Pesona Kang Sayur

Pesona Kang Sayur
Pertolongan


__ADS_3

Queena berbalik membelakangi tembok. Keputusasaan telah menguasainya. Dia juga mengutuk sekolah beserta orang-orang di dalamnya yang sangat aneh. Semuanya terasa salah bagi dirinya.


Dimulai dari Anyala, murid yang sebenarnya cantik dan cerdas tetapi jahat pada Queena.  Apa salah Queena pada gadis itu? Padahal belum lama mereka belajar dalam kelas yang sama. Tidak mungkin dua orang yang tidak saling mengenal, memiliki dendam di antara keduanya.


Lalu, pihak sekolah? Di mana para pegawainya di saat seperti ini? Apakah tidak ada seorang pun yang datang untuk berkeliling. Mereka harusnya menjaga keamanan, juga bersih-bersih di lantai empat? Ke mana mereka semua?


Lalu cowok barusan. Setelah melihat Queena terkurung dan butuh bantuan, alih-alih menolong dia justru pergi. Bahkan tanpa memberikan ekspresi sedikit pun. Apa dia juga teman Anyala?


Queena merasa tersesat di dunia yang sangat aneh. Teramat aneh dan luar biasa. Sangat berbeda dengan tempatnya dulu di mana semua orang, setidaknya yang Queena kenal, mereka adalah orang-orang baik. Orang-orang yang akan saling menyapa dan menolong bila perlu.


Sejenak, dia juga menyalahkan Mama. Wanita itu telah memaksa Queena untuk pergi bersamanya. Namun, di saat-saat seperti ini, benar-benar di luar kuasa Mama. Dan juga, Mama tidak pernah mempertimbangkan dari sisi putrinya. Apa yang akan dialami Queena dan bagaimana harus menghadapinya? Mama hanya selalu berkata bahwa semua akan baik-baik saja.


Di tengah-tengah rasa tak berdaya itu, tiba-tiba Queena mendengar pintu terbuka. Cahaya dari luar menerobos masuk, lalu terhalang sesosok manusia. Samar-samar terlihat seorang laki-laki. Queena merasa lega, dia telah tertolong dari terpaksa menginap di ruang pengap semalaman. Terselamatkan dari nasib buruk menjadi hantu penunggu sekolah andai dia mati kelaparan.


"Hey, kamu nggak mau keluar?"


Suara itu terdengar dingin,tetapi juga mendamaikan. Memunculkan keceriaan yang ganjil.


"I-iya, mau!"


Dengan sisa tenaga yang tidak seberapa, Queena berusaha berjalan menuju pintu.


"Kamu ... orang yang tadi?"


Cowok itu mengangguk, lalu dia meraih pergelangan tangan Queena. Genggamannya terasa hangat dan mantap.


"Ayo, pergi dari sini."


Queena menurut dan seketika merasa aman. Kalau saja sedari siang ada dia, mungkin Queena bisa selamat dari perlakuan Anyala.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Cowok itu mengajak Queena ke atap. Dari sana, mereka berdua bisa menikmati langit sore yang indah. Queena duduk di sebuah bangku kayu.


"Kamu lapar, kan? Makan ini."


Dari dalam tas ransel, cowok itu mengeluarkan roti yang masih terbungkus. Lalu menaruh tumbler di sebelah Queena.


"Makasih."

__ADS_1


"Siapa nama kamu?"


"Queena."


"Oh."


Cowok itu tidak memandang Queena saat menanyakan itu. Bahkan untuk duduk tenang, melihat matahari yang akan tenggelam pun tidak. Dia justru sibuk membereskan karung-karung,  lalu menyapu.


Namun, Queena tetap merasa senang. Apalagi mendapatkan perhatian saat dia benar-benar membutuhkan. Rasanya seperti mendapat curahan hujan di tengah keringnya kemarau.


"Kalau nama kamu siapa?" tanya Queena, sebelum dia lanjut menggigit roti coklat di tangannya.


"Atharazka."


"Apa?"


Cowok itu menaruh sapu lidinya, berbalik menatap Queena.


"Azka. Panggil aja Azka."


"Baik. Apa aku boleh minum?"


"Tapi ini, bekas kamu?"


"Ya, apa boleh buat? Hanya ada itu. Atau mau minum air kran?"


Queena mempertimbangkan, akankah dia minum dari bekasnya Azka, atau minum air mentah? Pada akhirnya, dia memilih untuk minum dari tumbler milik Azka. Itu pun setelah Azka meyakinkan bahwa dia tidak memiliki penyakit menular.


