
Pov Kiran
Ketika sang fajar mulai menyingsing, gema suara mu'adzin melantun merdu, jiwa ini pun kembali, setelah puas melanglang di dunia mimpi.
Segera beranjak dari peraduan untuk membersihkan diri, lalu kemudian bercengkrama bersama Robbku. Betapa aku bersyukur atas nikmat dan karuniaNya.
Badan yang sehat, rezeki yang mengalir keberkahan bak air, keluarga yang sempurna dan bahagia. Serta suami yang baik lagi setia tentunya.
"Semoga selalu istiqomah ya, Mas, mencintaiku dalam diammu, serta menjagaku di dalam setiap do'amu," lirih, ku ucapkan sembari membelai wajahnya, kemudian mencium keningnya.
Pelan kurasakan, tangan mas Juna meremas jemariku, sebelum kemudian menarikku dalam dekapannya. Sontak saja membuatku terkejut.
"Mas ...!" teriakku.
Segera melepaskan diri dari dekapannya.
"Mas sudah bangun, kenapa gak langsung turun? Segera mandi dan sholat?" omelku, hanya sekedar untuk menutupi malu.
"Karena aku menunggu mantra ajaibmu, Sayang, yang setiap pagi kau ucapkan sebelum akhirnya, membangunkanku dari mimpi-mimpiku." ucapnya, dengan kerlingan mata.
Hadduuuhhh hatiku merosot mak. Ehh meleleh
Busshhh ....
Seketika hawa panas menjalar di wajahku, mungkin saat ini kedua pipiku sudah seperti tomat, atau mungkin seperti kepiting rebus.
"Kau tahu, entah mengapa tubuhku terasa bugar, dan hatiku? Tentu saja bahagia setiap mendengar mantra itu. I love you, Honey," bisiknya, lalu melenggang pergi.
Aku? Seketika tak sadarkan diri
__ADS_1
*****
"Jalan-jalan yuk, Dek!" ajak mas Juna. Kebetulan hari ini mas Juna libur karena hari sabtu.
"Ngapain? Kan kata pemerintah juga harus Social Distancing. Harus berdiam diri di rumah," jawabku, masih asyik dengan novel-novel bergenre horor.
"Iya karena itu, Mas pengen ajak Adek jalan-jalan. Nanti pulangnya, kita beli beras dan kebutuhan yang lain. Supaya nanti gak terlalu sering keluar rumah," jelasnya, panjang lebar.
"Oke ... ayo!" Segera ku ambil tas slempang dan mengenakan sepatu sneaker, sepatu ternyaman menurutku.
"Sudah, begini saja? Gak pakai ganti baju atau dandan?"
"Aku lebih nyaman gini, Mas."
Iya, inilah aku saat ini hanya menggunakan gamis casual motif kotak dengan list warna hitam merah, dipadu kerudung segi empat dengan warna merah.
"Yo wis lah ayo!"
****
Ohh Tuhan, dari sekian banyaknya mall, kenapa harus ada dia disini?
"Dek, kamu tahu hari ini hari apa?"
tanya mas Juna sembari meremas jemariku dengan lembut. aku tersentak dari lamunanku.
"Hari Sabtu, Mas," jawabku mencoba untuk tidak gugup.
"Sungguh kamu gak ingat hari apa?"
__ADS_1
Dia kembali bertanya. Lalu kemudian merogoh kantong celananya, sebelum kemudian berkata "kejutaann ...! Happy Anniversary, Honey," ucapnya menyerahkan kotak kecil. Ketika kubuka, ternyata berisi kalung dengan liontin hati.
Romantis sekali, pikirku.
"Jadi ini rencananya?" tanyaku dengan binar bahagia. Aku tidak menyangka dia mengingatnya disaat aku tidak memikirkannya sama sekali.
"Terimakasih Mas, kau sungguh baik. Aku suka hadiahnya. Terimakasih, Sayang," ucapku lagi.
"Ya sudah, simpan dulu di tasmu. Nanti di rumah Mas pasangkan untukmu. Mari kita nikmati makanannya. Hari ini, Mas yang traktir."
"Asyik makan sepuasnya." Aku terkekeh geli
Dengan cepat kusimpan pemberiannya.
Beralih menatap meja yang kini berisi piring-piring makanan favorit kami.
Gurame asam manis, cah kangkung dan sambal terasi.
Sebagai penutup, kunikmati segelas jus alpukat meneguknya perlahan lalu kemudian ....
"Hai Kiran ...!"
Bbbuuuuurrrrrrttt
Aku menyemburkannya tepat dihadapan mas Juna, bersamaan dengan suara seseorang memanggil namaku.
Suara itu?.
Bencana apa lagi ini?!
__ADS_1
Ya Tuhan selamatkanlah aku. Jangan sampai di antara mereka terjadi baku hantam.