
"Siap, Sayang?" tanya Mama, dari celah pintu kamar Anyala. Gadis itu memang tidak menutupnya, agar dia merasa harus bersiap dengan cepat.
"Bentar, Ma."
Anyala meletakkan catokan rambut, lalu mematut diri cermin sekali lagi. Hanya untuk memastikan bahwa penampilannya cantik dan rapi.
Gaun midi berwarna krem berpotongan V-neck, dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru gelap, membalut tubuh setinggi 173 cm itu. Anyala memadankan gaun itu dengan sepasang sneakers berwarna putih. Kontras dengan betisnya yang berwarna kecoklatan.
"C'mon, Sweetheart!"
"Yah, Ma."
Anyala segera berpaling dari cermin, melangkah cepat. Menghampiri sang mama.
"You look stunning," puji Mama, akan penampilan anak gadisnya. Wajah Anyala tampak segar dengan bantuan cream blush yang dia baurkan dengan jari beberapa menit sebelumnya. Pulasan lipgloss peach membuat bibirnya tampak lebih berisi.
"Ayok, Ma."
Mereka berdua pun berangkat. Kali ini Mama memilih untuk mengendarai Mini Cooper kesayangannya. Malam ini adalah malam yang istimewa untuk Mama. Belum lama, wanita itu menerima kabar bahwa teman lamanya baru pindah ke Bekasi.
Berkat bantuan dari Papa, Mama bisa mendapatkan kontak wanita itu. Mereka pun saling memberi kabar, sebelum akhirnya janjian untuk bertemu.
"Memangnya siapa teman Mama yang pindah ke sini?" tanya Anyala penasaran.
"Teman SMP Mama dulu. Namanya, Hesti. Oh, dia juga punya anak gadis seumuran Anya, loh. Siapa tahu kalian bisa berteman."
"Oh, iya, Ma."
"Gimana sekolah Anya?"
"Baik, Ma. Nilai Anya bagus-bagus, kok."
"Pertahankan terus, Anya. Jangan sampai mempermalukan Mama dan Papa, ya. Anya tahu, hanya Anya satu-satunya harapan kami."
"Iya, Ma."
Anya memandang ke luar. Melihat lampu-lampu seolah berjalan mundur. Cahaya lampu-lampu jalan menantul di air sungai sepanjang perjalanan. Sejenak, Anyala ingin hanyut dalam arusnya. Hilang, dalam kesepian yang kelam.
"Kita sampai, Sayang."
Mama memarkirkan mobil di basement mall. Wanita itu mengusap kepala Anyala sebelum mereka turun.
"Mana wajah cantik Anyala?"
Anyala menjawab pertanyaan itu dengan senyuman dan tatapan hangat. Sampai kapan pun, Anyala akan menjadi kebanggaan Mama dan Papa dengan kecantikan serta kecerdasannya.
"Anyala, ini Tante Hesti, teman lama Mama," ucap Mama memperkenalkan.
Anyala menjabat tangan wanita itu. Dia tampak sederhana. Wajahnya yang bulat dengan rambut tergelung, membuat Tante Hesti tampak keibuan. Berbeda dengan Mama yang kerap terlihat luar biasa. Untuk acara makan malam dengan teman lama saja, Mama menyiapkan pakaian istimewa. Gaun malam panjang, berkerah kotak yang menampilkan leher dan sebagian dada. Di mana kalung berlian yang dipakai Mama menjadi sangat elegan.
Benarkah kata orang, barang bisa dibeli. Namun, selera dan gaya pribadi masing-masing orang tidak dapat diduplikasi. Walaupun ditiru sekali pun, hanya akan menjadi imitasi.
Di samping Tante Hesti berdiri seorang gadis yang berhasil menyurutkan senyum Anyala seketika.
__ADS_1
"Ini Queena, anak Tante."
"Queena?"
Perasaan terkejut dan sulit percaya membuat Anyala meninggikan suaranya saat memanggil Queena.
"Kalian saling kenal?" selidik Tante Hesti.
"Eumh, kita satu sekolah, Tante," jawab Anyala ragu-ragu. Sekarang dirinya mulai dikuasai rasa cemas.
"Bukan cuma satu sekolah, kita malah satu kelas."
Queena akhirnya mengatakan kalimat pertamanya di hadapan Anyala dan mamanya. Gadis itu terdengar cukup percaya diri, tetapi terkesan cuek dan dingin.
"Wah! Benar-benar kebetulan. Dulu mamanya yang sekolah bareng. Nggak nyangka sekarang anak-anaknya!"
Mama terdengar sangat bersemangat saat mengatakannya. Memupuk dengan subur perasaan cemas di hati Anyala. Cemas, takut, khawatir. Bagaimana kalau mereka tahu apa yang Anyala perbuat pada Queena di sekolah?
"Kamu sehat ya, sekarang, Hes."
"Iya, Nir. Terima kasih udah berusaha mencariku."
Kedua wanita itu saling berpelukan lalu cium pipi kanan dan kiri. Selayaknya teman yang lama tidak berjumpa.
"Ayo, kita makan."
Saat berjalan masuk ke dalam sebuah restoran yang menyajikan makanan Korea, Queena tetap mempertahankan sikap dinginnya. Sementara mamanya akrab bahkan berjalan digandeng teman lama, dia justru menjaga jarak dengan Anyala.
