Pesona Sang Mantan

Pesona Sang Mantan
Kenangan tak Terlupakan


__ADS_3

Berbeda itu indah, bukankah Indonesia memiliki berbagai macam suku dan bahasa? Menjadikannya semakin kaya akan budaya. Dan berdialog dalam bahasa daerah itu sangat unik, menambah wawasan jika kita mau belajar. Atau ... akan menjadi salah kaprah saat kita malu untuk bertanya apa maksudnya.


Saat ini, kami sedang berkunjung kerumah Abah, salah satu kerabat kami di Bogor. kota yang terkenal dengan sebutan kota hujan, dengan puncak kebun teh sebagai icon. dengan sunda sebagai suku serta bahasa daerahnya.


Di sini kebetulan ada sebidang kebun kami yang di rawat oleh Abah. Mas Juna juga sudah mulai belajar bahasa sunda walaupun baru beberapa kata seperti 'henteu(tidak)' dan 'muhun(iya)'


Kebun kami memang tidak begitu luas, tetapi sepetak kolam ikan dan ragam sayuran menghiasinya. Dan itu semua abah yang mengelolanya.


Abah dan Mas Juna berencana menangkap ikan untuk dibuat pepes oleh Ummi. Sedangkan aku bertugas merapikan rumah. Kebetulan Ummi sedang pergi kesawah dan Ucup, anak bungsu Abah tak kelihatan batang hidungnya semenjak aku datang.


Dari pintu dapur, terlihat mas Juna berjalan gontai, ia terlihat sangat letih. Mungkin dia belum terbiasa. Maklum saja setiap hari kerjaannya hanya berkeliling. Cukup tunjuk ini dan itu.


"Mas dari mana, kok dari ujung sono?


Bukannya kebon kita ada di depan?"


Kusodorkan segelas air minum yang langsung diminum habis tak bersisa.


Sepertinya dia haus belaian hangat.


Ehh maksudnya haus teramat sangat.


"Alhamdulillah ...." ucapnya setelah kembali bugar.


"Dari rumah pak Sobur dek. Tadi memintaku untuk nganterin ikannya ke tukang."


"Ohh ...." aku melenggang kembali mengelap kompor.


Wait!! Abah yang suruh? Sepertinya ada bau-bau tak sedap.


Aish ... maksudku bau-bau tak beres.


"Mas, gak salah mengerti lagi kan, ya?" Tanyaku kembali meyakinkannya bahwa aku adalah bidadarinya.


Aih malah ngelantur


"Enggak dek, Mas sudah tanya dua kali tadi.


"Kata abah, Mas, tos cukup iyeuh ikannya (Mas, sudah cukup ini ikannya). Sok ayeuna taruh di tukang. (sok sekarang taruh di belakang)." Si Mas memang paling fasih menirukan gaya bicara Abah


"Di tukang bah?"

__ADS_1


"Muhun."


"Di tukang mana bah?"


"Di tukang eta, naon teh? Di belakang rumah."


"Oh. Muhun bah siap."


Begitu kira-kira.


"Kan dibelakang rumah Abah yang tukang cuma pak Sobur dek. Tukang reparasi elektronik." Kata si Mas membela diri.


* tepok jidat.


"Kunci motor mana, Mas?"


Aku mendelik sembari menadahkan tangan.


"Ada di saku jaket yang digantung Dek."


"Segera ganti bajumu, dan ayo kita pergi."


"Emang mau kemana, Dek?" Dengan polosnya dia bertanya.


****


Malam hari tanpa bintang.


mendung bergelayut manja menutupi sang rembulan.


sesekali gerimis membasahi dahan-dahan serta bunga yang bermekaran.


"Kayaknya enak ini Yang, kita bikin pisang goreng," ucap Mas Juna berlalu menuju dapur.


"Ayo," jawabku, mengikuti langkah kakinya.


