
Fajar telah kembali ke perpaduan.
Gelap meremang, berganti mentari yang tersenyum merekah. Memancarkan rona-rona kemerahan, sungguh sangat mengagumkan.
Cicit burung camar seakan menjadi melodi, diiringi nyaring suara kokok ayam jantan di pagi hari.
Diatas pembaringan, seorang anak Adam masih menikmati hangatnya bergumul dengan selimut. Sesekali ia menggeliat manja. Menjelang musim kemarau, di perkampungan tempat orang tua Juna tinggal, memang terasa dingin.
Itu karena wilayahnya masih terbilang pegunungan. Pepohonan yang tak bisa dihitung oleh jari, menjulang tinggi. Diameternya setara dengan kedua tangan anak-anak yang di pertemukan antara tangan kanan dan kirinya.
Kendaraan bermotor juga jarang melintas, sehingga tak ada karbondioksida yang mencemari.
Kriieet ...!
Juna menekan handle pintu kayu berukiran khas kota kelahirannya, lalu mendorongnya. Menghampiri Kiran untuk memastikan istrinya telah kembali dari dunia mimpi.
"Sayang ... bangun!" ucap Juna sembari menggoyangkan bahu Kiran.
"Ehmm ... hmmm ...." Kiran menggeliat, ia enggan untuk sekedar membuka mata. Ia hanya menyingkap selimut yang sedari malam dipakainya untuk melawan dingin yang menggigit tulang.
Juna tampak beberapa kali menelan saliva, saat nampak Kiran tidur hanya menggunakan kemeja miliknya. Panjang bajunya hanya sebatas lutut.
Iya, Kiran menggunakan kemeja putih milik Juna, karena terlupa membawa piyama. Walaupun nampak kedodoran, tapi tak membuat hasrat Juna surut.
"Sayang ... ini sudah siang! Jangan menggodaku!" Kini Juna terduduk membelakangi punggung Kiran. Kedua tangannya meremas rambutnya sendiri, darahnya seolah berdesir.
"Hmm ... ehm, hehe ...." Kiran kembali mendesah kemudian terkekeh kecil melihat kelakuan Juna.
Dasar mesum, pikir Kiran.
Merasa tak sanggup menahan gejolak, kini Juna membaringkan tubuhnya di samping Kiran. Tangannya dengan lembut menyusuri susunan yang terdiri dari tulang berlapis daging, kemudian dibalut dengan kulit putih pualam. Lalu dengan kasar, membalikkan tubuh Kiran menghadap wajahnya. Pemuda dengan sorot mata tajam bak pedang itu, langsung menerkam gadisnya.
"Baiklah, kau yang memaksaku, Sayang," bisik Juna, menyusuri setiap inchi dan bagian wajah Kiran.
"Ha ... ha ... ha ...." Kedua tangan Kiran menahan wajah Juna, saat pria bertubuh atletis itu, hendak menenggelamkan wajahnya diantara gundukan empuk nan hangat.
__ADS_1
"Dasar mesum! Haha ...." cetus Kiran menepis tubuh Juna yang sedari tadi menindihnya. lalu pergi meninggalkan Juna.
"Hey, mau kemana? Hmm." Juna dengan cekatan meraih pergelangan tangan Kiran, kemudian menariknya hingga Kiran terduduk di pangkuannya. Kiran mengalungkan kedua tangannya di leher Juna. hingga tak berjarak hidung satu dengan yang lainnya.
"Aku nggak mau kedinginan, karena terlalu lama berada dalam kamar mandi, Mas," kilah Kiran sambil mencubit gemas hidung Juna. Sebelum akhirnya ia berlalu untuk mandi.
Juna melongo, sesekali ia menjambak rambutnya, karena menahan denyutan di kepalanya.
Kiran ... Kiran. Kenapa kau meninggalkanku pas lagi sa**e-sa**enya. gumam Juna.
Juna beranjak menyusul Kiran.
"Sayang ...!" Dengan suara memelas Juna menggedor pintu kamar mandi. Berharap Kiran akan iba.
"Hmm...." jawab Kiran, disela-sela aktifitasnya menggosok benda putih yang berjejer rapi di dalam mulutnya.
"Si Johny udah terlanjur bangun nih, Yang!" Kini Juna terduduk di depan pintu kamar mandi, dengan kedua kakinya terbujur. Pasrah mendengar guyuran air yang menghentak lantai.
Dengan begitu polosnya, Kiran menjawab dengan setengah berteriak "Kasih dia minum obat tidur, Mas! Supaya tidur lagi." teriak Kiran dari kamar mandi.
