
Hampir seminggu setelah pertemuan tak sengaja dengan belahan hatinya, Dion dilanda gundah gulana. Rasa sesal kembali menyeruak setelah 3 tahun lebih berusaha ia kubur dalam-dalam.
Setiap pagi dan sore hari setelah pulang bekerja, ia menyempatkan diri melihat kediaman pujaannya dari kejauhan.
Selalu nampak sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan.
"Permisi, Bu, apa rumah itu kosong? Saya perhatikan, selalu nampak sepi tak berpenghuni. Ibu tahu siapa pemiliknya?" tanyanya pada pemilik kedai kopi di dekat hunian Kiran.
"Barangkali mau dikontrakkan rumahnya, kebetulan saya sedang mencari kontrakan," sambungnya.
"Ohh ... itu milik Arjuna, Mas. Saat ini sedang pulang kampung," jawab seorang wanita, usianya sudah tidak muda lagi.
"Oh ... begitu, sayang sekali ya, Bu. Kira-kira sejak kapan perginya?" tanyanya lagi, seraya meneguk secangkir cairan hitam pekat, dengan uap yang masih mengepul menguarkan aroma khas.
"Sejak empat hari lalu, Mas."
Empat hari lalu? Artinya sehari setelah insiden itu. Apa kau benar-benar membenciku? Aarrghh ...!! Juna benar-benar tidak memberiku ruang gerak, racaunya, menahan geram.
"Mudik apa pulang kampung, Bu," Dion berharap mereka hanya mudik.
"Pulang kampung, Mas," jawab si ibu tegas.
Memang apa beda mudik dengan pulang kampung? pikir si ibu.
"Saya permisi, Bu," pamitnya, menyelipkan lembaran berwarna ungu di bawah cangkir kopinya.
Setelah susah payah aku mencari keberadaanmu, kini kau pergi meninggalkanku, lagi? gumamnya dalam hati.
"Tidak mudah hidup dalam bayang-bayangmu, Sayang." Ia berbicara sendiri seakan pujaan hatinya ikut mendengar.
"Aku tersiksa setiap harinya," racaunya.
"Maafkan kebodohanku, Kiran, ini semua di luar kendaliku. Arrghh ...!!" Dion menyentakkan tangan di depan kemudi. Klakson berbunyi nyaring memekakkan telinga, membuat ia terperanjat oleh ulahnya sendiri.
"Shit!!"
Ia tepikan kuda besinya di sebuah taman. Duduk termangu sekadar melepas penat. Tatapannya kosong dengan jemari saling terpaut.
"Hai, minum?" Ia seakan mendengar suara yang amat dirindukannya selama ini.
"Kau lihat? Mendung sedang bergelayut manja. Sebentar lagi pasti akan turun hujan, dan aku sangat menyukainya." Wanita itu menunjuk awan yang menghitam. Benar saja, guntur memberikan aba-abanya, lalu hujan turun dengan derasnya.
"Kenapa kau suka dengan hujan?" tanya Dion pada sesosok wanita bermandikan air hujan. Ia membiarkan rinai hujan menerpa wajahnya. Menikmati setiap tetesan yang jatuh.
"Karena hujan bisa menyembunyikan luka," jawab wanita bersurai hitam, panjang sebatas bahu.
"Ha ... ha ... itu konyol!" Dion berdecak dan menggelengkan kepalanya.
"Kau tak percaya? Kemarilah!" Wanita itu menarik tangan Dion lalu mengajaknya berlari ke tengah taman. Kini ia tidak sendiri bermain hujan. Bahkan Dion pun basah kuyub.
__ADS_1
"Menangislah bersama hujan! Maka tidak akan ada yang tahu jika saat ini kau terluka." Wanita itu merentangkan tangan membelakangi Dion. Meresapi wangi tanah kering yang tersiram air, hangat dan sangat khas.
Tanpa disadari, Dion melakukan hal yang sama. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang sosok wanita di depannya. Dengan mata terpejam, Ia menyesapi air hujan yang menyelinap pada sela-sela rambut lembut sosok itu.
"Aku merindukanmu," ucapnya. Wanita itu tersenyum. Rona merah terpendar pada kedua pipi putih pualamnya.
Ketika Dion membuka mata, saat itu pula kenangannya bersama Kiran bermandikan hujan, sirna. Tinggallah ia seorang diri, menggigil memeluk dingin.
"Arrgh ...!!" Dion menangis sejadinya, ia luruh duduk bertumpu pada kedua betisnya, beberapa kali ia mengusap wajah, lalu menyugar kasar rambutnya.
"Kiraan ...!!" Ia berteriak meluapkan emosinya.
Benar saja kata mereka, bukan hanya partikel air yang terkandung dalam hujan, lebih dari 90 persennya, adalah kenangan bersama mantan.
****
"Aku sudah siapkan air hangat untukmu mandi." Alea menatap heran suaminya. Bagaimana mungkin, di dalam mobil kehujanan? tapi mustahil baginya, untuk bertanya lebih.
"Di mana Diandra?" tanya Dion, menerima handuk dari Alea.
"Nginep di rumah utinya, Mas." jawab Alea. Dion berlalu menuju kamar mandi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Alea selalu berusaha mengambil hatinya, ia begitu sepenuh hati melayani suaminya, meskipun tak ada cinta di antara keduanya. Alea berharap, suatu hari nanti, bahagia menaungi keluarga kecilnya.