"Apa ... Azka bisa antar aku pulang?"


"Iya, sebentar lagi."


Andaikan hati Queena tersusun dari mahkota yang bertumpuk, pasti saat ini langsung mekar. Merekah, menebarkan wangi yang bisa dihidu oleh semua manusia di bumi.


Dia jadi mematahkan pendapatnya beberapa waktu yang lalu. Bahwa sekolah adalah tempat yang aneh beserta orang-orangnya. Mungkin, itu hanya karena Queena belum bertemu dengan orang baik. Namun, sekarang dia sudah menemukan salah satu orang itu. Bahkan, Azka bisa jadi adalah orang paling baik seantero sekolah.


"Kenapa tadi kamu pergi gitu aja?"


"Ha? Tadi? Oh, itu. Aku pergi untuk ambil kunci. Kalau nggak, percuma kan, nggak bisa nolongin kamu."


Queena mengangguk. Meskipun tetap saja heran, mengapa Azka tidak memberikan reaksi apapun saat tahu dirinya terkunci di dalam. Namun, sekarang, dia tidak bisa berpikir banyak. Queena tidak ingin mengganggu rasa senangnya, rasa bahagia karena telah diselamatkan oleh Azka.

__ADS_1


"Dah, siap!" seru Azka. Dia menoleh ke arah Queena lalu mengajaknya pulang.


"Apa yang kamu lakukan di tempat tadi?" tanya Queena saat mereka menuju tempat parkir.


"Itu adalah markasku. Khusus untukku seorang."


"Wow! Apa tidak ada orang lain yang datang?"


"Ada. Tapi di sisi lain. Kalau yang barusan itu, memang cuma aku yang datang dan ... kamu."


Jangan salahkan Queena, kalau dirinya merasa spesial. Siapa yang tidak akan merasa istimewa dengan sikap dan perhatian Azka. Terlepas dari fakta bahwa Azka adalah cowok berwajah cukup imut, kata-katanya memang berhasil membuat Queena merasa bahwa dia tidak sedang menapak di bumi.


Sekali lagi, Queena memperhatikan cowok di sampingnya. Jarak antara dagu dengan kening Azka, tidak berbeda jauh dengan jarak antara kedua telinga cowok itu. Rambut Azka berponi yang tidak ditatanya ke samping atau ke belakang.


Manis, adalah kesan yang dapat Queena simpulkan sejauh ini tentang orang yang telah menolongnya.


"Oih! Lupa, nggak ada helm."


"Kenapa?"


"Kamu nggak apa-apa, kalau nggak pakai helm? Atau mau naik ojol?"


"Euumh, sebenarnya HP-ku nggak ada sekarang. Aku pikir, nggak pa-pa, kok, nggak pakai helm."


Alasan sebenarnya Queena menolak untuk menumpang ojek daring adalah, karena dia masih mau berlama-lama dengan Azka. Diakui ataupun tidak. Meski hatinya menyangkal. Sekaligus memberi tahu Azka, bahwa dia juga kehilangan handphone.


"HP aku diambil Anyala."


"Iya. Ya, udah. Ayok, aku antar. Masalah HP, besok aja."


"Besok?"


Sebelum pertanyaan Queena terjawab, Azka melajukan motornya. Apapun yang akan terjadi besok, Queena yakin, akan jauh lebih baik dibandingkan hari ini dan sebelumnya.


Apalagi, dengan cara demikian, Queena percaya bahwa Azka akan membantunya. Tuhan mungkin kasihan melihat Queena, sehingga mengirimkan Azka sebagai seseorang yang akan berdiri di sisi Queena. Menghentikan semua sikap buruk Anyala kepada dirinya. Membantu Queena menghadapi masa adaptasi yang sulit dan berat. Mungkin juga membuat cerita yang berbeda .... Tentang masa remaja yang penuh warna.


Di bawah langit senja, Queena melangitkan harapan-harapannya. Rasa percaya begitu besar, layaknya dia percaya bahwa Azka akan mengantarkan dirinya ke rumah dengan selamat.


"Pegangan aja kalau takut," ucap Azka sambil menoleh sekilas. Meski kata-katanya terhalang helm, Queena dapat menerimanya dengan sangat jelas.


Di atas motor yang melaju, Queena menahan senyumnya. Sebelum berdoa dalam hati, agar perjalanan mereka tertunda. Rasa itu, membersit kuat. Queena tidak ingin lekas berpisah dengan Azka.

__ADS_1


__ADS_2