****
Di perkampungan, memang identik dengan sawah, kebun juga ladang. Anak-anak gembala menggiring hewan ternaknya menuju lahan yang sudah habis panen. Memandu mereka, dengan melecutkan pecut kearah belakang agar tak menyakiti ternaknya. Lalu kemudian mengawasi hewan-hewan ternaknya dari bawah pohon sambil memainkan seruling.
Saat matahari setinggi mata tombak, Kiran dan Juna sudah berada di gubug kecil yang terletak persis di tepi ladang milik ibunya.
Kiran dengan cekatan menata satu persatu, makanan yang ia masak sendiri. Ia memasak nasi liwet, tempe dan tahu goreng, ikan asin, sambel terasi beserta lalapan. Makanan sederhana, tapi jika dinikmati bersama keluarga serta suasana yang berbeda, pun akan menjadi istimewa bukan?
Sedang Juna, memanggil Ayah dan Ibunya, untuk beristirahat sembari menikmati hidangan yang disajikan Kiran.
"Nduk, ndak usah repot-repot melu mrene." Ibu Juna melepas caping, yang melindunginya dari panas.
"Nanti malah jadi hitam. Eman kulitmu, cah ayu," imbuhnya, mencubit gemas pipi Kiran.
Meskipun Kiran tidak mengerti bahasa daerah, tetapi cinta bisa membantu memahami maksudnya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mi. Lagi pula nggak setiap hari ini. Kiran ingin belajar berkebun," jawab gadis bermata teduh itu disertai senyum tulus.
"Kersane, Mi, ngraosake dados tiyang tani. Hehe ...." Juna terkekeh, menimpali ucapan ibunya.
"Yo wis, gek ayo ndang di maem, masak ane mantuku," sahut ayah Juna tak sabaran.
Selesai makan, aktifitas kembali seperti semula. Kiran membantu ibu memetik buah cabe yang sudah memerah.
Sedang Juna membantu ayahnya merapikan pinggiran kebun lalu memupuk tanaman jagung.
Merasa sudah cukup letih, Kiran duduk sejenak di pinggiran kebun. Matanya menatap takjub pemandangan yang ada di hadapannya. Setiap mata memandang, akan ia jumpai berbagai macam tanaman buah dan sayur. Ia memandang ke depan, nampak pohon kacang yang menjalar, dipenuhi dengan buahnya yang panjang menjuntai, jagung yang sebentar lagi siap panen lalu tomat pun sudah mulai menguning.
Tepat di mana ia duduk, dinaungi pohon kluwih, buahnya mirip nangka tetapi berukuran mini. Lebih kecil dari durian. Daunnya lebar meruncing, mirip seperti bintang. Saat tengah asyik menikmati pemandangan, terdengar gemericik air. Kiran mulai tersenyum dan bergumam "betapa segarnya bermain air disaat panas seperti ini."
Gadis itu menajamkan pendengarannya, langkah kakinya menyusuri sumber suara. Dan benar saja, di ujung, tak jauh dari kebun terdapat aliran sungai yang tak begitu dalam juga tak terlalu lebar. Bibir sungai berserak bebatuan kecil. Menambah kesan resik. Sekelilingnya hanya nampak tanaman jagung. Di tengah sungai terdapat batu besar yang kini sedang di duduki Kiran. Kakinya dengan leluasa bergerak maju mundur, menciptakan irama dari riak sungai.
****
Juna merasa haus. Ia berniat untuk mengambil minum di gubug. Karena minum yang dibawa sang ayah telah habis. Juna gelagapan saat mendapati ibunya tak bersama Kiran. Pun tak menjumpainya saat di gubug tadi.
"Mi, Kiran wonten pundi?" tanya Juna.
"Lho, maeng nek kono, tak kon istirahat."
Ibu Juna menunjuk pohon rindang, tempat terakhir Kiran terlihat.
Juna mempercepat langkah menyusuri setiap sudut kebun. Sengaja ia tidak berlari, supaya orang tuanya tidak begitu khawatir.
Entah sudah berapa lama gadis manis berlesung pipit itu, merendam kakinya di aliran sungai. Sesekali ia membasuh wajahnya, kemudian tersenyum menikmati sejuknya air yang meresap ke pori-pori. Beberapa meter dari tempat Kiran, sesekali nampak satu-dua orang lewat, untuk sekedar memandikan gembalanya atau menyebrang sungai. Saat ia sedang asyik memercikkan air ke sekelilingnya, tiba-tiba sepasang tangan kekar membekap mulutnya.
"Hmm ... mmm ...." Kiran
Meronta, berusah melepaskan diri. Tangan Kiran memukul bahkan mencakar lengan yang jemarinya membekap mulutnya.
*****
__ADS_1