
Waktu yang diberikan oleh pihak sekolah adalah tiga puluh menit untuk istirahat. Setelah itu, para peserta seleksi dikumpulkan kembali di aula untuk mendengarkan pengumuman.
Berdasarkan nilai dari tes tertulis, tes kesehatan dan tes ketahanan fisik, diperoleh empat nama. Dengan cemas Anyala menyimak siapakah kira-kira nama yang terpilih. Dia berharap namanya disebutkan oleh Bu Warni.
"Meskipun demikian, kita hanya akan mengirimkan dua orang perwakilan untuk mengikuti seleksi Paskibraka di tingkat Kota. Nama yang disebut boleh tinggal, yang lain, boleh kembali ke kelas masing-masing. Pertama, Atharazka."
Murid-murid bertepuk tangan saat nama Azka disebut. Tidak terkecuali Queena yang merasa senang dan bangga atas dipanggilnya orang paling istimewa itu. Azka berdiri, lalu memberikan hormat dan terima kasih.
"Kedua, Kevin Chandra Wasesa."
"Huuuwww!"
Murid-murid banyak yang tidak terima atas terpilihnya Kevin. Namun cowok itu tetap percaya diri, bahkan saat berdiri dia menebarkan kiss bye ke semua penjuru.
"Semua anak putra selain Atharazka dan Kevin, diperbolehkan keluar. Selanjutnya, kandidat putri ... Queena Tunggadewi."
Queena melonjak saking senangnya. Dia terpilih, itu artinya Queena telah mengalahkan banyak kandidat terpilih lainnya. Terbukti, tanpa dukungan dari siapa pun dia dapat membuktikan diri.
Terlebih, Queena senang dirinya memiliki kesempatan untuk menjadi Paskibraka bersama pujaan hatinya. Queena tidak dapat berhenti tersenyum. Sementara itu, Anyala mulai merasa kecewa.
Kenapa harus Queena? Kenapa gadis itu terpilih? Padahal, Anyala sangat berharap bahwa Queena akan tereliminasi di awal tes. Namun, yang terjadi benar-benar di luar dugaan Anyala.
Anyala memandang Queena yang tersenyum bangga. Di mata Anyala, gadis itu tampak sombong dan menjengkelkan.
"Terakhir ... kandidat terpilih adalah ...."
Semua menyimak dengan serius. Kira-kira siapa yang akan disebut namanya oleh Bu Warni. Berkebalikan dengan Anyala yang ingin namanya dipanggil, Queena justru berharap bahwa bukan Anyala yang terpilih. Akan sangat menyenangkan jika Anyala keluar dari seleksi.
Membuktikan bahwa Queena lebih baik dari Anyala. Queena menatap Anyala, yang juga menatap dirinya.
"Anyala Hayati."
Dengan disebutkannya nama Anyala, perang dingin yang berlangsung segera berakhir. Anyala bangkit, dengan perasaan sangat lega. Dengan begini, dia pikir, tidak perlu menerima hukuman dari Mama.
Sekarang, tinggal empat orang yang harus melanjutkan seleksi. Guru-guru mulai menyoroti kelas 10-F. Kedua murid terpilih berasal dari kelas yang sama.
***
Di hadapan Bu Warni dan Pak Igo yang lebih memilih berdiri, duduk bersebelahan, Anyala, Queena, Azka dan Kevin secara berurutan. Di saat-saat penting pun, Queena merasakan getaran aneh karena dia berada tepat di samping Azka.
__ADS_1
"Sekarang tes apa lagi, Bu?" tanya Kevin yang tidak sabar.
"Tidak ada tes lagi, Kevin. Sekarang, yang akan menentukan wakil sekolah dalam seleksi Paskibraka tingkat Kota adalah kalian sendiri."
Keempat murid itu pun saling pandang. Penuh dengan perasaan heran bercampur bingung.
"Silakan merekomendasikan kandidat yang menurut kalian pantas mewakili sekolah kita. Bisa merekomendasikan orang lain atau diri sendiri."
Anyala terdiam sejenak. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Bu Warni. Kalau hasil seleksinya sudah ada, sebenarnya bisa saja guru-guru memilih kandidat dengan skor terbaik.
Anyala terus berpikir. Akankah dia mengajukan diri, yang artinya dia tidak boleh mengecewakan pihak sekolah? Atau merekomendasikan Queena? Orang yang seharusnya tidak lolos seleksi menurut Anyala?
Lagipula, bagi Anyala, Queena tidak lebih pintar dari dirinya. Kalau Anyala saja tidak yakin akan lolos, apalagi Queena?
