Pesona Sang Mantan

Pesona Sang Mantan
Tulang Belulang


__ADS_3

Sebagai penutup, kunikmati segelas jus alpukat meneguknya perlahan lalu kemudian ....


Bbbuuuuurrrrrrttt


Aku menyemburkannya tepat di hadapan mas Juna bersamaan dengan suara seseorang memanggil namaku.


"Hai Kiran."


Untung mas Juna sigap menutupi wajahnya dengan nampan yang tak sengaja tertinggal oleh waitress, saat mengantar makanan tadi, sehingga wajahnya tak basah oleh semburanku.


"Kiran apa kabar?" ucapnya, sembari mengulurkan tangan. Aku telungkupkan kedua tanganku kemudian berujar "aku sehat, Mas, emm Dion," jawabku, kikuk. Tak kupungkiri, dia memang mantan. Kendati demikian, setiap bertemu dengannya aku selalu gugup. Rasa marah dan benci serta gerogi selalu menari-nari. Apalagi bertemu disaat seperti ini. Ya Tuhan, seandainya aku bisa menghilang, akan ku bawa serta mas Juna meninggalkan tempat ini dengan seketika.


"Juna mas, perkenalkan nama saya Juna," ucap mas Juna, memecahkan keheningan di antara kami. Ternyata tangan Dion masih terulur, beruntung mas Juna menjabatnya kemudian memperkenalkan nama.


"Ohh ... sorry ... sorry. Hai Juna, saya Dion. Kamu, kakaknya Kiran? Saudara atau ...?" tanya Dion, dengan tatapan menyelidik.


Kemudian duduk di sampingku.


"Saya kekasihnya Kiran, Mas," jawab mas Juna, sembari melirikku lalu menaikkan satu alisnya. Aku hanya tersenyum, sudah pasti jiwa isengnya meronta-ronta.


"Maaf ya, Mas, ada yang bilang jika dua insan duduk berduaan, nanti di tengah-tengahnya setan. Ijinkan saya menjadi setannya, Mas, daripada setan tak kasat mata, bikin khilaf," ujar mas Juna, saat nyelonong duduk menggantikan posisiku. Aku kemudian bertukar tempat duduk dengan mas Juna. Kami pun tertawa.

__ADS_1


Dion bercerita banyak tentang hubungan kami, dan tak henti-hentinya memujiku. Mas Juna tampak berubah-ubah ekspresinya. Pasti dia tidak nyaman. Lelaki mana yang rela, wanitanya dipuji oleh lelaki lain?


Puncaknya, Dion melontarkan candaan "Di dalam islam, pacaran itu dilarang. Maka dari itu aku akan merusak hubungan kalian. Selain aku mendapatkan pahala, kalian pun terhindar dari dosa. Haha ... seharusnya kalian berterimakasih padaku." semoga saja ini hanya banyolan Dion semata.


Dengan tenangnya mas Juna menjawab "Iya, Mas, terimakasih telah membuang mutiara seindah Kiran. Tanpa Mas Dion membuangnya, mana mungkin saya bisa menjaganya sampai bila-bila (selamanya)."


"Saya memang pacarnya Kiran, Mas, Pacar dunia akhirat alias kekasih halalnya," imbuh mas Juna, menggandeng tanganku, beranjak untuk berlalu.


"Kami permisi dulu, Mas," ucap mas Juna, sembari tersenyum dan menjabat kembali tangan Dion.


"Satu lagi, Mas, dalam islam, memisahkan seorang suami istri, itu hukumnya haram. Dosa besar, Jahannam pasti menanti."


Kulihat, Dion mukanya memerah dan tangannya mengepal menahan amarah. Aku yang sedang ketakutan, mengelus pundak mas Juna dan memeluk erat tangannya.


"Dasar." Aku meninju bahunya.


****


Mood untuk jalan-jalan sudah rusak. Akhirnya kami putuskan untuk pulang. Hari ini mentari bersinar dengan teriknya. Panas serta gerah, ditambah suasana hati yang sedang kacau membuat kami haus.


Kami putuskan untuk mampir di sebuah minimarket untuk membeli minuman. Di samping minimarket ternyata ada tukang gorengan juga. Pas banget buat istirahat sejenak. pikirku

__ADS_1


"Mas, aku beli minum dulu ya, Mas, tunggu saja di situ!" Aku menunjuk sebaris bangku tunggu di depan minimarket.


"Oke, jangan lama-lama!" jawab mas Juna, seraya menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf o


Tak butuh waktu lama untuk mengambil apa yang aku butuhkan. Aku segera membayarnya ke kasir. Saat hendak membuka pintu minimarket, kulihat mas Juna, wajahnya memerah. Matanya mengeluarkan bulir-bulir bening dan tangannya memukul lutut berulang kali. Pasti dia sangat kacau hari ini.


"Mas, ada apa, kenapa menangis?" tanyaku menghapus air matanya. Mas Juna merebut air di tanganku lalu meneguknya hingga tandas.


"Aku minta maaf ya, untuk hari ini." ucapnya merunduk


"Nggak dek, gak apa-apa," jawabnya, terengah-engah.


"Tadi Mas lagi makan gorengan," ucapnya, lagi.


"Lalu?"


"Cabenya udah terlanjur dimakan, gorengannya jatuh."


*tepok jidat*


Aku menunduk kebawah dan benar saja, ada sepotong bala-bala sudah berbalur pasir.

__ADS_1


"haha ... Dasar." perutku terasa kaku dan mataku meneteskan air mata, saking terpingkalnya aku menertawakan kemalangan mas Juna


****


__ADS_2