
Siang itu Queena sedang belajar di kelas. Sementara teman-teman lain menikmati waktu istirahat mereka. Queena memang belum berhasil menemukan teman sejak kedatangannya.
Gadis itu agak kesulitan untuk menyesuaikan diri di tempat baru. Terlebih, dia tidak mudah membuka diri, selalu terkesan cuek dan pendiam. Queena adalah gambaran seseorang yang kurang asyik untuk diajak berteman. Mungkin anggapan itu tepat, sebab sampai sekarang dia tetap sendirian di sekolah barunya.
"Permisi," sapa seorang cewek berponi lurus. Wajahnya terlihat ramah dan menyenangkan.
"Boleh masuk?"
Queena mengangguk, meskipun ragu dan takut tetapi hatinya merasa sedikit senang. Diam-diam, Queena berharap bisa berteman dengan orang itu.
"Belajar ya?"
"Iya."
"Kamu anak baru, kan?"
"Hu'umh."
"Mau gabung di klub sastra? Kamu pasti suka baca."
"Ha? klub sastra, ya?"
Queena mengingat kembali kegiatannya yang terpaksa dia tinggal di sekolah lama. Pernikahan Mama yang terkesan mendadak, membuatnya harus mengikuti wanita itu pindah ke Bekasi. Meskipun sekarang dia punya Mama dan Papa layaknya anak-anak lain, rasanya tetap saja sulit bagi Queena. Atau mungkin, itu hanya karena dia belum terbiasa.
"Bukan cuma baca-baca, Klub Sastra nanti ada banyak kegiatan. Semuanya berhubungan dengan karya sastra."
Seperti melihat seberkas cahaya di kegelapan yang sepi dan dingin, Queena merasa senang. Dia berharap akan segera bisa berteman sebentar lagi. Ditambah, berteman dalam kegiatan positif. Menghabiskan waktu dengan hal berguna.
"Boleh."
Ringan dan ceria, itulah yang Queena rasakan saat menjawab pertanyaan itu.
"Nama Kakak siapa?"
"Vira."
"Salam kenal, Kak Vira. Namaku Queena."
"Oke. Nanti jangan pulang dulu, ya."
Queena mengangguk yakin. Seyakin dia akan kesepian dan rasa bosan yang akan segera sirna. Queena tidak berharap akan disukai oleh cowok idola, atau menjadi cewek populer di sekolah. Tidak sejauh itu. Andai dia bisa memiliki teman dan menjalani masa sekolah dengan baik, itu sudah cukup.
"Ini bukan dunia novel, Queena!" peringatnya pada diri sendiri saat benaknya mulai usil membayangkan teman laki-laki.
Usai jam pelajaran saat semua meninggalkan kelas, Queena tetap tinggal. Dia menunggu Vira datang untuk mengajaknya ke Klub Sastra yang dimaksud.
Sebagai jaga-jaga, Queena memberitahukan mamanya bahwa hari ini dia akan pulang terlambat. Satu menit ... dua menit, Queena sangat tidak sabar menunggu.
"Hai, Queena. Ayok!" ajak Vira di pintu kelas.
__ADS_1
Bagaikan seorang anak kecil yang mendapatkan es krim di saat cuaca panas. Hati Queena merasa senang. Kalau perlu sebenarnya dia ingin melonjak kegirangan, lalu melompat-lompat di atas trampolin.
Tentu saja hal itu hanya bisa dia bayangkan. Sesegera mungkin Queena mengikuti Vira.
"Terima kasih atas ajakannya, Kak."
"Emh, iya. Sini, dong, jalannya jangan di belakang gitu."
Saat Vira berhenti, untuk menyejajarkan langkah dengan Queena. Pada saat yang sama, Queena merasakan sesuatu yang sangat dia inginkan. Sebuah penerimaan.
"Di mana tempatnya, Kak?"
"Ada di lantai empat. Ayok, jalan terus."
Setelah sampai di lantai empat, mereka berjalan menyusuri koridor yang sepi. Queena melirik ke lapangan di bawah, masih ada beberapa orang di sana.
"Nah, di sini tempatnya."
Vira berbelok, masuk ke lorong pendek di mana terdapat pintu yang saling berhadapan. Masing-masing menuju ruangan yang berbeda.
"Kok, sepi, Kak?" tanya Queena heran.
"Iya, tunggu aja."
Vira dan Queena masuk. Di dalam ruangan itu, ada banyak bangku yang ditumpuk rapi di salah satu sisi. Sementara di bagian depan, ada beberapa tempat duduk yang diatur melingkar. Melihat itu, Queena yakin bahwa kegiatan mereka akan dilakukan di sana.
"Oh, ya, Queena."
"Ya, Kak?"
"Pinjem HP kamu, dong. Mau hubungi teman-teman biar cepet ke sini."
