa agar tidak salah bergerak dalam tes PBB. Meskipun dirinya mulai merasa haus.


Nyaris kehabisan tenaga, tes terus berlanjut. Kalau tadinya hanya disuruh baris-berbaris, sekarang peserta yang masih bertahan diperintahkan untuk lari keliling lapangan.


Anyala terus berlari, meskipun kakinya terasa pegal. Dia mengenyahkan rasa haus dan panas yang menyerang seluruh tubuh. Gadis itu tahu, dia harus bersungguh-sungguh. Anyala tidak boleh gagal.


Beberapa putaran lagi, batin Anyala menyemangati diri sendiri. Dia tidak dapat melihat dengan jelas ke sekeliling. Anyala kembali berfokus ke lintasan larinya. Tidak lagi menghiraukan apa pun.


Tepat setelah peluit ditiup oleh Pak Igo, Anyala berhenti. Para peserta mendekati Pak Igo yang sudah menyiapkan air minum untuk mereka. Satu per satu menggambil bagiannya. Anyala berjalan perlahan, karena tidak ingin berdesakkan.


Sebelum sampai ke kardus air mineral, tiba-tiba seseorang mencegatnya.


"Anyala."


"Ya?"


"Ini air buat lo."


"Thanks."


Anyala lalu berjalan ke pinggir lapangan mencari tempat duduk untuk sejenak beristirahat.


"Horeeey! Hebat, Anyala," seru Nana. Dia datang bersama Mia untuk memberikan semangat pada Anyala.


"Mau gue beliin minuman apa?" tanya Mia perhatian.


"Ntar aja. Gue mau minum air putih dulu. Fyuh! Capek."


"Semangat, Anya."


Anyala kemudian tiduran di lantai teras. Mia mengipasinya. Lalu Nana membuka sepatu Anyala. Di sisi lain, Queena begitu iri melihat perhatian yang didapatkan Anyala. Terlebih, setelah dia tahu kalau Azka mengambilkan air minum untuk gadis itu.

__ADS_1


Queena benci Anyala. Seharusnya perhatian Azka hanya tertuju pada dirinya. Bukan cewek lain, apalagi orang yang telah berbuat jahat padanya.


__ADS_2