Gadis itu kembali berpikir. Merekomendasikan diri sendiri, bisa diartikan egois dan over confidence. Hal itu justru bisa mengakibatkan Bu Warni tidak memilihnya. Sedangkan merekomendasikan orang lain, bisa dinilai oleh guru sebagai kerendahan hati.
Anyala bimbang. Dia tidak ingin salah langkah. Namun, dirinya juga tidak sudi merekomendasikan Queena. Dalam diamnya, Anyala menggigit bibir bagian dalam. Mencoba menemukan jawaban secepat mungkin.
Anyala ingat Kak Nita. Apa yang akan dilakukan Kak Nita jika ada di posisinya? Kak Nita, adalah orang yang selalu mementingkan orang lain. Dia pasti akan merekomendasikan Queena.
Anyala lalu ingat Mama dan percakapan mereka pagi ini. Mama tidak ingin Anyala gagal. Anyala sendiri juga tidak ingin gagal. Meskipun bertentangan dengan penilaian Anyala pada Kak Nita, pada akhirnya dia memilih untuk merekomendasikan diri sendiri.
"Baiklah, sekarang saatnya memilih," ucap Bu Warni membuat suasana semakin beku.
"Saya, Bu."
"Silakan."
"Saya akan mengajukan diri untuk jadi wakil sekolah. Walau bagaimanapun, saya adalah salah satu orang yang lolos seleksi. Saya yakin dapat mewakili sekolah ke tingkat selanjutnya."
"Untuk wakil putra?"
"Itu ...."
Anyala tidak menyangka kalau dirinya juga harus merekomendasikan wakil sekolah laki-laki. Dia tidak memikirkan hal itu dari tadi.
"Saya merekomendasikan ... Kevin."
"Yes! Thanks, Anyala."
__ADS_1
Kevin senang mendengar namanya disebut oleh Anyala. Dia menunjukkan jempol pada gadis itu.
"Silakan, Queena."
"Saya ... saya juga akan merekomendasikan diri saya sendiri, Bu. Meskipun saya anak baru di sekolah ini, tetapi, bukankah sebenarnya semua murid kelas 10 adalah murid baru? Termasuk Anyala. Jadi, tidak ada salahnya jika saya mendapat kehormatan untuk mewakili sekolah."
"Baik, Ibu tampung usulan kamu."
"Atharazka? Silakan."
"Saya menyarankan Ibu memilih Kevin, Bu. Tidak diragukan lagi."
"Alasannya, Azka?"
"Karena dia tidak perlu diragukan lagi."
"Bagaimana dengan kamu, Kevin?"
"Saya? Jadi, Ibu setuju dengan pendapat Anyala atau Queena?"
"Keputusan Ibu bergantung pada jawaban kamu."
"Bu, mohon maaf," sela Anyala, "Meskipun kami diminta untuk merekomendasikan, pasti Ibu memiliki penilaian tersendiri. Bagaimana dengan skor yang kami buat? Pasti ada selisih walau kecil sekali pun. Jadi, andai skor saya lebih besar dari Queena, saya sangat berharap dapat terpilih."
Bu Warni diam dan menunggu. Begitu juga dengan Kevin.
"Kamu benar, Anyala," jawab Bu Warni pada akhirnya.
"Kalau begitu, Bu, saya akan merekomendasikan Anyala dan teman saya si bodoh Atharazka."
"Kevin? Kamu yakin? Skor kamu lebih baik loh, dibandingkan Atharazka."
"Sejujurnya, saya sangat ingin mewakili sekolah. Tapi, Ibu, kan tahu saya takut matahari. Saya juga punya jadwal modeling yang ketat. Jadi, lebih baik si bodoh ini yang mewakili sekolah. Lagipula, dia sudah terbiasa panas-panasan di atap. Azka pasti kuat, Bu."
Jawaban Kevin, sungguh membakar hati Queena. Bagaimana mungkin, tidak ada yang mendukung dirinya? Termasuk Bu Guru. Sebuah pil berukuran besar dan sangat pahit, telah dipaksa untuk masuk ke dalam tenggorokan Queena.
"Atharazka? Anyala? Kalian siap?" tanya Bu Warni memastikan.
"Siap, Bu!"
__ADS_1
Keduanya menjawab serempak. Pada saat yang sama, selain pil pahit, bom juga meledak dahsyat di dalam dada Queena. Lalu, apapun yang tersisa mulai terbakar, satu per satu. Semuanya nyaris hangus dan musnah.
"Jadi, kita sepakat, ya. Terima kasih, Queena dan Kevin, walau bagaimanapun, kalian tetap aset berharga sekolah ini. Kalian adalah murid kebanggaan sekolah. Setelah ini, mari kita bersama-sama mendukung Atharazka dan Anyala. Terima kasih."