Pesona Sang Mantan

Pesona Sang Mantan
Cemburu


__ADS_3

Malam semakin larut, langit terlihat gelap gulita, sesaat sebelum fajar menyingsing. laksana gelapnya hati tanpa disinari cahaya kasih. Semakin larut akan semakin sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik yang melantunkan dzikir sebagai bentuk rasa syukur.


sunyi ... sepi ....


sesunyi hati, seorang gadis di sisi pembaringan. Tidur dengan membelakangi suaminya, yang sudah pulas sedari tadi. sesaat setelah ia menyelesaikan hasratnya.


Begitu kosong serta hampa hatinya, tanpa cinta menghiasi. sakit, teramat sakit ia rasakan. layaknya tergores tajamnya pisau berkarat. bagaimana tidak? lelaki itu merengkuh nikmat bersamanya, tapi terucap nama wanita lain, di saat puncak kenikmatannya.


"Aaahhh ... Sayang," lenguhnya, bersamaan dengan semakin eratnya ia mendekap gadis berparas manis itu. terdengar begitu merdu, kemudian hangat menjalar di hati Alea.


Tapi kehangatan itu mendadak sirna saat Dion berbisik di telinganya "Terima kasih, Kiran."


Duuuaaarrr ....


Laksana petir menyambar sesaat sebelum datangnya hujan. tanpa mendung mengiringi, hujan itu pun mengguyur pipi Alea dengan derasnya.


Tampak butiran-butiran kristal di sudut matanya, terus berdesakan memaksa mengalir walau Alea, sudah susah payah untuk menahannya. Ia memejamkan matanya, membiarkan bulir-bulir bening itu mengalir dengan leluasa. membasahi bulu mata lentik itu.


sesekali ia menyekanya dengan ujung selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.


Apa kurangnya Aku, Mas? Betapa sulit memenangkan hatimu, sekeras apapun aku berusaha, kau sama sekali tak menganggapku ada. Meskipun sudah ada Diandra sebagai pengikat, nyatanya tidak merubah apapun. Hatimu tetaplah beku. Kau memang milikku Mas, tapi cinta dan hatimu, tak pernah menjadi hakku.


gumam Alea, disela-sela isakannya.


Sesungguhnya aku juga tak menginginkan keadaan ini, tapi aku bertahan demi Diandra. Demi putri kita yang tak bersalah. Aku tak ingin Diandra merasakan pahitnya sebuah perpisahan.


Puas Alea menangis, hingga ia terlelap dibuai sang mimpi.


****


Di belahan bumi yang lain dan waktu yang berbeda ....


POV KIRAN


Saat pertama kali menapakkan kaki di kota ini, mata akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang sangat asri.


Bulir-bulir padi yang berayun-ayun pada dahannya, ketika angin sepoi-sepoi menyapanya lirih. Hijau, terhampar luas seolah permadani raksasa berlapis beludru, sedang menyelimuti bumi dari dinginnya malam tadi.

__ADS_1


Bunga-bunga ilalang pun, berusaha mempertahankan diri. Berpegang erat dengan dahan, meski kadang tak kuasa terbawa terbang oleh angin.


Saat ini, matahari baru setinggi mata tombak. Masih malu-malu menampakkan sinarnya yang terik. Udara masih begitu sejuk, embun pun masih bergelayut manja di setiap ujung rerumputan.


Di sini, di Kota kelahiran mas Juna. Kota kecil dengan segala keunikannya. Di BLORA MUSTIKA, kami berada. Menikmati cuti tahunan di kota yang mana, Keripik Tempe dan Sego Rawon menjadi kuliner khasnya.


***


"Nduk, tadi Mami nitip belanjaan pada bu Karni, bahan buat masak-masak besok. Tolong ambil ya!" Pinta mertuaku padaku.


"Baik mi." Segera aku menuju warung bu Karni untuk mengambil pesanan mami. Entah ada acara apa, tapi rumah mami hari ini begitu ramai dan meriah, seperti akan ada pesta.


Banyak tetangga berdatangan dan langsung sibuk di dapur mengolah aneka macam makanan. Kertas warna warni panjang menghiasi setiap sudut ruangan, lalu kemudian bermuara pada bucket bunga besar yang menggelantung ditengah-tengah ruangan.


