
Jika hati telah terpaut dengan jiwa, raga seakan memiliki firasatnya.
Selayaknya hubungan darah dengan air mata.
Jika darah mengalir dari sayatan luka, air mata akan berderai dengan sendirinya.
Pun jika segumpal darah telah tersakiti, mata akan mengalirkan anak sungai yang tiada henti. Selayaknya dua insan yang hatinya saling terpatri oleh cinta.
Demikian juga yang terjadi pada Kiran dan Juna.
Kiran yang dalam bahaya, membuat Juna cemas, seakan merasakan ketakutan yang sama.
"Mas ...!" Kiran menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Tolong hentikan!" Istri Juna itu, begitu erat menggenggam pegangan ayunan sambil terus berteriak histeris.
Juna begitu cemas dan khawatir, tanpa berfikir panjang ia berlari ke hadapan Kiran "lepaskan pegangan tanganmu lalu lompatlah!" perintah Juna.
"Aku akan menangkapmu," imbuhnya.
"Aku takut," jawab Kiran merintih.
"Percayalah, Sayang, semua akan baik-baik saja," Juna mencoba meyakinkan Kiran.
"Baiklah, pada hitungan ketiga ya."
"Satu ...." Juna mulai memberikan aba-aba.
"Dua ...." Ayunan bergerak maju dengan kemiringan sekitar 45 derajat.
"Ti ...." hitungan belum selesai, tetapi Kiran sudah melompat. Juna yang tanpa persiapan sempurna, terjengkang ke belakang, kemudian terguling di atas rumpun bunga Zinnia. Kawanan kupu-kupu berhamburan terbang mencari tempat berlindung.
Mereka terguling hingga akhirnya terhenti di permukaan tanah yang lebih landai. Netra Kiran terpejam di balik pasmina, sedangkan tangannya semakin erat mendekap Juna.
Tangan Juna menyingkap tabir, nampaklah wajah ketakutan Kiran. Matanya terpejam erat menahan perih dan takut yang melebur menjadi satu.
"Hai," sapa Juna.
"Hm," jawab Kiran masih ketakutan.
"Sampai kapan kau akan memelukku seperti ini?" tanya Juna. Istri Juna membuka mata.
"Apa kau tidak merasa berat menanggung beban tubuhku?" Kiran merenggangkan pelukannya, saat menyadari tubuhnya tertindih oleh suaminya, sedari tadi. Mereka tidak sadar jika sepasang mata telah mengawasi.
"Ehm ... Ehm ...!" Suara dehaman mengagetkan keduanya. Juna beranjak lalu merapikan bajunya, kemudian membantu Kiran berdiri.
"Apa yang kalian lakukan?" selidik petugas keamanan yang kebetulan berpatroli.
"Jatuh pak," jawab Juna.
"Jelaskan tentang apa yang aku saksikan!" perintahnya, seakan tak percaya dengan pembelaan Juna. Kemudian Juna menjelaskan duduk perkaranya, membuat petugas bergeleng.
"Apa kalian tidak membaca, papan peringatan itu?" tanya petugas menunjuk sebuah papan bertuliskan 'Ayunan ini rusak.' Sebagian tulisannya tertutup oleh tanaman perdu. Keduanya saling berpandangan. Juna mengangkat kedua bahunya, sementara kiran menepuk keningnya dengan telapak tangan.
"Kalian harus bertanggung jawab, Karena kalian sudah merusak sederet bunga Zinnia." Dengan suara lantang, petugas keamanan memberikan hukuman.
"Baik, Pak," jawab keduanya dengan wajah tertunduk.
"Siapa namamu?" tanya petugas pada Juna.
__ADS_1
"Juna, Pak," jawab Juna.
"Dan pacarmu?"
"Saya istrinya, Pak. Nama saya Kiran," kini giliran Kiran angkat bicara.
"Bagus! Karena kamu istri dan bukan pacar, maka hukumanmu diperingan," jelas bapak separuh baya itu, sambil berkacak pinggang dengan tangan kanan memilin ujung kumis nya.
"Sungguh, Pak?" tanya Kiran, berbinar.
"Iya, karena hukumanmu akan dikerjakan oleh suamimu." Bapak berperawakan tinggi besar itu, berjalan dengan gagah, meninggalkan keduanya.
"Apa, Pak?!" tanya Juna tak percaya.
"Jangan banyak bertanya. Segera ambil peralatan dan bibit tanaman di kantor. Kalian tanam kembali, menggantikan yang telah kalian rusak!" perintahnya, seraya menunjuk suatu ruangan dengan pentungan. Baik Kiran maupun Juna, hanya saling pandang. Juna menatap tajam, sedang Kiran menautkan kedua alisnya, tanda tak mengerti.
****
"Okey, baik ... bibit sudah, pupuk ada, skop dan ...." Juna memeriksa kembali bahan-bahan yang di perlukan.
"Oh iya, cangkul," ucapnya lagi.
"Aku akan mulai menggali tanahnya, lalu kamu yang menanam bibitnya ya, Yang."