Alea menyiapkan hidangan makan malam.
Ia juga membubuhkan bubuk merica, lalu menaburinya dengan irisan daun bawang dan seledri. Tidak lupa menambahkan bawang goreng ke dalam semangkuk sop ayam hangat buatannya.
"Silahkan, Mas. Ini akan membuatmu lebih hangat." Alea menyajikan semangkuk sop beserta segelas teh jahe. Ia berdiri di samping Dion, yang sedang duduk mengambil minum.
Dion mencicipi kuah bening berbumbu, dengan paduan wartel, brokoli dan kentang sebagai isiannya. Bayangannya kembali pada masa lalu, di mana ketika ia sedang mengalami flu. Kiran membuatkannya sop yang sama.
Sementara Alea, sibuk menjelaskan manfaat sop ayam untuk kesehatan.
"Kandungan minyak atsiri pada salah satu rempah yang kugunakan, bisa menghilangkan masuk angin dan menghangatkan badan." Alea begitu detail menjelaskan.
"Selain itu, Influenza juga bisa diredakan dengan buah pala. Hal itu dikarenakan ...."
"Dalam buah pala terdapat kandungan asam oleanolat, sebagai anti virus," ucap Dion melengkapi kalimat Alea yang terputus. Mangkuk di hadapan Dion sudah kosong, pun dengan gelas berisi teh jahe.
Dion meremas jemari Alea. Ia beranjak membingkai wajah istrinya, menatapnya lekat. Seakan rindu yang sudah menggunung, tak sanggup lagi ia bendung.
"Terima kasih, Sayang." Dion terus memandang mata Alea, dengan tatapan elangnya.
Menyadari tatapan itu bukan untuknya, ditambah panggilan sayang yang tak pernah ia dengar selama pernikahannya, membuat Alea mundur bersiap untuk lari. Ia tahu, yang akan terjadi selanjutnya adalah ... Dion menggila.
Kalah cepat. Dion dengan gesit menarik tangan Alea lalu membopongnya. Alea berusaha meronta. Tetap saja, tenaganya kalah kuat dengan cengkeraman Dion.
"Kenapa? Apa ada yang salah? Kau istriku, bukan?" Dion membanting istrinya lalu menindihnya.
__ADS_1
"Tapi tidak seperti ini, Mas," ucapnya lirih, bersama air mata yang luruh.
Alea ingin melakukannya, dengan penuh cinta. Bukan paksaan, dan menjadi bayang-bayang seseorang.
Dion tak menghiraukan air mata, ia begitu garang memandangi setiap jengkal tubuh indah istrinya. Tatapan rindu dan benci yang membaur menjadi satu, membuatnya semakin buas dan beringas. Sehingga bukan desahan kenikmatan yang terdengar, melainkan teriak ketakutan karena keterpaksaan.
Rindu akan wanitanya, dan benci pada wanita di depannya. Tanpa ia sadari, hal yang sama juga dirasakan oleh Alea. Mereka sama-sama menjadi korban, korban ketidaksengajaan dan ketidakberdayaan.
*flashback on
4 tahun yang lalu ....
Awal bencana itu dimulai.
Matahari baru setengah naik ke peraduan. Sinar hangatnya menelusup celah-celah ventilasi di atas jendela, menciptakan silau saat jatuh pada kelopak mata yang masih terpejam.
Sepasang mata mengerjap setelah kembali dari dunia mimpi. Kepalanya pening dan berat. Itulah kesan yang ia rasakan saat pertama kali membuka mata.
Apa yang terjadi? Kepalaku ... kenapa pusing sekali?
Kedua Netranya menyapu seisi ruangan 3x3 meter itu. Didapatinya lelaki yang baru saja ia kenal semalam, tidur di sampingnya berbalut selimut.
Ia semakin shock saat mendapati sepaket pakaian mirip dengan yang ia kenakan malam tadi, tergeletak begitu saja di lantai.
Alea mencoba mengingat peristiwa yang telah ia lewatkan.
Seorang pemuda datang kepadanya saat hampir terlelap, membelai lembut surai yang menutupi wajahnya. Memandangnya dengan penuh kasih. Disisa kesadarannya Alea tersenyum. Entah siapa yang memulai, tapi bibir itu saling memanggut.
Sentuhan demi sentuhan yang tercipta, seolah membakar birahi yang tak terkendali. Mereka begitu menikmati.
Dosa? Jangan tanyakan! Bahkan mereka tak mengingat status lajang yang masih melekat. Begitu lah cara setan memperdaya.
Kedua tangannya menutup mulut tak percaya.
Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Ia menggelengkan kepala berulang kali. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini mustahil.
Gadis itu mencoba memeriksa tubuhnya yang terbalut. Kini air matanya luruh tak terbendung. Menyaksikan tak ada sehelai benang pun menutupi kulitnya.
Bahunya terguncang hebat seiring dengan isakannya yang semakin kuat.
Membuat teman tidurnya terusik.
"Alea, aku ...." ucap seorang pemuda yang tak lain adalah Dion.
****
Noted: Janganlah terlalu mencinta pada makhluk ciptaan-Nya, atau kamu akan merasakan patah hati yang tiada bertepi.
Sampai sini dulu ya guys, kepanjangan takut yang bacanya bosen. Jangan lupa like dan komennya. Kritik dan saran dipersilahkan.
__ADS_1