Meskipun sekarang mereka bersama orang dewasa, Queena yakin bahwa Anyala adalah manusia yang benar-benar tidak terduga. Sejak kepindahannya ke sekolah beberapa waktu yang lalu, gadis itu seolah memancarkan aura gelap.
Queena masih ingat bagaimana Anyala langsung menatapnya dengan ekspresi tidak suka. Queena bahkan mengira kalau Anyala merasa takut kalah saing dengannya. Atau, bisa jadi dia takut kehilangan para penggemarnya?
Mereka berempat makan sambil ngobrol. Tepatnya yang mengobrol adalah Hesti dengan Mama. Sementara Anyala nyaris kesulitan menelan makanannya. Dia takut kalau Queena membuka mulut dan membeberkan semuanya. Namun, yang terjadi gadis itu tetap diam dan makan tanpa minat.
Sejenak, Anyala kasihan pada Queena. Bagaimana cewek yang selama beberapa waktu ini sempat dia khawatirkan akan meredupkan kepopulerannya, justru sangat berbanding terbalik dengan semua itu.
Seperti saat ini, Queena terlihat tidak seperti seseorang yang akan makan malam di luar. Gadis itu hanya memakai kaus coklat susu yang terlihat mengenaskan dan rok denim berpotongan A-line. Membuat tubuhnya terlihat jauh lebih besar dari yang sebenarnya.
Queena juga tidak memakai perhiasan apapun. Rambutnya hanya diikat menggunakan scrunchy berwarna hitam.
Jangan bilang apa-apa, teriak hati Anyala yang dia harap bisa dimengerti oleh Queena.
Setelah makan, Mama mengajak semuanya berbelanja sejenak. Namun, Tante Hesti menolak, dia ingin segera pulang.
"Mungkin lain kali, ya, Nir. Terima kasih, atas makan malamnya."
"Yah, sayang banget, Hes. Kita ketemu cuma sebentar."
"Iya, besok anak-anak nggak libur. Biar mereka belajar. Oh, ya, Anyala," panggil Tante Hesti, membuat Anyalah mulas seketika.
"Ya, Tante?"
"Kamu ikut bimbel di mana? Soalnya, Queena belum bimbel sejak pindah ke sini."
__ADS_1
"Bimbel? Oh, Anyala nggak pernah ikut, Tante."
"Oh, gitu. Kirain ikut."
"Sebenarnya, aku udah bilangin Anyala untuk bimbel, Hes. Tapi anaknya nggak mau. Walau begitu nilainya di sekolah selalu paling bagus, kok."
"Hebat, ya, Anyala. Nggak jauh-jauh dari kamu, Nir. Ya udah, kalau gitu kita pamit dulu."
Hesti dan Queena menjauh. Sementara itu, Anyala yang masih dikuasai rasa takut pun tetap bungkam.
"Kamu mau beli sesuatu, Sayang?"
Anyala menggeleng lemah. Dia ingin segera pulang, mungkin juga mengunci pintu kamarnya dan berharap tidak pernah lagi bertemu dengan Tante Hesti.
"Ma, boleh tanya sesuatu?"
Mama yang sedang fokus ke jalan raya pun menjawabnya dengan santai.
"Tanyalah, Sayang."
"Apa ... dulu, Mama akrab dengan Tante Hesti?"
"Nggak terlalu."
"Oh."
"Kenapa, Sayang?"
"Nggak, Ma. Cuma ... Anya kurang begitu suka sama Queena. Eeeum, sama Tante Hesti juga."
"Begitu."
Anyala kembali memandang ke luar. Dia dilanda perasaan putus asa. Mungkin, dirinya akan mengecewakan Mama karena tidak bisa berteman dengan Queena seperti yang diharapkan Mama juga Tante Hesti.
"Maaf kalau Anya, nggak bisa akrab dengan mereka, Ma. Nggak sekarang, atau besok," ucap Anyala sendu. Dia tidak mau seandainya hubungannya dengan Queena membaik. Tidak. Apalagi bila harus merendahkan diri, meminta maaf pada gadis itu.
"Hahaha! Memangnya siapa yang berharap demikian? Mama cuma bercanda, Sayang."
"M-maksud Mama?" tanya Anyala menumpahkan penasaran yang meluap-luap.
"Mama bahkan benci Hesti. Tapi sekarang, Mama bahagia melihatnya begitu. Ternyata, dia memang tidak punya selera. Kamu lihat saja penampilan mereka yang kampungan itu. Gurat lelah dan tanda penuaan yang muncul di wajah Hesti, dia pantas mendapatkannya."
"Ma?"
"Habis ini, kamu mandi yang bersih. Ganti baju. Jangan biarkan virus miskin mereka menulari kita," tandas Mama tegas.
Anyala sadar, sedari tadi Mama hanya berpura-pura. Kalau tahu begitu, pasti dia akan merasa lebih nyaman. Sekarang, setelah tahu yang sebenarnya, Anyala bahkan sudah memiliki rencana untuk mengerjai Queena.
Anyala tersenyum kepada Mama yang juga melakukan hal yang sama.
"Mama cuma ingin tahu bagaimana hidupnya sekarang. Ternyata, Hesti tidak jauh lebih baik dibandingkan Nirmala."
Keduanya tertawa. Perjalanan pulang ke rumah menjadi sangat menyenangkan.
__ADS_1