Tanaman bunga yang rusak, kini sudah tercabut semua dan dipindahkan. Juna pun mulai menggali tanah menggunakan cangkul.
"Mas gak denger, tadi kata pak sipir?" Kiran duduk di kursi taman.
"Pak satpam, Yang." Juna menimpali.
"Anggap saja kita lagi di penjara, Mas, dan kita tahanannya." Kini Kiran berdiri dengan menyilangkan tangan.
"Pasal 1 wanita selalu benar. Pasal 2 ...."
"Jika wanita salah, maka kembali ke pasal 1" Juna menyela ucapan Kiran.
"Dasar Betina!" umpat suami Kiran.
"Apa kamu bilang?" Kiran berkacak pinggang menantang Juna.
"BETINA!" Juna mengulangi perkataannya dengan lantang.
"Coba ulangi sekali lagi!" pinta Kiran, raut wajahnya merah padam. Mengguratkan amarah.
"B-e be, T-i ti, N-a na. Betina, Anda puas?!" Juna tak kalah berang.
"Beraninya kau memanggilku betina!"
Kiran membuang muka, membelakangi Juna. Kemudian terjadi perdebatan sengit.
"Baik, sekarang gini, kamu pria atau wanita?"
"Wanitalah!"
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan."
"Perempuan, artinya jantan atau betina?"
__ADS_1
"Beti ...." kalimat Kiran menggantung.
"Kamu pikir aku hewan?!" ucap Kiran kembali naik pitam.
"Kalian mau bekerja atau bertengkar saja?" tanya security yang entah datang dari mana.
"Diam kamu!!" bentak Juna dan Kiran bersamaan, seraya mengacungkan jari telunjuk mereka tepat mengenai wajah security.
Sesaat kemudian, mereka menurunkan jemarinya lalu menundukkan kepala. Sedang petugas keamanan berjalan mondar-mandir, menghentakkan pentungan yang dipegangnya dengan tangan kanan, lalu di hentakkannya ke telapak tangan kiri.
"Selesaikan pekerjaan kalian! SEKARANG!!" perintah security. Kiran dan Juna pun bergegas menanam kembali pohon demi pohon bunga Zinnia.
"Ini semua gara-gara kamu!" umpat Juna saat mereka sudah kembali duduk beriringan. Tangannya dengan cekatan menuangkan pupuk pada lubang-lubang yang sudah digali.
"Dasar laki-laki lemah!" balas Kiran
"Ck ... ck ... Jika perempuan lebih kuat, tak mungkin lelaki akan mendampinginya!" Juna berdecak membela diri.
"Perempuan sanggup membawa dua bukit sekaligus." Tangan kiran menepuk-nepuk gundukan tanah yang sudah berisi pohon. Ia berbisik di telinga Juna "sedang pria, membawa dua butir telor puyuh, masih meminta bantuan burung, pun beserta sarangnya." Kiran tersenyum miring melihat mata Juna yang membulat.
"Bener-bener nih ya, Betina!" Juna melumuri wajah Kiran dengan tanah yang sebelumnya Juna campur dengan air.
"Eh, masih berani ya? Manggil betina!!" Kiran tak kalah berang dan akhirnya kembali terjadi perang dunia ketiga. Saling adu mulut, mencoreng muka, dan mengejar satu sama lain. Membuat seseorang yang mengawasi, menggelengkan kepala.
"Terserah kalian saja." gumamnya menyerah.
"Sekali lagi kau bilang aku betina, aku akan memanggilmu kacung?!" ancam Kiran kepada Juna.
"Apa kamu bilang, kacung?" tanya Juna, berkacak pinggang.
"Kenapa? Toh Mami, sering memanggilmu kacung," jawab Kiran dengan entengnya.
"Ha ... ha ... kamu tahu, apa artinya?" tanya Juna.
"Apa?" tanya Kiran, ketus.
"Anak laki-laki kesayangan!" Kiran menutup mulut dengan kedua tangannya. dipikirnya, kacung adalah pesuruh.
"Aku bukan anakmu, tapi aku adalah calon ayah dari anak-anakmu," imbuh Juna, mengerlingkan mata. Kiran tampak tersipu.
"Bagaimana kalau panggil aku, Sayang aja?" Juna memegang kedua tangan istrinya.
"Atau cinta?" Juna memberi pilahan.
"Sepertinya kau tak pernah memanggilku demikian, atau jangan-jangan ...?" Suami Kiran itu menggantung kalimatnya.
Air muka Kiran, yang tadinya berbinar kini berubah redup. "Eh, hukuman kita sudah selesai. Ahh ... aku capek sekali." Bahkan ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Bisakah aku istirahat dulu, ...."
Sial dia berdalih. Hati Juna bergumam
"Sayang." Kiran melanjutkan ucapannya, kini ia tersenyum lebar melihat Juna yang menjadi salah tingkah.
****
maafkan Author yaa, becandanya gak lucu🙏
tetap tinggalkan like dan comment untuk semangatku. kritik dan saran, di persilahkan
__ADS_1