"HP?"
"HP-ku habis batre."
Queena menyerahkan handphone miliknya pada Vira. Lalu, gadis itu menyuruh Queena untuk membuka kunci layar.
"Udah dulu, ya, makasih," ucap Vira sambil keluar.
"Kak!"
Terlambat. Vira sudah menutup pintu dan menguncinya dari luar. Queena yang panik berusaha menggedor, tetapi agaknya sia-sia belaka.
"Kak Viraaa!"
Queena terus memanggil Vira, tangannya memukul-mukul pintu sampai terasa panas dan sakit.
"Kak, buka pintunya."
__ADS_1
Dari jendela kaca di sisi pintu, Vira mengetuk. Cewek itu tidak sendirian. Saat melihat Anyala, Queena sadar bahwa selama beberapa waktu tadi, dia hanya diperdaya.
Sekarang, dia terkurung. Semua ini adalah ulah Anyala.
"Buka! Buka pintunya, Anyala!"
"Anyalaaa!"
Queena mengintip dari jendela yang sempit. Andai jendela itu lebih besar, dia bisa memecahkan kacanya, lalu berusaha keluar. Namun, mustahil baginya keluar dari sana.
Queena melihat Anyala mematikan ponselnya. Lalu memasukkan benda itu ke dalam tas. Anyala menoleh ke arahnya, sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Sebelum akhirnya gadis itu pergi meninggalkan Queena.
Queena mencoba tenang. Dia mencari cara bagaimana bisa keluar atau ditolong oleh siapapun. Queena bergerak ke sisi lain ruangan. Dia menemukan banyak jendela besar. Sebuah harapan pun muncul.
Dengan cepat, Queena bergerak, berusaha membuka jendela yang mengarah ke halaman belakang. Entah nanti bagaimana caranya, asalkan bisa terbuka Queena pasti bisa keluar.
Queena berhasil membuka kait jendela dengan mudah. Hatinya mulai lega. Namun, semua itu segera terpatahkan saat sadar, bahwa jendela itu dipaku dari luar.
"Sial!"
Dengan sisa-sisa tenaga, Queena mencoba mendorong daun jendela. Di luar, cahaya mulai meredup. Jika dia belum berhasil keluar sampai petang, apa yang akan Queena lakukan? Sementara, sekarang saja rasa takut dan cemas mulai menguasai dirinya.
"Tolooong! Siapa pun, tolong!"
Queena mencoba berteriak, tetapi itu semakin membuatnya lemah. Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk beridiri di atas bangku, melihat ke luar dari jendela kaca yang sempit. Berharap, seseorang, mungkin penjaga sekolah lewat dan menolongnya.
Air mata mulai menetes membasahi pipi Queena. Di antara perasaan takut, cemas, lapar, yang paling kuat dirasakannya saat ini adalah rasa benci terhadap Anyala.
Queen tidak dapat berhenti menangis meski tenaganya terkuras, nyaris habis. Dia terus menunggu, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
Otaknya mulai memikirkan hal-hal menakutkan. Hewan-hewan kecil yang mungkin ada di dalam ruangan itu. Tikus, kecoa atau bahkan kelabang, mengingat ruangan itu terasa lembab. Mungkin sangat jarang dipakai.
Queena mengetuk-ngetuk cepat kaca jendela saat dia melihat seseorang. Dia panik dan sangat berharap orang itu akan menolongnya segera.
"Tolong saya! Saya terkurung di sini!"
Orang itu ternyata memakai seragam yang sama dengan dirinya. Dia adalah seorang siswa.
Cowok itu menatap Queena, dia diam dan tidak bereaksi apa-apa. Di antara cahaya matahari yang kian redup, Queena tidak bisa dengan jelas melihat wajahnya.
Cowok itu mendekat ke arah jendela. Dia memajukan wajah, sangat dekat dengan jedela sehingga sekarang, Queena dapat melihat jelas wajahnya. Sejenak, dia takjub. Benarkah itu seorang siswa, atau malaikat? Siapakah dia?
Apapun itu, Queena berharap dia bukan malaikat pencabut nyawa. Meskipun kalau benar, dia ingin berlama-lama bersama cowok itu. Queena ingin mengenalnya.
Setelah berkedip beberapa kali, dengan tanpa sadar memicu gemuruh di dada Queena, cowok itu berbalik. Dia pergi begitu saja. Pergi meninggalkan Queena yang sempat sangat berharap ditolong olehnya. Queena yang juga berharap bisa berkenalan dengan dirinya.
"Tunggu! Tunggu ... Kumohon. Tolong ...."
Sia-sia! Cowok itu, sama sekali tidak menghiraukan Queena. Membuat dia kembali menangis, lebih sedih, jauh lebih sedih dari sebelumnya.
__ADS_1