Pesona Sang Mantan

Pesona Sang Mantan
Cemburu Buta


__ADS_3

[Hallo Kiran apa kabar?]


[Baik.]


[Kiran kamu tahu, dulu aku mengenalmu tanpa sengaja. Kau ingat?]


[Lalu?]


[Lalu, mencintaimu secara tiba-tiba. Dan kini, melupakanmu sulitnya tiada tara.]


[Terus?]


[Mau kah kamu kembali? Walaupun ku tahu, kau sudah tak lagi sama.]


Sepenggal percakapan antara istriku dan Dion mantan pacarnya. Walaupun sepenggal, tapi mampu mengoyakkan separuh hatiku.


*****


Malam berhiaskan bintang bertaburan. Bulan purnama bersinar terang, indah menawan. Tak seindah hatiku yang sedang dibakar cemburu.


Suasana malam yang begitu sejuk, berbanding terbalik dengan hatiku yang terasa panas dan gerah. Ingin rasanya berendam di kolam es kutub utara.


Setiap kali Kiran, bidadariku yang lucu dan menggemaskan itu menyambutku dengan hangat saat kepulanganku, aku begitu bahagia. Dan lelah ... menguap entah kemana. Tapi tidak untuk hari ini. Egoku lebih menguasai daripada perasaanku.

__ADS_1


"Mas, ini kopi dan gorengannya, mumpung masih anget," ucap Kiran, meletakkan kopi dan kudapan di meja, lalu kemudian duduk di sampingku.


"Mas, kenapa dari tadi manyun saja? Mas capek?" tanyanya, sarat khawatir.


Aku? Tentu saja tidak bergeming.


"Pengen dipijitin?" ucapnya, lagi. Aku tetap diam membisu. Tidak ada senyum apalagi cium, aku benar-benar kecewa dan murka.


Bagaimana tidak? Laki-laki mana yang tidak murka, saat istrinya diinginkan pria lain. Sedangkan aku begitu mencintainya dan selama ini tidak pernah ada konflik berarti.


"Mas, ngomong dong! Masa aku dikacangin kayak gini," cetusnya.


Tak lama kemudian dia menyalakan televisi dengan bibir dimanyunkan ke depan.


"Ngomong apa?!" teriakku. Sontak membuatnya terlonjak, karena sekali pun aku tak pernah membentaknya.


"Enggak, kamu tumben-tumbenan aneh, ada apa?" tanyanya dengan wajah tertunduk.


"Sejak kapan kamu ada hubungan sama Dion?" tanyaku dengan nada yang lebih rendah. Aku menyesal telah membentaknya, pasti begitu sakit hatinya. Sungguh aku sangat mencintainya, dan tak sekali pun pernah menyakiti istriku. Mengingat betapa sulit, aku menyembuhkan luka hatinya.


Dan kini, Dia hadir untuk merebutnya dariku? ohh tidak semudah itu ferguso ....


"Oh itu, kan kamu sendiri yang nggak bolehin aku block nomornya. Baru siang tadi dia WA-nya," jawabnya. Tanpa menjelaskannya pun aku sudah tahu.

__ADS_1


"Wait, dari mana Mas tahu, padahal aku baru mau cerita? tapi malah dikacangin." Kembali ia memanyunkan bibir dan melipat tangan di dada. Dia memang tak pernah merahasiakan sesuatu, tapi kali ini aku yang tidak bisa menahan diri.


"Dari ClonApps."


"Apa?! Mas sadap WA aku? Sejak kapan?" teriaknya. Ia terbelalak tak percaya. Lalu kemudian ia tersenyum simpul.


"Kanda cemburu?" Dengan genitnya, ia mencubit pinggangku. Ada apa ini, kenapa jadi dia yang aneh? pikirku.


"Itu artinya, kanda belum membaca balasanku untuknya." Kini hidungku yang dicubitnya, lalu kemudian melenggang meninggalkanku.


Segera kucek balasan chat istriku. Kalian tahu balasannya?


"Mohon maaf, saya tidak bisa hidup di dua alam. Bukankah kau pernah bilang akan mati jika tanpa aku? Dan satu lagi, manusia itu jodohnya sama manusia, bukan sama mantan. Ehh salah, bukan sama SETAN, apa lagi yang gentayangan."


Puas membacanya, kemudian aku blokir nomornya. Daripada aku yang terus-terusan makan hati.


"Sayang ...!" aku berhambur memeluknya yang kini sudah berbalut selimut dan menggelitik pinggangnya dengan gemas.


"Auuww ... ampun Maas!!" teriaknya


"Haha ... hentikan Mas, ahh ... geli. Mass!!"


aku menghentikannya, dan kini kami saling menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Reader, terkadang kita perlu cemburu untuk menyatakan bahwa kita mencintainya.


__ADS_2