
Perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi saat Anyala tiba di sekolah. Suasana masih sepi.
Sesaat setelah sopir yang mengantar Anyala mengeluarkan barang bawaan, Azka datang. Berbeda dengan Anyala yang diantar asisten Papa menggunakan Jeep Wrangler Rubicon, cowok itu hanya diantar oleh pengemudi ojek.
Tidak ada yang istimewa bagi Azka. Semuanya seperti hari-hari lain, kecuali semangat dalam dirinya yang bertumbuh, berlipat ganda besarnya.
"Anya!" panggilnya.
"Ka, baru dateng ya? Rumah lo jauh nggak, sih?"
Azka cukup senang mendapat pertanyaan itu. Dia mengira Anyala mulai peduli tentang dirinya.
"Mana ada sih, yang rumahnya jauh dari sekolah."
"Hem, ke Pak Igo, yuk."
"Oke."
Mereka berdua datang lebih pagi, sebab pihak sekolah akan mengirim mereka untuk mengikuti seleksi Paskibraka di Bandung. Setelah terpilih di tingkat kota sehari sebelumnya mereka hanya punya waktu satu malam untuk bersiap.
Pihak sekolah bahkan memberitahukan bahwa kemungkinan besar, Anyala dan Azka akan dikarantina di tingkat provinsi. Sehingga mereka harus bersiap dan berangkat lebih pagi.
"Pagi, Pak," sapa Azka tegas.
"Pagi, Atharazka, Anyala. Sudah siap?"
"Siap, Pak."
"Bapak doakan kalian lolos, ya. Aaamiin."
"Siap, Pak! Terima kasih," jawab Anyala sambil menunjukkan sikap sempurna. Pak Igo dan Azka tertawa.
"Anyala ini, cocok banget kalau jadi Polwan."
"Siap, Pak. Maaf, saya maunya jadi model, Pak."
"Wuih, keren!" puji Azka.
Setelah mendapat surat tugas dari pihak sekolah, mereka bertiga berangkat ke Bandung. Pak Igo memilih menggunakan mobil pribadinya dibandingkan mobil seolah. Dengan alasan lebih lega, karena modenya minibus. Sementara sekolah hanya punya mobil sedan.
"Hati-hati. Selamat berjuang. Semoga sukses kalian," ucap Bu Warni dengan haru. Berkali-kali wanita berwajah lebar itu mengusap air matanya.
"Salam buat teman-teman, Bu," balas Azka ceria. Mobil yang dikendarai Pak Igo keluar dari area sekolah, memasuki jalan raya dan terus melaju. Menjauh. Meninggalkan jalanan yang membentang di belakang. Serta membawa sepanjang harapan yang akan menemani hingga kemenangan menjelang, hingga gemilang di dalam genggaman.
***
Sore sebelumnya ....
Berpacu dengan waktu, Azka hanya punya sedikit kesempatan untuk persiapan. Termasuk persiapan meninggalkan tanaman-tanamannya di kebun.
Langit mulai memancarkan warna jingga keemasan. Dengan segenap minat dan cinta cowok itu mengisi botol-botol plastik yang tutupnya telah dia lubangi. Menaruhnya terbalik di beberapa pot tanaman yang tidak ingin dibiarkan mati.
"Azkaaa."
Tiba-tiba Queena membuka pintu yang terbuat dari logam itu, keluar dari area tangga.
__ADS_1
"Queen? Belum pulang?"
"Be-lum. Nungguin kamu."
Queena berjalan mendekati Azka, dia habis dari bawah untuk membeli minuman dan sadar bahwa Azka sudah kembali ke sekolah.
"Gimana hasilnya?" tanya Queena dengan perasan yang aneh. Jantuungnya berdebar. Ada harapan bahwa Azka akan menjawab lolos. Artinya dia akan bahagia untuk cowok itu. Namun, Queena juga mengharapkan jawaban sebaliknya untuk Anyala.
"Kami berdua ... lolos, Queen."
"Hah? Hehe."
Tiba-tiba wajah Queena terasa sangat kaku. Bahkan untuk sekadar tersenyum saja, rasanya sangat sulit. Lebih sulit daripada persoalan Matematika yang memusingkan. Untuk menutupi rasa kecewaku, Queena tertawa. Dengan sangat terpaksa tentunya.
"Sss-selamat ya, Azka."
"Thanks, Queena. Kamu nggak pulang? Udah sore, loh."
"Kamu sendiri kenapa belum pulang, Azka?"
"Nih, lagi siap-siap. Takutnya besok nggak ke sini lagi."
"Kalau gitu aku bantuin, ya."
"Nggak usah, Queen."
"Nggak pa-pa, kok, Ka. Hari ini sebenernya aku sengaja nggak ikut bimbel demi kamu."
"Kalau gitu ... boleh nggak minta tolong sama kamu?"
"Iyaaa."
"Oh, itu. Bisa, sih, Azka. Cuma aku nggak tahu harus ngapain."
"Tengokin aja, kalau ada yang kering taruh di tempat yang teduh. Bisa, kan, Queena?"