Sepanjang jalan terlihat sanak saudara sedang bersorak sorai, bernyanyi ria serta bergembira melepas rindu, seakan lama nian tak bertemu. Maklum saja anak serta menantu mami memilih merantau dan hidup di kota termasuk juga mas Juna dan aku tentunya.


Tak butuh waktu lama aku mengambilnya, karena memang jarak rumah bu Karni tak terlalu jauh dari kediaman mami. Ku angkat sekotak kardus sebesar kardus air mineral gelas yang didalamnya sudah ada bahan masakan lengkap beserta bumbunya. Dengan perut sebagai tumpuan, aku mulai berjalan sembari bersenandung.


Wait!! Ini aneh. Kenapa harus aku yang mengangkat? Bukankah aku tidak boleh mengangkat beban karena suatu riwayat? Biasanya aku akan melimpahkan tugas-tugas seperti ini kepada mas Juna.


Tapi ngomong-ngomong di mana mas Juna? Tadi aku meninggalkannya di bangku taman saat mami memanggilku.


"Mi, ini belanjaannya." Segera kuletakkan beban dalam kardus itu ke sudut dapur.


"Matursuwun Nduk!" Mami tersenyum simpul padaku, kubalas dengan anggukan.


Aku kembali ke depan untuk mencari mas Juna. Mataku mengawasi setiap pasang mata yang kujumpai. Tapi tak kutemukan Arjunaku. Hingar bingar musik khas perayaan begitu membahana, menambah riuhnya suasana.


Kemana mas Juna, perasaan belum begitu lama aku meninggalkannya.


Netraku terus menyusuri ruangan lepas pandang. Ruangan terbuka dengan taman kecil di sudut kiri dan beberapa pohonan rindang di sisi lain. Setiap pohon terdapat bangku panjang untuk sekedar bercengkrama.


Di tengah taman terdapat jembatan kecil yang di bawahnya ada kolam ikan.


Terlihat dua sosok yang sangat aku kenali berdiri di atas jembatan.


Sang lelaki merangkul pundak wanitanya dengan mesra. Menunjukkan hasil tangkapan camera digital canon EOS 80D. Sepertinya mereka usai mengambil gambar. Tangan kiri memegang camera dan tangan kanan memencet tombol navigasi dengan begitu piawai.

__ADS_1


Semakin erat tangan itu melingkar di lehernya. Terlihat sangat mesra. Diiringi tawa bahagia dari keduanya.


Tanpa komando dariku, bulir-bulir bening terjun bebas dari pelupuk mata saat menyaksikan ini semua. Entah mengapa aku hanya mematung tanpa mengeluarkan suara.


Sesaat kemudian, entah sengaja atau bukan, tiba-tiba mereka beradu pandang. Walaupun hanya persekian detik bibir itu bersentuhan, tetapi mampu membuat hatiku bagai di hantam Godam.


*****


"Dek, dari tadi kamu cuekin Mas. Ada apa sih?" Mas Juna menggeser duduknya mendekatiku. Aku hanya diam, masih menahan sakit hati yang kurasa semakin sakit saat menyaksikan sinetron di channel ikan terbang yang nggak pernah ada bahagianya.


"Dek, mas lagi ngomong lho sama Adek, Kok gak dijawab?"


Bukannya menjawab, aku malah terisak. Mas Juna memelukku. Aku meronta menolaknya, meski hati menginginkannya.


Ia menenggelamkan kepalaku dalam dada bidangnya.


"Sudah, jangan menangis terus! Nanti cantiknya hilang lho." Mas Juna menenangkanku. Lalu aku menceritakan apa yang aku saksikan siang tadi.


"Kamu jahat, Mas, kamu tega. Huhuhu." Aku semakin tergugu.


"Sabar Sayang, ini ujian."


"Huu ... huu ...."


"Husst.. cup cup cup. Sudah ya, sudah. Percayalah, Sayang. Hatiku hanya untukmu, begitu pun cinta ini."


Dasar laki-laki.


"Huhuhu..." aku masih terisak dalam dekapannya. Mas Juna membelai rambutku lalu kemudian mengusap punggungku.


"Besok lagi, tidur siang nya jangan lama-lama ya, Sayang!" Ucap mas Juna sembari mengecup keningku.


Sungguh ini begitu nyata dan aku tidak rela.


"Jangankan beli camera, Yang, Handphone saja masih tulit-tulit." Ucapan mas Juna membuatku terkekeh malu.


****

__ADS_1


__ADS_2