"Yank, chef Juna itu selalu bisa menciptakan resep masakan baru dan mewah. Makanan orang-orang berkelas. Hebat ya," ucap mas Juna, pandangannya menerawang jauh ke angkasa raya. sebuah wisk tergenggam di tangannya yang sedang asyik mengaduk campuran tepung terigu, air dan margarin


Entah kesambet dari mana, tiba-tiba mas Juna bahas kembarannya itu. Ehh


Karena belum paham arah pembicaraannya, Aku hanya mampu menjawab

__ADS_1


"lalu?"


kini, tanganku dengan sangat cekatan memisahkan buah pisang dari kulitnya. pisang uli hasil panen dari kebun tadi pagi.


"Resep masakan Mas, cuma itu-itu saja. Sayur asem, cah kangkung, sayur sop. Paling yang agak ribet, bikin pisang goreng kipas. Butuh skill yang mumpuni. Tidak sembarang orang bisa bikin, Yang, Hehe" Kali ini Mas Juna mengiris tipis-tipis daging pisang, disisakan sedikit diujung agar kemudian membentuk kipas saat digoreng.


Memang benar yang dikatakan mas Juna. Aku sendiri selalu gagal saat masak pisang goreng kipas, selalu putus di tengah jalan.hehe


"Sepertinya butuh eksperimen baru deh, Yang," imbuhnya


"Ngomong-Ngomong soal pisang, ternyata manfaat pohon pisang itu banyak lo, Mas." jawabku mengalihkan topik pembicaraan.


Aku menaruh wajan lalu menuanginya dengan minyak goreng lumayan banyak.


"Menempati posisi kedua setelah pohon Nyiur, alias pohon kelapa." imbuhku, seraya menyalakan kompor.


"Pohon pisang paling yang dimanfaatkan buah sama daunnya saja, Dek. Masih kalah sama pohon singkong, buahnya bisa diolah berbagai macam olahan. Daunnya bisa disayur dan kayunya dimanfaatkan untuk kayu bakar." jawab mas Juna dengan penjabaran menurut pandangannya.


"Nih dengerin, Mas, buah pisang bisa diolah menjadi berbagai kudapan. Jantung pisang, bisa disayur. Daun pisang juga bisa di manfaatkan buat bungkus kue-kue khas, atau buat pepes." cetusku


"Pelepahnya bisa dijadikan pakan ternak. Satu lagi mas, selain buah pisang bisa di makan, ternyata kulit pisangnya juga bisa dimasak loh." Imbuhku


Mas Juna memasukkan satu per satu adonan pisang ke wajan yang minyaknya sudah mulai panas. "Hah yang bener dek? Waahh bisa masuk daftar resep masakan terbaru nih." Jawabnya dengan binar bahagia, sebelum kemudian berubah dengan tatapan curiga.


"Tapi adek tahu darimana?" selidiknya penuh tanya.


"Adek tahu dari facebook, Mas," jawabku.


Ku taruh panci kecil ditungku kompor satunya, lalu menyangi air secukupnya. untuk membuat teh dan juga kopi.


"Itu ada kulit pisang, Dek, kita bikin yukk! Cara masaknya bagaimana?" tanya mas Juna penuh semangat.


"Iris tipis kulit pisang. Siapkan bumbu, lalu tumis seperti biasa. Tambahkan air, aduk sampai mendidih lalu masukkan kulit pisangnya. Kalau mau disantenin, tinggal masukin santan instan tunggu sampai mendidih, cek rasa, selesai," jawabku menggurui


"Waahh mas penasaran bagaimana rasanya ya, Dek?" tanya mas Juna sambil memicingkan mata, mungkin membayangkan rasa sayur kulit pisang


"Adek gak tahu mas, soalnya di sini tertulis hanya bisa dimasak. Bukan bisa dimakan."


"Oncom!!!" teriak mas Juna.


"Kulit pisang, Mas, bukan oncom." jawabku terkekeh geli

__ADS_1


****


__ADS_2