"Ya, siap."
Queena merasa sangat senang dengan permintaan Azka. Segenap rencana telah secara otomatis tersusun rapi di dalam kepalanya.
"Azka, boleh nggak aku tanya sesuatu?"
Meskipun ragu, Queena memberanikan diri. Lagian, besok mungkin dia tidak akan bertemu dengan Azka dalam waktu yang cukup lama.
"Boleh," jawab Azka sambil mengikat tanaman anggur ke kerangka.
"Kamu nanam bunga ... mawar?"
"Iya, Queena. Aku berencana memberikannya untuk orang yang spesial."
"Oh, gitu, ya."
"Bisa kan, kamu bantu aku jaga mawar-mawar itu?"
Azka tersenyum saat mengucapkan itu. Dengan latar pemandangan langit sore yang indah. Queena seolah sedang melihat gambaran laki-laki idaman, seperti di dalam drama. Pria romantis dengan senyum manis. Sepasang mata Azka membentuk garis yang lucu. Dapatkah aku menolak permintaannya yang sederhana? Tanya Queena di dalam hatinya.
__ADS_1
"Baiklah. Serahkan sama aku."
Apapun. Apapun akan Queena lakukan untuk Azka. Orang pertama di sekolah yang baik padanya. Orang pertama, di dalam hidupnya yang mampu membuat Queena jatuh cinta. Terlebih, kalau benar mawar-mawar itu memang Azka tanam untuk dirinya.
Tidak. Queena tidak akan membiarkan lambang cinta itu mati begitu saja. Tepat pukul 5.38 sore mereka sepakat untuk pulang.
"Good luck buat besok, ya, Azka."
"Huum."
"Daah, Azka."
"Makasih, Queena."
Sepanjang perjalanan pulang Queena tersenyum. Kalau sebelumnya sekolah adalah tempat terakhir yang ingin dia datangi, sekarang, rumah adalah tempat itu.
Queena tidak terlalu berminat pulang. Dia mulai mual ketika mengingat perselisihannya dengan Mama. Andai boleh, rasanya Queena tidak ingin pulang ke rumah Om Randi.
Sementara Azka dengan terburu-buru pulang. Memberikan kabar yang menggembirakan seluruh keluarga. Rumah keluarga Azka yang cukup besar dan ramai menjadi semakin meriah. Orang tua Azka bahkan langsung mengadakan syukuran.
"Anak gue lolos jadi paskib!" teriak ayahnya Azka.
"Ih, Babe. Nggak usah teriak malu."
"Ngapain lu malu, Ka. Lu kan, berprestasi bukan ngelakuin hal salah. Patutlah kalau Babe bangga."
Mendengar perkataan ayahnya, membuat Azka merasa senang. Setidaknya, dia telah membuat kedua orang tuanya bangga.
***
Mereka sampai di Wisma Dharma Bhakti untuk mengikuti seleksi tahap pertama. Pak Igo segera mengantarkan Anyala dan Atharazka untuk daftar ulang sebelum kedua murid itu masuk ke dalam barisan sebagai wakil Bekasi.
Anyala dan Atharazka bergabung bersama 104 peserta lainnya yang datang dari penjuru Jawa Barat. Semua memiliki impian yang sama. Dapat menjadi salah satu pasukan pengibar bendera pusaka yang bertugas di Istana Negara dalam upacara kemerdekaan nanti.
"Ini nanti langsung pengumuman atau gimana ya, Pak?" tanya Pak Igo pada panitia.
"Benar, Pak. Nanti yang terpilih langsung diumumkan hari ini juga. Yang tidak terpilih bisa langsung pulang untuk bertugas di tingkat Kota atau Kabupaten."
"Oh, begitu."
"Ditunggu saja, Pak."
"Benar, Bu. Walaupun saya berharap anak-anak didik saya terpilih. Hehe."
"Semangat, Pak!" balas wanita yang ditunjuk sebagai penerima tamu itu.
Pak Igo melihat ke barisan para calon Paskibraka yang tampak gagah dan berani. Mencoba mencari-cari wajah yang dikenalnya. Namun, wajah murid-murid kesayangan yang diantar olehnya tidak terlihat jelas. Sebab, Pak Igo keburu pusing lama-lama menatap anak-anak di bawah sinar matahari.
"Duh, pusing," keluhnya.
"Tunggu di dalam saja, Pak dengan guru pendamping lain."
"Terima kasih, tapi saya di sini saja. Masa anak murid panas-panasan, saya mau enak-enakan," jawab Pak Igo tidak terduga.
Wanita berjilbab kuning itu pun terkikik, sebelum akhirnya menyerah. Kemudian dia meminjamkan sunglasess miliknya pada Pak Igo.
__ADS_1
"Terima kasih. Ayo, Anyala, Atharazka, semangaaat!"
Seorang anggota TNI yang sedang memberi komando pun menoleh ke arah Pak Igo. Lalu, pria itu membuang pandangannya ke segala arah. Pura-pura tidak ada. 1125